Kamis, Januari 07, 2010

Tuhanku Amat Logis


Saya kerap sekali keder dengan ambisi saya. Bahkan tidak jarang antipati kepadanya. Saya amat sangat sering pesimis dengan cita-cita dan keinginan panjang saya. Padahal, saya tidak kurang cara, idola, penyemangat, dan segala hal yang menunjang semangat untuk berusaha mencapai cita-cita.

Di kamar, banyak saya pajang tokoh-tokoh sukses yang mashur untuk menyemangati saya sekaligus sebagai contoh atau tauladan untuk berkembang dan berubah. Ada gambar Gusdur dan Soekarno besa-besar. Karena keduanya tokoh sukses dan unik yang paling saya kagumi sepanjang sejarah. Andai ada Foto Nabi Muhammad saw mungkin beliau saya pajang besar-besar. Sebab, beliau orang termiskin satu-satunya sepanjang sejarah yang berhasil bermetamorfosis menjadi pemimpin dunia.

Selain itu, saya juga jamak mengumpulkan kata-kata bijaksana yang memancing saya untuk selalu bersemangat. Tiap ngedrop, saya membacanya. Saya tulis besar-besar di kamar saya dan menghiasinya agar saya selalu suka membacanya. Sekaligus saya taruh di tempat yang paling strategis sekiranya saya lebih sering membacanya tanpa niat dan persiapan segala macam. Seperti saya menempelnya di tembok yang sekiranya ketika tiap mau tidur mata saya langsung lurus kepadanya.

Juga tidak kalah seriusnya, saya selalu mengumpulkan tulisan-tulisan orang yang menurut saya bagus dan berisikan motivasi-motivasi yang meyakinkan. Saya tidak pernah absen mengklipingnya, paling tidak membacanya hingga berkali-kali. Sebagai contoh bagaimana menulis baik sekaligus penyemangat. Sebab, salah satu ambisi panjang saya adalah saya mau menjadi penulis.

Kira-kira kurang dari satu bulan yang berlalu, saya disemangatkan oleh sebuah tulisan tentang metode jitu menjadi penulis. Tulisan tersebut betul-betul menjadi magnet penarik keyakinan dan semangat saya untuk menulis. Tapi, lagi-lagi itu agaknya sudah mau pudar juga. Akhirnya, akhir-akhir ini terasa, saya mau menyerah dengan berbagai perasaan keder dan pesimis.

Berkecamuk di dalam perasaan saya hal-hal yang macam-macam rupanya. Saya berpikir, kenapa saya lahir di dalam kemiskinan, sehingga dengannya setiap apa yang saya impikan tidak maksimal bahkan acapkali gagal. Dengannya gerak hidup saya tidak normal. Selalu tersendat-sendat. Apa salah saya. Dan apa bedanya saya dengan mereka-mereka yang lahir dalam kekayaan dan kesempurnaan sehingga mau apa saja tinggal ambil. Apakah saya banyak dosanya, jarang beribadah kepada Tuhan, atau mungkin malas?

Lalu, apakah mereka yang kaya-kaya dan sempurna tidak memiliki dosa dan tidak malas? Padahal sudah tidak kurang apa yang saya usahakan. Orang tua saya di rumah mulai pagi hingga petang memeras keringat di sawah; mereka bekerja tanpa hirau lelah, sejak dulu hingga detik ini. Bahkan tak jarang keduanya sakit berkat kelelahan. Keduanya tak pernah merasa yang namanya santai-santai atau bahagia secara sempurna.

Mereka juga selalu salat dan berdoa tiap malam. Namun, sampai sekarang orang tua saya tak kaya-kaya, uang selalu kekurangan, tiap hari bingung cari pinjaman hanya sekedar untuk makan, apalagi kalau sudah mau mengingirim saya uang untuk biaya sekolah.

Sekali lagi, apa bedanya saya, bapak ibu saya, dengan mereka yang kaya-kaya, mewah, dan sempurna. Apakah belum sampai saatnya? Lalu sampai kapan? Apakah nunggu keduanya sampai mati? Jadi percuma saja tak bisa menikmati jerih payahnya di dunia ini.

Apakah ini yang disebut taqdir? Rasanya kalau begitu Tuhan itu Kejam. Atau yang disebut hikmah? Saya kira tak usah beralasan hikmah yang tak jelas. Terlalu lama menunggu hikmah. Sejak dulu hikmah sampai sekarang tak jelas-jelas bagi diri saya. Sekarang yang kongkrit-kongkrit saja, sudah cukup hikmahnya, hikmah yang saya inginkan saja. Saya dan Bapak ibu saya juga ingin kebahagiaan di dunia ini, bukan hanya untuk akherat. Sama seperti mereka yang bahagia.

Ya Tuhan, maafkan bila catatan saya ini menyakitkan Kamu. Paling tidak sudah saatnya Kamu menyingkap rahasia-rahasia ini, kalau ini memang rahasiaMu. Sudah cukup lama saya menunggu. Atau paling tidak Kamu jelaskan pada saya dengan caranMu sendiri, apa dosa saya, dan bapak ibu saya. Tapi, Kamu tak mungkin merasa sakit hanya gara-gara ini.

Sekali lagi perlu Kamu ketahui sudah lama saya dan Bapak ibu saya menderita. Kami ingin bahagia juga seperti mereka di dunia ini, juga di akherat. Dan, ini saya kira tidak merugikan diriMu. Tapi, bagi saya bisa menjadi kafir dan masuk neraka andai kami tidak kuat memikulnya. Sudah menderita di dunia masuk neraka di akherat. Apakah Kamu tidak kasihan?

Termasuk, saya ingin punya sarana yang lengkap untuk menunjang ambisi saya menjadi penulis, saya ingin banyak uang, saya ingin laptop, dan sebagainya. Kecuali Kamu memang menginginkan saya jadi penulis tanpa segala macam usaha-usaha itu, tapi itu tidak masuk akal dan menyalahi hukum-hukumMu sendiri. Sebab, PesanMu pada alam ini, barang siapa yang berusaha dia akan berhasil. Saya masih percaya itu. Saya yakin itu. Karena ini yang lebih logis dan humanis.

Tuhan, Kamu memang aneh dan unik bagi saya. Tapi ingat, saya serba terbatas, tidak sepertiMu: saya bisa tidak sabar, saya bisa lelah, saya bisa sakit, dan saya bisa menyerah.

Selain itu, mulai sekarang, saya ingin Kamu yang kongkrit-kongkrit saja, yang jelas-jelas saja, yang simpel-simpel saja, yang nyata-nyata saja. Sudah cukup bosan saya dengan rahasia-rahasiaMu atau hikmah-hikmahMu yang tak jelas juntrungnya, yang malah membuat orang miskin membenciMu, atau para Kiai dan ulamaMu mengaku suci sendiri, atau orang mewah yang bernikmat ria dan banyak dalih membela diri.

Tuhan, cukuplah saya tidak mampu melihat keindahan wajahmu. Cukup mata saya buta, telinga saya tuli, serta mulut saya bisu untuk hal yang itu saja. Selainnya, yang jelas-jelas saja, yang kongkrit-kongkrit saja, yang simpel-simpel saja, dan yang langsung-langsung saja.

Terakhir maafkan amat sangat, kalau saya misuh-misuh kepadaMu dengan catatan kecil ini. Hari ini betul-betul akan saya persaksikan kepada semestaMu. Bahwa eksistensiMu atau keberadaanMu amat sangat logis. Bahwa, saya pasti bisa. Kalau tidak, catatan ini, dunia ini, betul-betul akan menganggapMu tidak adil dan miskin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar