Jumat, Januari 01, 2010

Interaksi Kiai, Masyarakat, dan Santri



Yang saya tahu, kiai dan santri berbeda dalam strata sosial. Yakni, kiai dipandang lebih tinggi kedudukannya dari pada santri, sehingga kiai lebih terhormat dari pada santri. Bukan hanya lebih dari santri, dari presiden pun kiai bisa dipandang lebih terhormat, paling tidak di tengah kalangan masyarakat tradisional.

Misalnya saja, antara Gusdur yang berbasis kiai dan Presiden SBY. Orang-orang kalau ketemu SBY bersalaman dengan cara biasa, tapi ketika ketemu dengan Gusdur meski sudah bukan presiden lagi, orang-orang akan sungkem kepadanya; tangannya diciumi ketika bersalaman. Lebih-lebih warga NU.

 Dunia kiai memang unik. Artinya, dunia kiai memiliki nilai lebih dari pada status, profesi, atau gelar sosial lainnya. Padahal, tidak ada hukum formal khusus yang melegitimasi gelar kiai, atau sanksi formal khusus bagi orang yang menyakiti kiai. Begitu juga tidak ada disiplin akademis khusus mencetak alumni bergelar kiai.

Menarik mengkorelasikannya dengan dunia wartawan, meski samanya dengan dunia kiai tidak adanya disiplin akademis khusus mencetak lulusan yang bergelar menjadi wartawan, para wartawan masih memiliki perilaku hukum formal khusus yang melindungi profesi wartawan. Sekaligus ada sanksi formal khusus bagi orang yang menggangu dunia wartawan.

Sehingga, konon, para wartawan itu disegani oleh profesi lainnya. Aparat keamanan dan hukum bisa segan kepadanya, bahkan presiden pun. Tapi, uniknya, wartawan sendiri, penulis yakin, akan segan kepada dunia kiai. Penulis lihat, ketika meliput di dunia kiai wartawan tidak seenaknya bertingkah di depan para kiai. Paling tidak merasa ”tidak enak sendiri”.

Keunikan itu biasa disebut dengan kharisma. Sayangnya, saking istimewanya kedudukan seorang kiai ditambah telah terdoktrin kuat di dalam jiwa masyarakat,  acapkali ada kiai yang mabuk daratan. Keistimewaan itu disalahmaknai oleh kiai itu sendiri. Inilah kiai oknum.

Tidak ada bedanya dengan oknum pejabat yang menggunakan posisinya untuk keuntungan pribadi an sich. Makanya jangan heran ketika ada kiai yang sibuk sendiri hanya dengan urusan politik atau jabatan misalnya, sedangkan para santri dan masyarakatnya terlupakan. Dia telah tercerabut dari amanah primordialnya sebagai tempat umat untuk berpanut dan mencari ketenangan batin (Central figur dan problem solver).

Ini menjadi salah satu motif bahwa akhir-akhir ini interaksi kepercayaan dan ketakdiman masyarakat kepada kiai semakin mengabur. Seakan tidak ada bedanya lagi antara kiai dan yang bukan kiai. Di samping, banyak masyarakat biasa yang mulai berani berbusana ala kiai. Apalagi bila musim-musimnya pemilihan umum atau pemimpin.

Sekarang, lebih khusus terkait interaksi atau ikatan antara kiai dan santrinya, seorang kiai dalam nasehatnya mengkategorikannya menjadi tiga macam. Pertama, interaksi ucapan (alaqah lisaniyah). Di sini ikatan atau hubungan santri dengan kiainya hanya sebatas ucapan di lisan saja, tidak tembus ke dalam hatinya.


Bisa dimisalkan,  seorang santri atau ustadz yang hanya manggut-manggut ketika di depan kiainya saja, tapi setelah berbalik dia membangkangi kiainya. Nesehat-nasehatnya tidak diindahkan lagi.

Indikasi dari santri atau ustadz jenis ini bisa dilihat dari, pertama, bagi santri meski mondoknya lama atau kalau ustadz ngabdinya lama, biasanya keluar-keluarnya dari pesantren tidak ada bedanya dengan masyarakat awam bahkan lebih tak karuan dari pada yang tidak pernah menyentuh pendidikan pesantren sama sekali. Seakan-akan ilmunya tak membekas sama sekali pada dirinya.


Kedua, meski setelah keluar dari pesantren dia menjadi orang yang lebih tampak dan terkenal di tengah-tengah masyarakat dengan kehebatan ilmunya, justru ilmunya itu mendatangkan kegelisahan.


Misalnya, bila jadi pejabat, pejabat yang koruptor; bila jadi cendikiawan, malah menyebarkan keraguan akidah bagi umat; dan bila jadi kiai, kiai yang oknum di atas, kiai yang hanya bajunya saja. Inilah ilmu yang tidak barokah.

Kedua, interaksi pikiran (alaqah aqliyah), yaitu interaksi sebatas akal pikiran saja. Interaksi logis atau pengajaran-pengajaran kiainya sebatas terendap dalam pikirannya, tidak tembus ke dalam hati nurani dan perilakunya. Interaksi ini tidak ada bedanya dengan interaksi sebelumnya.
Dan ketiga, interaksi hati (alaqah qalbiyah). Inilah sejatinya interaksi atau ikatan dunia pesantren. Interaksi yang dibangun di atas kesadaran dan keikhlasan. Interaksi ini tidak terbatas ruang dan waktu. Interaksi yang membawa kesejukan.

Setiap saat dan di manapun sang santri dan sang kiainya selalu nyambung. Ketika sang santri taat, taat selamanya, bagaimanapun keadaannya. Segala ilmu dan nasehat-nasehat yang diperoleh dari kiainya selalu mewarnai segala dimensi kehidupannya.

Indikasinya bisa dilihat dari, santri atau ustadz jenis ini tak perlu lama mondoknya, atau selalu dekat dengan kiainya, dan meski ilmunya sedikit tapi membawa kemaslahatan bagi masyarakatnya. Inilah yang disebut ilmu barokah. Ilmu yang hanya didapat dari keikhlasan interaktif antara kiai dan santrinya.

Akhirnya, kita berharap menjadi bagian dari santri, asatidz, atau alumni para kiai yang memiliki alaqah qolbiyah itu. Meski mungkin secara struktur formal di pesantren atau di depan kiai kita tidak memiliki keistimewaan apa-apa, namun sebetulnya di kedalaman diri kita searah dan selalu nyambung dengan mimpi-mimpi para kiai itu (kiai sejati, bukan oknum). Dan, menjadi santri para kiai itu tak butuh di pesantren, tapi di manapun kita berada serta siapa saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar