Minggu, Januari 17, 2010

Skripsi, Lahirnya Sarjana-Sarjana Palsu

Makin dekat dengan tutupan akhir perkuliahan alias wisuda, makin bahagia pula apa  yang saya rasa. Begitu juga apa yang dirasakan oleh teman-teman saya seangkatan. Bayangkan saja, mau menjadi seorang sarjana muda, yang tentunya pasca sarjana pasti akan menjadi lain segalanya. Di samping nama yang bertambah panjang, juga perilaku dan segala kondisi diri yang harus meyakinkan.

Sebab, namanya sarjana kan pasti terkesan lebih akademis atau berilmu dari pada orang yang bukan sarjana atau belum sarjana. Misalnya, nama saya sebelum sarjana Ali Sabilullah, maka setelah sarjana akan berubah menjadi Ali Sabilullah, S.Fil. Begitu juga, jika sebelum sarjana saya masih kekanak-kanakan, maka setelah wisuda saya harus lebih dewasa lagi. Amin. Paling tidak, bergaya dewasa dulu. Kalau memang alaminya tidak  bisa dewasa.

Namun, di samping kebahagiaan itu, ada juga perasaan getir dan penuh bimbang. Ada syarat untuk menduduki singgasana wisuda itu, karya skripsi. Inilah titik kegetiran dan kebimbangannya. Sebab, jika tidak lulus dalam penyusunan skripsi tersebut, tidak jadi dimantenin sebagai wisudawan yang dipajang dengan uniform penuh wibawa di depan banyak hadirin. Wisudanya diundur  tahun depan. Naudzubillah. Ya, kalau tahun depan bisa selesai, kalau tidak, yah tua-tua di kampus. “Kiamat sudah dekat”, kata seorang teman saya yang skripsinya masih amburadul.

Termasuk saya, yang saat ini waktu wisuda hanya dalam waktu beberapa hari lagi (26 Pebruari 2010), yang skripsinya masih kocar kacir. Bukan karena saya malas mengerjakannya, tapi karena lahan skripsi saya yang amat komplek dan menyulitkan. Studi lapangan dengan metode fenomenologi. Menggali makna fenomena di lapangan. Ini otomatis memang membutuhkan waktu panjang dan keseriusan yang mendalam.

Makna tidak sembarang disimpulkan seenaknya saja. Saya mencari teori, bukan mendeskripsi ulang teori atau membuktikan teori. Selain kendala yang menumpuk di sana sini, sibuk tugas lain, sarana yang tidak mendukung, harus antri komputer, dan sebagainya. Termasuk korbannya adalah prinsip saya menjadi sekarat untuk konsisten menulis di blog setiap hari. Hanya gara-gara waktu yang kesedot proyek skripsi ini.

Tapi biarlah, mulai saat ini saya libur atau jarang dulu ngisi karya di blog. Yang penting bukan dikarenakan saya malas lalu vakum. Saya juga nulis dalam bentuk skripsi, itupun kan lebih serius. Hanya saja lebih njlimet karena terlalu formal dan disesaki peraturan-peraturan segala macam. Jadi tidak enjoi. Padahal, kalau saya tidak enjoi, saya tidak suka.

Tapi tidak apa-apa juga. Lawong ini yang lebih memastikan masa depan saya. Bayangkan saja, kalau saya tidak selesai skripsi tahun ini, kan cita-cita saya makin tertunda untuk jadi seorang filosof. Bukan hanya sarjana (SI/S.Fil.I) atau master (S2/M.Fil.I), tapi betul-betul jadi filosofnya (S3/P.hd) atau kalau ada sampai S 27 sekalian. “Jangan tanggung-tanggung. Biaya sudah kadung besar. Biar hasilnya tampak kelihatan.” Katanya Ibu Bapak saya di desa. Yups.

Sebetulnya, saya bisa cepat dengan memilih topik yang sederhana dan metodenya kuantitatif saja, misalnya “Pengaruh konseling terhadap kecerdasan emosional anak didik di kelas 3 MTS Al-Amien Prenduan”, atau “Pengaruh menonton iklan makanan di televisi terhadap tingkat pembelian konsumen” . Tapi bagi saya seperti itu kurang sreg. Dan tidak butuh diteliti. Itu memang sudah wajar. Seperti halnya, “Pengaruh makan terhadap kenyang”. Nyapek-nyapein saja, hasilnya tidak memuaskan, apalagi judulnya sejenis itu.

Namanya saja penelitian. Bukankah penelitian itu paling tidak ingin meningkatkan sesuatu atau menemukan sesuatu yang baru?! Bahkan banyak teman saya yang skripsinya tinggal ngubah nama saja, alias copy paste dari skripsi temannya yang sudah wisuda tahun sebelumnya dan di perguruan tinggi lain.

Bahkan dia berprinsip, yang  penting selesai dan dapat sarjana. Bagi saya proses skripsi seperti itu naudzubillah. Sangat tidak saya sukai. Lebih baik tidak sarjana saja. Sebab, itu akan menimbulkan beban psikologis di masa depan saya.

Paling tidak, ketika duduk di prosesi wisudaan, saya akan berpikir, saya ini wisuda cap apa? Dengan skripsi yang tidak serius atau menjiplak. Maka saya tidak ada bedanya dengan sarjana palsu sepanjang masa. Lebih bahaya lagi hasil praktis ilmu saya tidak akan mendatangkan keberkahan. Penipuan, kebohongan, atau kepalsuan pasti hasilnya adalah kebohongan dan kepalsuan juga. Kalau saya mencetak kue dari lumpur pasti hasilnya akan tetap menjadi lumpur. Tidak akan berubah menjadi tepung. Nuudzubillah. Sebuah beban psikologis yang berkepanjangan.

Fenomena skripsi atau wisuda kayak itu tidak ada bedanya dengan yang skripsinya hasil transaksi atau komoditas perdagangan alias hasil beli, sebagaimana marak dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa sekarang. Bahkan, teman saya cerita, bahwa dia sering mendapatkan order proyek jadi skripsi, sehingga dia punya penghasilan sampingan yang lumayan besar.

Saya menjadi berpikir, mungkin ini menjadi salah satu sebab kemerosotan bangsa kita di negeri ini. Meski segalanya mendukung untuk maju (tanah surga, katanya), tapi tak maju-maju. Justru pelanggaran dan kerusakan yang datang makin komplek dan pesat, mulai dari korupsi, pertikaian, perselingkuhan, pornoan, dan sejenisnya. Karena para pemimpin, tokoh, atau sarjananya yang mengatur bangsa ini banyak yang pendidikannya hasil dari penipuan atau kebohongan itu.

Akhirnya, biarlah saya tidak menulis di blog dulu atau bekerja selain proyek skripsi untuk beberapa minggu ke depan, tapi saya harus lebih konsentrasi menyelesaikan proyek skripsi ini. Sekaligus selalu berdoa semoga bisa selesai dengan hasil yang membawa berkah dan memuaskan, meski dari segi nilai akademis formal bukan kamelut atau bahkan lemah, no problem.

Paling tidak, hasilnya alami hasil jerih payah saya sendiri. Dan, akan saya abadikan di blog saya juga sebagai contoh skripsi kualitatif fenomenologis yang mungkin meski hasilnya tidak memuaskan, tapi paling tidak menjadi kaca suatu hasil yang didapat dari perasan keringat seorang anak manusia. Menjadi sebuah misal kealamian dan kemandirian seorang sarjana meski dengan jalan yang merangkak-rangkak, jatuh bangun. Serta, semoga tidak dikopipaste oleh seseorang calon sarjana. Semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar