Selasa, Januari 12, 2010

Tuhan Semena-Mena dan Kebenaran Objektif



 Ada seorang teman saya. Dia tergolong masih belia dalam persoalan agama. Meski dia seorang santri yang lama mondoknya seperti saya, tapi dia tidak begitu memahami agama.

Pertama, karena memang secara kognisi, kalau boleh dibilang, dia termasuk anak yang lemah dalam pelajaran keagamaan. Yang kedua, karena dia memang tidak begitu suka kepada kitab-kitab yang bernuansa keagamaan, apalagi literatur kearab-araban. Dia lebih suka membaca bacaan yang berbobot sekuler seperti logika dan filsafat, dan yang estetika seperti cerpen dan novel. Jarang sekali membaca literatur keagamaan kecuali hanya pelajaran di kelas.

Oleh karena itu, pengetahuannya terkait persoalan agama tanggung-tanggung. Tapi, di samping kelemahannya itu, dia memiliki kelebihan yang lumayan bisa diakui dari pada santri yang lainnya, pemikiran logikanya luar bisa cekatannya. Sistematika tulisan dan bercakapnya sangat amat mengalir rapi sehingga bisa membuat orang terkecoh. Dia cerdas merangkai kata yang sistemik dan logis, sehingga membuat orang yang lemah logikanya hanya bisa mengangguk-nganggukkan kepalanya.

Seseorang yang secara kognitif pandai, anggaplah pengetahuan agamanya luas karena dia getol dalam membaca literatur keagamaan sekaligus pintar ngajinya tapi logikanya kurang, maka dia akan kalah. Sebab, dia tidak bisa menyampaikan segudang ilmunya itu secara sistemik logis, sehingga orang tidak dapat memahaminya. Akhirnya sama saja, punya ilmu tapi tak berguna. Ilmunya tidak bisa disampaikan secara benar, orang sulit memahami pengajarannya.

Namun, bagi orang yang lihai ngomong, sistem dialognya mengalir teratur, rapi, dan logis, meski ilmunya pas-pasan, maka dia seakan tampak sebagai orang yang cukup berpengalaman dalam hal agama. Pengetahuan agamannya meski sedikit dapat disampaikan bahkan semakin berkembang. Orang akan mudah memahami pengajarannya dengan ilmunya yang sedikit itu.

Inilah nilai filosofi orang mengatakan, ”at-thoriqotu ahammu minal maddah”, metode itu lebih penting dari pada materinya. Logika adalah ilmu terapan, cara berbicara dan berdialog secara sistemik, teratur, dan jelas.

Akhir-akhir ini, teman saya yang cerdas logikanya itu, mulai getol mendalami agama dari sudut logika dan filsafat. Oleh karena itu, buku bacaannya sekarang melulu tentang filsafat yang berbau agama. Lucunya, setiap menemukan kata-kata atau hipotesa-hipotesa menarik, yang menurutnya unik dalam agama, dia hapal dan dianalisa. Lalu akhirnya diekspresikan ke teman-temannya yang anggaplah luas pengetahuan agamanya tapi rigit dalam pemahamannya. Dia kerap bilang banyak orang memahami agama secara rigid dan esklusif tradisionalis. Sedangkan dirinya seakan-akan mengaku kelompok orang-orang Liberal, yang menyikapi agama secara fleksibel. Terlepas liberal dalam artian JIL.

Salah satu hipotesa paling hangat yang dia temukan adalah, kebenaran itu benar karena kebenarannya itu sendiri atau kebenaran itu benar karena diperintah Tuhan? Katanya.

Yang pertama, kebenarannya berarti sifanya objektif sehingga ada standart kebenaran yang bisa diakui secara objektif memang benar. Dan yang kedua, kebenarannya berarti bersumber dari kata atau keputusan Tuhan. Kalau kata Tuhan benar meski secara objektif salah ya tetap benar. Sehingga yang terakhir ini menunjukkan sifat Tuhan yang semena-mena. Kebenaran lahir secara subjektif Tuhan yang semena-mena.

Dia sendiri meyakini yang pertama, bahwa kebenaran itu bukan karena Tuhan menganggapnya benar tapi karena esensi benar itu sendiri. Kalau yang pertama berarti Tuhan semena-mena. Dia tidak setuju itu.

Dua hipotesa tersebut kalau saya boleh menilai adalah mengarah kepada, yang pertama, mengarah kepada kebenaran yang tidak dicipta Tuhan tapi ada sendirinya bahkan seakan lebih dahulu adanya dari pada Tuhan itu sendiri.

Yang kedua, lebih mengarah kepada kebenaran dicipta atau muncul dari pada Tuhan, sehingga Tuhan ada lebih dahulu.

Dari pemikiran ini, akhirnya kalau makin dikejar akan bermuara kepada pertanyaan ekstrim, lebih dahulu manakah antara surga atau neraka dan Tuhan? kemudian, juga akan berkembang, lebih dahulu manakah kebenaran atau kesalahan dan sorga atau neraka? Ini akhirnya menjadi makin rumit.

Pernyataan hipotesis dan segala perkembangannya yang rumit tersebut cukup menggelitik hati saya, meski saya tidak begitu lihai berlogika plus ditambah entri pengetahuan tentang agama yang juga tanggung-tanggung. Akhirnya, saya coba menjawabnya dengan sok berlogika juga.

Kalau memang agama benar itu karena objektif kemudian Tuhan semena-mena, maka saya bertanya, pertama, adakah kebenaran yang diperintahkan Tuhan yang tidak objektif? Atau adakah kebenaran Tuhan yang menyimpang dari standart kebenaran esensial bagi manusia? atau gamblangnya lagi, adakah kebenaran Tuhan yang menyimpang dari standart kebenaran bagi manusia? Atau lebih ekstrimnya, adakah kebenaran Tuhan yang menyakitkan atau tidak selaras dengan kebaikan atau kesejahteraan manusia?

Kedua, adakah kebenaran standart bagi manusia yang keluar atau bahkan mungkin lebih benar dari pada kebenaran yang diperintahkan Tuhan? Misalnya apa?

Kemudian, terkait persoalan kedahuluan kebenaran atau kesalahan dan Tuhan, maka ini harus mengingat dulu seluk beluk lahirnya esensi kebenaran itu sendiri.

Anggapan kebenaran dan kesalahan itu adalah berawal dari dialog aktual antara Tuhan, Iblis, Malaikat, dan Adam (sebagai asul asul sejarah manusia juga). Darinya kemudian muncul penentuan istilah kebenaran dan kesalahan, yaitu kesalahan yang disebut ”sombong” (ini dilakukan Iblis) dan kepatuhan yang disebut ”taat” (ini dilakukan oleh Malaikat).

Kesimpulannya, kesalahan ”sombong” muaranya adalah neraka dan kebenaraan ”taat” muaranya sorga. Akhirnya, dari sini kita menemukan bahwa Tuhan dulu yang ada dari pada kebenaran. Kebenaran adalah makhluq mati. Dia salah satu entitas ciptaan yang pasti ada penciptanya atau yang menetapkannya sebagai hukum dan standart.

Malah tidak logis kalau kebenaran ada dengan sendirinya. Disebut benar karena ada  yang mengakui atau menetapkan benar. Sehingga kebenaran standart harus ada yang menetapkannya yang lebih memiliki Maha Otoritas yaitu Tuhan.

Sebab, semua kebenaran memang berasal dari anggapan, tapi kalau semua orang meski tak punya otoritas saling berhak menganggapnya atau menetapkannya, maka bukan kebenaran standart namanya tapi kebenaran ”saenae udele dewe” . Akhirnya, tiap manusia sama-sama mengklaim benar sendiri. Akan kabur, mana sebetulnya yang disebut benar. Bayangkan saja apa jadinya kalau begitu. Dunia akan kacau.

Oleh karena itu, untung Tuhan Maha kuasa, dan Maha memiliki otoritas yang memiliki hak primordial satu-satunya yang memutuskan standart kebenaran itu yang mana. Sehingga standart kebenaran menyatu berpusat kepadanya. Muaranya, kebenaran akan  sangat amat jelas dan kehidupan akan rapi  dan teratur.

Lalu ada pertanyaan berkembang. Kalau begitu, lebih dahulu mana antara kebenaran atau kesalahan dan sorga atau neraka?

Saya jawab, lebih dahulu sorga dan neraka. Sebab, keduanya adalah akibat dinamika kebenaran atau kesalahan sebagai sebab. Meski setiap akibat pasti datang setelahnya sebab. Kenapa demikian? Atau bukankah surga dan neraka diciptakan terlebih dahulu dari pada kebenaran atau kesalahan yang terbukti dengan berdiamnya Adam di surga. Sehingga apakah masuk akal akibatnya ada lebih dahulu dari pada sebabnya?
Jawabanya, itulah kebesaran Tuhan. Ada dua hukum, hukum alam atau sebab akibat (kausalitas) dan hukum Tuhan. Hukum Tuhan dan alam berbeda jauh dengan hukum Tuhan. Hukum alam berjalan di atas sistem akal logika atau rasional, sedangkan hukum Tuhan lintas logika.

Menurut hukum logika, sebab pasti selalu ada dahulu dari pada akibat, sedangkan bagi hukum Tuhan bisa jadi akibat dahulu dari pada sebab semisal adanya surga atau neraka dahulu dari pada kebenaran atau kesalahan itu.

Misal bentuk lainnya, secara hukum akal logika, kalau jatuh pasti ke bawah tapi ada fenomena jatuh ke atas. Juga, secara logika, manusia adalah hewan beranak yang berkaki dan bertangan sepasang, tapi pada fenomena tertentu banyak manusia yang tidak berkaki atau bertangan sepasang sekaligus yang tidak beranak.

Dengan perbedaan hukum itulah maka Tuhan dianggap Tuhan sang Pencipta yang Maha Kuasa. Tidak mungkin yang pencipta sama atau setara dengan apa yan dicipta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar