Senin, Februari 15, 2010

Filosofi Sakit Gigi dan Virus Bank Jatim


Kayaknya tahun ini, saya sebagai warga kecil Jatim harus membuka lembaran sejarah baru, level pribadi sekaligus dalam level daerah tempat saya tinggal, Jawa Timur. Bukan karena baru kawin sebagaimana yang sering dibuat salam selamat kepada kemanten baru, “selamat menempuh hidup baru”. Kalau ini sejarah yang amat membahagiakan.
Sedangkan bagi lembaran baru saya ini sangat amat merisaukan. Lebih-lebih hal yang bersinggungan dengan eksistensi keperintahan daerah saya tersebut, Pemprov Jatim. Namun, Ini bisa menambah kekayaan sejarah hidup saya, meski sejarah ini datangnya tiba-tiba di luar sangkaan saya yang juga membawa kecemasan warga Jatim lainnya.
Sakit gigi. Inilah bentuk sejarah baru pribadi saya. Bagi saya sakit gigi ini juga bisa membuat orang menderita, karena tidak terlalu mengundang simpati atau empati orang lain, sehingga penderitaannya lebih ditanggung sendiri. Kalau penyakit  lain masih lumayan enak karena orang-orang bersimpati dan menjenguk, setidaknya ada perhatian dan kesadaran dari orang bahwa dia memang sakit, sehingga bisa dimaklumi jika tidak beraktivitas. Sakit gigi ini telah membuat saya sadar bahwa ada penyakit menyusahkan tapi orang lain menganggapnya biasa saja.
Namun, meski demikian, ada yang lebih unik dan menyiksa lagi. Inilah “sakit hati”. Sakit hati tidak hanya berakibat ke tingkat kritis atau pingsan, tapi bisa ke tingkat mati. Atau paling tidak stress dan gila.
Sakit hati ini sangat unik dan paling ganas, yang obatnya juga misterius. Tidak bisa dideteksi dengan kecanggihan medis sekaligus tidak bisa diramal dengan kehebatan mistis. Seperti ada seorang gadis perawan yang tewas menggantung diri. Saya juga punya seorang teman lelaki sampai sekarang pikirannya tidak normal gara-gara ditinggal kekasihnya.
Serta penyebabnya juga unik bukan semacam virus atau bakteri natural seperti virus HIV, flu burung, dan sebagainya, akan tetapi lebih ganas dari itu, yaitu virus TB. TB bukan berarti Tuber Cuolosis virusnya penyakit TB Paru. Akan tetapi TB tersebut adalah ‘Tekanan Batin”. Bisa TBC “Tekanan Batin Cinta”; bisa juga TBH “Tekanan Batin Harta”; bisa juga TBK “Tekanan Batin Kedudukan”; bisa juga TBP “Tekanan Batin Popularitas; bisa juga TBS “Tekanan Batin Seks”; dan TB-TB lainnya.
Fenomena gadis gantung diri dan lelaki stress di atas adalah contoh penyakit virus TBC. Kasus seorang kiai yang menghamili beberapa santrinya sendiri, ini virus TBS. Sedangkan sekawanan pembobol canggih ATM berarti telah terinfeksi virus TBH. Sementara kasus yang sedang laris-larisnya dibincangkan bank Century dan fee bank Jatim yang makin rumit itu virusnya lebih komplikasi, bisa banyak TB: TBH, TBK, dan TBP.
Khusus kasus fee bank Jatim, inilah sejarah baru bagi Pemprov Jatim pada periode ini. Ini penyakit yang lebih dari hanya sekedar sakit gigi saya dan penyakit paling bahaya pun, karena akibatnya bisa mendatangkan kekecewaan dan penderitaan yang luar biasa bagi masyarakat Jatim lainnya. Konon, meski masih dalam tingkat penyelidikan kasus ini melibatkan orang nomor satu se-Jatim Pak De (sebutan gubernur Jatim Soekarwo). Bukan hanya itu, konon Pak De juga terindikasi dalam kasus pengelolaan dana pilgub 2009 yang menguntungkan salah satu pasangan cagub-cawagub yang terendus oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) (Jawa Pos, 4/02/2010).
Kecemasan dan Harapan
Melihat fenomena ini, saya sebagai orang yang mengimpikan Pak De untuk dapat membawa warga Jatim kepada kehidupan yang lebih baik sesuai dengan janji-janji manisnya dulu sewaktu kampanye menjadi cemas. Sakit gigi saya menjadi tak seberapa sakitnya.
Sekaligus saya bertanya-tanya apakah Pak De serta wakilnya Gus Ipul (Saifullah Yusuf) yang Islami dan berbeground santri akan terjangkiti virus-virus unik di atas? Yang jelas, meski saya pengagum Pak De dan Gus Ipul, yang namanya kesalahan tetap harus terungkap dan harus dituntas habis secara hukum karena ini menyangkut eksistensi masyarakat banyak.
Saya kira ini bukan hanya pandangan saya tapi juga seluruh warga Jatim lainnya. Termasuk sebuah pemikiran yang mencatat bahwa KPK sekaligus LSM antikorupsi pusat untuk turun tangan langsung secara lebih serius atau paling tidak membuat “pos khusus” dengan menerjunkan tokoh-tokoh andalannya dalam mengurus tuntas kasus ini. KPK jangan tenggelam dalam kasus-kasus di pusat saja, bank Century misalnya. Sebab, kasus ini lebih dekat dan menyentuh masyarakat grass root. Lebih-lebih Jawa Timur dikenal sebagai barometer nasional.
Belum lagi kasus-kasus memalukan lainnya seperti kasus proyek fiktif Program Penanganan Sosial Ekonomi Masyarakat (P2SEM) yang justru melibatkan ketua dan para anggota DPRD Jatim sendiri. Sehingga, amat pantas jika pada mulanya pihak DPRD sangat vokal menyembulkan kasus ini kini mulai melembek dan hilang ditelan bumi.
Rupanya orang yang saya idamkan selama ini di Pemprov Jatim ini sekaligus DPRD-nya meski secara fisik sehat-sehat, ganteng-ganteng, gagah-gagah serta kalau ngomong jago-jago sudah mulai tampak terindikasi virus-virus TB di atas.
Kalau memang demikian, maka ini akan menjadi sejarah baru yang kongkrit bahwa ke depan warga Jatim khususnya untuk lebih selektif dan berhati-hati lagi memilih pemimpin jangan mudah tekecoh dengan penampilan fisik dan janji-janji manis. Atau, asumsi Jatim surga bagi koruptor akan betul-betul nyata (Jawa Pos, 4/02/2010).
Sekaligus meski ini bagian dari virus-firus TB yang memang tidak mudah dideteksi dengan kecanggihan medis dan ramalan mistis atau karena saking amat akutnya virus yang sudah menginfeksi tubuh-tubuh para pemimpin itu, termasuk DPRD-nya itu, sehingga mungkin akan beres begitu saja bagi mereka, maka mungkin betul harapan terakhir bahwa kini tinggal KPK-lah yang harus tetap tegar sekaligus para penegak hukum lainnya. Asal mereka tidak terinfeksi virus-virus itu juga.
Kalau tidak, setidaknya sejarah akan mencatat bahwa kehadiran mereka di kancah Pemprov Jatim hanya menjadi beban sejarah bagi masyarakat Jatim pada khususnya dan Indonesia pada umumnya.
Sedangkan bagi Pak De dan konco-konconya menjadi beban moral yang tidak akan pernah hilang dan harus dipertanggngjawabkan kelak di akhir hayat. Tapi, bagaimanapun saya berharap agar ada solusi yang lebih manis dan pemimpin-pemimpin itu betul-betul selamat dari virus-virus TB itu.

Senin, Februari 08, 2010

Bersalawat kepada Thomas Alva Edison



Pertama kali, pasti tulisan ini akan menimbulkan kontraversi. Tapi hanya bagi orang yang membaca judul ini saja tanpa menuntaskannya sampai akhir catatan. Untuk itu semoga catatan ini tidak hanya dilihat sekilas tapi dibaca dan ditelaah secara mendalam dan selesai sempurna. Dengan harapan tidak salah paham.

Akhir-akhir ini, listrik sering padam. Bahkan sampai ada program giliran padam tiap daerah, dikarenakan konon katanya energi listrik makin menipis sekaligus makin tinggi dan komplesknya dinamika dan kecanggihan teknologi sehingga membutuhkan energi listrik yang lebih besar. Dahlan Iskan sebagai Dirut PLN yang baru langsung harus menanggung fenomena kelistrikan ini.

Berangkat dari itu, saya menjadi ingat dan ingin merenungi keterangan dosen filsafat saya yang bagi saya unik. Uniknya, sedikit ngomongnya, sekali ngomong ceplas ceplos, tapi sarat makna. Keterangannya bukan hanya menambah ilmu pengetahuan mahasiswa an sich,  tapi sekaligus menambah kesadaran jiwa mahasiswa. Seakan tiap katanya mengandung spirit yang dapat merubah sebuah kondisi jiwa seseorang. Keterangannya amat kaya, tidak datar. Amat jarang saya menemukan seorang dosen yang tidak sekedar mengusai disiplin ilmunya tapi keilmuwannya telah menjadi roh dirinya.

Meski demikian, tidak ke sembarang orang dia mengutarakan pemikirannya. Kepada mahasiswa selain jurusan Filsafat saja dia tidak begitu. Begitu juga tidak semua orang dapat mendengarnya atau menangkap makna kata-katanya, kecuali orang yang dasar disiplin pemikiran atau filsafatnya lumayan kuat. Atau kalau tidak, sudah terbiasa berdialog dengannya.

Kalau tidak, maka bisa terjadi salah paham, mengklaim sesat, atau setidaknya akan membuat orang yang mendengar itu bingung. Sebab, kata-katanya atau pemikirannya tidak seperti pada biasanya yang datar-datar. Itulah saya kira filosof sejati. Bukan hanya sekedar sarjana filsafat, atau ahli filsafat. Tapi roh dirinya memang sudah filsafat (filosof).

Termasuk salah satu keunikannya. Suatu hari di saat perkuliahan sedang berlangsung dia tiba-tiba tanpa sengaja menyinggung listrik yang sering padam. Tiba-tiba dia bilang, “Seharusnya kalian juga bersalawat kepada Thomas Alva Edison”, katanya. Sontak para mahasiswa tertawa plus merenungi ucapan itu.

Alasannya, karena betapa berharganya penemuan Thomas Alva Edison bagi kesejahteraan hidup manusia ini, sampai-sampai sebentar saja penemuannya tak berfungsi (listrik padam), maka manusia dibuat susah. Bayangkan saja, kalau dia tidak menemukan lampu atau listrik, niscaya peradaban umat manusia tak sesejahtera dan secanggih ini. Konon dia menemukan 3.000 penemuan, diantara-nya lampu listrik, sistim distribusi listrik, lokomotif listrik, stasiun tenaga listrik, mikrofon, kinetoskop (proyektor film), laboratorium riset untuk industri, fonograf (berkembang jadi tape-recorder), dan kinetograf (kamera film).

Kami sebagai mahasiswanya tak terlalu kaget atau berpikiran dia sesat. Karena seperti biasanya selama ini salawat dipahami hanya untuk Nabi Muhammad. Lebih-lebih Thomas Alva Edison bukan Muslim. Bukankah seorang Muslim dilarang mendoakan non Muslim? Seperti biasanya yang saya ketahui, ya.

Tapi, kami sudah terbiasa memahami kata-katanya tidak secara mentah-mentah. Kami sudah ngerti semua yang dilontarkannya memiliki landasan dan alasan yang amat kuat, logis, dan bisa benar. Sehingga, kami tidak mengambil tiap penjelasannya begitu saja, juga tidak langsung menyesatkannya.

Kami sebagai mahasiswanya selalu dididik dan dilatih untuk selalu berpikir logis serta bijaksana. Bahwa, selama sesuatu itu muncul dari system pemikiran atau penafsiran kepala manusia itu bernilai relatif, artinya bisa salah bisa benar, tapi sejatinya tidak ada pemikiran yang salah. Yang ada berbeda atau lain pemikiran. Setidaknya pasti benar menurut dirinya sendiri dan berbeda dengan pemikiran kepala yang lain.

Ini sebuah pengajaran dan prinsip kebijaksanaan hidup sejati. Bahwa, orang  jangan sampai mudah menyalahkan atau mengklaim orang lain salah, apalagi dibarengi dengan mengaku benar sendiri ditambah memaksa orang lain untuk ikut kebenarannya itu. Siapa pun dan apa pun itu. Kalau seandainya semua manusia sadar demikian, maka niscaya kehidupan ini akan betul-betul sejahtera. Kehidupan diwarnai saling menghormati dan menghargai; tidak ada pertikaian, tidak ada pembakaran tempat-tempat ibadah, tidak ada bom bunuh diri, tidak ada terorisme, dan sebagainya.

Tentang salawat di atas. Bukan berarti dosen itu tidak memahami salawat dalam Islam, atau bukan berarti tidak Islam, atau bahkan kafir, atau syirik, atau murtad. Tapi, beliau memahami salawat itu dari sudut pemikiran kepala, bukan agama.

Dalam ajaran agama, dilihat dari asal katanya dipahami bahwa salawat adalah sebuah doa atau permohonan keselamatan dan kesejahteraan dari umat Muslim kepada Allah untuk nabi Muhammad yang hukumnya ada yang mengatakan wajib, sehingga selain Nabi tidak boleh disalawatin kecuali salam atau doa biasa. Dasar ini jelas dalam Al-Quran, “ Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersalawat untuk nabi, Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya “ (Q.S. al-Ahzab: 56).

Tapi lain dengan pemikiran dosen itu, dia memahami salawat sebagai sebuah penghormatan kepada jasa Thomas Alva Edison yang begitu besar bagi umat manusia. Ini salawat berlatar belakang pemikiran manusia kepada manusia selain Nabi Muhammad.

Sejatinya, ini tidak jauh beda dengan konstruk ajaran agama, bahwa antara salawatnya Allah, Malaikat, dan manusia ke Nabi Muhammad itu berbeda. Salawatnya Allah ke Nabi Muhammad adalah bermakna penghormatan Allah kepada nabi Muhammad, yakni penghormatan yang diberikan Allah swt kepada nabi Muhammad adalah dengan menjadikannya sebagai nabi dan rasul yang utama dari seluruh nabi dan rasul yang telah diturunkan sebelumnya. Sedangkan salawatnya Malaikat kepada nabi Muhammad Adalah penghargaan. Sementara salawatnya manusia ke nabi Muhammad adalah menjadi doa yang tujuannya untuk menghormati keagungan jasa Nabi Muhammad kepada umat manusia.

Maka dari itu, dapat dipahami bahwa, saking menghormati jasanya Thomas Alva Edison dia meminjam istilahnya salawat yang dikhususnya kepada Nabi Muhammad yang dia maksudkan sebagai ekspresi yang menunjukkan tentang betapa pentingnya manusia menghargai dan menghormati orang-orang yang begitu berjasa kepada kehidupan ini, siapapun itu. Bukan mengambil alihkan atau menyamakan makna salawat kepada Nabi Muhammad dengan Thomas Alva Edison. Hanya sekedar meminjam istilahnya saja.

Secara makna, tentunya dia paham makna salawat khusus Allah kepada nabi Muhammad, khusus Malaikat kepada nabi Muhammad, khusus manusia kepada nabi Muhammad, dan khusus manusia ke sesama manusia biasanya.

Sumber: http://www.tokohindonesia.com dan 
http://myrazano.com

Minggu, Februari 07, 2010

Salat Jama’ah, Idialisme Kesejahteraan Bangsa



Saya tidak tahu sendiri orangnya. Juga tidak baca sendiri beritanya. Kalau memang ada. Tapi ini betul-betul ada. Karena seorang kiai yang cerita. Begini, Bapak Kiai di pesantren cerita seorang tokoh unik ketika meyakinkan emosi para guru terkait dengan faedah konsistensi salat jamaah.

Bahwa, kalau seseorang konsisten dalam menegakkan salat jamaah hidupnya akan betul-betul tenang, penuh damai, bahagia, dan berbarokah dalam segala halnya. Terutama setiap apa yang diinginkannya akan tercapai. Saking yakinnya Beliau, ini tidak hanya disampaikan satu dua kali saja akan tetapi nyaris tiap pertemuan.

Ceritanya begini, namanya Anton Bahrul Alam. Entah apa pangkatnya, saya tidak begitu jelas. Dia kepala kapolda Jatim tahun 2008-2009 kemarin. Beliau meski kayaknya tugasnya jauh dari konteks spriritual, kepala kepolisian, ternyata Beliau seorang yang konsisten menegakkan salat jamaah. Bukankah biasanya kepolisian itu terkesan dengan urusan yang sekuler dan super sibuk?

Konon, dalam keadaan bagaimanapun Beliau tetap menyempatkan diri untuk selalu salat jamaah. Salat jamaah bagi Beliau adalah sebuah kebutuhan yang tidak bisa ditinggalkan. Meski waktu rapat penting bagaimanapun Beliau tetap meluangkan waktunya untuk berjamaah. Bahkan, Beliau termasuk salah satu anggota jamaah tablig. Semacam kelompok spiritual Islam untuk menegakkan ibadah Islam. Tapi bukan semacam gerakan jihad yang sering disalahpahami sebagai gerakan teroris.

Bukan hanya untuk dirinya sendiri Beliau juga menularkan amalan jamaah tersebut kepada semua jajaran yang ada di bawahnya, sekaligus para Polwannya dianjurkan untuk memakai jilbab. Pokoknya waktu itu kepolisian Jatim terkesan sangat amat Islami di bawah kepemimpinannya.

Tercatat saat itu perkembangan keamanan makin meningkat drastis. Artinya, jika sebelum-sebelumnya angka pelanggaran dan kasus-kasus di berbagai bidang tinggi, tapi waktu itu berubah menurun drastis. Sekarang, konon, Beliau sedang siap-siap untuk menyalonkan diri menjadi kapolri, se-Indonesia bukan hanya se-Jatim.

Ini cerita seorang tokoh yang unik yang amat jarang terjadi, bahkan mungkin seribu satu. Sebab seorang polisi apalagi kepalanya dalam level propinsi yang lekat dengan tugas-tugas praktis yang super sibuk ternyata masih konsisten mengamalkan salat jamaah lebih-lebih juga menjadi anggota pengikut jamaah tablig. Mungkin kita akan bertanya, kok masih sempat-sempatnya mendalami spiritual?

Itulah prinsip dan keyakinan hidup. Seseorang kalau sudah yakin dan konsisten apalagi dalam urusan ibadah kepada Tuhan dia akan merasakan kenikmatan yang tidak pernah didapat dengan urusan dunia semacam kekayatan material atau pangkat tinggi, sehingga pada akhirnya menjadi suatu hal yang paling utama dan menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditinggalkan.

Kenapa kita tidak yakin atau seakan tak masuk akal kepada logika kebiasaan kita? Jawabannya, karena persoalan ibadah memang abstrak yang tidak kelihatan oleh segala pancaindra kita serta tidak bisa diekspresikan dengan logika kita, sehingga kita acapkali tidak memercayainya. Selain karena otak kita sudah terlalu tercekoki oleh materi dunia. Kita menjadi tidak percaya terhadap hal yang goib-goib atau yang barokah-barokah. Akibatnya, meski kita mengerjakan kita tidak bisa konsisten bahkan tidak suka mengerjakannya.

Solusinya, pertama kali kita percaya dan yakin saja dengan mengambil contoh dari yang sudah mengalami nikmatnya ibadah tersebut sehingga kita bisa mau sekaligus konsisten mengerjakannya juga. Kalau sudah mau dan konsisten mengerjakannya kita akan betul-betul juga akan meresakan kenikmatan ibadah tersebut. Ketika sudah merasakan sendiri maka kita akan ketagihan dan merasa butuh. Akhirnya, kita akan konsisten sepanjang masa.

Saya menjadi berpikir, sungguh betapa indahnya kehidupan bangsa ini kalau seandainyya kepolisian atau penegak hukum serta keamanan rakyat pada semua levelnya di negri ini bisa seperti kapolda Anton Bahrul Alam tersebut, yakin dan konsisten beribadah jamaah. Negri ini betul-betul akan aman, tidak ada lagi kasus-kasus korupsi, suap-menyuap, ketimpangan hukum di mana-mana, saling sentimen, ego jabatan, serta tidak ada lagi istilah pertarungan cecak dan buaya.

Semua akan hidup saling damai, aman, dan sejahtera. Sebab, semuanya dalam kesadaran kebersamaan, persamaan, dan keadilan (jamaah).