Senin, Februari 08, 2010

Bersalawat kepada Thomas Alva Edison



Pertama kali, pasti tulisan ini akan menimbulkan kontraversi. Tapi hanya bagi orang yang membaca judul ini saja tanpa menuntaskannya sampai akhir catatan. Untuk itu semoga catatan ini tidak hanya dilihat sekilas tapi dibaca dan ditelaah secara mendalam dan selesai sempurna. Dengan harapan tidak salah paham.

Akhir-akhir ini, listrik sering padam. Bahkan sampai ada program giliran padam tiap daerah, dikarenakan konon katanya energi listrik makin menipis sekaligus makin tinggi dan komplesknya dinamika dan kecanggihan teknologi sehingga membutuhkan energi listrik yang lebih besar. Dahlan Iskan sebagai Dirut PLN yang baru langsung harus menanggung fenomena kelistrikan ini.

Berangkat dari itu, saya menjadi ingat dan ingin merenungi keterangan dosen filsafat saya yang bagi saya unik. Uniknya, sedikit ngomongnya, sekali ngomong ceplas ceplos, tapi sarat makna. Keterangannya bukan hanya menambah ilmu pengetahuan mahasiswa an sich,  tapi sekaligus menambah kesadaran jiwa mahasiswa. Seakan tiap katanya mengandung spirit yang dapat merubah sebuah kondisi jiwa seseorang. Keterangannya amat kaya, tidak datar. Amat jarang saya menemukan seorang dosen yang tidak sekedar mengusai disiplin ilmunya tapi keilmuwannya telah menjadi roh dirinya.

Meski demikian, tidak ke sembarang orang dia mengutarakan pemikirannya. Kepada mahasiswa selain jurusan Filsafat saja dia tidak begitu. Begitu juga tidak semua orang dapat mendengarnya atau menangkap makna kata-katanya, kecuali orang yang dasar disiplin pemikiran atau filsafatnya lumayan kuat. Atau kalau tidak, sudah terbiasa berdialog dengannya.

Kalau tidak, maka bisa terjadi salah paham, mengklaim sesat, atau setidaknya akan membuat orang yang mendengar itu bingung. Sebab, kata-katanya atau pemikirannya tidak seperti pada biasanya yang datar-datar. Itulah saya kira filosof sejati. Bukan hanya sekedar sarjana filsafat, atau ahli filsafat. Tapi roh dirinya memang sudah filsafat (filosof).

Termasuk salah satu keunikannya. Suatu hari di saat perkuliahan sedang berlangsung dia tiba-tiba tanpa sengaja menyinggung listrik yang sering padam. Tiba-tiba dia bilang, “Seharusnya kalian juga bersalawat kepada Thomas Alva Edison”, katanya. Sontak para mahasiswa tertawa plus merenungi ucapan itu.

Alasannya, karena betapa berharganya penemuan Thomas Alva Edison bagi kesejahteraan hidup manusia ini, sampai-sampai sebentar saja penemuannya tak berfungsi (listrik padam), maka manusia dibuat susah. Bayangkan saja, kalau dia tidak menemukan lampu atau listrik, niscaya peradaban umat manusia tak sesejahtera dan secanggih ini. Konon dia menemukan 3.000 penemuan, diantara-nya lampu listrik, sistim distribusi listrik, lokomotif listrik, stasiun tenaga listrik, mikrofon, kinetoskop (proyektor film), laboratorium riset untuk industri, fonograf (berkembang jadi tape-recorder), dan kinetograf (kamera film).

Kami sebagai mahasiswanya tak terlalu kaget atau berpikiran dia sesat. Karena seperti biasanya selama ini salawat dipahami hanya untuk Nabi Muhammad. Lebih-lebih Thomas Alva Edison bukan Muslim. Bukankah seorang Muslim dilarang mendoakan non Muslim? Seperti biasanya yang saya ketahui, ya.

Tapi, kami sudah terbiasa memahami kata-katanya tidak secara mentah-mentah. Kami sudah ngerti semua yang dilontarkannya memiliki landasan dan alasan yang amat kuat, logis, dan bisa benar. Sehingga, kami tidak mengambil tiap penjelasannya begitu saja, juga tidak langsung menyesatkannya.

Kami sebagai mahasiswanya selalu dididik dan dilatih untuk selalu berpikir logis serta bijaksana. Bahwa, selama sesuatu itu muncul dari system pemikiran atau penafsiran kepala manusia itu bernilai relatif, artinya bisa salah bisa benar, tapi sejatinya tidak ada pemikiran yang salah. Yang ada berbeda atau lain pemikiran. Setidaknya pasti benar menurut dirinya sendiri dan berbeda dengan pemikiran kepala yang lain.

Ini sebuah pengajaran dan prinsip kebijaksanaan hidup sejati. Bahwa, orang  jangan sampai mudah menyalahkan atau mengklaim orang lain salah, apalagi dibarengi dengan mengaku benar sendiri ditambah memaksa orang lain untuk ikut kebenarannya itu. Siapa pun dan apa pun itu. Kalau seandainya semua manusia sadar demikian, maka niscaya kehidupan ini akan betul-betul sejahtera. Kehidupan diwarnai saling menghormati dan menghargai; tidak ada pertikaian, tidak ada pembakaran tempat-tempat ibadah, tidak ada bom bunuh diri, tidak ada terorisme, dan sebagainya.

Tentang salawat di atas. Bukan berarti dosen itu tidak memahami salawat dalam Islam, atau bukan berarti tidak Islam, atau bahkan kafir, atau syirik, atau murtad. Tapi, beliau memahami salawat itu dari sudut pemikiran kepala, bukan agama.

Dalam ajaran agama, dilihat dari asal katanya dipahami bahwa salawat adalah sebuah doa atau permohonan keselamatan dan kesejahteraan dari umat Muslim kepada Allah untuk nabi Muhammad yang hukumnya ada yang mengatakan wajib, sehingga selain Nabi tidak boleh disalawatin kecuali salam atau doa biasa. Dasar ini jelas dalam Al-Quran, “ Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersalawat untuk nabi, Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya “ (Q.S. al-Ahzab: 56).

Tapi lain dengan pemikiran dosen itu, dia memahami salawat sebagai sebuah penghormatan kepada jasa Thomas Alva Edison yang begitu besar bagi umat manusia. Ini salawat berlatar belakang pemikiran manusia kepada manusia selain Nabi Muhammad.

Sejatinya, ini tidak jauh beda dengan konstruk ajaran agama, bahwa antara salawatnya Allah, Malaikat, dan manusia ke Nabi Muhammad itu berbeda. Salawatnya Allah ke Nabi Muhammad adalah bermakna penghormatan Allah kepada nabi Muhammad, yakni penghormatan yang diberikan Allah swt kepada nabi Muhammad adalah dengan menjadikannya sebagai nabi dan rasul yang utama dari seluruh nabi dan rasul yang telah diturunkan sebelumnya. Sedangkan salawatnya Malaikat kepada nabi Muhammad Adalah penghargaan. Sementara salawatnya manusia ke nabi Muhammad adalah menjadi doa yang tujuannya untuk menghormati keagungan jasa Nabi Muhammad kepada umat manusia.

Maka dari itu, dapat dipahami bahwa, saking menghormati jasanya Thomas Alva Edison dia meminjam istilahnya salawat yang dikhususnya kepada Nabi Muhammad yang dia maksudkan sebagai ekspresi yang menunjukkan tentang betapa pentingnya manusia menghargai dan menghormati orang-orang yang begitu berjasa kepada kehidupan ini, siapapun itu. Bukan mengambil alihkan atau menyamakan makna salawat kepada Nabi Muhammad dengan Thomas Alva Edison. Hanya sekedar meminjam istilahnya saja.

Secara makna, tentunya dia paham makna salawat khusus Allah kepada nabi Muhammad, khusus Malaikat kepada nabi Muhammad, khusus manusia kepada nabi Muhammad, dan khusus manusia ke sesama manusia biasanya.

Sumber: http://www.tokohindonesia.com dan 
http://myrazano.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar