Minggu, Februari 07, 2010

Salat Jama’ah, Idialisme Kesejahteraan Bangsa



Saya tidak tahu sendiri orangnya. Juga tidak baca sendiri beritanya. Kalau memang ada. Tapi ini betul-betul ada. Karena seorang kiai yang cerita. Begini, Bapak Kiai di pesantren cerita seorang tokoh unik ketika meyakinkan emosi para guru terkait dengan faedah konsistensi salat jamaah.

Bahwa, kalau seseorang konsisten dalam menegakkan salat jamaah hidupnya akan betul-betul tenang, penuh damai, bahagia, dan berbarokah dalam segala halnya. Terutama setiap apa yang diinginkannya akan tercapai. Saking yakinnya Beliau, ini tidak hanya disampaikan satu dua kali saja akan tetapi nyaris tiap pertemuan.

Ceritanya begini, namanya Anton Bahrul Alam. Entah apa pangkatnya, saya tidak begitu jelas. Dia kepala kapolda Jatim tahun 2008-2009 kemarin. Beliau meski kayaknya tugasnya jauh dari konteks spriritual, kepala kepolisian, ternyata Beliau seorang yang konsisten menegakkan salat jamaah. Bukankah biasanya kepolisian itu terkesan dengan urusan yang sekuler dan super sibuk?

Konon, dalam keadaan bagaimanapun Beliau tetap menyempatkan diri untuk selalu salat jamaah. Salat jamaah bagi Beliau adalah sebuah kebutuhan yang tidak bisa ditinggalkan. Meski waktu rapat penting bagaimanapun Beliau tetap meluangkan waktunya untuk berjamaah. Bahkan, Beliau termasuk salah satu anggota jamaah tablig. Semacam kelompok spiritual Islam untuk menegakkan ibadah Islam. Tapi bukan semacam gerakan jihad yang sering disalahpahami sebagai gerakan teroris.

Bukan hanya untuk dirinya sendiri Beliau juga menularkan amalan jamaah tersebut kepada semua jajaran yang ada di bawahnya, sekaligus para Polwannya dianjurkan untuk memakai jilbab. Pokoknya waktu itu kepolisian Jatim terkesan sangat amat Islami di bawah kepemimpinannya.

Tercatat saat itu perkembangan keamanan makin meningkat drastis. Artinya, jika sebelum-sebelumnya angka pelanggaran dan kasus-kasus di berbagai bidang tinggi, tapi waktu itu berubah menurun drastis. Sekarang, konon, Beliau sedang siap-siap untuk menyalonkan diri menjadi kapolri, se-Indonesia bukan hanya se-Jatim.

Ini cerita seorang tokoh yang unik yang amat jarang terjadi, bahkan mungkin seribu satu. Sebab seorang polisi apalagi kepalanya dalam level propinsi yang lekat dengan tugas-tugas praktis yang super sibuk ternyata masih konsisten mengamalkan salat jamaah lebih-lebih juga menjadi anggota pengikut jamaah tablig. Mungkin kita akan bertanya, kok masih sempat-sempatnya mendalami spiritual?

Itulah prinsip dan keyakinan hidup. Seseorang kalau sudah yakin dan konsisten apalagi dalam urusan ibadah kepada Tuhan dia akan merasakan kenikmatan yang tidak pernah didapat dengan urusan dunia semacam kekayatan material atau pangkat tinggi, sehingga pada akhirnya menjadi suatu hal yang paling utama dan menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditinggalkan.

Kenapa kita tidak yakin atau seakan tak masuk akal kepada logika kebiasaan kita? Jawabannya, karena persoalan ibadah memang abstrak yang tidak kelihatan oleh segala pancaindra kita serta tidak bisa diekspresikan dengan logika kita, sehingga kita acapkali tidak memercayainya. Selain karena otak kita sudah terlalu tercekoki oleh materi dunia. Kita menjadi tidak percaya terhadap hal yang goib-goib atau yang barokah-barokah. Akibatnya, meski kita mengerjakan kita tidak bisa konsisten bahkan tidak suka mengerjakannya.

Solusinya, pertama kali kita percaya dan yakin saja dengan mengambil contoh dari yang sudah mengalami nikmatnya ibadah tersebut sehingga kita bisa mau sekaligus konsisten mengerjakannya juga. Kalau sudah mau dan konsisten mengerjakannya kita akan betul-betul juga akan meresakan kenikmatan ibadah tersebut. Ketika sudah merasakan sendiri maka kita akan ketagihan dan merasa butuh. Akhirnya, kita akan konsisten sepanjang masa.

Saya menjadi berpikir, sungguh betapa indahnya kehidupan bangsa ini kalau seandainyya kepolisian atau penegak hukum serta keamanan rakyat pada semua levelnya di negri ini bisa seperti kapolda Anton Bahrul Alam tersebut, yakin dan konsisten beribadah jamaah. Negri ini betul-betul akan aman, tidak ada lagi kasus-kasus korupsi, suap-menyuap, ketimpangan hukum di mana-mana, saling sentimen, ego jabatan, serta tidak ada lagi istilah pertarungan cecak dan buaya.

Semua akan hidup saling damai, aman, dan sejahtera. Sebab, semuanya dalam kesadaran kebersamaan, persamaan, dan keadilan (jamaah).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar