Jumat, Maret 12, 2010

Abstraksi Skripsiku


ABSTRAKSI
Sabil, Ali, 2010, Keimanan Wartawan Radar Madura Biro Pamekasan: Kajian Fenomenologis Eksistensialis Tentang Makna”, skripsi, Program Studi (S1) Akidah dan Filsafat Islam, Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien (IDIA) Prenduan.
Keynotes: Keimanan, Wartawan, Kode Etik Jurnalistik, Fenomenologis, Eksistensialis
Tidak jarang terjadi fenomena negatif di dunia pers atau wartawan, ancaman terhadap wartawan (Emka, 2005: vi), perampokan terhadap wartawan (Radar Madura, 15 Mei 2009), penculikan, bahkan pembunuhan terencana terhadap wartawan (Jawa Pos, 26 Mei 2008), wartawan amplop, wartawan bodrex (Emka, 2005: vii), wartawan memeras, dan lain-lainnya.  Lebih lanjut, belakangan sedang santer dibicarakan kasus Luna Maya yang menganggap wartawan lebih hina dari pelacur. Apakah ini memerkuat sebagai akibat dari apa yang dihasilkan observasi AJI (Aliansi Jurnalis Indonesia) tahun 2006 bahwa 85 % wartawan Indonesia tidak membaca Kode Etik Jurnalistik?
Ini menjadi persoalan amat pelik di dunia wartawan. Selain, sungguh memang sangat aneh ketika keimanan yang sifatnya religius dikaitkan dengan fenomena pengalaman wartawan yang cenderung praktis dalam tugas-tugas profesinya. Namun, di samping itu, bukankah konsep keimanan ini justru menjadi langkah awal (Bab I Pasal 1 KEJ) hukum normatif Kode Etik Jurnalistik (KEJ) profesi wartawan yang menjadi pedoman dasar profesionalitasnya? Sehingga, apakah di balik itu ada nilai filosofis tertentu atau hanya sekedar simbol turunan dari hukum-hukum normatif yang lainnya.
Inilah menariknya, kenapa peneliti memilih tema seputar fenomena keimanan wartawan di sini, dengan tujuan ingin mengetahui bagaimana wartawan memaknai dan menghayati keimanan itu, apa saja yang menjadi faktor-faktor untuk meningkatkan dan kendala-kendala yang menghambat penghayatan keimanan itu, serta bagaimana usaha-usaha wartawan dalam meningkat penghayatan keimanan tersebut.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian ”Kualitatif Lapangan” dengan pendekatan ”Fenomenologis Eksistensialis”. Yakni, sebuah pendekatan bagaimana keimanan di dalam fenomena pengalaman para wartawan dengan didasari asumsi epistemologis bahwa makna kenyataan adalah apa yang ada di dalam pengalaman para wartawan secara alami (naturalistik) dan langsung dari yang tampak (fenomenon) dalam kesadaran (intensionalitas) (Lathief, 2008: vi). Maka dari itu, penelitian ini berada pada paradigma konstruktivisme yang menggali dan mendeskripsikan pemaknaan dan penghayatan wartawan terhadap keimanan yang dialami secara sadar dalam melaksanakan tugas-tugas profesinya sehari-hari. Untuk itu, harus dikaji dengan interpretasi bermakna terhadap kenyataan pengalaman itu, bahwa kenyataan adalah apa yang dimaknai dan dihayati wartawan itu sendiri.
Objek penelitian ini adalah para wartawan media cetak (koran) Jawa Pos Group Radar Madura Biro Pamekasan yang berasal dari latar belakang akademis yang berbeda, sehingga penelitian ini cukup menarik dan menantang untuk dilakukan.
Setelah melakukan serangkaian metode dan pengamatan secara parsipatoris, maka data serta analisis yang disajikan adalah berupa hasil wawancara, pengamatan, dan dokumentasi. Peneliti berusaha masuk (meski berpura-pura) ke dalam dunia informan dan memandang serta mengkaji pengalaman itu seperti merasakannya terhadap diri sendiri. Lalu peneliti keluar kembali dan melihat melalui bird angle, yakni suatu sudut pandang di mana realita yang sesungguhnya terjadi adalah hasil dari konstruksi interpretasi peneliti terhadap pengalaman para wartawan.
Melalui penelitian ini, ditemukan bahwa pemaknaan dan penghayatan para wartawan Radar Madura Biro Pamekasan bervariasi dan berbeda. Juga sebuah kenyataan bahwa keimanan bagi moyoritas mereka adalah sesuatu yang tidak terkait dengan tugas-tugas praktis mereka. Serta yang paling unik, adalah sebuah kenyataan yang sama, bahwa mereka sama-sama memaknai dan menghayati keimanan itu dengan nilai-nilai Kode Etik Jurnalistik (KEJ) sekaligus menaatinya tanpa membaca dan mengkaji nilai-nilai KEJ itu dari teksnya langsung kecuali dari karya-karya jurnalistik lainnya, yang  menurut pemikiran mereka tidak akan terlepas dari istilah atau nilai-nilai kode etik profesinya itu. Sehingga, meski tidak membaca atau mengkajinya secara langsung bisa paham dan menaaatinya. Sebuah keunikan yang luar biasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar