Kamis, Maret 25, 2010

Al-Quran Amat Pencemburu

Tak terpikirkan sebelumnya di benak ini, bahwa saya mau nyantri takhassus Al-Quran. Bayangkan saja, sebelumnya nyantri di pesantren modern yang paling tidak akan lebih cenderung berhadapan  dengan hal-hal yang umum atau yang ilmiah-ilmiah formal, misalnya buku-buku produk pemikiran logis, penelitian, filsafat, apalagi sambil kuliah jurusan filsafat, dan sejenisnya. Meski terkait dengan hal-hal yang religius metode atau sistem pengajarannya masih modern. Selain juga, bisa mudah mengakses fasilitas dunia maya atau internet sehari-hari. Sedangkan sekarang, harus melulu konsentrasi menghafal Al-Quran, paling-paling kalau di luarnya ngaji sistem salaf terkait dengan tafsir-tafsir. Akhirnya, saya hanya bisa berharap, semoga segala diri saya dari pola pandang maupun prilaku lekas dapat menyesuaikan dengan sistem dan budaya yang baru ini, yang otomatis berbanding terbalik dengan budaya yang sebelumnya, paling tidak 80 persen. Sekarang, saya harus konsentrasi hidup dalam lingkungan Al-Quran.

Lebih khusus terkait dengan menghafal Al-Quran ini, salah seorang teman baru saya bilang, "Al-Quran itu pencemburu berat lho! Lebih dari sekedar cemburunya seorang cewek yang cinta setengah mati kepada cowoknya. Kalau tidak betul-betul dihafal dan dijaga dengan serius dia akan meninggalkan kita yang menghafalnya." Katanya.

Kalau dipikir-pikir memang betul. Kalau kita amati bagaimana para hafidz Al-Quran memperlakukan Al-Quran dalam kehidupannya sehari-hari. Tiap hari pasti melakukan pengulangan hafalan sampai hatam (muroja'ah). Tiap hari wajib menyediakan waktu khusus untuk mengingatnya. Salah satu kiai saya di Al-Amien yang hafidz bilang, bahwa beliau untuk murojaah hafalannya paling tidak satu hari satu kali hatam. Sebab, satu hari lalai tidak mengingat hafalannya (murojaah), maka akan hilang dikit demi sedikit, paling tidak dari lancar akan menjadi tidak lancar, terbata-bata. Kalau sudah hilang hafalannya, maka sulit mengembalikannya. Apalagi, urusan menghafal Al-Quran ini adalah terkait dengan urusan hati, hidayah Allah, bukan pikiran apalagi potensi fisik.

Jadi, sangat amat logis, kalau Al-Quran disebut oleh teman saya itu sebagai " Pencemburu Berat". Lebih dari sekedar seorang cewek yang amat cinta kepada kekasihnya yang sedang dilanda cemburu..Al-Quran sangat amat butuh dibelai seterusnya tiap saat, tidak bisa ditinggal sesaat pun. Sekali lengah, maka dia akan sangat amat cemburu dan bisa-bisa menelak kita tiga kali.

Sekilas, saya atau kita sebagai orang yang bukan hafidz melihatnya terkesan sangat amat mengerikan. Artinya, amat berat menghafal lebih-lebih menjaga hafalan Al-Quran. Seakan segala waktu hanya buat Al-Quran. Singkatnya, menjadi hafidz sangat amat berat. Membutuhkan niat dan cinta yang tak tanggung-tanggung. Harus niat dan cinta yang nomor satu di hati kita. Dia harus selalu didahulukan. Dan, lebih berat lagi mempertanggung jawabkan hafalnnya, yakni mengamalkannya, tidak sekedar hafal semata. Sebab, hafal saja tapi tidak mengamalkannya percuma saja, bahkan hanya menjadi beban kepada Al-Quran itu sendiri. Ibarat seorang istri yang tidak dinafkahi lahir batin. Apalagi hanya dibuat sebagai pemuas nafsu biologis belaka. Sama halnya Al-Quran yang dihafal hanya untuk sekedar gengsi-gengsian, meningkatkan pamor, prestise, atau kedudukan. 
Kalau demikian jadinya, bukan malah menjadi "hafidzul Quran" tapi "mufsidul Quran" (Pengrusak Al-Quran). Jauh lebih baik, menjadi pengamal sejati Al-Quran meski hanya lewat membacanya bukan menghafalnya, mungkin karena tidak mampu menghafalnya karena kesibukan keluarga. Al-Quran betul-betul membutuhkan cinta yang amat sangat tinggi bagi siapa yang mau menghafal sekaligus mengamalkannya. Bukan cinta setengah hati, tapi cinta sampai mati, cinta di atas segala-galanya.

Kalau sudah cinta sampai mati demikian, maka Al-Quran juga akan lebih mencintainya. Muaranya, hidupnya akan senantiasa bersama Al-Quran, dilindungi Al-Quran. Tuhan sebagai pemilik Al-Quran sudah janji itu. Tidak heran ada orang yang disebut "Al-Quran berjalan". Subhanallah. Luar biasa. Saya pribadi, sangat amat ambisius ingin seperti itu, tergila-gila mencintai Al-Quran. Amin.

Lawang, 24/03/2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar