Kamis, April 29, 2010

Gadis Itu Namanya Salehah

(Hanya catatan sederhana tentang sebuah nama)

Ini bukan catatan surat cinta. Hanya catatan biasa. Dia, yang namanya salehah hanya sebagai inspirasi saja. Tapi, semoga catatan ini menyimpan hikmah yang banyak.

Salehah bisa dua kemungkinan pemahamannya: bisa dipakai untuk namanya orang. Bisa juga digunakan untuk kata sifat bagi wanita, siapa saja. Misalnya, putri bapak Anu itu setelah mondok menjadi salehah sehingga semua orang suka padanya. Ini Artinya, sifat atau prilakunya yang salehah, yakni baik. Lain lagi dengan, anaknya bapak Anu namanya salehah. Ini berarti salehah menjadi namanya orang.

Sebagai nama, salehah bisa dipakai oleh siapa saja. Yang jelas wanita. Kalau laki-laki berarti saleh. Namun, sebagai sifat salehah atau saleh tidak bisa sembarang orang memakainya. Ada kategori-kategori dulu untuk bisa disifati dengan salehah atau saleh. Lain kata, tidak semua orang wanita  atau laki-laki bisa disebut salehah atau saleh.

Sebab, sebagaimana pemahamannya, salehah asalnya dari kata “shaluha” (Arab) yang artinya sama dengan “hasuna”, yakni baik. Kalau dijadikan kata sifat menjadi “shalihatun” (muannas/perempuan) atau “shalih” (mudzakkar/laki-laki), yang artinya “yang baik”. Dan, biasanya dikaitkan dengan semua sisi dari diri seseorang yang mau disifati: prilaku, tingkah, maupun perkataan; dalam semua interaksi, baik interaksi dengan sesamanya (maan nas), dengan lingkungannya (maal bi’ah), terutama dengan tuhannya (maal Allah). Jika prilaku, tingkah, dan perkataan, semuanya baik maka orang itu bisa disebut “yang saleh” atau “salehah”. Namun, kalau cuma prilakunya yang baik tapi perkataannya kurang ajar maka tidak bisa disebut “yang saleh atau salehah”. Untuk bisa disifati saleh atau salehah, maka semua dimensi pada diri seseorang harus betul-betul baik, luar dalam, dan secara konsisten.

Di samping itu, perlu dipahami, baik (salehah/saleh) di sini bukan pada dimensi fisik; seperti wajah atau tubuh. Yang berarti seksi, montok, cantik, dan sejenisnya. Sehingga, wanita cantik atau seksi bukan berarti bisa disebut dengan wanita yang salehah. Meski yang namanya Salehah memang ada yang cantik atau juga ada yang jelek, secara fisik tadi.

Oleh karena itu, banyak anak orang yang dinamai dengan Salehah  bagi yang wanita atau Saleh bagi yang laki-laki. Dengan harapan, agar anak itu kelak tumbuh dan menjadi anak yang baik atau yang saleh-salehah. Apalagi nama adalah doa, katanya. Di sisi yang lain, juga menjadi amat wajar ketika harapan semua orang, kalau anaknya menjadi anak yang ganteng atau cantik sekaligus saleh atau salehah. Meski tidak bernama Saleh, Hasan, Salehah, atau Hasanah. Lebih-lebih namanya juga seperti itu.

Meski demikian halnya, ada sebuah pertanyaan, apakah semua orang yang namanya Salehah atau Saleh itu berarti baik? Jawabannya, tidak. Belum tentu. Di desa saya, ada banyak yang namanya Saleh-Salehah atau Hasan-Hasanah. Tapi, diantara mereka ada yang namanya Saleh tapi kerjanya cuma sibuk cari uang sampai lupa salatnya. Ada juga yang Hasan tapi tukang nipu orang. Dan, ada pula yang mendekam dalam sel karena mencuri ayam tetangganya. Bahkan, kata teman saya yang suka pergi ke tempat-tempat mesum, konon, ada beberapa pelanggannya (PSK) yang namanya Salehah atau Hasanah. Hanya saja, untung masih lebih agak etis karena diganti dengan nama panggilan yang gaul, katanya. Pasalnya, tidak semua orang yang namanya Salehah atau Saleh itu baik. Tapi, juga tidak sebaliknya, tidak semua yang namanya Salehah atau Saleh itu buruk. Itu relatif. Tidak pasti. Dari itu, benar juga filosofi orang “Apalah artinya sebuah nama”.

Ada yang lucu. Belakangan, nama Salehah diplesetkan oleh orang-orang terutama di desa saya; orang-orang yang suka kluyuran, main wanita, dan hobi orkesan. Mereka menyebut , "bodinya atau goyangannya saleho”. Di sini kata dan makna salehah justru bergeser menjadi kata dan makna yang buruk atau mesum. Yakni, “Bodi Saleho” berarti bodi yang montok. “Goyangan Saleho”, berarti goyangan yang aduhai. Ini marak bersamaan dengan populernya goyangan ngebornya Inul Daratista dulu. Juga masih marak disebut-sebut sekarang.

Akhirnya, “Nama sebagai doa”, itu adalah benar. Sebab, setiap apa yang dicipta orang dari kata berupa ucapan maupun catatan pasti tersimpan di dalamnya makna atau sebuah harapan yang baik-baik. Terlepas standart kebaikan yang dipahami masing-masing. Alias, Tidak ada manusia selama normal yang ingin dirinya buruk atau celaka.

Begitu juga, “Apalah artinya sebuah nama”. Ini juga benar. Karena, tidak sedikit nama sebagai doa yang terpeleset akhirnya menjadi gagal. Termasuk nama baik (Saleh-Salehah, Hasan-Hasanah, dll) yang memiliki harapan yang baik pula, tapi kenyataannya malah menjadi sosok yang buruk. Paling terakhir, semoga semuanya baik-baik saja siapapun namanya. Subhanallah. Wallahu a’lamu bisshowab.

Lawang, 29/ 04/2009

Jumat, April 09, 2010

Indonesia, Milih Syariat Atau Budaya?

(Catatan Kritis Kasus Gayus dan Hukum Negri ini)

Untuk sementara bisa dipastikan, orang yang prilaku keagamaannya fanatik, maka akan memilih hukum syariat. Tapi, orang yang prilaku keagamaannya lebih  fleksibel, maka akan memilih yang kedua, hukum budaya atau keduanya lebih digemburkan bersama.

Orang yang pertama, memilih syariat karena pola dan prilaku kehidupannya melulu mendasarkannya kepada ajaran agama an sich, dan lebih terkungkung dengan tekstual. Biasanya klimaks solutif setiap persoalan yang sedang dihadapi adalah, "karena sudah ditetapkan demikian dalam Al-Quran dan Hadist, tidak bisa diotak-atik!"

Adapun orang yang kedua,  yang lebih fleksibel, bukan berarti dia membelakangkan hukum tekstual religius atau bukan tidak beriman, akan tetapi memadukan landasan hukum teks dengan konteksnya. Dia akan berangkat dari analisa yang mendalam seputar unsur-unsur persoalan yang sedang dihadapi secara holistik (utuh) dengan unsur kitab (teks/hukum syariat), logika, dan fenomena yang terjadi (konteks). Biasanya, dalam mencari solusi (keputusan hukum) persoalan tertentu dia bermain dengan, "bagaimana dan kenapa semua ini terjadi, lalu bagaimana tinjauan teksnya yang sesuai."  .............................

(Teks ini masih berlanjut hanya saja masih berupa coretan di buku, masih belum ada peluang untuk mempublikannya seara utuh, tunggu saja lanjutannya. Mohon maaf dan terima kasih)

Minggu, April 04, 2010

Yang Baru Itu

(Kado Bahagia buat saudaraku yang sedang pesta penyempurna hidupnya)

Saudaraku, hari ingin kau sedang pesta menyempurnakan hidupmu
Orang mengatakan, selamat menempuh hidup baru
Di sini aku juga menempuh hidup baru
Meski orang tak menyebutku manten baru

Saudaraku, aku ingin bercerita kepadamu soal baruku
Aku sedang berlabuh di pesantren yang baru
Kiaiku, guruku, teman-temanku, dan anginku semuanya baru
Mereka amat lain dari teman-teman kita yang dulu
Ketika kita selalu berdecak riang mengisah sorga kita

Saudaraku, mereka kalau cerita tentang mobil-mobil
Apartemen, restoran, dan bintang-bintang di kota-kota
Sedang aku hanya bisa diam
Sesekali mengembang senyum kepada mereka

Terlintas di wajahku waktu itu
Pematang sawah, cangkul-cangkul, sabit rumput
Sapi dan kambing di kandang, serta mandi dan berak di sungai
Lebih dari itu, mma' dan bapakku
Memetik sisa-sisa cabe yang tumbuhnya makin lesu
Di sawahku yang lebarnya tak lebih dari daun kelor
Mulai pagi buta hingga sore memerihkan mata
Agar bisa dijual buat sanguku di pondok yang baru

Saudaraku, apakah aku akan bercerita kepada mereka?
Dunia akan memandangnya lucu dan aku hanya bisu
Sesekali aku tersenyum sesekali aku menangis, saking lucunya
Bukankah kau sudah tahu itu sejak dulu?

Tapi, aku sangat amat suka itu, kelucuanku, mma' bapakku
Maka tersenyumlah untuk ceritaku ini meski sedikit saja
Pertanda masih ada teman yang mau mendengar kisahku
Agar aku selalu ceriah menghadapi hari-hari kelak yang baru

Ya, sungguh, akan baru, aku juga akan menjadi baru
suatu masa, segalaku
saat aku berani bercerita kepada mereka, kepada alam
Kepada semesta yang lalu dan yang baru

Mereka akan tertawa ria, mereka juga akan menangis sahdu
Mereka juga akan berdecak kagum

Lawang, 02/04/2010