Jumat, April 09, 2010

Indonesia, Milih Syariat Atau Budaya?

(Catatan Kritis Kasus Gayus dan Hukum Negri ini)

Untuk sementara bisa dipastikan, orang yang prilaku keagamaannya fanatik, maka akan memilih hukum syariat. Tapi, orang yang prilaku keagamaannya lebih  fleksibel, maka akan memilih yang kedua, hukum budaya atau keduanya lebih digemburkan bersama.

Orang yang pertama, memilih syariat karena pola dan prilaku kehidupannya melulu mendasarkannya kepada ajaran agama an sich, dan lebih terkungkung dengan tekstual. Biasanya klimaks solutif setiap persoalan yang sedang dihadapi adalah, "karena sudah ditetapkan demikian dalam Al-Quran dan Hadist, tidak bisa diotak-atik!"

Adapun orang yang kedua,  yang lebih fleksibel, bukan berarti dia membelakangkan hukum tekstual religius atau bukan tidak beriman, akan tetapi memadukan landasan hukum teks dengan konteksnya. Dia akan berangkat dari analisa yang mendalam seputar unsur-unsur persoalan yang sedang dihadapi secara holistik (utuh) dengan unsur kitab (teks/hukum syariat), logika, dan fenomena yang terjadi (konteks). Biasanya, dalam mencari solusi (keputusan hukum) persoalan tertentu dia bermain dengan, "bagaimana dan kenapa semua ini terjadi, lalu bagaimana tinjauan teksnya yang sesuai."  .............................

(Teks ini masih berlanjut hanya saja masih berupa coretan di buku, masih belum ada peluang untuk mempublikannya seara utuh, tunggu saja lanjutannya. Mohon maaf dan terima kasih)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar