Minggu, Mei 23, 2010

Pelita Buram di Pesantren

(Sekedar celoteh santri banyol tentang kisah kasih di pesantren)

Suatu saat, ada seorang teman santri temannya teman saya. Teman saya itu menceritakan tentang sekelumit cerita uniq yang dialami temannya itu di pesantrennya. Dia, temannya teman saya itu, mondok di sebuah pesantren Tahfidzil Al-Quran yang asli salaf pindahan dari pesantren yang full modern. Seperti biasa, di pesantren modern pendidikan tentang kitab-kitab akhlak memang tidak sekontsentrasi di pesantren salaf  yang memang melulu pelajaran kitab-kitab yang lumrah disebut kitab kuning (kutubut turost). Apalagi yang memang mengkhususkan diri pada penghafalan dan pengkajian Al-Quran (takhasshush).

Niat pindahnya selain karena sudah lulus diwisuda sampai sarjana satu di pesantren modern itu, dia juga ingin menghafal dan mendalami Al-Quran serta kitab-kitab salaf. Dia sebut pendidikan salaf itu dengan “pendidikan hati”. Dulu, di pesantren modern dia memandang otaknya yang lebih digodok dengan pelajaran-pelajaran yang lebih berbau logika atau umum. Meski agama atau moral juga ada, tapi tak sebesar di pesantren salaf. Tapi, bukan berarti pesantren modern tak bermoral, hanya saja sistemnya yang berbeda. Sehingga, hatinya dirasa masih lapar dengan materi-materi yang berisi nilai-nilai budi pekerti atau moral sehingga butuh lebih konsentrasi (tahasshush), bahkan dia amat tertarik dengan tasawwuf. Singkatnya, dia ingin di pondok yang baru itu mendapatkan pencerahan hati (pendidikan hati) yang lebih benderang lagi.

Dengan bekal yang sudah dirasa cukup termasuk mental bulat untuk hidup dengan suasana, tradisi, sistem atau hawa yang pasti baru singgahlah dia di pondok baru yang dia yakini dapat lebih mencerahkan hatinya itu. Menggodok dirinya secara lebih khusus menjadi orang yang penuh bumbu-bumbu Al-Quran.

Pada minggu-minggu awal dia enjoi-enjoi saja, amat yakin dengan hawa pesantren yang baru itu. Apalagi dengan seorang kiai yang amat sangat penyantun dan penyabar yang pikirnya dengan kiai begitu pendidikan akan betul-betul dijalani dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, sehingga barokah ilmu akan betul-betul dapat diraup sepuas mungkin.

Namun, minggu bertambah minggu dan bulan menuju bulan, keikhlasannya itu menjadi makin terganggu, bukan karena sistem pesantren apalagi karena kiainya, akan tetapi karena gaya dan ulah pergaulan santri-santrinya yang menurutnya uniq, belum pernah ia lihat sebelumnya. Tapi, bukan berarti juga ulah mereka  jahat-jahat atau bringas-bringas, hanya saja interaksi antara banin (santri putra) dan banatnya (santri putri) yang menurutnya kurang mencerminkan santri terlebih di pesantren Al-Quran, malah bertolak belakang dengan Al-Quran.

Betapa tidak, suatu hari, dia melihat teman putrinya bebas longgang langgang di warung pojok dekat pesantren. Itu wajar pikirnya, karena pondok memang mengijinkan santri-santri untuk berbelanja, asal dalam radius dekat sekitar pesantren. Di hari yang lain, saat dia mau ngambil nasi dan air di dapur dia disuit-suitin oleh segerombolan santriwati dari jendela asramanya. Asrama santri putri memang nyaris satu bangunan dengan santri putra hanya dipisah dengan dapur ndlem (keluarga kiai) yang sekaligus jadi dapurnya pesantren. Sehingga, antara santri putra dan putri pada posisi tertentu bisa saling berpandangan dari jendela asrama masing-masing dengan jelas. Di samping itu juga, kamar mandi putri yang posisinya pas melewati dapur, sehingga santri putra dapat berpapasan langsung berdekatan dengan santri putri kalau pas santri putranya ke dapur dan santri putrinya mau mandi. Tidak jarang juga ketika di musalla lantai tiga dia digoda dengan dilemparin batu oleh santri putri dari dapur tempat jemuran mereka yang pas juga berhadapan dengan musalla putra. Ini tetap dia anggap wajar, sebab dia memang santri baru, bisa jadi santri putrinya penasaran dan ingin kenal atau sekedar iseng saja. Biasa barang baru mudah memantik penasaran orang, apalagi barang barunya agak kinclong, he..

Di hari yang lain, saat dia ke dapur seperti biasanya dia kepergok lagi dengan beberapa santri layaknya saling berpasangan sedang ngobrol-ngobrol. Melihat fenomena itu dia masih mewajarinya, sebab bisa jadi memang ngobrol urusan penting atau dapur, meski saat itu suasana sangat amat sepi dari orang lain. Peristiwa dapur ini kerap dia temukan sehingga nyaris membuat hatinya makin curiga atau waswas. Tapi, dia tetap aja cuek nggak mau mikir yang macem-macem atau suudhon. Padahal, kalau melihat suasana dan kondisi dapur sangat sudah tidak wajar, sepi, apalagi ketika nyai dan bapak kiai keluar.

Memang sempat terlintas di pikirannya, mereka tampaknya seakan saling bermesra atau bercinta meski hanya sebatas obrolan, tapi lagi-lagi dia tak hirau. Sebab dia berpikir, maklum mereka manusia normal meski memang bercinta tidak mungkin sampai sefatal bercintanya anak-nak nonpesantren. Bercintanya anak santri paling banter ngobrol-ngobrol gitu doang atau surat-suratan.

Motif Kewaswasannya tersebut belum lagi ditambah dengan cerita-cerita miring kakak seniornya yang akrab dengannya yang sebetulnya memang menunjukkan pergaulan gelap di antara santri putra-putri itu bahkan seakan lebih parah, konon, ada yang sampai tembus janjian ketemuan di luar pesantren, meski demikian dia tetap saja tidak mau pikir tentang itu.

Nah, ternyata kekebalannya untuk tidak curiga terhadap pergaulan tak beres tersebut menjadi tak mempan lagi ketika dia melihat dengan mata kepala sendiri gambar (foto) beberapa teman santrinya putra-putri saling berpasangan sedang berangkulan mesra di luar pesantren, konon, katanya memang ketemuan di luar pesantren dengan pura-pura ijin belanja atau pulang.

Apalagi, salah satu yang di gambar tersebut anaknya seorang kiai lumayang terkenal yang juga memiliki pesantren takhassus Al-Quran. Jelasnya dia seorang nyai muda, cantik plus manis lagi. Memang di pesantrennya (temannya teman saya itu) kebanyakan santrinya kader-kader khusus untuk menghafal Al-Quran, yang kalau bukan anaknya kiai ya anaknya pejabat tertentu, bahkan tidak jarang yang katanya ahlil bait, atau sarifah (anaknya habib/keturunan Arab).

Dari fenomena terakhir ini keikhlasannya dan keyakinannya kepada kondisi pergaulan di pesantren (bukan kepada pesantren atau kiainya) itu betul-betul tergannggu seraya tetap yakin ke kiai dan pesantren. Dia pikir biarlah mereka berulah demikian yang penting dirinya betul-betul serius belajar dan menghafal Al-Quran.  Biasanya di manapun yang namanya ketidakberesan pasti ada.

Mendengar cerita teman saya tentang temannya itu,  hati saya terasa tersentuh bara api. Apalagi saya juga santri Takhasshush Al-Quran. Kalau soal pacaran atau santri berdosa di pesantren pada umumnya itu wajar. Artinya, saya berpikir bahwa di manapun kejelekan atau dosa memang bisa terjadi, juga pada siapa saja. Bukan berarti kiai atau santri (insan pesantren) itu benar atau suci semuanya. Ini akan mengakui semua. Bahkan virus dosa atau kejelekan di pesantren bisa lebih ganas dari pada dunia nonpesantren. Sebab, pesantren adalah tempat suci untuk menuntut ilmu-ilmu agama dan perjuangan agama.

Sedangkan yang lebih saya sayangkan, bahkan saya mangkelkan adalah karena terjadi di pesantren jenis Tahfidzil Al-Quran. Termasuk, kasus yang paling terakhir, yakni santri kader atau nyai itu. Sebab, mereka adalah santri khusus yang memiliki tanggung jawab masa depan yang lebih berat sebagai generasi abi-nya. Bukankah dia seharusnya dituntut untuk kembali membawa ilmu yang lebih untuk meneruskan pesantren atau organisasi yang diamanahi ke abinya itu? Tapi, kenapa kok sempat-sempatnya pacaran sampai fatal-fatal semacam janjian-janjian di luar itu segala? Padahal, seorang kiai pernah bilang, seorang wanita yang sudah berani keluaran tanpa muhrimnya, apalagi pacaran dengan sengaja sampai melanggar peraturan pesantren berarti dia wanita yang terlalu nekat, telah melampaui batas kesejatiannya sebagai wanita yang harus betul-betul menjaga kehormatannya.

Kemudian saya juga berpikir, apalagi anaknya kiai, nyai, astagfirullah, betapa beraninya bermaksiat terang-terangan dengan pacarannya dalam keadaan sebagai santri kabur dari pondokknya, difoto lagi. Saya juga tidak bisa membayangkan bagaimana seandainya abinya yang kiai itu tahu gambar mesra putrinya itu, apalagi santri-santri di rumahnya? Belum lagi ketika mati nanti malaikat tak butuh bukti ngambil di catatannya sendiri cukup dengan memamerkan fotonya yang diabadikan sendiri oleh orangnya itu. Naudzubillah. Makanya, yang lain kalau memang hobi maksiat tak usah pakai foto-fotoan deh, takut jadi bukti paling tampak di kubur atau di akherat nanti.

Akhirnya, sambil menahan sial dengan keberadaan seorang santri nyai muda yang cantik, yang bangga berpacaran di foto itu, dari cerita teman saya itu, saya berseloroh untuk menghibur diri sambil menanggapi cerita teman saya itu:

“Untung banget sih cowok itu dapat menggaet santri nyai itu, cantik lagi, manis lagi, anaknya kiai lagi, uh gimana enaknya ya kalau bermesra dengan dia apalagi di pelukannya, manteb men! Kataku ke teman saya itu sekalian me-ngeres-kan diri saking mangkelnya.

“Wah amat sangat untung banget men. Bukan hanya itu, justru konon nyainya yang naksir duluan.” Tanggap teman saya itu.

“Waduh-waduh, kok pas ketemu nyai agresif gitu ya, kan enak! Tapi, apa sih kelebihan cowok itu kok sampai digatelin nyai santri itu? Katanya nggak begitu tampan!” Urus saya jadi ngeres.

“Yah nggak tahu lah, yang namanya cinta kan memang gitu, buta. Tapi dia tajir men.” Tegas teman saya.

“Ya nggak gitu lah, eman-eman donk nyai secantik gitu kok sembarangan bercintanya, dasar terlalu gatel, pokoknya ada, mungkin. Kenapa kok nggak ketemu saya aja, sekalian dosa kan nggak rugi, kan lumayan ganteng, pinter nulis lagi, sarjana lagi.” Celoteh saya ancur-ancuran ngeresnya dan so’-so’an.

“Yah, kamu so’-soan, ganteng kalau miskin kan percuma! Emangnya mau nyosor ke tulisamu itu!?” Tanggap teman saya menjadi ngeres dan memangkelkan saya.

“Apa!? Emangnya nggak lebih parah nyosor ke uangnya itu!” Balas saya tak maukalah.

“Oh, ya, ya! Teman saya mengalah. Mungkin dia lebih sadar dulu bahwa percakapan kami tak sehat, ngerumpiin orang, apalagi makin lama makin ngeres. Akhirnya, percakapan kami berakhir beiringan iqamah salat magrib. Teman saya langgung bergegas ke musalla berjemaah. Sedangkan saya masih ke tambak untuk berwudhu. Tampak ikan di pondok kami memang juga berfungsi sebagai tempat berwudhu dan mandi.

Sekali lagi, ini cerita teman saya itu tentang temannya di pesantrennya. Entah benar atau tidak. Siapapun jangan sampai yang berpikir macam-macam, apalagi berburuk sangka tentang pesantren hanya gara-gara catatan sederhana ini. Sebab, tulisan ini bukan untuk itu, apalagi untuk menfitnah pesantren, hanya saja saya maksudkan sebagai kaca benggala bahwa kita sebagai santri harus betu-betul serius, nyantri kita tidak main-main. Sekali nyatri selamanya jadi santri lahir batin. Tidak cuma namanya dan seragamnya. Kita nyantri bukan berarti jaminan hidup selalu benar, suci,dan masuk surga. Apalagi yang nyantrinya memiliki misi khusus, sebagai kader yang memiliki pesantren atau lembaga pendidikan yang akan meneruskan abinya kelak. Jangan sampai terjadi kata orang, “nyainya/gusnya (anaknya kiai) saja hobi pacaran apalagi santrinya atau rakyat awamnya. Naudzubillah. Jangan sampai terjadi. Selain mencoreng nama keluarga pada khususnya, lebih dari itu mencoreng dunia pesantren dan agama. Ini juga bagi santri yang bukan anaknya kiai atau pejabat. Santri semuanya.

Selain itu, juga tersurat sebuah filosofi, bahwa semua manusia siapa dan di manapun sama-sama berpotensi untuk berbuat dosa. Yang lepas dari dosa hanya Rasulullah. Lebih-lebih yang sedang berjuang dalam agama (pesantren), sebab "semakin tinggi sebuah pohon makin besar pula terjangan anginnya", bukankah begitu kata pepatah kita. Saya kira siapapun akan mengakui hal ini. Selain itu, di sini juga tersimpan sebuah prinsip, yakni masalahnya adalah “bagaimana kita sebagai manusia-terlebih kiainya atau santrinya itu-memiliki keterampilan mengolah potensi dosa tersebut menjadi tidak berdosa dan berpahala”. Ini pada intinya yang juga harus selalu diperhatikan.

Akhirnya, menjadi harapan pribadi, semoga santri-santri yang rusak-rusak, yang hobi bermaksiat, pacaran, begitu juga perilaku lainnya yang tidak pantas untuk seorang santri lekas-lekas sadar dan bertobat. Begitu juga saya. Lebih khusus nyai cantik yang sudah kadung dibilang gatel tadi, meski saya tidak bertemu langsung, hanya cerita dari teman saya itu dan melihat di fotonya, saya ucapkan mohon maaf. Itu bukan karena saya benci sekaligus merasa suci, tidak. Saya hanya eman-eman sampean: sebagai anaknya kiai, yang cantik, yang manis, yang darahnya biru (mungkin, katanya orang), kenapa kok harus berperilaku murah!? Bukankah sampean permata yang tersimpan mahal yang sejatinya orang butuh perjuangan mengjangkaunya?! Sampean adalah figur yang dicontoh. Inilah niat saya khusus pada sampean dan juga yang sedang sejenis, dan santri semuanya, mungkin ada. Mohon maaf dan terima kasih. Saya suka sampean semua terlebih saya harus bisa berubah, umat kita sedang menunggu kita sampai termangu bahan sesekali lesu. Sampai kapan kita lekas kembali kepada mereka membawa embun pagi, yang jernih, yang sunyi, yang suci, mendamaikan hati. Allahu a’lam.
Lawang, 21/05/2010

Mati Sahid dan Senyuman Gadis Cantik

Saya punya janji pribadi, tiap libur nyetor hafalan Al-Quran, malam jum’at, saya harus konsisten nulis. Nulis apa? Apa saja yang penting nulis dan bukan nulis porno. Ini sekaligus saya ingin membuktikan pesan kiai bahwa masa depan seorang santri diukur dari kebiasaannya saat di pesantren.

Pesantren adalah menjadi cetakan yang acap tak terduga nasib masa depan seorang santri. Kalau di pesantrennya hobinya pidato, ya paling tidak di masyarakat kelak jadi tukang khutbah jum'at, meski seminggu sekali; kalau di pesantrennya suka berorganisasi, ya paling apesnya kelak jadi perangkat desa atau tokoh masyarakat di kampungnya. Begitu juga, kalau di pondok suka main domino, ya di luar bisa jadi bandarnya togel; kalau di pondoknya hobi pacaran atau menggoda lawan jenisnya, ya kelak di masyarakat jadi tukang selingkuh; kalau di pondoknya suka ngrumpiin temannya, ya di masyarakat pasti jago fitnah; kalau di pondoknya suka mencuri, ya pasti di luar kelak jadi maling besar, dll. Inilah filosofi orang-orang tua kita mengatakan, “kalau di pondok nyuri jarum maka kelak di masyarakat nyuri jaran (kuda)”.

Nah, dari itu saya berpikir, mungkin saja kalau saya sekarang di pondok suka dan hobi nulis kelak saya jadi penulis terkenal yang tulisannya di baca orang di mana-mana. Sebab, saya ngebet jadi penulis. Kenapa saya ngebet ingin jadi penulis? Kata imam Ghozali (Ihya Ulumuddin) dalam mengutip Hadist Nabi saw (saya lupa Hadistnya) bahwa qalam (pulpen/tinta) ilmuwan itu sama dengan pedangnya para shuhada’ yang mati sahid berperang memperjuangkan dan menegakkan Islam. Menurut saya, kan lebih enak menjadi sahid dengan menulis. Sebab, dengan menulis maka nilai dakwah kita lebih luas dan lebih abadi. Lebih luas karena yang baca bukan hanya satu orang dan di mana-mana. Lebih abadi karena meski kita mati tulisan kita tetap ada dan dibaca orang.

Sehingga, bukankah sahid ini lebih mendamaikan atau tidak mengerikan? Apalagi sahid perang di zaman sekarang semisal bom bunuh diri, ini kesahidannya masih dipertanyakan, bahkan dikecam teroris. Betapa tidak, konon, kalau kemantenan bom bunuh diri yang dilakukan itu ingin mambunuh orang kafir, tapi sudah pastikah orang kafirnya? Dan, kalau memang betul-betul kafir,  menghardik Islamkah dia? Belum lagi kalau ada orang Muslimnya yang ikut-ikutan tewas juga. Jadi, sahidnya masih diragukan. Inilah alasan saya, kenapa saya ingin jadi penulis.

Khusus jum’at ini tak ada inspirasi signifikan yang akan saya tulis. Akhirnya, dari pada kosong, takut nulis libur juga, saya ingat senyum dan ucapan terima kasih seorang santri gadis cantik, apalagi, konon, dia bintangnya di pesantren saya ini. Ini yang menjadi inspirasi saya saat ini.

Sungguh, namanya laki-laki normal, siapapun hatinya akan tergugah dan bahagia setinggi langit kalau disenyumi gadis cantik seperti itu. Kecuali, orang gila yang disenyumin kambing pun di jalanan dia bahagia. Karena saya juga normal maka saya juga bahagia, bahkan sampai menjadi inspirasi khusus saya saat ini. Bahkan lagi, senyumannya selalu berkelebat memenuhi seluruh bilik-bilik hati dan otak saya.

Apakah saya berlebihan? Atau, ada rasa kagum atau bahkan jatuh cintrong? Entahlah, saya hanya ingin mengungkap eksistensi saya bahwa saya adalah termasuk orang yang normal, sehinga merasa bahagia plus tersanjung kalau disenyumin wanita cantik. Bukan ingin mengungkap bahwa saya cinta dia atau siapa. Bahkan mungkin, apakah saya “bajingan wanita” (meminjam istilah teman saya untuk lelaki yang suka mempermainkan wanita)? Atau, mungkin juga play boy,  mata kerangjang, dan sebutan lainnya. Apalagi ini, lebih pasti tidak.

Masalah cinta belakangan. Itu masalah hidayah. Bukankah cinta katanya anugrah? Hidayah adalah bagian dari anugrah Tuhan itu. Itulah cinta yang sejati. Katanya orang-orang bijak. Bukan cinta karena sahwat, yang setiap ketemu wanita cantik ingin dipacari dan dikencani. Ini cinta yang salah. Kalau perasaan saya memang cinta semoga cinta saya itu bukan cinta yang nafsu sahwat ini. Oleh karena itu, soal cinta belakangan, itu teka teki, nunggu anugrah-Nya. Sekali lagi, semua ini hanya sebagai ungkapan bahwa saya laki-laki normal bahagia kalau disenyumin wanita cantik.

Tapi, kalau bahagianya sampai demikian tingginya, saya juga tidak bisa membayangkan, bagaimana seandainya gadis cantik itu sampai mengungkap rasa “jatuhnya” ke saya. Yang jelas bukan jatuh ke jurang lho! Pasti pembaca paham sendiri kok! Hus, kok malah ngalor ngidul gini nulisnya! Udah lanjut yang lain aja.

Akhirnya, saya juga bertanya-tanya, kalau saya merasa melayang setinggi angkasa disenyumin wanita cantik, bagaimana kalau saya disenyumin wanita jelek? Wah, ini jawabannya lumayan rumit!

Gini saja, bukankah kata orang, cantik itu relatif? Selain itu, bukankah banyak motif cantik? Lihat saja, banyak pasangan suami istri yang fisiknya sama-sama jelek menurut kita, tapi mereka saling jatuh cinta dan bahagia. Begitu juga tidak sedikit yang menurut kita suaminya ganteng dan istrinya jelek-atau sebaliknya-tapi suaminya itu sangat amat mencintai istrinya, dan bahagia, punya anak banyak kok! Inilah titik terangnya. Bahwa cinta adalah relatif.

Motif cantik juga relatif. Ada orang yang memang cinta karena cantik paras wajahnya, berarti cantik bentuk wajahnya; ada yang cinta karena gaya bicaranya, berarti cantiknya ada pada gaya bicaranya; ada yang cinta karena seksinya, berarti cantiknya ada pada tubuh seksinya; ada yang cinta karena bokong semoknya, berarti cantiknya ada pada bentuk bokongnya; dan, saya pernah dicurhatin teman, bahwa dia sedang ngebet kepada seorang gadis yang, amit-amit, “anunya” gedhe atau bongsor, berarti cantiknya ada pada “gunung kembarnya”. Dll. Sori ngeres dikit.

Inilah kiranya, kalau dipikir lebih mendalam lagi, bahwa cantik dan cinta itu memang relatif dan merupakan bentuk dari anugrah Tuhan. Dan, inilah letak keadilan Tuhan, betapa Dia memberi kelebihan (keindahan/kecantikan) kepada tiap manusia berbeda dan beraneka ragam serta sesuai dengan potensi atau keadaan kediriannya (eksistensinya), dengan demikian tanpa mengurangi harga diri masing-masing. Sebab, dengan kelebihan itulah dia dapat mempertahankan hidupnya dan bahagia. Misalnya, para kiai hidup dengan wasiat-wasiatnya; para penyanyi hidup dengan lirik-lirik lagunya; para penyair hidup bahagia dengan bait-bait syairnya; para hafidzul Al-Quran hidup bahagia dengan tartil Al-Qurannya; burung-burung dengan kicauannya; lautan dengan gelombangnya; begitu juga Inul Daratista hidup senang dengan goyangan ngebornya, serta Julia Peres hidup bangga dengan tampilan “bukak-bukaannya”.

Dari pada itu, anak muda mengatakan “ cinta itu relatif” dan “Bukan cantik yang membawa cinta tapi cinta yang membawa cantik”. Bukankah benar begitu?

Kembali kepada persoalan pribadi tadi. Bagaimana saya: antara bahagia senyuman gadis cantik dan gadis jelek? Jawabannya, terserah dari pada kerelatifan plus kearifan cantik dan jeleknya perasaan saya serta anugrah cinta saya terhadap seseorang. Bisa saja suatu saat saya juga bahagia atau terasa melayang setinggi angkasa lantaran disenyumin seorang gadis yang secara fisik anggaplah paling buruk, tapi pada satu sisi dia dapat membuat saya terkagum-kagum. Dari pada gadis yang secara fisik sudah paling cantik, tapi dia hobi gonta-ganti pasangan atau pacar. Ini bisa saja terjadi.

Pada akhirnya, apa hubungannya sahid, cinta, dan gadis cantik pada judul di atas? Yang jelas terus terang, secara pribadi saya tergila-gila (cinta) kepada Al-Quran dan bercita-cita menulis Al-Quran. Ya, tentunya karena juga Al-Quran yang paling cantik dan indah bagi saya. Menulis Al-Quran bukan berarti mau buat Al-Quran tandingan Tuhan seperti orang-orang orientalis. Atau, sok menafsirkan Al-Quran menyaingi para mufassir, seperti yang lagi ngetren juga sekarang banyak ilmuwan seumur jagung sudah sok jadi mufassir. Tapi, saya menulis untuk berbagi oleh-oleh saya dari Al-Quran dengan manusia yang lain. Gitu aja kok repot. He…

Mati sahid? Sudah jelas, ingin mati sahid dengan menulis saja. Cinta, cantik dan sahid yang ini tidak relatif, tapi sebuah kepastian yang tidak bisa ditawar-tawar lagi di hati saya.

Khusus bagi gadis cantik, semoga tidak bosan-bosan untuk menebar senyumnya pada saya. Senyum kan sodaqah? Siapa tahu saat saya ngantuk ketika ngafal atau nderes Al-Quran gara-gara ingat senyum sampean itu lantas saya menjadi semangat kembali, tapi jangan suka senyum sendiri lho, nanti orang-orang pada malah lari semua. Dan, sekali saja mandangnya biar menjadi rizqi bukan maksiat lain muhrim. Oya, senyumnya juga yang biasa saja jangan dipolesi makna  yang lebih dalam lagi, takut saya nggak bisa konsentrasi ngafal Al-Quran. Paling akhir, trima kasih dan mohon maaf semuanya.
Lawang, 20/05/2010

Rabu, Mei 12, 2010

Tombo Ati: Ngenet dan Ngemal


 Yang namanya “santri banyol” memang ada-ada saja. Secara pribadi saya tidak tahu jelas apa definisi pasti dari “santri banyol” itu. Yang jelas saya pahami, dia adalah santri yang kerap membuat orang lain bisa tertawa dengan keberadaannya. Jangankan memang sengaja melucukan diri, dari bentuk dan gaya keberadaannya saja sudah bisa membuat orang tertawa. Dan, entah apa sebutan resminya untuk santri seperti itu, saya juga tidak tahu.

Biasanya, setiap pesantren punya istilah sendiri untuk menjulukinya dan berbeda-beda sesuai dengan warna tradisi dan dialektika bahasa setempat. Di pesantren saya yang dulu, di Madura, teman-teman menyebutnya “santri deller”, sesuai dengan dialektika bahasa Madura. Santri banyol saya mengenalnya di pesantren saya yang baru ini, di Malang, sehingga tentunya juga sesuai dengan dialektika bahasa Malang yang mayoritas santrinya Jawa. Mungkin secara umum ini tidak jauh dari sebutan “orang atau santri khilaf”. Pokoknya, santri jenis ini gaya dan prilakunya cenderung lain dari pada yang lain, sehingga keberadaannya acap membuat orang lain merasa lucu.

Pada sebuah pengajian kitab kuning. Ada santri yang memang dipandang banyol oleh teman-teman tiba-tiba bertanya seraya seakan terkesan dengan mimik mengeluh dan mengadukan sebuah permasalahan pribadinya kepada Bapak Kiai, meski saat itu belum dibuka sesi pertanyaan. Begitunya saja sudah membuat lainnnya pada mesem-mesem saat itu.

Aba, saya sedang pusing ga’ bisa nyetor hafalan Al-Quran. Apa obatnya?” Tanyanya

Sebutan aba adalah panggilan untuk kiai di pesantren ini. Sengaja Bapak Kiai menyuruh para santrinya memanggil Beliau dengan panggilan Aba agar terkesan tidak ada jarak antara santri dan kiai, sehingga santri dan kiainya sangat dekat, layaknya anaknya sendiri. Pada akhirnya, santri dapat berani mengadukan permasalahannya apa saja ke kiainya dengan tidak takut dan tidak canggung-canggung. Ini sangat cocok bagi saya khususnya. Bukankah memang sejatinya kiai itu begitu, sebagai problem solver (tempat mengadu mencari solusi persoalan hidup) selain central figur tauladan bagi santri dan para masyarakatnya? Sedangkan nyainya dipanggil umi atau ibu layaknya umi atau ibunya sendiri. Ini jarang terjadi di pesantren yang lain.

“Ente tahu kosidahan “tombo ati” yang jumlahnya lima itu?” Tanggap Aba

“Oya, saya tahu Ba, itu memang ada lima.” Jawab santri banyol dengan polosnya

“Coba sebutkan,”! Lanjut Aba.

“Tombo ati iku limo warnane: moco Qur’an lan maknane, sholat wengi lakonono, wong kang sholeh kumpulono, kudu weteng ingkang luwe, dan dzikir wengi ingkang suwe.” Tegas santri banyol, mencoba dengan lirik Jawa aslinya meski agak terbata-bata. Tapi, dia memang agak hafal. Lagi-lagi dengan gaya jawabnya yang polos membuat lainnya tertawa.

“Ya itu obatnya. Kan udah jelas. Tinggal ngelakoni saja sampean.” Jelas Aba.

“Oh, bukan itu Ba, itu salah! Itu kan tombo ati, obatnya ati. Kalau saya ini kepala sedang pusing. Biasanya saya mengobatinya dengan main game, ngenet (internetan/chatingan/facebookan), atau pergi ke mal (ngemal), refresing.” Tegas santri banyol dengan nada yang polos dan meyakinkan.

Mendengar jawaban santri banyol tersebut spontan sang Aba dan para santri yang lainnya tertawa terbahak-bahak. Suasana pengajian seakan berubah menjadi lakon lucu-lucuan. Sedangkan santri banyol cuma menggaruk-garuk kepalanya.

Di samping itu, lebih seru lagi, ada beberapa santri yang tertawanya tidak pas, sebab seraya terancam oleh kepolosan santri banyol tersebut. Dia berpikir, saking polosnya santri banyol dia takut ketika ditanya tentang siapa yang mengajak atau menemaninya ke mol dan internet jangan-jangan dia juga akan nyerocos menyebutkan nama-nama yang ngajak itu. Tapi, syukur itu tidak jadi ditanya.

Sebab, kalau saja ditanya lalu santri itu nyerocos menyebut santri yang terlibat juga, maka santri-santri yang juga menemaninya itu akan kedamprat hukuman oleh Aba. Sebab, ngenet adalah menjadi salah satu larangan terkeras Aba selain bawa HP ke pesantren. Meski tetap saja dilanggar oleh santri-santri yang tidak ketahuan. Itu sudah banyak santri yang mengalaminya. Terbukti beberapa minggu sebelumnya ada yang direndam semalaman di kolam ikan, gara-gara kabur dari pondok untuk ngenet.

Akhirnya, Aba menjelaskan duduk persoalannya secara serius. Sebab, ini menjadi pelajaran yang signifikan terkait dengan ibadah dan moral. Beliau menegaskan bahwa segala apa yang ada pada diri kita ini disetir oleh satu onderdel dari tubuh kita, yaitu hati. Hati inilah yang menjadi pusat dari segala-onderdel-onderdel tubuh lainnya, termasuk kepala atau otak. Kalau dia rusak maka rusak semua. Kalau dia baik maka baiklah semua unsur tubuh. Ini jelas dipertegas dalam Hadist Nabi saw.

Nah, salah satu yang membuat hati baik  adalah “tombo ati” di atas. Ini adalah obat hati warisan ulama-ulama dahulu (salafus saleh). Kalau diamalkan akan betul-betul menjadi obat mujarab bagi segala penyakit hati. Sedangkan internet atau mol itu obat warisan dari syetan yang pada akhirnya bukan malah menyembuhkan tapi bisa membuat penyakit-penyakit baru yang bukan hanya menggerogoti diri sendiri, dia bisa menjalar kepada diri yang lain.

Aktifitas internet dan mal lebih dekat dengan maksiat. Di internet, sekarang tinggal ngeklik sudah terpampang apa yang kita mau dari nafsu. Begitu juga di mal-mal, banyak wanita-wanita yang mengumbar paras ayunya, mempertontonkan tubuh aduhainya. Kasarnya, kita dengan mudah menikmati maksiat atau dosa bahkan seakan sengaja disodori; paha-paha bergengsi dan bodi-bodi semok kita tinggal menikmatinya saja. Busana ketat dan gaya buka-bukaan sekarang makin ngetren dan menjadi kebanggaan generasi muda mudi juga tak ketinggalan tua-tua keladi-nya baik yang sekuler maupun yang santri atau Islami. Meski mereka tidak meniatkan seperti itu. Padahal, itu sejatinya menjadikan harga diri mereka menjadi murah meriah. Tak punya harga diri, apalagi kelak di kehadirat Allah swt. Naudzubillah. Bapak kiai memaparkan fenomena ngeres ini seakan dari mimik wajahnya diselimuti penyesalan, kenapa generasi sekarang serba terbalik dan jauh dari kehidupan yang benar seperti itu.

Sementara semua santri baik yang banyol maupun yang biasa mendengar nasehat Aba demikian, mereka pada menundukkan wajah apalagi mereka yang di balik hijab, keturunan Hawa. Astagfirullah. Fenomena santri banyol telah membawa banyak hikmah. Tapi, jangan sok banyol.


Lawang, 12/05/2010

Selasa, Mei 11, 2010

Sekedar Ungkapan Hati Kecil


(Catatan hati kecilku buat adik siapa saja dan di mana saja)

Dik, maafkan saya kalau ngirim karyaku terus menerus kepada adik. Bukan sok pinter, atau sok berkarya, apalagi sok bercinta or cari perhatian dari adik, apalagi adik, konon, jadi artisnya pondok sini, tidak seperti itu kok niat saya. Itu semua untuk selingan saya saja di pondok ini. Sebab, kalau melulu dalam satu aktifitas aku jadi boret. Jadi, sekedar hiburan saja. Dari pada hiburan keluar pondok, main Hp, ngerokok, kerasan di warung pojok sana, ngegem, ngenet or ngorok tidur! kan lebih baik itu. Betul ga’? he….. apakah ini sebuah pelanggaran di pondok ini? Tentu saya yakin tidak.

Lebih-lebih saya ingin melestarikan jalan menuju karir masa depan saya. Sebab, saya ngebet ingin jadi penulis. Saya pingin banget nyebarin ilmu Al-Quran dari tulisan. Betapa bangganya saya kelak ketika tulisan-tulisan saya mewarnai media masa di negri ini bahkan di dunia. Betapa bangganya saya kelak kalau saya dapat menelorkan karya-karya buku yang di baca banyak orang di mana saja, termasuk para santri di berbagai pesantren. Itu mimpi saya dik.

Jadi, meski sekarang, saya harus tetap mambiasakan menulis seperti di pondok saya yang dulu, Al-Amien Prenduan Madura tercinta. Tapi, Al-Quran tetap juga nomor stunggal, tak boleh kalah dengan yang lain. Kalau bisa enam bulan harus sudah hafal plus lancar, he…so’-so’an. So, bantu doanya ya……

Lebih khusus, suatu hari adik akan membaca sebuah karya tulis di media massa, Jawa pos Misalnya, dengan nama Prof. Ali Sabilullah, Phd. Sedang adik membacanya sambil duduk santai minum kopi di rumah dengan suami tercinta, apalagi yang nulis ini jadi suaminya sendiri, he…..kwak…..kwk…kwk….Cuma canda kok. Lagian ga’ mungkin saya jadi suaminya adik, saya orang amat miskin ga’ punya apa-apa n ga’ bisa apa-apa lagi. Jadinya, seperti “pungguk merindukan rembulan” nanti, he… Lho kok jadi ngomongin cinta nih! Dasar, penulis ngreres..he….nanti cowok adik cemburu nih. Makanya jangan bilang-bilang keceplosan saya ini lho.. he..he..

Oke deh, met bercinta dan bermesra ria dengan Al-Quran saja, jangan dengan yang lain. Kalau hati sedang dirundung asmara kepada seseorang ya ungkapkan saja kepada Al-Quran or ungkapkan saja dengan tulisan seperti saya ini, he…. Kan lebih aman dan beriman, he….. Yups………. Wallahu’alamu bis showab.

Lawang, 13/05/2010

Senin, Mei 10, 2010

Kiainya Suka Tirakat, Santrinya Hobi Tidur Sekarat


(Catatan Kecil Bagi Para Pejuang Al-Quran)
Yang namanya santri "ngebet" ingin cepat hafal Al-Quran berbagai cara dicari-cari. Tapi, bukan berarti "berbagai cara dihalalkan"sebagaimana ambisius dalam urusan lainnya. Sebab, ini terkait dengan Al-Quran yang katanya juga erat dengan hidayah yang tidak bisa dicerna dengan akal logika biasa. Sehingga, dari niatnya saja sudah harus ce' sterilnya. Yang tidak steril pasti tidak akan berhasil.

Termasuk mencari cara itu adalah saling tukar pendapat dan pengalaman antara santri yang satu dengan yang lainnya. Caranya, santri yang masih mau atau sedang menghafal (tahap setoran) Al-Quran bertanya kepada santri yang sudah hafal (paling tidak tinggal "deres"/melancarkan). Kiai saya menyebut santri yang masih dalam proses ngafal tersebut dengan sebutan "mutahaafidh". Berasal dari kata "tahaafadha" yang artinya saling menghafalkan, yakni masih dalam proses menyetor hafalan kepada sang kiai atau pembimbing. Di sini, sang guru itu mengingatkan (baca: menghafalkan) atau membenarkan hafalan yang lupa atau yang salah pada diri sang santri.

Sedangkan yang sudah hafal atau selesai nyetor hafalannya sempurna 30 juz, atau biasa dibilang selesai diwisuda atau istilah lainnya itu, Beliau menyebutnya "haafidz". Maksudnya, santri yang sudah selesai menyetor hafalannya sebanyak 30 juz, sehingga tinggal "deres" atau melancarkan saja. Meski kerap sangkaan guru atau kiai menyebut santrinya yang sudah diwisuda berarti dia hafidz itu salah kaprah, sebab bisa jadi dia hanya selesai nyetor tapi hanya setoran hafalan saja. Yang dihafal dulu-dulunya persis hilang semua. Dia tidak bisa mengulang hafalannya dengan  lancar. Akhirnya, namanya saja wisudawan Al-Quran. Tapi, otak dan hatinya kosong dari Al-Quran, apalagi prilakunya.

Namun, sang kiai tidak bisa disalahkan. Sebab, sang kiai haya bisa melihat secara dhohir saja pada diri sang santri: bagaimana sang santri menyetor hafalannya. Sang kiai tidak mungkin mengecek secara pasti, apakah betul-betul hafal lancar 30 juz atau tidak. Atau, hanya ketika nyetor saja hafalnya. Kiai juga penuh keterbatasan, apalagi santrinya sampai ratusan. Jadi, lebih tergantung kepada santrinya: serius menghafal atau tidak.

Sudah pasti yang tidak serius hanya menghafal saat nyetor saja. Kecuali, sang kiai mampu menetapkan sistem kroscek yang ketat, dengan cara tes hafalan akhir semacam Ujian Akhir Nasional (UAN), sehingga santri yang diwisuda betul-betul yang hafal lancar sempurna 30 juz saja. Namun, yang tidak lulus semoga tidak se-stress para siswa-siswi yang tidak lulus UAN; ada yang sampai gantung diri. Atau, yang lulus juga semoga tidak lupa daratan, meluapkan kelulusannya dengan pesta miras, kumpul kebo, dan yang negatif-negatif lainnya. Hanya metodenya saja seperti UAN tapi konsekwensi atau resiko akibatnya tidak separah demikian.

Lebih dari itu, kalau bisa diusahakan juga ada tes mental Al-Quran: betul-betul dihayatikah hafalan Al-Qurannya. Jangan-jangan hanya hafal tapi tidak dihayati atau diamalkan, ya percuma juga. Ini yang paling penting. Sebab, tidak sedikit santri yang menghafal Al-Quran malah tingkahnya kurang ajar. Lebih kurang ajar lagi, kalau kerjanya cuma sibuk pacaran, nulis surat cinta, sibuk main HP atau hobi PS (play station/game).Yang tidak percaya bisa diadakan penelitian mendalam secara langsung saja.

Kembali kepada cara atau metode cepat menghafal Al-Quran tadi, diantaranya yang lumrah adalah dikenal dengan istilah "tirakat". Dalam agama terdiri dari unsur: berusaha keras dan serius, pateng beribadah, serta paling penting menjauhi maksiat atau dosa yang mengotori hati Pelaksanaannya biasanya, paling tidak, konsisten salat malam dan puasa di siang hari. Hampir dipastikan siapapun akan mengakui unsur-unsur ini sebagai langkah pertama dalam metode menghafal Al-Quran terjitu.

Pada suatu kesempatan, saya bertanya kepada teman-teman yang saya akui sudah cukup berpengalaman dalam menghafal Al-Quran plus betul-betul hafidz. Dia menjelaskan kepada saya, kata gurunya di pesantrennya yang sebelumnya, gurunya pernah berwasiat kepada santrinya termasuk dia saat santri-santrinya itu sedang pada berlomba-lomba menjalani ritual tirakat puasa agar cepat menghafal Al-Quran. Melihat ulah para santri demikian sang kiai menasehati, agar mereka tak usah macam-macam tirakat puasa segala. Yang penting tiap hari serius menghafal, menghafal, menghafal, dan nyetor, baru bisa cepat selesai dan lancar. Karena kiainyalah yang telah menanggung tirakat (menirakatkan) para santrinya agar cepat hafal dan lancar Al-Quran. Katanya.

Mendengar demikian, seakan mematahkan semangat saya yang yakin tentang bangun malam dan puasa Sunnah Senin Kamis, meski ini mungkin tirakat kecil-kecilan dan sudah biasa, mungkin. Tapi, menurut saya nasehat tersebut sebetulnya, secara akal mentah pun kurang pas. Saya berpikir, kalau santrinya tidak berlatih sambil tirakat, dalam artian tidak mengurangi makan meski tidak puasa, ogah bangun malam, dan tidak menjauhi maksiat. Atau, lain kata santrinya itu suka makan, tidurnya ngorok melulu, doyan game/internetan, apalagi hobi maksiat atau pacaran, maka sudah pasti sehebat apapun tirakat kiainya itu tidak akan pernah mengantarkan para santrinya sukses dalam menghafal Al-Quran.

Runutannya begini: saya gambarkan santri demikian dengan cangkir yang terbalik (mulut lubangnya di bawah) sedangkan kiainya sebagai ceretnya yang menuangkan air ke cangkir itu. Sudah dapat dipastikan bagaimanapun ceret itu menuangkan airnya ke cangkir yang terbalik atau tertutup cangkir itu tidak akan pernah terisi sampai kapanpun dan bagaimanapun. Airnya akan meluber ke mana-mana di luar cangkir itu. Saya kira kita semua akan sangat memahami gambaran ini.

Lalu, apakah kiai yang menasehati tersebut yang bodoh atau salah? Bagi saya, sejatinya, nasehat kiai itu adalah sindiran atau cobaan tingkat pertama bagi mereka para santrinya, yaitu masih pada tingkat "maunya" atau "niatnya": betul-betul seriuskah atau pahamkah mereka terhadap apa yang mereka amalkan (tirakatkan)? Jangan-jangan mereka melakukannya tanpa dasar ilmu atau pemahaman yang jelas, atau hanya sekedar ikut-ikutan doank. Sehingga, contohnya saja, banyak yang bangun malam atau tidak tidur malam dipahami dengan begadang atau bahkan fritokan. Atau, banyak puasa tapi tidur terus karena kelaparan. Maka, sama saja dengan yang tidak bertirakat, bahkan bisa jadi lebih celaka.

Inilah filosofi nasehatnya: ujian niat menirakatkan (keseriusan) hafalan Al-Quran. Inilah letak dari pada bahwa seorang pendidik atau kiai yang benar tidak hanya memberi ujian berupa materi pelajaran fisik an sich, akan tetapi lebih dari itu adalah ujian mental atau moral praktis. Ini baru pada tingkat pertama, niatnya saja. Belum lagi pada pelaksanaannya. Sungguh, pasti akan amat lebih berat. Tapi, itu berlaku bagi santri yang menghafalnya serius saja.

Sebab, sebuah kesuksesan, keselamatan, atau kebahagiaan, bahkan apapun bukan hanya pada Al-Quran, yang akan diraih tidak semudah membalikkan kedua telapak tangan dalam meraihnya. Pasti ada aral melintang yang harus tidak boleh tidak dihadapi. Ini bukan halnya proses enak-enak, makan-makan, begadangan, main hp, main PS, chatingan/internetan, apalagi pacaran, tapi sebuah perjuangan, perjuang, dan perjuangan yang membutuhkan keseriusan bahkan tangisan. Yups, akhirnya semuga semuanya kuat uji dan sukses semua. Terutama yang sedang mengapresiasikan cinta matinya kepada Al-Quran. Selamat bertirakat serius. Wallahu’alamu bish showab.
Lawang, 07/05/2010