Senin, Mei 10, 2010

Kiainya Suka Tirakat, Santrinya Hobi Tidur Sekarat


(Catatan Kecil Bagi Para Pejuang Al-Quran)
Yang namanya santri "ngebet" ingin cepat hafal Al-Quran berbagai cara dicari-cari. Tapi, bukan berarti "berbagai cara dihalalkan"sebagaimana ambisius dalam urusan lainnya. Sebab, ini terkait dengan Al-Quran yang katanya juga erat dengan hidayah yang tidak bisa dicerna dengan akal logika biasa. Sehingga, dari niatnya saja sudah harus ce' sterilnya. Yang tidak steril pasti tidak akan berhasil.

Termasuk mencari cara itu adalah saling tukar pendapat dan pengalaman antara santri yang satu dengan yang lainnya. Caranya, santri yang masih mau atau sedang menghafal (tahap setoran) Al-Quran bertanya kepada santri yang sudah hafal (paling tidak tinggal "deres"/melancarkan). Kiai saya menyebut santri yang masih dalam proses ngafal tersebut dengan sebutan "mutahaafidh". Berasal dari kata "tahaafadha" yang artinya saling menghafalkan, yakni masih dalam proses menyetor hafalan kepada sang kiai atau pembimbing. Di sini, sang guru itu mengingatkan (baca: menghafalkan) atau membenarkan hafalan yang lupa atau yang salah pada diri sang santri.

Sedangkan yang sudah hafal atau selesai nyetor hafalannya sempurna 30 juz, atau biasa dibilang selesai diwisuda atau istilah lainnya itu, Beliau menyebutnya "haafidz". Maksudnya, santri yang sudah selesai menyetor hafalannya sebanyak 30 juz, sehingga tinggal "deres" atau melancarkan saja. Meski kerap sangkaan guru atau kiai menyebut santrinya yang sudah diwisuda berarti dia hafidz itu salah kaprah, sebab bisa jadi dia hanya selesai nyetor tapi hanya setoran hafalan saja. Yang dihafal dulu-dulunya persis hilang semua. Dia tidak bisa mengulang hafalannya dengan  lancar. Akhirnya, namanya saja wisudawan Al-Quran. Tapi, otak dan hatinya kosong dari Al-Quran, apalagi prilakunya.

Namun, sang kiai tidak bisa disalahkan. Sebab, sang kiai haya bisa melihat secara dhohir saja pada diri sang santri: bagaimana sang santri menyetor hafalannya. Sang kiai tidak mungkin mengecek secara pasti, apakah betul-betul hafal lancar 30 juz atau tidak. Atau, hanya ketika nyetor saja hafalnya. Kiai juga penuh keterbatasan, apalagi santrinya sampai ratusan. Jadi, lebih tergantung kepada santrinya: serius menghafal atau tidak.

Sudah pasti yang tidak serius hanya menghafal saat nyetor saja. Kecuali, sang kiai mampu menetapkan sistem kroscek yang ketat, dengan cara tes hafalan akhir semacam Ujian Akhir Nasional (UAN), sehingga santri yang diwisuda betul-betul yang hafal lancar sempurna 30 juz saja. Namun, yang tidak lulus semoga tidak se-stress para siswa-siswi yang tidak lulus UAN; ada yang sampai gantung diri. Atau, yang lulus juga semoga tidak lupa daratan, meluapkan kelulusannya dengan pesta miras, kumpul kebo, dan yang negatif-negatif lainnya. Hanya metodenya saja seperti UAN tapi konsekwensi atau resiko akibatnya tidak separah demikian.

Lebih dari itu, kalau bisa diusahakan juga ada tes mental Al-Quran: betul-betul dihayatikah hafalan Al-Qurannya. Jangan-jangan hanya hafal tapi tidak dihayati atau diamalkan, ya percuma juga. Ini yang paling penting. Sebab, tidak sedikit santri yang menghafal Al-Quran malah tingkahnya kurang ajar. Lebih kurang ajar lagi, kalau kerjanya cuma sibuk pacaran, nulis surat cinta, sibuk main HP atau hobi PS (play station/game).Yang tidak percaya bisa diadakan penelitian mendalam secara langsung saja.

Kembali kepada cara atau metode cepat menghafal Al-Quran tadi, diantaranya yang lumrah adalah dikenal dengan istilah "tirakat". Dalam agama terdiri dari unsur: berusaha keras dan serius, pateng beribadah, serta paling penting menjauhi maksiat atau dosa yang mengotori hati Pelaksanaannya biasanya, paling tidak, konsisten salat malam dan puasa di siang hari. Hampir dipastikan siapapun akan mengakui unsur-unsur ini sebagai langkah pertama dalam metode menghafal Al-Quran terjitu.

Pada suatu kesempatan, saya bertanya kepada teman-teman yang saya akui sudah cukup berpengalaman dalam menghafal Al-Quran plus betul-betul hafidz. Dia menjelaskan kepada saya, kata gurunya di pesantrennya yang sebelumnya, gurunya pernah berwasiat kepada santrinya termasuk dia saat santri-santrinya itu sedang pada berlomba-lomba menjalani ritual tirakat puasa agar cepat menghafal Al-Quran. Melihat ulah para santri demikian sang kiai menasehati, agar mereka tak usah macam-macam tirakat puasa segala. Yang penting tiap hari serius menghafal, menghafal, menghafal, dan nyetor, baru bisa cepat selesai dan lancar. Karena kiainyalah yang telah menanggung tirakat (menirakatkan) para santrinya agar cepat hafal dan lancar Al-Quran. Katanya.

Mendengar demikian, seakan mematahkan semangat saya yang yakin tentang bangun malam dan puasa Sunnah Senin Kamis, meski ini mungkin tirakat kecil-kecilan dan sudah biasa, mungkin. Tapi, menurut saya nasehat tersebut sebetulnya, secara akal mentah pun kurang pas. Saya berpikir, kalau santrinya tidak berlatih sambil tirakat, dalam artian tidak mengurangi makan meski tidak puasa, ogah bangun malam, dan tidak menjauhi maksiat. Atau, lain kata santrinya itu suka makan, tidurnya ngorok melulu, doyan game/internetan, apalagi hobi maksiat atau pacaran, maka sudah pasti sehebat apapun tirakat kiainya itu tidak akan pernah mengantarkan para santrinya sukses dalam menghafal Al-Quran.

Runutannya begini: saya gambarkan santri demikian dengan cangkir yang terbalik (mulut lubangnya di bawah) sedangkan kiainya sebagai ceretnya yang menuangkan air ke cangkir itu. Sudah dapat dipastikan bagaimanapun ceret itu menuangkan airnya ke cangkir yang terbalik atau tertutup cangkir itu tidak akan pernah terisi sampai kapanpun dan bagaimanapun. Airnya akan meluber ke mana-mana di luar cangkir itu. Saya kira kita semua akan sangat memahami gambaran ini.

Lalu, apakah kiai yang menasehati tersebut yang bodoh atau salah? Bagi saya, sejatinya, nasehat kiai itu adalah sindiran atau cobaan tingkat pertama bagi mereka para santrinya, yaitu masih pada tingkat "maunya" atau "niatnya": betul-betul seriuskah atau pahamkah mereka terhadap apa yang mereka amalkan (tirakatkan)? Jangan-jangan mereka melakukannya tanpa dasar ilmu atau pemahaman yang jelas, atau hanya sekedar ikut-ikutan doank. Sehingga, contohnya saja, banyak yang bangun malam atau tidak tidur malam dipahami dengan begadang atau bahkan fritokan. Atau, banyak puasa tapi tidur terus karena kelaparan. Maka, sama saja dengan yang tidak bertirakat, bahkan bisa jadi lebih celaka.

Inilah filosofi nasehatnya: ujian niat menirakatkan (keseriusan) hafalan Al-Quran. Inilah letak dari pada bahwa seorang pendidik atau kiai yang benar tidak hanya memberi ujian berupa materi pelajaran fisik an sich, akan tetapi lebih dari itu adalah ujian mental atau moral praktis. Ini baru pada tingkat pertama, niatnya saja. Belum lagi pada pelaksanaannya. Sungguh, pasti akan amat lebih berat. Tapi, itu berlaku bagi santri yang menghafalnya serius saja.

Sebab, sebuah kesuksesan, keselamatan, atau kebahagiaan, bahkan apapun bukan hanya pada Al-Quran, yang akan diraih tidak semudah membalikkan kedua telapak tangan dalam meraihnya. Pasti ada aral melintang yang harus tidak boleh tidak dihadapi. Ini bukan halnya proses enak-enak, makan-makan, begadangan, main hp, main PS, chatingan/internetan, apalagi pacaran, tapi sebuah perjuangan, perjuang, dan perjuangan yang membutuhkan keseriusan bahkan tangisan. Yups, akhirnya semuga semuanya kuat uji dan sukses semua. Terutama yang sedang mengapresiasikan cinta matinya kepada Al-Quran. Selamat bertirakat serius. Wallahu’alamu bish showab.
Lawang, 07/05/2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar