Minggu, Mei 23, 2010

Mati Sahid dan Senyuman Gadis Cantik

Saya punya janji pribadi, tiap libur nyetor hafalan Al-Quran, malam jum’at, saya harus konsisten nulis. Nulis apa? Apa saja yang penting nulis dan bukan nulis porno. Ini sekaligus saya ingin membuktikan pesan kiai bahwa masa depan seorang santri diukur dari kebiasaannya saat di pesantren.

Pesantren adalah menjadi cetakan yang acap tak terduga nasib masa depan seorang santri. Kalau di pesantrennya hobinya pidato, ya paling tidak di masyarakat kelak jadi tukang khutbah jum'at, meski seminggu sekali; kalau di pesantrennya suka berorganisasi, ya paling apesnya kelak jadi perangkat desa atau tokoh masyarakat di kampungnya. Begitu juga, kalau di pondok suka main domino, ya di luar bisa jadi bandarnya togel; kalau di pondoknya hobi pacaran atau menggoda lawan jenisnya, ya kelak di masyarakat jadi tukang selingkuh; kalau di pondoknya suka ngrumpiin temannya, ya di masyarakat pasti jago fitnah; kalau di pondoknya suka mencuri, ya pasti di luar kelak jadi maling besar, dll. Inilah filosofi orang-orang tua kita mengatakan, “kalau di pondok nyuri jarum maka kelak di masyarakat nyuri jaran (kuda)”.

Nah, dari itu saya berpikir, mungkin saja kalau saya sekarang di pondok suka dan hobi nulis kelak saya jadi penulis terkenal yang tulisannya di baca orang di mana-mana. Sebab, saya ngebet jadi penulis. Kenapa saya ngebet ingin jadi penulis? Kata imam Ghozali (Ihya Ulumuddin) dalam mengutip Hadist Nabi saw (saya lupa Hadistnya) bahwa qalam (pulpen/tinta) ilmuwan itu sama dengan pedangnya para shuhada’ yang mati sahid berperang memperjuangkan dan menegakkan Islam. Menurut saya, kan lebih enak menjadi sahid dengan menulis. Sebab, dengan menulis maka nilai dakwah kita lebih luas dan lebih abadi. Lebih luas karena yang baca bukan hanya satu orang dan di mana-mana. Lebih abadi karena meski kita mati tulisan kita tetap ada dan dibaca orang.

Sehingga, bukankah sahid ini lebih mendamaikan atau tidak mengerikan? Apalagi sahid perang di zaman sekarang semisal bom bunuh diri, ini kesahidannya masih dipertanyakan, bahkan dikecam teroris. Betapa tidak, konon, kalau kemantenan bom bunuh diri yang dilakukan itu ingin mambunuh orang kafir, tapi sudah pastikah orang kafirnya? Dan, kalau memang betul-betul kafir,  menghardik Islamkah dia? Belum lagi kalau ada orang Muslimnya yang ikut-ikutan tewas juga. Jadi, sahidnya masih diragukan. Inilah alasan saya, kenapa saya ingin jadi penulis.

Khusus jum’at ini tak ada inspirasi signifikan yang akan saya tulis. Akhirnya, dari pada kosong, takut nulis libur juga, saya ingat senyum dan ucapan terima kasih seorang santri gadis cantik, apalagi, konon, dia bintangnya di pesantren saya ini. Ini yang menjadi inspirasi saya saat ini.

Sungguh, namanya laki-laki normal, siapapun hatinya akan tergugah dan bahagia setinggi langit kalau disenyumi gadis cantik seperti itu. Kecuali, orang gila yang disenyumin kambing pun di jalanan dia bahagia. Karena saya juga normal maka saya juga bahagia, bahkan sampai menjadi inspirasi khusus saya saat ini. Bahkan lagi, senyumannya selalu berkelebat memenuhi seluruh bilik-bilik hati dan otak saya.

Apakah saya berlebihan? Atau, ada rasa kagum atau bahkan jatuh cintrong? Entahlah, saya hanya ingin mengungkap eksistensi saya bahwa saya adalah termasuk orang yang normal, sehinga merasa bahagia plus tersanjung kalau disenyumin wanita cantik. Bukan ingin mengungkap bahwa saya cinta dia atau siapa. Bahkan mungkin, apakah saya “bajingan wanita” (meminjam istilah teman saya untuk lelaki yang suka mempermainkan wanita)? Atau, mungkin juga play boy,  mata kerangjang, dan sebutan lainnya. Apalagi ini, lebih pasti tidak.

Masalah cinta belakangan. Itu masalah hidayah. Bukankah cinta katanya anugrah? Hidayah adalah bagian dari anugrah Tuhan itu. Itulah cinta yang sejati. Katanya orang-orang bijak. Bukan cinta karena sahwat, yang setiap ketemu wanita cantik ingin dipacari dan dikencani. Ini cinta yang salah. Kalau perasaan saya memang cinta semoga cinta saya itu bukan cinta yang nafsu sahwat ini. Oleh karena itu, soal cinta belakangan, itu teka teki, nunggu anugrah-Nya. Sekali lagi, semua ini hanya sebagai ungkapan bahwa saya laki-laki normal bahagia kalau disenyumin wanita cantik.

Tapi, kalau bahagianya sampai demikian tingginya, saya juga tidak bisa membayangkan, bagaimana seandainya gadis cantik itu sampai mengungkap rasa “jatuhnya” ke saya. Yang jelas bukan jatuh ke jurang lho! Pasti pembaca paham sendiri kok! Hus, kok malah ngalor ngidul gini nulisnya! Udah lanjut yang lain aja.

Akhirnya, saya juga bertanya-tanya, kalau saya merasa melayang setinggi angkasa disenyumin wanita cantik, bagaimana kalau saya disenyumin wanita jelek? Wah, ini jawabannya lumayan rumit!

Gini saja, bukankah kata orang, cantik itu relatif? Selain itu, bukankah banyak motif cantik? Lihat saja, banyak pasangan suami istri yang fisiknya sama-sama jelek menurut kita, tapi mereka saling jatuh cinta dan bahagia. Begitu juga tidak sedikit yang menurut kita suaminya ganteng dan istrinya jelek-atau sebaliknya-tapi suaminya itu sangat amat mencintai istrinya, dan bahagia, punya anak banyak kok! Inilah titik terangnya. Bahwa cinta adalah relatif.

Motif cantik juga relatif. Ada orang yang memang cinta karena cantik paras wajahnya, berarti cantik bentuk wajahnya; ada yang cinta karena gaya bicaranya, berarti cantiknya ada pada gaya bicaranya; ada yang cinta karena seksinya, berarti cantiknya ada pada tubuh seksinya; ada yang cinta karena bokong semoknya, berarti cantiknya ada pada bentuk bokongnya; dan, saya pernah dicurhatin teman, bahwa dia sedang ngebet kepada seorang gadis yang, amit-amit, “anunya” gedhe atau bongsor, berarti cantiknya ada pada “gunung kembarnya”. Dll. Sori ngeres dikit.

Inilah kiranya, kalau dipikir lebih mendalam lagi, bahwa cantik dan cinta itu memang relatif dan merupakan bentuk dari anugrah Tuhan. Dan, inilah letak keadilan Tuhan, betapa Dia memberi kelebihan (keindahan/kecantikan) kepada tiap manusia berbeda dan beraneka ragam serta sesuai dengan potensi atau keadaan kediriannya (eksistensinya), dengan demikian tanpa mengurangi harga diri masing-masing. Sebab, dengan kelebihan itulah dia dapat mempertahankan hidupnya dan bahagia. Misalnya, para kiai hidup dengan wasiat-wasiatnya; para penyanyi hidup dengan lirik-lirik lagunya; para penyair hidup bahagia dengan bait-bait syairnya; para hafidzul Al-Quran hidup bahagia dengan tartil Al-Qurannya; burung-burung dengan kicauannya; lautan dengan gelombangnya; begitu juga Inul Daratista hidup senang dengan goyangan ngebornya, serta Julia Peres hidup bangga dengan tampilan “bukak-bukaannya”.

Dari pada itu, anak muda mengatakan “ cinta itu relatif” dan “Bukan cantik yang membawa cinta tapi cinta yang membawa cantik”. Bukankah benar begitu?

Kembali kepada persoalan pribadi tadi. Bagaimana saya: antara bahagia senyuman gadis cantik dan gadis jelek? Jawabannya, terserah dari pada kerelatifan plus kearifan cantik dan jeleknya perasaan saya serta anugrah cinta saya terhadap seseorang. Bisa saja suatu saat saya juga bahagia atau terasa melayang setinggi angkasa lantaran disenyumin seorang gadis yang secara fisik anggaplah paling buruk, tapi pada satu sisi dia dapat membuat saya terkagum-kagum. Dari pada gadis yang secara fisik sudah paling cantik, tapi dia hobi gonta-ganti pasangan atau pacar. Ini bisa saja terjadi.

Pada akhirnya, apa hubungannya sahid, cinta, dan gadis cantik pada judul di atas? Yang jelas terus terang, secara pribadi saya tergila-gila (cinta) kepada Al-Quran dan bercita-cita menulis Al-Quran. Ya, tentunya karena juga Al-Quran yang paling cantik dan indah bagi saya. Menulis Al-Quran bukan berarti mau buat Al-Quran tandingan Tuhan seperti orang-orang orientalis. Atau, sok menafsirkan Al-Quran menyaingi para mufassir, seperti yang lagi ngetren juga sekarang banyak ilmuwan seumur jagung sudah sok jadi mufassir. Tapi, saya menulis untuk berbagi oleh-oleh saya dari Al-Quran dengan manusia yang lain. Gitu aja kok repot. He…

Mati sahid? Sudah jelas, ingin mati sahid dengan menulis saja. Cinta, cantik dan sahid yang ini tidak relatif, tapi sebuah kepastian yang tidak bisa ditawar-tawar lagi di hati saya.

Khusus bagi gadis cantik, semoga tidak bosan-bosan untuk menebar senyumnya pada saya. Senyum kan sodaqah? Siapa tahu saat saya ngantuk ketika ngafal atau nderes Al-Quran gara-gara ingat senyum sampean itu lantas saya menjadi semangat kembali, tapi jangan suka senyum sendiri lho, nanti orang-orang pada malah lari semua. Dan, sekali saja mandangnya biar menjadi rizqi bukan maksiat lain muhrim. Oya, senyumnya juga yang biasa saja jangan dipolesi makna  yang lebih dalam lagi, takut saya nggak bisa konsentrasi ngafal Al-Quran. Paling akhir, trima kasih dan mohon maaf semuanya.
Lawang, 20/05/2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar