Minggu, Mei 23, 2010

Pelita Buram di Pesantren

(Sekedar celoteh santri banyol tentang kisah kasih di pesantren)

Suatu saat, ada seorang teman santri temannya teman saya. Teman saya itu menceritakan tentang sekelumit cerita uniq yang dialami temannya itu di pesantrennya. Dia, temannya teman saya itu, mondok di sebuah pesantren Tahfidzil Al-Quran yang asli salaf pindahan dari pesantren yang full modern. Seperti biasa, di pesantren modern pendidikan tentang kitab-kitab akhlak memang tidak sekontsentrasi di pesantren salaf  yang memang melulu pelajaran kitab-kitab yang lumrah disebut kitab kuning (kutubut turost). Apalagi yang memang mengkhususkan diri pada penghafalan dan pengkajian Al-Quran (takhasshush).

Niat pindahnya selain karena sudah lulus diwisuda sampai sarjana satu di pesantren modern itu, dia juga ingin menghafal dan mendalami Al-Quran serta kitab-kitab salaf. Dia sebut pendidikan salaf itu dengan “pendidikan hati”. Dulu, di pesantren modern dia memandang otaknya yang lebih digodok dengan pelajaran-pelajaran yang lebih berbau logika atau umum. Meski agama atau moral juga ada, tapi tak sebesar di pesantren salaf. Tapi, bukan berarti pesantren modern tak bermoral, hanya saja sistemnya yang berbeda. Sehingga, hatinya dirasa masih lapar dengan materi-materi yang berisi nilai-nilai budi pekerti atau moral sehingga butuh lebih konsentrasi (tahasshush), bahkan dia amat tertarik dengan tasawwuf. Singkatnya, dia ingin di pondok yang baru itu mendapatkan pencerahan hati (pendidikan hati) yang lebih benderang lagi.

Dengan bekal yang sudah dirasa cukup termasuk mental bulat untuk hidup dengan suasana, tradisi, sistem atau hawa yang pasti baru singgahlah dia di pondok baru yang dia yakini dapat lebih mencerahkan hatinya itu. Menggodok dirinya secara lebih khusus menjadi orang yang penuh bumbu-bumbu Al-Quran.

Pada minggu-minggu awal dia enjoi-enjoi saja, amat yakin dengan hawa pesantren yang baru itu. Apalagi dengan seorang kiai yang amat sangat penyantun dan penyabar yang pikirnya dengan kiai begitu pendidikan akan betul-betul dijalani dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, sehingga barokah ilmu akan betul-betul dapat diraup sepuas mungkin.

Namun, minggu bertambah minggu dan bulan menuju bulan, keikhlasannya itu menjadi makin terganggu, bukan karena sistem pesantren apalagi karena kiainya, akan tetapi karena gaya dan ulah pergaulan santri-santrinya yang menurutnya uniq, belum pernah ia lihat sebelumnya. Tapi, bukan berarti juga ulah mereka  jahat-jahat atau bringas-bringas, hanya saja interaksi antara banin (santri putra) dan banatnya (santri putri) yang menurutnya kurang mencerminkan santri terlebih di pesantren Al-Quran, malah bertolak belakang dengan Al-Quran.

Betapa tidak, suatu hari, dia melihat teman putrinya bebas longgang langgang di warung pojok dekat pesantren. Itu wajar pikirnya, karena pondok memang mengijinkan santri-santri untuk berbelanja, asal dalam radius dekat sekitar pesantren. Di hari yang lain, saat dia mau ngambil nasi dan air di dapur dia disuit-suitin oleh segerombolan santriwati dari jendela asramanya. Asrama santri putri memang nyaris satu bangunan dengan santri putra hanya dipisah dengan dapur ndlem (keluarga kiai) yang sekaligus jadi dapurnya pesantren. Sehingga, antara santri putra dan putri pada posisi tertentu bisa saling berpandangan dari jendela asrama masing-masing dengan jelas. Di samping itu juga, kamar mandi putri yang posisinya pas melewati dapur, sehingga santri putra dapat berpapasan langsung berdekatan dengan santri putri kalau pas santri putranya ke dapur dan santri putrinya mau mandi. Tidak jarang juga ketika di musalla lantai tiga dia digoda dengan dilemparin batu oleh santri putri dari dapur tempat jemuran mereka yang pas juga berhadapan dengan musalla putra. Ini tetap dia anggap wajar, sebab dia memang santri baru, bisa jadi santri putrinya penasaran dan ingin kenal atau sekedar iseng saja. Biasa barang baru mudah memantik penasaran orang, apalagi barang barunya agak kinclong, he..

Di hari yang lain, saat dia ke dapur seperti biasanya dia kepergok lagi dengan beberapa santri layaknya saling berpasangan sedang ngobrol-ngobrol. Melihat fenomena itu dia masih mewajarinya, sebab bisa jadi memang ngobrol urusan penting atau dapur, meski saat itu suasana sangat amat sepi dari orang lain. Peristiwa dapur ini kerap dia temukan sehingga nyaris membuat hatinya makin curiga atau waswas. Tapi, dia tetap aja cuek nggak mau mikir yang macem-macem atau suudhon. Padahal, kalau melihat suasana dan kondisi dapur sangat sudah tidak wajar, sepi, apalagi ketika nyai dan bapak kiai keluar.

Memang sempat terlintas di pikirannya, mereka tampaknya seakan saling bermesra atau bercinta meski hanya sebatas obrolan, tapi lagi-lagi dia tak hirau. Sebab dia berpikir, maklum mereka manusia normal meski memang bercinta tidak mungkin sampai sefatal bercintanya anak-nak nonpesantren. Bercintanya anak santri paling banter ngobrol-ngobrol gitu doang atau surat-suratan.

Motif Kewaswasannya tersebut belum lagi ditambah dengan cerita-cerita miring kakak seniornya yang akrab dengannya yang sebetulnya memang menunjukkan pergaulan gelap di antara santri putra-putri itu bahkan seakan lebih parah, konon, ada yang sampai tembus janjian ketemuan di luar pesantren, meski demikian dia tetap saja tidak mau pikir tentang itu.

Nah, ternyata kekebalannya untuk tidak curiga terhadap pergaulan tak beres tersebut menjadi tak mempan lagi ketika dia melihat dengan mata kepala sendiri gambar (foto) beberapa teman santrinya putra-putri saling berpasangan sedang berangkulan mesra di luar pesantren, konon, katanya memang ketemuan di luar pesantren dengan pura-pura ijin belanja atau pulang.

Apalagi, salah satu yang di gambar tersebut anaknya seorang kiai lumayang terkenal yang juga memiliki pesantren takhassus Al-Quran. Jelasnya dia seorang nyai muda, cantik plus manis lagi. Memang di pesantrennya (temannya teman saya itu) kebanyakan santrinya kader-kader khusus untuk menghafal Al-Quran, yang kalau bukan anaknya kiai ya anaknya pejabat tertentu, bahkan tidak jarang yang katanya ahlil bait, atau sarifah (anaknya habib/keturunan Arab).

Dari fenomena terakhir ini keikhlasannya dan keyakinannya kepada kondisi pergaulan di pesantren (bukan kepada pesantren atau kiainya) itu betul-betul tergannggu seraya tetap yakin ke kiai dan pesantren. Dia pikir biarlah mereka berulah demikian yang penting dirinya betul-betul serius belajar dan menghafal Al-Quran.  Biasanya di manapun yang namanya ketidakberesan pasti ada.

Mendengar cerita teman saya tentang temannya itu,  hati saya terasa tersentuh bara api. Apalagi saya juga santri Takhasshush Al-Quran. Kalau soal pacaran atau santri berdosa di pesantren pada umumnya itu wajar. Artinya, saya berpikir bahwa di manapun kejelekan atau dosa memang bisa terjadi, juga pada siapa saja. Bukan berarti kiai atau santri (insan pesantren) itu benar atau suci semuanya. Ini akan mengakui semua. Bahkan virus dosa atau kejelekan di pesantren bisa lebih ganas dari pada dunia nonpesantren. Sebab, pesantren adalah tempat suci untuk menuntut ilmu-ilmu agama dan perjuangan agama.

Sedangkan yang lebih saya sayangkan, bahkan saya mangkelkan adalah karena terjadi di pesantren jenis Tahfidzil Al-Quran. Termasuk, kasus yang paling terakhir, yakni santri kader atau nyai itu. Sebab, mereka adalah santri khusus yang memiliki tanggung jawab masa depan yang lebih berat sebagai generasi abi-nya. Bukankah dia seharusnya dituntut untuk kembali membawa ilmu yang lebih untuk meneruskan pesantren atau organisasi yang diamanahi ke abinya itu? Tapi, kenapa kok sempat-sempatnya pacaran sampai fatal-fatal semacam janjian-janjian di luar itu segala? Padahal, seorang kiai pernah bilang, seorang wanita yang sudah berani keluaran tanpa muhrimnya, apalagi pacaran dengan sengaja sampai melanggar peraturan pesantren berarti dia wanita yang terlalu nekat, telah melampaui batas kesejatiannya sebagai wanita yang harus betul-betul menjaga kehormatannya.

Kemudian saya juga berpikir, apalagi anaknya kiai, nyai, astagfirullah, betapa beraninya bermaksiat terang-terangan dengan pacarannya dalam keadaan sebagai santri kabur dari pondokknya, difoto lagi. Saya juga tidak bisa membayangkan bagaimana seandainya abinya yang kiai itu tahu gambar mesra putrinya itu, apalagi santri-santri di rumahnya? Belum lagi ketika mati nanti malaikat tak butuh bukti ngambil di catatannya sendiri cukup dengan memamerkan fotonya yang diabadikan sendiri oleh orangnya itu. Naudzubillah. Makanya, yang lain kalau memang hobi maksiat tak usah pakai foto-fotoan deh, takut jadi bukti paling tampak di kubur atau di akherat nanti.

Akhirnya, sambil menahan sial dengan keberadaan seorang santri nyai muda yang cantik, yang bangga berpacaran di foto itu, dari cerita teman saya itu, saya berseloroh untuk menghibur diri sambil menanggapi cerita teman saya itu:

“Untung banget sih cowok itu dapat menggaet santri nyai itu, cantik lagi, manis lagi, anaknya kiai lagi, uh gimana enaknya ya kalau bermesra dengan dia apalagi di pelukannya, manteb men! Kataku ke teman saya itu sekalian me-ngeres-kan diri saking mangkelnya.

“Wah amat sangat untung banget men. Bukan hanya itu, justru konon nyainya yang naksir duluan.” Tanggap teman saya itu.

“Waduh-waduh, kok pas ketemu nyai agresif gitu ya, kan enak! Tapi, apa sih kelebihan cowok itu kok sampai digatelin nyai santri itu? Katanya nggak begitu tampan!” Urus saya jadi ngeres.

“Yah nggak tahu lah, yang namanya cinta kan memang gitu, buta. Tapi dia tajir men.” Tegas teman saya.

“Ya nggak gitu lah, eman-eman donk nyai secantik gitu kok sembarangan bercintanya, dasar terlalu gatel, pokoknya ada, mungkin. Kenapa kok nggak ketemu saya aja, sekalian dosa kan nggak rugi, kan lumayan ganteng, pinter nulis lagi, sarjana lagi.” Celoteh saya ancur-ancuran ngeresnya dan so’-so’an.

“Yah, kamu so’-soan, ganteng kalau miskin kan percuma! Emangnya mau nyosor ke tulisamu itu!?” Tanggap teman saya menjadi ngeres dan memangkelkan saya.

“Apa!? Emangnya nggak lebih parah nyosor ke uangnya itu!” Balas saya tak maukalah.

“Oh, ya, ya! Teman saya mengalah. Mungkin dia lebih sadar dulu bahwa percakapan kami tak sehat, ngerumpiin orang, apalagi makin lama makin ngeres. Akhirnya, percakapan kami berakhir beiringan iqamah salat magrib. Teman saya langgung bergegas ke musalla berjemaah. Sedangkan saya masih ke tambak untuk berwudhu. Tampak ikan di pondok kami memang juga berfungsi sebagai tempat berwudhu dan mandi.

Sekali lagi, ini cerita teman saya itu tentang temannya di pesantrennya. Entah benar atau tidak. Siapapun jangan sampai yang berpikir macam-macam, apalagi berburuk sangka tentang pesantren hanya gara-gara catatan sederhana ini. Sebab, tulisan ini bukan untuk itu, apalagi untuk menfitnah pesantren, hanya saja saya maksudkan sebagai kaca benggala bahwa kita sebagai santri harus betu-betul serius, nyantri kita tidak main-main. Sekali nyatri selamanya jadi santri lahir batin. Tidak cuma namanya dan seragamnya. Kita nyantri bukan berarti jaminan hidup selalu benar, suci,dan masuk surga. Apalagi yang nyantrinya memiliki misi khusus, sebagai kader yang memiliki pesantren atau lembaga pendidikan yang akan meneruskan abinya kelak. Jangan sampai terjadi kata orang, “nyainya/gusnya (anaknya kiai) saja hobi pacaran apalagi santrinya atau rakyat awamnya. Naudzubillah. Jangan sampai terjadi. Selain mencoreng nama keluarga pada khususnya, lebih dari itu mencoreng dunia pesantren dan agama. Ini juga bagi santri yang bukan anaknya kiai atau pejabat. Santri semuanya.

Selain itu, juga tersurat sebuah filosofi, bahwa semua manusia siapa dan di manapun sama-sama berpotensi untuk berbuat dosa. Yang lepas dari dosa hanya Rasulullah. Lebih-lebih yang sedang berjuang dalam agama (pesantren), sebab "semakin tinggi sebuah pohon makin besar pula terjangan anginnya", bukankah begitu kata pepatah kita. Saya kira siapapun akan mengakui hal ini. Selain itu, di sini juga tersimpan sebuah prinsip, yakni masalahnya adalah “bagaimana kita sebagai manusia-terlebih kiainya atau santrinya itu-memiliki keterampilan mengolah potensi dosa tersebut menjadi tidak berdosa dan berpahala”. Ini pada intinya yang juga harus selalu diperhatikan.

Akhirnya, menjadi harapan pribadi, semoga santri-santri yang rusak-rusak, yang hobi bermaksiat, pacaran, begitu juga perilaku lainnya yang tidak pantas untuk seorang santri lekas-lekas sadar dan bertobat. Begitu juga saya. Lebih khusus nyai cantik yang sudah kadung dibilang gatel tadi, meski saya tidak bertemu langsung, hanya cerita dari teman saya itu dan melihat di fotonya, saya ucapkan mohon maaf. Itu bukan karena saya benci sekaligus merasa suci, tidak. Saya hanya eman-eman sampean: sebagai anaknya kiai, yang cantik, yang manis, yang darahnya biru (mungkin, katanya orang), kenapa kok harus berperilaku murah!? Bukankah sampean permata yang tersimpan mahal yang sejatinya orang butuh perjuangan mengjangkaunya?! Sampean adalah figur yang dicontoh. Inilah niat saya khusus pada sampean dan juga yang sedang sejenis, dan santri semuanya, mungkin ada. Mohon maaf dan terima kasih. Saya suka sampean semua terlebih saya harus bisa berubah, umat kita sedang menunggu kita sampai termangu bahan sesekali lesu. Sampai kapan kita lekas kembali kepada mereka membawa embun pagi, yang jernih, yang sunyi, yang suci, mendamaikan hati. Allahu a’lam.
Lawang, 21/05/2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar