Rabu, Mei 12, 2010

Tombo Ati: Ngenet dan Ngemal


 Yang namanya “santri banyol” memang ada-ada saja. Secara pribadi saya tidak tahu jelas apa definisi pasti dari “santri banyol” itu. Yang jelas saya pahami, dia adalah santri yang kerap membuat orang lain bisa tertawa dengan keberadaannya. Jangankan memang sengaja melucukan diri, dari bentuk dan gaya keberadaannya saja sudah bisa membuat orang tertawa. Dan, entah apa sebutan resminya untuk santri seperti itu, saya juga tidak tahu.

Biasanya, setiap pesantren punya istilah sendiri untuk menjulukinya dan berbeda-beda sesuai dengan warna tradisi dan dialektika bahasa setempat. Di pesantren saya yang dulu, di Madura, teman-teman menyebutnya “santri deller”, sesuai dengan dialektika bahasa Madura. Santri banyol saya mengenalnya di pesantren saya yang baru ini, di Malang, sehingga tentunya juga sesuai dengan dialektika bahasa Malang yang mayoritas santrinya Jawa. Mungkin secara umum ini tidak jauh dari sebutan “orang atau santri khilaf”. Pokoknya, santri jenis ini gaya dan prilakunya cenderung lain dari pada yang lain, sehingga keberadaannya acap membuat orang lain merasa lucu.

Pada sebuah pengajian kitab kuning. Ada santri yang memang dipandang banyol oleh teman-teman tiba-tiba bertanya seraya seakan terkesan dengan mimik mengeluh dan mengadukan sebuah permasalahan pribadinya kepada Bapak Kiai, meski saat itu belum dibuka sesi pertanyaan. Begitunya saja sudah membuat lainnnya pada mesem-mesem saat itu.

Aba, saya sedang pusing ga’ bisa nyetor hafalan Al-Quran. Apa obatnya?” Tanyanya

Sebutan aba adalah panggilan untuk kiai di pesantren ini. Sengaja Bapak Kiai menyuruh para santrinya memanggil Beliau dengan panggilan Aba agar terkesan tidak ada jarak antara santri dan kiai, sehingga santri dan kiainya sangat dekat, layaknya anaknya sendiri. Pada akhirnya, santri dapat berani mengadukan permasalahannya apa saja ke kiainya dengan tidak takut dan tidak canggung-canggung. Ini sangat cocok bagi saya khususnya. Bukankah memang sejatinya kiai itu begitu, sebagai problem solver (tempat mengadu mencari solusi persoalan hidup) selain central figur tauladan bagi santri dan para masyarakatnya? Sedangkan nyainya dipanggil umi atau ibu layaknya umi atau ibunya sendiri. Ini jarang terjadi di pesantren yang lain.

“Ente tahu kosidahan “tombo ati” yang jumlahnya lima itu?” Tanggap Aba

“Oya, saya tahu Ba, itu memang ada lima.” Jawab santri banyol dengan polosnya

“Coba sebutkan,”! Lanjut Aba.

“Tombo ati iku limo warnane: moco Qur’an lan maknane, sholat wengi lakonono, wong kang sholeh kumpulono, kudu weteng ingkang luwe, dan dzikir wengi ingkang suwe.” Tegas santri banyol, mencoba dengan lirik Jawa aslinya meski agak terbata-bata. Tapi, dia memang agak hafal. Lagi-lagi dengan gaya jawabnya yang polos membuat lainnya tertawa.

“Ya itu obatnya. Kan udah jelas. Tinggal ngelakoni saja sampean.” Jelas Aba.

“Oh, bukan itu Ba, itu salah! Itu kan tombo ati, obatnya ati. Kalau saya ini kepala sedang pusing. Biasanya saya mengobatinya dengan main game, ngenet (internetan/chatingan/facebookan), atau pergi ke mal (ngemal), refresing.” Tegas santri banyol dengan nada yang polos dan meyakinkan.

Mendengar jawaban santri banyol tersebut spontan sang Aba dan para santri yang lainnya tertawa terbahak-bahak. Suasana pengajian seakan berubah menjadi lakon lucu-lucuan. Sedangkan santri banyol cuma menggaruk-garuk kepalanya.

Di samping itu, lebih seru lagi, ada beberapa santri yang tertawanya tidak pas, sebab seraya terancam oleh kepolosan santri banyol tersebut. Dia berpikir, saking polosnya santri banyol dia takut ketika ditanya tentang siapa yang mengajak atau menemaninya ke mol dan internet jangan-jangan dia juga akan nyerocos menyebutkan nama-nama yang ngajak itu. Tapi, syukur itu tidak jadi ditanya.

Sebab, kalau saja ditanya lalu santri itu nyerocos menyebut santri yang terlibat juga, maka santri-santri yang juga menemaninya itu akan kedamprat hukuman oleh Aba. Sebab, ngenet adalah menjadi salah satu larangan terkeras Aba selain bawa HP ke pesantren. Meski tetap saja dilanggar oleh santri-santri yang tidak ketahuan. Itu sudah banyak santri yang mengalaminya. Terbukti beberapa minggu sebelumnya ada yang direndam semalaman di kolam ikan, gara-gara kabur dari pondok untuk ngenet.

Akhirnya, Aba menjelaskan duduk persoalannya secara serius. Sebab, ini menjadi pelajaran yang signifikan terkait dengan ibadah dan moral. Beliau menegaskan bahwa segala apa yang ada pada diri kita ini disetir oleh satu onderdel dari tubuh kita, yaitu hati. Hati inilah yang menjadi pusat dari segala-onderdel-onderdel tubuh lainnya, termasuk kepala atau otak. Kalau dia rusak maka rusak semua. Kalau dia baik maka baiklah semua unsur tubuh. Ini jelas dipertegas dalam Hadist Nabi saw.

Nah, salah satu yang membuat hati baik  adalah “tombo ati” di atas. Ini adalah obat hati warisan ulama-ulama dahulu (salafus saleh). Kalau diamalkan akan betul-betul menjadi obat mujarab bagi segala penyakit hati. Sedangkan internet atau mol itu obat warisan dari syetan yang pada akhirnya bukan malah menyembuhkan tapi bisa membuat penyakit-penyakit baru yang bukan hanya menggerogoti diri sendiri, dia bisa menjalar kepada diri yang lain.

Aktifitas internet dan mal lebih dekat dengan maksiat. Di internet, sekarang tinggal ngeklik sudah terpampang apa yang kita mau dari nafsu. Begitu juga di mal-mal, banyak wanita-wanita yang mengumbar paras ayunya, mempertontonkan tubuh aduhainya. Kasarnya, kita dengan mudah menikmati maksiat atau dosa bahkan seakan sengaja disodori; paha-paha bergengsi dan bodi-bodi semok kita tinggal menikmatinya saja. Busana ketat dan gaya buka-bukaan sekarang makin ngetren dan menjadi kebanggaan generasi muda mudi juga tak ketinggalan tua-tua keladi-nya baik yang sekuler maupun yang santri atau Islami. Meski mereka tidak meniatkan seperti itu. Padahal, itu sejatinya menjadikan harga diri mereka menjadi murah meriah. Tak punya harga diri, apalagi kelak di kehadirat Allah swt. Naudzubillah. Bapak kiai memaparkan fenomena ngeres ini seakan dari mimik wajahnya diselimuti penyesalan, kenapa generasi sekarang serba terbalik dan jauh dari kehidupan yang benar seperti itu.

Sementara semua santri baik yang banyol maupun yang biasa mendengar nasehat Aba demikian, mereka pada menundukkan wajah apalagi mereka yang di balik hijab, keturunan Hawa. Astagfirullah. Fenomena santri banyol telah membawa banyak hikmah. Tapi, jangan sok banyol.


Lawang, 12/05/2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar