Selasa, Juni 29, 2010

Emak Saya, Gayus, dan Negeri Porno

Ini berangkat dari cerita pribadi dulu, tentang saya sebagai bagian komponen kecil dari bangsa di negeri ini, Indonesia.

Saya lebih sering bersedih tentang diri saya sendiri, sesekali sampai down. Rasanya, mau menyerah pada nasib yang tak mujur ini. Tapi, sesekali juga saya masih bisa tersenyum kalau mikir-mikir nasib saya lebih dalam lagi. Misalnya, tentang masalah satu ini, kondisi belajar saya di pesantren yang baru. Andai sampean tahu, akan merasa sedih, tapi juga akan bisa tersenyum seakan ada lucunya. Betapa tidak, sampai saat ini, sejak tiga bulan lalu, uang pendaftaran saya sebagai santri baru belum terlunasi. Saya mencicilnya sedikit demi sedikit.

Cicilan itu bukan karena kebijakan pesantren yang mengatur demikian, yang mungkin menjadi dispensasi keringanan biaya daftar yang memang terlalu mahal sebagaimana terjadi di beberapa pesantren yang katanya pesantren elit. Bahkan, konon ada pesantren yang pendaftarannya harus membawa sepasang sapi besar-besar. Tapi, karena memang orang tua saya yang tidak mampu membayar langsung lunas. Padahal, pembayarannya sangat relatif murah, cuma Rp 250.000. Itupun, sekali seumur hidup di pesantren itu. Selain uang indekos (makan) yang jumlahnya sama tapi perbulan. Nah, kalau ini harus bayar tepat waktu soalnya makan sudah pasti tiap hari.

Bukankah uang pendaftaran itu sangat amat murah? Inilah sedihnya tentang saya. Betapa pun murahnya, saya masih mencicilnya, berkali-kali lagi. Sampai-sampai saya tidak punya cara dan gaya untuk menghadapi pengurus yang selalu menagih. Saya amat malu sekali. Dan, alhamdulillah, pengerus itu mengerti juga. Akhirnya, tiap saya bayar indekos perbulan, saya tinggal sambil senyum saja, dan pengurusnya sudah mengerti bahwa itu pertanda kompromi saya tidak bisa membayar cicilan pendaftaran itu, kecuali pas untuk bayar indekos saja. Pasalnya, kesedihan saya ini adalah saya terlalu amat miskin untuk hal materi ini. Jangankan ratusan ribu, satuan ribu saja orang tua saya amat sangat sulit mendapatkannya.

Sungguh saya ingat, betapa pontang pantingnya Emak-Bapak saya di kampung. Saat itu, saya mau berangkat ke pondok yang baru itu. Tentunya, yang dipersiapkan lumayan komplit, termasuk biaya ongkos transportasi dan pendaftaran santri baru. Saya ingat, bagaimana saat itu Emak-Bapak saya mengumpulkan uang recehan jauh-jauh sebelumnya untuk itu. Uang receh seratus rupiah amat sangat besar nilainya bagi kami. Saya juga ingat, bagaimana sehari sebelum berangkat uang persiapan itu masih belum lengkap, sehingga Emak-Bapak saya usai salat Subuh langsung pergi ke sawah. Apa tujuannya? Hanya untuk memetik sisa-sisa buah cabe yang pohonnya sudah keriput, mau dijual untuk melengkapi kekurangan biaya saya itu. Andai saja orang lain digratiskan untuk memetik cabe itu, pasti tidak mau karena hasilnya tidak sesuai dengan capeknya.

Ya Tuhan, saya ingat waktu itu, Magrib-magrib Emak-Bapak saya baru bergegas pulang dari sawah. Sampai-sampai saya menyusulnya karena sudah terlalu petang. Tapi, bagaimana lagi, demi terpenuhinya bekal belajar saya di pesantren yang baru itu, betapa pun panasnya sinar mentari seharian dengan hasil hanya sekedar beberapa ribu rupiah, keduanya tetap menelateninya. Dari pada, mendapatkan uang banyak tapi dari hasil yang haram.

Bagi saya, ini adalah sebuah prinsip hidup yang amat luhur. Subhanallah, betapa ikhlasnya Emak-Bapak saya itu. Ternyata, mungkin ini apa yang dikatakan oleh Bapak Dahlan Iskan (Dirut PLN) bahwa kalau kaya kaya yang bermanfaat dan kalau miskin miskin yang bermartabat. Subhanallah, Emak-Bapak saya sudah memiliki itu sejak lama.

Lucunya, ini sekedar penghibur hati saya saja: saya sampai tidak memiliki jurus jitu untuk mengalihkan pikiran pengurus agar tidak menagih cicilan saya itu tiap saya bayar uang indekos perbulan, apalagi tiap ketemu. Saya menjadi orang yang sok lucu di depannya, padahal saya bukan tipe orang yang lucu. Saya juga sok komunikatif di depannya, padahal saya pemalu. Kadang, kalau saya mikir kondisi ini saya tersenyum sendiri: kok sampai segitunya! Ini lucunya.

Begitu juga, ketika saya sedang merasa demikian, saya merenungi orang-orang kaya, konglomerat-konglomerat, atau pejabat-pejabat di negeri ini, terutama kasus-kasus terkait uang: suap menyuap, penggelapan, penipuan, pencurian, atau korupsi, termasuk paling marak skandal Bank Century dan Mafia Pajak Gayus dkk. Saya membandingkan kondisi Emak-Bapak saya itu dengan Gayus itu. Ya, kalau soal materi sudah pasti bagai langit dan bumi. Betapa tidak, Emak-Bapak saya cari uang untuk sesuap nasi hari ini saja, belum lagi untuk esok hari, apalagi untuk bayar pajak, sulitnya sudah minta ampun. Acapkali jadi buruh kasar yang bekerja di bawah panasnya terik mentari seharian.

Sedangkan Gayus, sebagaimana kita ketahui, simpanan uangnya ternyata sampai ratusan milyar rupiah (Jawa Pos, 17/06/2010). Bayangkan saja, berapa perbandingannya: uang ratusan milyar rupiah dengan uang recehan ratusan atau ribuan rupiah hasil kerja keras pontang panting untuk sekedar sesuap nasi sehari. Hasil bayangannya, tentunya lucu, sampean pasti tersenyum kecil, terlalu tak bisa dibandingkan. Andai saja dipikir dengan logika materialistik, harga saya, Emak-Bapak saya, dan seluruh apa yang kami miliki, bagi Gayus mungkin saja sama halnya perasaan saya membeli satu bungkus krupuk seratusan. Artinya, amat gampang membelinya karena hanya barang murah. Lucu sekali.

Gayus menumpuk uang itu tinggal kontak sana-sini, bisik ini bisik itu, dan simpan sana-sini pokoknya serba gampang. Nah, hanya saja, inilah yang membedakan antara Emak-Bapak saya dan Gayus: cara mendapatkan uang itu. Bagi saya, cara Emak-Bapak saya mendapatkan uang sekecil itu adalah sebuah nilai harga diri kemanusiaan yang tinggi: keikhlasan atau martabat sangat luhur yang nilainya tidak bisa ditukar atau dibandingkan hanya dengan sekedar materi apalagi hanya dengan uang ratusan milyar milik Gayus itu. Sementara Gayus, tentunya sudah pasti seluruh warga negeri ini tahu bahwa dia adalah raja maling negeri ini. Masyarakat dibuat rugi, resah, gelisah, atau menderita karenanya. Uangnya itu sejatinya hasil curian atau penipuan (korupsi) yang jelas-jelas disengaja dari rakyat di negeri ini.

Adik sepupu kecil saya yang masih TK pun kenal Gayus saking terkenalnya, juga ikut ngerti dan benci. Sampai-sampai, suatu hari, ada tikus di dapur saling rebutan ikan yang dicuri dari atas meja makannya. Lalu dia bilang, “kak, ini Gayus-Gayus nyuri ikanku, rebutan.” Katanya. Saya hanya tertawa melihatnya. Kenapa dia sebut tikus itu Gayus? Mungkin saja, sederhana saja, karena dia sering nongol di media masa dengan nama terpampang besar-besar “GAYUS” dan gambarnya bertubuh orang tapi berkepala seperti tikus. Akhirnya, dia menyimpulkan bahwa yang namanya GAYUS itu ya seperti tikus yang pas mencuri ikan itu. Maka, adik saya itu wajar saja. Apalagi ejaan belakangnya serupa “ Yus dan Kus”. Anak kecil pun paham itu.

Kalau demikian, untuk sisi yang ini, maka antara Emak-Bapak saya dan Gayus itu nilainya lebih tak bisa dibandingkan lagi. Sekarang, Emak-Bapak saya yang ada di atas, lebih terhormat. Atau, kalau harus disebut seperti “langit dan sumur”. Tampaknya, ya sudah pasti jelas, kalau Gayus di pandang berkepala tikus oleh masyarakat di negeri ini, sampai oleh adik saya itu, tapi Emak-Bapak saya meski tak terkenal mereka masih manusia sejati. Ini yang membuat saya masih tersenyum dan bangga dengan kondisi saya dan Emak-Bapak saya serta masih pede (percaya diri) menghadapi hidup ini.

Akhirnya, dari itu, meski catatan ini seakan cuplikan nasib pribadi, paling tidak, penulis berharap, ini menjadi sebuah gambaran atau semacam miniatur-meski terkecil-dari realitas yang mengisi negeri ini. Bahwa, negeri ini kalau dipikir-pikir unik, selain lima keunikan menurut Bapak A.S. Laksana di halaman yang sama (Jawa Pos, 18/04/2010): di negeri ini, ada orang seperti Emak-Bapak saya yang serba kebingungan mendapatkan uang hanya untuk sesuap nasi apalagi untuk biaya belajar saya, harus pontang panting dulu, padahal ini untuk belajar yang saya juga berniat untuk bangsa ini. Lebih-lebih mereka yang busung lapar, kurang gizi, bahkan mati kelaparan. Serta, mereka yang putus sekolah yang tinggal cita-cita, pengangguran, dikerubungi penyakit tak mampu berobat, dan persoalan negeri ini yang mengiris-ngiris hati lainnya. Saya yakin, mereka itu melebihi seperempat jumlah penduduk negeri ini.

Sementara di sisi lain, ada manusia semacam Gayus dkk yang seenaknya saja melahap uang orang lain dengan serakah. Anehnya, masih bangganya tersenyum-senyum di depan umum seakan tak punya dosa. Bahkan, masih ngotot dengan segudang alasan untuk bertahan. Astagfirullah. Padahal Tuhan pun juga jelas-jelas mengingatkan, ”Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu manyuap dengan harta itu kepada para hakim, dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa , padahal kamu mengetahui,” (QS: Al-Baqarah, 188). Ayat ini sangat amat kongkrit pada kasus mereka. Semoga mereka menghayatinya.

Sebagai kita, pada akhirnya, untuk ini kita tinggal tunggu keputusan para hakim negeri ini: apakah Gayus dkk diberi ganjaran setimpal dengan dosa-dosanya atau malah tetap senyum-senyum bebas saja. Bukankah kerapkali kita kecewa dalam hukum? Makanya, kita sebagai warga sah-sah saja kalau kawatir. Termasuk orang-orang kampung seperti saya dan Emak-Bapak saya. Kami juga memerhatikan dan amat ngerti persoalan orang-orang atas.

Oleh karena itu, ke depan, terkhusus bagi para petinggi-petinggi negeri ini yang seakan memang lebih dekat dengan pusaran prilaku-prilaku yang bejat itu (semisal korupsi), andai saja terlintas setan seperti itu di benak mereka, sementara pertimbangan-pertimbangan halal-haram sudah terlalu alergi, atau peraturan-peraturan rumit ini-itu sudah membosankan, atau ajaran “takut dan malu Tuhan” sudah terlalu abstrak, paling tidak, ingatlah atau bayangkanlah: bagaimana tetesan peluh pontang panting para dhu'afa itu, tangisan kelaparan itu, jeritan kematian itu, dan termasuk Emak-Bapak saya itu. Atau, bayangkan saja, bagaimana seandainya kondisi itu terjadi pada anak-anak atau saudara-saudara sampean (pejabat yang hobi beramal bejat itu) sendiri. Meski sederhana begitu saja, insaallah, andai saja hati sampean masih hidup tidak akan terus melakukannya.

Harapan lain, semoga catatan ini membawa khikmah dan lebih dapat dihayati. Dari pada, kabar-kabar hot seputar adegan-adegan mesum yang dilakoni mirip Luna Maya dan Cut Tary vs Ariel yang belakangan paling gemar dikonsumsi masyarakat. Yang sejatinya, malah membuat popularitas pribadi mereka semakin mendunia, ujung-ujungnya tambah bangga; yang malah semakin memancing dan merangsang nafsu bejat kita, apalagi para generasi muda. Mereka amat penasaran dan bisa-bisa meneladani gaya-gaya maksiat itu; dan, yang justru membuat negeri ini, bangsa ini, lebih sibuk dipenuhi dengan urusan adegan-adegan bejat itu. Sungguh, ini aib negeri yang memalukan.

Benar kata orang-orang DPR, bahwa tidak usah banyak acara, langsung saja panggil ahlinya diadakan tes fisik langsung, beres (Jawa Pos, 17/06/2010). Masalah porno saja kok sampai berminggu-minggu, leyeh-leyeh! Atau, apakah persoalan porno ini memang sudah kadung terbiasa menjadi persoalan yang paling memenuhi otak siapa saja di negeri ini, bagaimanapun cara dan bentuknya? Dan, Apakah ini termasuk jati diri negeri ini? Negeri porno? Na'udzubillah.

Lawang, 17/06.2010

Sabtu, Juni 05, 2010

Nengku yang Makin Binal


Bukan niat saya untuk mengurus-ngurus orang lain, mengintip-ngintipi urusannya, atau membuntut-buntuti gerak-geriknya, apalagi menjaga atau mengaturnya. Sebab, menjaga diri saya sendiri saja yang bobrok ini sudah kewalawan. Hanya saja, mungkin saja, andai saja dia sakit dengan catatan ini dapat menjadi sehat kembali; andai saja dia lusuh dapat segar bugar kembali; andai saja dia down bisa semangat kembali; dan paling tidak, menjadi penghibur saja. Asal, tidak menjadi pembungkus kacang atau lap tangan, atau bahkan menyakitkan. Catatan saya ini tidak diniatkan demikian.

Dulu, saya pernah menulis “pelita suram di pesantren” tentang seorang gadis santriwati neng (putrinya kiai) yang hobinya berpacaran pada khususnya, dan pada umumnya fenomena romantisme di dunia pesantren, yang diambil dari cerita temannya teman saya. Kali ini, masih tetap soal santriwati neng yang binal itu. Intinya, ini masih lanjutannya, meski bukan cerita berlanjut, yang kalau dulu itu kesannya sangat seru dan menggelikan, yang sekarang ini lebih menyerukan sekaligus mengacak-ngacak hati alias menjengkelkan.

Bagini, temannya teman saya yang dulu itu (dalam catatan, “pelita suram di pesantren”), setelah melihat banyak teman santriwatinya yang prilaku pergaulannya miri-miring alias kurang wajar sebagai santri terkhusus yang neng itu, dia mencoba menulis sesuatu sebagai “saling mengingatkan”, mungkin, yang biasa dikirim kepada neng itu. Agar neng yang sempat dia kagumi atau dia emani itu (bukan cinta) tidak terjatuh ke dalam perigi asmara yang lebih dalam lagi atau cara bercinta yang kebablasan terang-terangan sebagai seorang santri yang neng, putrinya kiai gedhe pengasuh pondok pesantren yang amat religius, Tahfidzil Al-Quran.

Apa isi catatannya, apakah seperti wasiat atau nasehat seorang kiai? Tentu tidak seperti itu. Hanya berisi kisah-kisah khikmah atau yang penting berisi pelajaran sejauh ia pahami dan diyakini dapat menjadi pelajaran bersama terkait moral atau hal-hal yang pantas dan yang tidak pantas saja. Tapi, tidak berisi soal halal-haram karena dia bukan anggota Majlis Ulama Indonesia (MUI). Itu saja.

Dia, teman temannya saya itu, sempat merasa bahagia setinggi langit, sebab saat bertemu dengan neng itu selain dapat ucapan terima kasih, senyuman yang sejuk bermakna dengan mata sipit uniqnya, dia juga dimintai tulisan-tulisannya lagi, pertanda bahwa tulisannya dibaca, pikirnya. Sehingga, dia semakin bersemangat untuk menulis. Dia merasa neng itu betul-betul menjadi motivator sekaligus inspirator bagi tulisan-tulisannya. Neng itu amat berharga bagi keberadaannya di pesantren. Dari itu, dia kagum kepadanya.

Dalam sebuah kesempatan, dia berbicara langung dengannya via telpon yang sebetulnya ini menjadi suatu hal yang dia dambakan semenjak nyantri di pesantren itu, ingin ngomong dengan seorang neng cantik dan baik itu. Niatnya, ingin menyampaikan terima kasih karena telah meluangkan waktunya untuk membaca tulisan-tulisan yang dikirimkan kepadanya. Sekaligus mau meminta maaf barang kali dalam catatan-catatannya itu ada banyak hal yang tidak disukainya yang mengganggu aktifitas belajarnya. Apalagi saat nelpon itu, neng itu telah berterus terang bahwa dia telah sedikit terganggu karena dia sedang menghafal Al-Quran. Menghafal Al-Quran kok ditelpon. Kan memang salah. Namun, dengan itu dia (temannya teman saya itu) lebih yakin lagi bahwa neng itu sejatinya adalah baik dan santri yang serius belajar, santri yang lemah lembut, berani untuk benar, dan dewasa, bukan orang yang hobi keluar pondok berpacaran, apalagi dibilang binal atau kegatelan. Itu tidak benar.

Bahkan, saking dewasanya, pikirnya, di sela-sela obrolannya tersebut neng itu melontarkan sebuah ucapan yang seakan menjadi kritik amat pedas bagi catatan-catatannya sekaligus pada dirinya, bahkan dia terkesan mengajarinya: “Sampean ketahui saja bahwa setiap manusia pernah punya dosa sendiri-sendiri yang diurus sendiri-sendiri.” Katanya.

Ucapan sekilas tersebut seakan menjadi tonjokan paling keras pada mukanya seumur hidupnya. Sebab, seakan ingin mengatakan bahwa apa yang dia lakukan mulai dari isi tulisannya sampai obrolan via telpon itu untuk mengurus urusan orang lain (dirinya: neng itu), sok ngurus dan sok suci sendiri, sekaligus sehingga neng itu merasa dirinya seakan membela diri bahwa wajar dengan dosa-dosanya yang gatel pacaran tersebut sesuai dengan prinsipnya itu, bahwa manusia memiliki dosa masing-masing yang diurus masing-masing. Menangkap kesan ucapan neng untuk dirinya itu demikian, dia akhirnya memilih memohon maaf tak terhingga, meski ucapan atau kesan itu terasa sangat mengacak-ngacak hatinya. Dia pahami bahwa neng itu salah paham kepada prilakunya dengan mengirim catatan-catatan dan menelpon itu. Di samping itu, dia juga merasa bahwa catatan-catatannya selama ini mungkin ada banyak yang isinya tidak sesuai dengan hatinya, atau bahkan terkesan sengaja menyinggung dan menyakiti hatinya.

Apalagi, jikalau neng itu merasa, apalah artinya dirinya bagi neng itu yang anaknya kiai, padahal dirinya anaknya seorang tani miskin yang tak punya kelebihan apa-apa, sok kenal, dan sok memberi nasehat dengan pakai sok pinter nulis segala. Bukankah neng itu lebih tinggi, anaknya kiai, lebih suci dan terhormat? Dia merasa tentang neng itu demikian. Akhirnya, sekali lagi, dia cuma bisa memohon maaf dan membisu diri, memaklumi dirinya telah salah jalur, bukan dunianya. Sehingga, dia juga hanya bisa berharap semoga kesalahpahaman ini tak terjadi berlanjut. Apalagi, andai dia disuruh jujur, sebetulnya dia menyimpan gelora dahsat amat sayang dan kagum di hatinya kepada neng itu. Entah, apakah karena memang neng itu yang dikenal pertama kali di kalangan santri putri, atau karena lainnya? Yang jelas, dia merasa neng itu telah menjadi motifator dan inspirator bagi hobinya dalam menulis. Maka, dia tidak mau menyakinya, bagaimanapun keadaaannya. Lalu, apakah dengan sikap neng itu kepadanya harapannya diam-diamnya sebagai orang yang amat mengaguminya akan luntur, entah! Andai kagum itu adalah cinta, kerap kali sang pencinta rela disakiti yang dicintai hingga dia dapat mengerti.

Berselang tak seberapa lama dari fenomena obrolan via HP itu. Semua keluarga kiai tindakan keluar pesantren sampai berhari, sehingga otomatis laju pesantren tidak ada yang mengendalikan. Kecuali beberapa santri senior yang dikasih amanat tapi tidak ada apa-apanya bagi santri yang lainnya, bahkan dianggap sama. Dan, beberapa memang ada yang sama tak ada bedanya dengan santri yang lain. Dari itu, tidak bisa dibayangkan bagaimana kondisi pesantren dengan posisi demikian. Dan sudah pasti, paling tidak, leyeh-leyeh santri makin bebas, obrolan romantis di dapur tambah asik, dan entah apakah santri atau neng yang nekat keluar pacaran semakin ganas dan kesit?

Yang terakhir bisa nyata terjawab: di paginya hari itu, dari malam keberangkatan kiai, dia mendengar ocehan santai teman-temannya di kamar, bahwa banyak teman putra putri yang keluar. Itu memang pantas, sebab suasana pondok waktu itu langsung sepi. Jangankan di pagi hari, beberapa detik dari keberangkatan kiai itu saja santri-santrinya banyak yang sudah bersiap-siap untuk tindak juga. Bahkan, di selentingan tersebut, konon, ada yang sengaja keluar janjian saling berpasangan. Nah, diantara yang tersebut itu adalah nama neng itu, yang masih tetap dengan pasangannya dan temannya yang juga dengan pasangannya seperti dulu-dulunya.

Mendengar itu, dia tidak kaget lagi, meski pertama sedikit gelisah juga karena orang yang ia kagumi dan harapkan seperti itu. Sebab, dia sudah memahami dari sebelum-sebelumnya, bahwa maklum neng itu seorang neng putrinya kiai, hafidzah lagi (meski masih beberapa juz), sehingga mungkin lebih dewasa dan lebih bersih dari dosa sebagaimana prinsip yang pernah diucapkan itu bahwa masing-masing orang pasti mengalami dosa yang ditanggung masing-masing dan tidak ada orang lain yang mengurusnya. Sehingga, dari itu neng itu bisa jadi berpikir: “Ini dosa saya, tidak ada orang lain yang sok ngurus, istigfar gampang belakangan nanti kalau sudah saya bersenang-senang”. Atau berpikir, “Apalagi ada abi yang jadi syafaat dan santri-santri saya yang tiap hari pasti mendoakan. Apalah artinya dia bukan apa-apa saya ngurus diri saya, sok perhatian, yah, kampret!”. Akhirnya, dia (temannya teman saya itu) memakluminya, dan diam bisanya.

Dari itu juga dia berpikir, “Hebat neng itu, waktu ditelpon saya sebentar saja dan untuk serius bilangnya mengganggu, tapi kalau keluar bermaksiat lama-lama dengan doinya sampai-sampai meninggalkan tugas-tugasnya di pesantren dia bangga. Hebat, pinter dan dewasa banget tuh neng, busyet!” Pikirnya jengah.

Hari itu juga, neng itu memiliki piket ngajar tartil di pesantrennya (suasaranya memang merdu) karena dia oleh kiai diangkat sebagai tenaga pengajar di pesantren itu. Jadi, dia seorang ustadzah yang ngajar tiap hari. Nah, karena saat itu neng itu belum datang dari “shopingria” dengan gendaannya itu otomatis santri-santrinya tidak ada yang mengajarinya. Kelas menjadi kosong.

Mereka bertanya kepada ustadzah di kelas sebelahnya, “Bu, bu guru saya mana kok nggak masuk?” Tanya mereka.

“Ooo..oooo, ibu gurumu itu sedang nggak enak badan.” Jawabnya meski terasa agak pedas di kerongkongannya.

Mendengar itu, akhirnya para santrinya berhamburan menuju lapangan sempit depan kelas, bersepak bola ria, dari pada kosong kegiatan, pikir mereka.

Mendengar cerita ini saya berangan, andai ada saya maka saya akan menjawab pertanyaan para santri itu begini: “ooo..ooo.., ibumu itu mulai tadi pagi sedang janjian dengan pacarnya untuk berkencan di luar pondok sana”. Saya tidak membayangkan kalau andai dijawab yang sebenarnya ini, bagaimana jadinya, apa kata dunia! Tapi, mungkin ini terlalu kasar, terlalu tega. Atau, mungkin benar kata orang  pinter,  “Tidak semua yang benar (sebetulnya) itu ditampakkan.” Entah! Neng itu mungkin lebih bijaksana untuk menjawabnya.

Sementara, sang Aba (Kiai) dan Nyainya di kejauhan sana selalu gelisah seraya berdoa: “Ya Allah, jagalah santri-santriku dari keburukan dan apa yang Kau tidak sukai; selamatkan merekah dari fitnah dosa, mara bahaya, dan bala musibah; luruskan hati mereka yang melenceng; dan tenangkan hati mereka dengan segala kemudahan, barokah, dan ridho-Mu. Amin.” Lebih dari itu, salawat dan ayat-ayat Al-Quran selalu menjadi hiasan hati dan lisannya sepanjang perjalanan. Kiainya itu memang sangat amat sejati. Sebab, dia terinspirasi dalam perjalanan, bahwa kerap dia temui gerak gerik generasi yang rusaknya sudah kelewat batas jauh dari agama, mereka bukak-bukaan berlaku dosa; kerapkali ketika melewati jalan-jalan atau taman-taman kota dia menyaksikan dari jendela mobilnya pemuda pemudi yang sedang duduk berdampingan bermaksiat ria seakan tak punya rasa malu dan dosa. Selain itu, hampir semua kaum Hawa di manapun yang dia lihat di perjalanan bergaya dan berbusana bukak-bukaan, mereka seakan bangga memamerkan kemolekan tubuhnya. Sesekali Pak Kiai itu menangis karena itu. Lalu, dia khusuk berdoa itu.

Di atas sana, burung-burung sarkiti yang menyaksikan bergumam ceplas ceplos melihat kiai berdoa itu, “Hai pak kiai, untuk sementara doamu itu tidak diterima oleh Allah, ditunda. Sebab, sampean tahu, santri-santrimu di pesantren sekarang satu dua yang masih tetap setia kepadamu, yang masih belajar dan tetap pateng mengaji dalam ketiadaanmu ini. Sedangkan yang lain, andai sampean tahu: mereka bersepak bola ria orak-orakan; pesta musikan keras-kerasan; beberapa diantara mereka yang saat ada sampean selalu berkopyak putih bergaya alim sekarang di sana sedang dilepas dan-masaallah-rambutnya warna-warni layaknya brandalan di jalanan itu; bahkan beberapa diantara mereka yang manggut-manggut di depan sampean, yang sampean pandang mereka baik-baik, santri-santri pilihan, neng-neng, gus-gus, ustadz-ustadzah, yang sering sampean suruh jadi imam salat, tukang adzan, pemimpin salawatan, kami lihat mereka sedang keluar janjian kencan dengan pasangan masing-masing, mereka bermaksiat ria di kota-kota sampai-sampai mereka lupa salat, tak ada bedanya dengan mereka-mereka yang kurang ajar di luar pesantren yang sering sampean temui di jalan-jalan itu dan sampean menangis karenanya.” Begitulah sang burung mengadukan. Namun, apalah daya sang burung, Pak Kiai santai saja tidak memahaminya.

Di pesantren, sang neng datang ala santri alim dan serius, berbusana muslimah yang lumayan necis dan berwibawa, tidak lepas menebar senyuman sejuk kepada teman-temannya di kamar, menyapa mereka dengan lembut, sopan, sangat amat akrab, serta ceriah sebagaimana memang menjadi sikapnya sehari-hari. Seraya membawa oleh-oleh yang manis-manis seperti senyumannya. Teman-temannya sangat amat suka kepadanya. Dan kemudian,  dia tidur-tiduran di atas kasur empuknya seraya terbayang: suasana romantis seharian dengan sang kasih, obrolan yang ceria, canda yang manja, dan ……yang amat nikmat, nikmat, dan nikmat. Teman-teman di sebelahnya bergerombol tak kalah bahagianya mengerubungi oleh-oleh darinya.

Dari cerita di atas, kalau boleh saya menyumbang obrolan untuk teman temannya saya itu, maka saya akan titip salam terkhusus kepada neng yang kayaknya makin binal itu, begini: “Neng, apakah sampean tidak berpikir atau bertanya-bertanya kepada diri sampean sendiri ketika sampean berangkat mengajar santri-santrimu dari kamarmu, apakah saya ini sudah memang pantas jadi ustadzah ngajar mereka, ini salah itu benar, ini pantas itu tidak, ini haram itu halal, dll? Atau, apakah saya ini sudah benar-benar membaca, menghafal, dan menghayati, dan mengajari Al-Quran, pantaskah saya sabagai hafidhoh? Atau, sudah betul-betul pantaskah saya menjadi seorang santri, anak kiai, neng, gus, yang diharapkan masyarakat?"

Kalau tidak, maka sudah semestinya sampean, saya, kita, dan teman-teman santri semua hendaknya memikirkan kembali dan menata ulang semua diri kita: niat dan prilaku kita sebagai santri dan generasi Muslim.
Lawang, 03/06/2010

Kamis, Juni 03, 2010

Salam di Hari Pesta Rakyatmu


 (Catatan puitis sisi lain buat pesta kemenangan Arema)

Arema klimaks bahagia
Pesta menang Liga Indonesia
Sebagai anakmu saya juga bahagia
Tapi, tua muda tumpah di jalan-jalan kota
Semuanya teler mabuk kemenangan
Laki-lakinya orang-orakan
Wanitanya tak kalah unjuk buka-bukaan
Sama-sama sorak-sorakan
Di pesta rakyatmu
“kita tahun ini menang, rayakan dengan puas”, katanya
Sampai-sampai persis bahkan lebih banter
Benda bulat kebanggaan
Mengelinding ditendang-tendang
Memar meronta
Tapi amat bangga, tak terasa
Inikah kemenangan
Lalu, mereka mau ke mana?
Lalu, apa mau mereka?
Yang bangga bahagia
Yang ketawa sambil menimba air mata
Maka, apakah masih manusia
Di sebuah masa
Sendiri-sendiri
Manakah aremanya
Ditendang-tendang tak karuan
Mungkin ini yang harus dipestakan

Lawang, 02/06/2010