Selasa, Juni 29, 2010

Emak Saya, Gayus, dan Negeri Porno

Ini berangkat dari cerita pribadi dulu, tentang saya sebagai bagian komponen kecil dari bangsa di negeri ini, Indonesia.

Saya lebih sering bersedih tentang diri saya sendiri, sesekali sampai down. Rasanya, mau menyerah pada nasib yang tak mujur ini. Tapi, sesekali juga saya masih bisa tersenyum kalau mikir-mikir nasib saya lebih dalam lagi. Misalnya, tentang masalah satu ini, kondisi belajar saya di pesantren yang baru. Andai sampean tahu, akan merasa sedih, tapi juga akan bisa tersenyum seakan ada lucunya. Betapa tidak, sampai saat ini, sejak tiga bulan lalu, uang pendaftaran saya sebagai santri baru belum terlunasi. Saya mencicilnya sedikit demi sedikit.

Cicilan itu bukan karena kebijakan pesantren yang mengatur demikian, yang mungkin menjadi dispensasi keringanan biaya daftar yang memang terlalu mahal sebagaimana terjadi di beberapa pesantren yang katanya pesantren elit. Bahkan, konon ada pesantren yang pendaftarannya harus membawa sepasang sapi besar-besar. Tapi, karena memang orang tua saya yang tidak mampu membayar langsung lunas. Padahal, pembayarannya sangat relatif murah, cuma Rp 250.000. Itupun, sekali seumur hidup di pesantren itu. Selain uang indekos (makan) yang jumlahnya sama tapi perbulan. Nah, kalau ini harus bayar tepat waktu soalnya makan sudah pasti tiap hari.

Bukankah uang pendaftaran itu sangat amat murah? Inilah sedihnya tentang saya. Betapa pun murahnya, saya masih mencicilnya, berkali-kali lagi. Sampai-sampai saya tidak punya cara dan gaya untuk menghadapi pengurus yang selalu menagih. Saya amat malu sekali. Dan, alhamdulillah, pengerus itu mengerti juga. Akhirnya, tiap saya bayar indekos perbulan, saya tinggal sambil senyum saja, dan pengurusnya sudah mengerti bahwa itu pertanda kompromi saya tidak bisa membayar cicilan pendaftaran itu, kecuali pas untuk bayar indekos saja. Pasalnya, kesedihan saya ini adalah saya terlalu amat miskin untuk hal materi ini. Jangankan ratusan ribu, satuan ribu saja orang tua saya amat sangat sulit mendapatkannya.

Sungguh saya ingat, betapa pontang pantingnya Emak-Bapak saya di kampung. Saat itu, saya mau berangkat ke pondok yang baru itu. Tentunya, yang dipersiapkan lumayan komplit, termasuk biaya ongkos transportasi dan pendaftaran santri baru. Saya ingat, bagaimana saat itu Emak-Bapak saya mengumpulkan uang recehan jauh-jauh sebelumnya untuk itu. Uang receh seratus rupiah amat sangat besar nilainya bagi kami. Saya juga ingat, bagaimana sehari sebelum berangkat uang persiapan itu masih belum lengkap, sehingga Emak-Bapak saya usai salat Subuh langsung pergi ke sawah. Apa tujuannya? Hanya untuk memetik sisa-sisa buah cabe yang pohonnya sudah keriput, mau dijual untuk melengkapi kekurangan biaya saya itu. Andai saja orang lain digratiskan untuk memetik cabe itu, pasti tidak mau karena hasilnya tidak sesuai dengan capeknya.

Ya Tuhan, saya ingat waktu itu, Magrib-magrib Emak-Bapak saya baru bergegas pulang dari sawah. Sampai-sampai saya menyusulnya karena sudah terlalu petang. Tapi, bagaimana lagi, demi terpenuhinya bekal belajar saya di pesantren yang baru itu, betapa pun panasnya sinar mentari seharian dengan hasil hanya sekedar beberapa ribu rupiah, keduanya tetap menelateninya. Dari pada, mendapatkan uang banyak tapi dari hasil yang haram.

Bagi saya, ini adalah sebuah prinsip hidup yang amat luhur. Subhanallah, betapa ikhlasnya Emak-Bapak saya itu. Ternyata, mungkin ini apa yang dikatakan oleh Bapak Dahlan Iskan (Dirut PLN) bahwa kalau kaya kaya yang bermanfaat dan kalau miskin miskin yang bermartabat. Subhanallah, Emak-Bapak saya sudah memiliki itu sejak lama.

Lucunya, ini sekedar penghibur hati saya saja: saya sampai tidak memiliki jurus jitu untuk mengalihkan pikiran pengurus agar tidak menagih cicilan saya itu tiap saya bayar uang indekos perbulan, apalagi tiap ketemu. Saya menjadi orang yang sok lucu di depannya, padahal saya bukan tipe orang yang lucu. Saya juga sok komunikatif di depannya, padahal saya pemalu. Kadang, kalau saya mikir kondisi ini saya tersenyum sendiri: kok sampai segitunya! Ini lucunya.

Begitu juga, ketika saya sedang merasa demikian, saya merenungi orang-orang kaya, konglomerat-konglomerat, atau pejabat-pejabat di negeri ini, terutama kasus-kasus terkait uang: suap menyuap, penggelapan, penipuan, pencurian, atau korupsi, termasuk paling marak skandal Bank Century dan Mafia Pajak Gayus dkk. Saya membandingkan kondisi Emak-Bapak saya itu dengan Gayus itu. Ya, kalau soal materi sudah pasti bagai langit dan bumi. Betapa tidak, Emak-Bapak saya cari uang untuk sesuap nasi hari ini saja, belum lagi untuk esok hari, apalagi untuk bayar pajak, sulitnya sudah minta ampun. Acapkali jadi buruh kasar yang bekerja di bawah panasnya terik mentari seharian.

Sedangkan Gayus, sebagaimana kita ketahui, simpanan uangnya ternyata sampai ratusan milyar rupiah (Jawa Pos, 17/06/2010). Bayangkan saja, berapa perbandingannya: uang ratusan milyar rupiah dengan uang recehan ratusan atau ribuan rupiah hasil kerja keras pontang panting untuk sekedar sesuap nasi sehari. Hasil bayangannya, tentunya lucu, sampean pasti tersenyum kecil, terlalu tak bisa dibandingkan. Andai saja dipikir dengan logika materialistik, harga saya, Emak-Bapak saya, dan seluruh apa yang kami miliki, bagi Gayus mungkin saja sama halnya perasaan saya membeli satu bungkus krupuk seratusan. Artinya, amat gampang membelinya karena hanya barang murah. Lucu sekali.

Gayus menumpuk uang itu tinggal kontak sana-sini, bisik ini bisik itu, dan simpan sana-sini pokoknya serba gampang. Nah, hanya saja, inilah yang membedakan antara Emak-Bapak saya dan Gayus: cara mendapatkan uang itu. Bagi saya, cara Emak-Bapak saya mendapatkan uang sekecil itu adalah sebuah nilai harga diri kemanusiaan yang tinggi: keikhlasan atau martabat sangat luhur yang nilainya tidak bisa ditukar atau dibandingkan hanya dengan sekedar materi apalagi hanya dengan uang ratusan milyar milik Gayus itu. Sementara Gayus, tentunya sudah pasti seluruh warga negeri ini tahu bahwa dia adalah raja maling negeri ini. Masyarakat dibuat rugi, resah, gelisah, atau menderita karenanya. Uangnya itu sejatinya hasil curian atau penipuan (korupsi) yang jelas-jelas disengaja dari rakyat di negeri ini.

Adik sepupu kecil saya yang masih TK pun kenal Gayus saking terkenalnya, juga ikut ngerti dan benci. Sampai-sampai, suatu hari, ada tikus di dapur saling rebutan ikan yang dicuri dari atas meja makannya. Lalu dia bilang, “kak, ini Gayus-Gayus nyuri ikanku, rebutan.” Katanya. Saya hanya tertawa melihatnya. Kenapa dia sebut tikus itu Gayus? Mungkin saja, sederhana saja, karena dia sering nongol di media masa dengan nama terpampang besar-besar “GAYUS” dan gambarnya bertubuh orang tapi berkepala seperti tikus. Akhirnya, dia menyimpulkan bahwa yang namanya GAYUS itu ya seperti tikus yang pas mencuri ikan itu. Maka, adik saya itu wajar saja. Apalagi ejaan belakangnya serupa “ Yus dan Kus”. Anak kecil pun paham itu.

Kalau demikian, untuk sisi yang ini, maka antara Emak-Bapak saya dan Gayus itu nilainya lebih tak bisa dibandingkan lagi. Sekarang, Emak-Bapak saya yang ada di atas, lebih terhormat. Atau, kalau harus disebut seperti “langit dan sumur”. Tampaknya, ya sudah pasti jelas, kalau Gayus di pandang berkepala tikus oleh masyarakat di negeri ini, sampai oleh adik saya itu, tapi Emak-Bapak saya meski tak terkenal mereka masih manusia sejati. Ini yang membuat saya masih tersenyum dan bangga dengan kondisi saya dan Emak-Bapak saya serta masih pede (percaya diri) menghadapi hidup ini.

Akhirnya, dari itu, meski catatan ini seakan cuplikan nasib pribadi, paling tidak, penulis berharap, ini menjadi sebuah gambaran atau semacam miniatur-meski terkecil-dari realitas yang mengisi negeri ini. Bahwa, negeri ini kalau dipikir-pikir unik, selain lima keunikan menurut Bapak A.S. Laksana di halaman yang sama (Jawa Pos, 18/04/2010): di negeri ini, ada orang seperti Emak-Bapak saya yang serba kebingungan mendapatkan uang hanya untuk sesuap nasi apalagi untuk biaya belajar saya, harus pontang panting dulu, padahal ini untuk belajar yang saya juga berniat untuk bangsa ini. Lebih-lebih mereka yang busung lapar, kurang gizi, bahkan mati kelaparan. Serta, mereka yang putus sekolah yang tinggal cita-cita, pengangguran, dikerubungi penyakit tak mampu berobat, dan persoalan negeri ini yang mengiris-ngiris hati lainnya. Saya yakin, mereka itu melebihi seperempat jumlah penduduk negeri ini.

Sementara di sisi lain, ada manusia semacam Gayus dkk yang seenaknya saja melahap uang orang lain dengan serakah. Anehnya, masih bangganya tersenyum-senyum di depan umum seakan tak punya dosa. Bahkan, masih ngotot dengan segudang alasan untuk bertahan. Astagfirullah. Padahal Tuhan pun juga jelas-jelas mengingatkan, ”Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu manyuap dengan harta itu kepada para hakim, dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa , padahal kamu mengetahui,” (QS: Al-Baqarah, 188). Ayat ini sangat amat kongkrit pada kasus mereka. Semoga mereka menghayatinya.

Sebagai kita, pada akhirnya, untuk ini kita tinggal tunggu keputusan para hakim negeri ini: apakah Gayus dkk diberi ganjaran setimpal dengan dosa-dosanya atau malah tetap senyum-senyum bebas saja. Bukankah kerapkali kita kecewa dalam hukum? Makanya, kita sebagai warga sah-sah saja kalau kawatir. Termasuk orang-orang kampung seperti saya dan Emak-Bapak saya. Kami juga memerhatikan dan amat ngerti persoalan orang-orang atas.

Oleh karena itu, ke depan, terkhusus bagi para petinggi-petinggi negeri ini yang seakan memang lebih dekat dengan pusaran prilaku-prilaku yang bejat itu (semisal korupsi), andai saja terlintas setan seperti itu di benak mereka, sementara pertimbangan-pertimbangan halal-haram sudah terlalu alergi, atau peraturan-peraturan rumit ini-itu sudah membosankan, atau ajaran “takut dan malu Tuhan” sudah terlalu abstrak, paling tidak, ingatlah atau bayangkanlah: bagaimana tetesan peluh pontang panting para dhu'afa itu, tangisan kelaparan itu, jeritan kematian itu, dan termasuk Emak-Bapak saya itu. Atau, bayangkan saja, bagaimana seandainya kondisi itu terjadi pada anak-anak atau saudara-saudara sampean (pejabat yang hobi beramal bejat itu) sendiri. Meski sederhana begitu saja, insaallah, andai saja hati sampean masih hidup tidak akan terus melakukannya.

Harapan lain, semoga catatan ini membawa khikmah dan lebih dapat dihayati. Dari pada, kabar-kabar hot seputar adegan-adegan mesum yang dilakoni mirip Luna Maya dan Cut Tary vs Ariel yang belakangan paling gemar dikonsumsi masyarakat. Yang sejatinya, malah membuat popularitas pribadi mereka semakin mendunia, ujung-ujungnya tambah bangga; yang malah semakin memancing dan merangsang nafsu bejat kita, apalagi para generasi muda. Mereka amat penasaran dan bisa-bisa meneladani gaya-gaya maksiat itu; dan, yang justru membuat negeri ini, bangsa ini, lebih sibuk dipenuhi dengan urusan adegan-adegan bejat itu. Sungguh, ini aib negeri yang memalukan.

Benar kata orang-orang DPR, bahwa tidak usah banyak acara, langsung saja panggil ahlinya diadakan tes fisik langsung, beres (Jawa Pos, 17/06/2010). Masalah porno saja kok sampai berminggu-minggu, leyeh-leyeh! Atau, apakah persoalan porno ini memang sudah kadung terbiasa menjadi persoalan yang paling memenuhi otak siapa saja di negeri ini, bagaimanapun cara dan bentuknya? Dan, Apakah ini termasuk jati diri negeri ini? Negeri porno? Na'udzubillah.

Lawang, 17/06.2010

1 komentar:

  1. Halo salam blogger :).

    Saya kebetulan berlabuh di blog anda setelah menggunakan suatu kata kunci di google. Jujur, tulisan-tulisan anda tidak ada yang istimewa, tapi pengalaman yang ada tuliskan sangat inspirasional. Terima kasih sudah menuliskannya disini. Saya ijin membaca tulisan-tulisan anda lainnya yah :),

    salam,

    BalasHapus