Sabtu, Desember 31, 2011

NABI AYYUB, FIGUR IKHLAS TANPA BATAS


(Sebuah Catatan Reflektif Tahun Baru 2012 M)

Sudah menjadi tradisi tiap momen pergantian tahun baru masing-masing orang, kelompok, apalagi sepasang kekasih, menyambut tahun baru ini dengan berbagai cara, model, acara, kegiatan, ritual dan sebagainya. Misalnya, paling umum merayakannya dengan meniup trompet plus menyulut kembang api pas pada detik pergantian, jam 00.00 dini hari.

Lebih seru lagi, tidak sedikit sepasang kekasih yang menyambutnya dengan pesta pembongkaran  kejantanan dan keperawananan, sebagai tanda cinta sejati biar lebh abadi di tahun yang baru, katanya.

Entah, dengan cara apapun saya tidak ngurus. Yang jelas, di mana pun yang namanya tahun baru pasti terjadi suasana yang gegap gempita. Muda-mudi, tua tui, semuanya bahagia. Sebuah hari yang Happy full.

Padahal, kalau kita renungi, sejatinya tahun baru adalah tahun kesedihan atau prihatin. Betapa tidak, mari kita pikir, bergantinya tahun berarti bertambahnya tahun. Bertambahnya tahun berarti bertambahnya umur. Bertambahnya umur berarti, sebaliknya, makin berkurangnya jatah hidup kita. Makin berkurangnnya jatah hidup kita berarti makin dekatnya kita dengan kematian. Mbah-mbah sepuh mengatakan, “Sesungguhnya tiap saat manusia itu menggali kuburannya sendiri. Makin hari makin dalam dan sampai saatnya terpenndam.”

Seumpama jatah hidup kita 30 tahun, sedangkan pada tahun 2011 ini kita sudah umur 29 tahun, berarti tahun 2012 ini tahun terakhir bagi kehidupan kita. Maka, apakah kita masih akan bisa merasa bahagia dengan momen pergantian tahun yang baru ini? Apakah kita masih akan sempat tertawa bahagia dengan meniup trompet atau menyaksikan kembang api bertabur di langit pada malam tahun baru?

Terlepas dari semua itu, secara pribadi saya tidak mau ketinggalan juga. Saya akan menyambut tahun baru 2012 ini dengan cara saya sendiri. Yang menurut saya, cara ini lebih menyadari akan sejatinya bergantinya tahun baru, paling tidak buat saya sendiri dan rekan-rekan saya, sebagai tahun berkurangnya jatah umur. Maka dari itu, saya sambut tahun pengurang jatah umur ini dengan catatan reflektif sederhana ini.

Sengaja saya mengusung tema pada catatan ini dengan sebuah teladan dari seorang Rasul, sebagai sosok yang semangat sosial, kesabaran, dan keikhlasannya amat luar biasa, Nabi kita Ayyub as. Kenapa Nabi Ayyub?

Alasannya, pada kehidupan Nabi Ayyub ini saya kira banyak fenomen-fenomena yang sedikit banyak mirip dengan tahun-tahun ini: musibah makin bertubi-tubi, persaudaraan sejati makin kering, uang menjadi dasar dan sesembahan, halal-haram berbaur tak karuan, persaingan tega-tegaan, banyak orang stres, trauma, dan gila di jalan-jalan. Sebaliknya, prinsip kesabaran, keikhlasan, dan kemanusiaan makin terlupakan.

***
Ayyub adalah putra dari Ish dengan seorang putri Nabi Luth as. Besar kemungkinan ibunya itu adalah salah seorang dua putri Nabi Luth yang pernah ditawarkan kepada masyarakat Sodom untuk dinikahi secara wajar yang ditolak oleh mereka sebagai penganut homoseksual.

Ish bapaknya itu adalah putra Nabi Ishaq as anaknya Nabi Ibrohim as. Maka Ayyub adalah cucu Nabi Ishaq dan Luth, serta sebagai cicit Nabi Ibrohim

Keluarga Ish hidup di negri Syam (sekarang Syiria). Tergolong keluarga yang sangat kaya raya. Ayyub mewarisi kekayaan itu. Setelah dewasa Ayyub menikahi seorang wanita cucu Nabi Yusuf as yang bernama Rahmah, putri Afrayim anaknya Nabi Yusuf as.

Sebagai orang yang kaya raya, Ayyub selalu mensyukurinya dengan ketaatan kepada Allah swt dan mendermakan hartanya kepada masyarakat dan agama, sehingga membuatnya terkenal di kalangan masyarakatnya, Hauran dan Tih, dengan ketaatannya dalam beribadah dan kedermawanannya yang luar biasa. Singkatnya, keluarga Ayyub menjadi keluarga yang teladan dan terhormat.

Sudah menjadi kebiasaan Iblis yang selalu risih kalau ada manusia yang taat dan beramal baik seperti Nabi Ayyub as, sehingga membuatnya tergoda untuk mengujinya. Allah mengetahui gelagat Iblis itu. Allah pun menantang iblis sekiranya ia sanggup meruntuhkan iman Ayyub.

Masa ujian pun tiba. Ujian pertama, rumah dan seluruh kekayaan Ayyub terbakar. Ayyub tidak surut dalam pengabdiannya kepada Allah. Kedua kalinya, seluruh anak-anaknya tewas setelah rumah mereka ambruk. Namun Ayyub tetap sabar. Setelah itu, Iblis betul-betul tidak tanggung-tanggung mengujinya, Ayyub terserang penyakit kulit aneh yang membuatnya diasingkan masyarakat sekitar. Itu pun tetap tidak menggoyahkan iman Ayyub.

Tidak cukup itu, Iblis membisiki hati kedua istri Ayyub dan masyarakat, keduanya merasa jijik berkumpul dengan Ayyub sehingga keduanya memaksa minta cerai. Dengan ikhlas dan sabar Ayyub pun menceraikannya. Kecuali Rahmah, dia tetap sabar mendampingi dan merawat Ayyub yang tubuhnya telah tak berdaya dengan keganasan penyakit itu. Masyarakat pun mengusirnya.

Konon, istrinya yang cucu Nabi Yusuf itulah yang menggendong Ayyub keluar desa begitu mereka diusir masyarakatnya. Ia terus melayani keperluan Ayyub yang tubuhnya sedang lemah, mencukupi kebutuhannya, bahkan pernah menjual gelung rambut untuk keperluan makan. Meski masa itu, menjual gelung rambut adalah perbuatan yang dianggap hina, saking sudah menjadi fakirnya.

Namun, meski demikian parah kondisinya hatinya tetap tabah dalam mengabdi kepada Allah. Bahkan, justru penyakitnya itu dianggap nikmat dari Allah sebagai tebusan hidupnya selama bergelimang dengan kekayaan sebelumnya.

Bayangkan saja, delapan puluh tahun berlalu dalam cobaan itu, Ayyub tetap merasa belum pantas berdoa untuk meminta kesembuhan dari Allah swt. Ia menganggap beban cobaan itu belum sebanding dengan kesenangan yang pernah dinikmatinya di kala bergelimang harta dulu.

Namun, Rahmah terus meyakinkan Ayyub agar berdoa. Maka dengan ketabahannya dalam pengabdiannya kepada Allah itu, ujian pun berakhir. Allah kemudian berfirman agar Ayyub menjejakkan kakinya ke tanah. Air pun menyembul dari bekas jejakan kaki itu yang kemudian menjadi obat dengan mandi dan meminumnya. Akhirnya, Ayyub menjadi sembuh dan sehat bugar kembali. Iblis pun kebakaran jenggot, seraya mengakui kehebatan iman Nabi Ayyub as.

Kisah Nabi Ayyub as dan Rahmah adalah potret ketabahan keluarga rasul dalam mensykuri nikmat sekaligus tabah menerima cobaan penderitaan. Mereka menunjukkan bahwa iman adalah segalanya, lebih dari sekedar harta, keluarga, apalagi pengakuan manusia (kedudukan).

Selain itu, ada khikmah yang amat dalam. Sudah dipahami, agama mengajarkan bahwa harta yang didermakan atau disodaqahkan akan mensucikan, menolak musibah melipatgandakan, dan menyelamatkan ahlinya dunia akherat. Dan itu sudah kepastian Tuhan. Pada intinya, dermawan menjadikan selamat bahagia dunia akherat.

Namun, dari kisah Nabi Ayyub yang dermawan ini ada hal yang harus kita renungi. Yakni, kenapa Nabi Ayyub sebagai orang yang sudah dermawan tiada tara itu dirinya masih mendapatkan musibah bertubi-tubi itu; serangan Iblis malah ampuh menembusnya; hartanya justru ludes kebakar, bahkan anak-anak yang disayanginya tewas ambruk dengan rumahnya, terserang penyakit menjijikkan, serta istri-istrinya dan semua masyarakat meninggalkannya. Secara logika akal, kita akan berpikiran seperti itu, lebih-lebih andai kita menjadi tetangganya Nabi Ayyub saat itu: Dermawan kok malah ngenes banget! Prasangka kasarnya.

Jawabannya, ajaran agama memang betul, bahwa sodaqah memang menyelamatkan dan membahagiakan. Itu sudah janji Allah swt. Hanya saja proses jalannya tidak sederhana sebegitu saja.

Pertama, Allah mau membuktikan kepada Iblis dan kepada semua makhluq-Nya bahwa sehebat apapun model siasat godaan Iblis untuk menjerumuskan hamba-Nya yang sudah kadung yakin ibadahnya kepada Allah, Iblis itu tidak akan berhasil. Allah tetap akan menjaganya dan meluluskannya kepada janji-Nya untuk selamat bahagia dunia akherat. Terbukti, Nabi Ayyub meski tubuhnya sampai busuk dengan siasat Iblis itu, pada akhirnya dia tetap kuat dalam imannya sehingga selamat sembuh serta ada di sorga.

Kedua, Allah dalam mengangkat hamba-Nya tidak semudah dan sesederhana begitu saja. Tapi ada proses uji yang berlapis dan bertahap. Semakin tinggi Allah akan mengangkat derajat seorang hamba-Nya semakin tinggi pula Allah mengujinya. Pada satu tingkatan lulus, maka akan memasuki tingkatan lebih tinggi lainnya. Demikian seterusnya sampai Allah telah menentukan cukup. Sampai di mana kecukupan ujian itulah yang kita tidak tahu.

Allah masih menguji Nabi Ayyub dalam kedermawanannya meski sudah tiada tara itu: betul-betul konsistenkah kedermawanannya itu, sehingga Allah tidak kebu-buru membahagiakannya, tapi justru terbalik malah lebih susah; Tetapkah dia sabar dan teguh dalam kedermawanannya dengan akibat terbalik itu, justru kesusasahan yang datang bertubi-tubi? Ternyata Nabi Ayyub betul-betul teguh dan konsisten dengan prilaku mulyanya itu.

Di sinilah kita kerap sesat dalam beranggapan kepada Allah, lebih-lebih dengan pemikiran di atas tadi; udah sodaqah kok malah tambah melarat! Udah berbuat baik dan nolong orang kok malah sengsara!

Kalau tidak kuat kita akan tersesat dengan berprasangka buruk kepada Allah. Bahwa, Allah tidak tepat janji, Allah tidak adil, Allah jahat, dan prasangka buruk lainnya. Kalau terus berlanjut, akibatnya kita akan fatal, menjadi stress, trauma, gila, bahkan bunuh diri. Dengan demikian berarti kita tidak lulus, sodaqah kita menjadi tampak tidak betul-betul ikhlas dan konsisten, hanya karena demi sesuatu di luar Allah. Kita menjadi konyol. Nau'udzubillah.

Lalu bagaimana? Lebih selamatnya, mungkin alangkah lebih baiknya segala usaha prilaku baik kita dan usaha menghindari prilaku buruk, kita niatkan semata karena ridho Allah swt seraya selalu berprasangka baik dalam tiap apa pun yang kita temui dalam usaha itu. Mengapa orang-orang mu’min dan mu’minat tidak berbaik sangka (husnudhon) terhadap diri mereka sendiri, ketika kamu mendengar berita bohong dan berkata, ‘ini adalah (suatu berita) bohong yang nyata.” (QS, 24: 12). Sehingga, ketika kita giat menolong orang lalu kita justru seakan yang celaka, kita tetap ikhlas. Ketika kita usaha untuk rajin sodaqah tapi malah kita menemukan kerugian atau kebangkrutan dalam usaha kita, kita tetap saja tabah. Dan, ketika kita untung kita akan selalu bersyukur.

Dengan demikian, dalam setiap kondisi dan situasi, bahagia susah, untung bangkrut, hidup mati, kita akan selalu berhati jembar sejembar angkasa, enjoy, dan selalu tersenyum berbinar penuh cinta dan sayang kepada Allah dan kepada manusia yang lainnya. Inilah ajaran keikhlasan dan husnuzhon. Subhanallah.

Semoga pada tahun baru ini, semangat kesabaran, keikhlasan, dan kemanusiaan selalu menjadi prinsip dan laku unggulan kita seperti Nabi Ayyub as itu dan para Rasul lainnya. Amin.

Wagir, DOA GOLD SILVER, 01-01-2012 M

Kamis, November 03, 2011

Wahyu Tuhan Soal Lalu Lintas

Suatu hari, saya terjaring operasi polisi lalu lintas. Tanpa memahami apa maksud pelanggarannya, saya nurut saja diberhentikan dengan tenang. Karena saya merasa persyaratan tentang aturan bersepeda motor yang saya miliki lengkap, mulai dari SIM, lampu dinyalakan siang hari, dan aturan lainnya.

Sempat berpikir sejenak tentang kesan negatif seputar polisi lalu lintas: terkait uang sanksi-lah, cari-cari kesalahan-lah, polisi benarnya sendiri-lah, dan kesan lainnya. Namun, saya tidak percaya itu. Sebab, saya yakin bahwa diadakan peraturan demi keselamatan dan kemaslahatan bersama. Maka aturan itu untuk dita'ati dan polisilah yang bertugas menggerakkan peraturan itu. Yang melanggar dikenai sanksi.

Setelah diperiksa, ternyata ada dua pelanggaran bagi saya. Yaitu, saya lapisi lampu penunjuk arah dengan skotlet warna merah dan knalpot variasi. Dengan kedua pelanggaran itu saya dikenai sanksi harus menghadiri persidangan plus membayar denda sedikitnya seratus ribu. Titik pelanggaran itu ada pada Pasal 285 ayat (1), Pasal 106 ayat (3), dan Pasal 48 ayat (2) dan ayat (3).

Karena saya tidak memungkinkan untuk menghadiri sidang, tanpa berniat melawan atau sial sama sekali, maka saya lebih baik berterus terang dengan alasan jarak rumah saya dan tempat persidangan terlalu jauh, selain karena resiko dan biaya perjalanan. Yaitu Lumajang dan Blitar. Sebab, kalau saya tidak menghadiri sidang maka itu sebuah pelanggaran lain.

Singkat cerita, pak polisi memberikan saya alternatif dengan memilih perwakilan sidang dan bisa siapa saja, baik saudara atau teman kenalan yang penting memenuhi panggilan sidang. Karena yang saya kenal saat itu di Blitar hanya pak polisi itu sendiri, maka saya minta tolong untuk diwakili kepada pak polisi itu sebagai kenalan saya sekaligus titip uang denda sebesar minimal yang tercantum di undang-undang, minimal Rp 100.000.

Sebelum keputusan sidang itu, sebagai orang yang belum pernah tahu pasti aturannya secara tertulis, saya meminta kepada polisinya untuk memaparkan undang-undang pelanggaran itu. Dan, agar saya juga tidak berpikiran buruk terhadap kinerja polisi.

Maka, petugas polisi itu membawa saya ke pos polisi setempat dan memaparkan secara detail tentang aturan itu. Di situ lengkap tentang poin-poin aturan, sanksi, sekaligus dendanya. Dari situ saya menjadi paham jelas, sehingga desas-desus tentang kesan buruk terhadap polisi di jalan-jalan selama ini seketika buyar dari benak saya. Kesan negatif selama ini tentang polisi salah kaprah.

Dalam pemeriksaan di jalan itu tentunya bukan hanya saya, yang lain banyak. Bahkan, hampir semua pengendara sepeda motor. Mayoritas ada pelanggarannya dengan berbagai tanggapan. Paling banyak yang tampak sial, muring-muring, bahkan geger dan misuh-misuh kepada polisi.

Secuplik cerita itu adalah kenyataan yang saya alami sendiri. Selama ini, banyak kita dengar desas-desus seputar operasi polisi lalu lintas. Lebih-lebih di jalan ketika ada operasi. Apalagi belakangan marak operasi sebagai tanggapan makin ugal-ugalannya para pengendara dan tingginya angka kecelakaan. Ada dua poin miring yang biasanya lebih tampak.

Pertama, soal denda uang yang diminta polisi. Kesannya, uangnya itu masuk ke kantong polisi pribadi. Benarkah? Menurut saya, bisa benar bisa tidak. Tinggal lihat jumlah dan caranya.

Merujuk kepada UU LLAJ NO. 2 Tahun 2009, bahwa sang pelanggar harus mengikuti sidang pada waktu yang telah ditentukan dan membayar denda via bank atau langsung di persidangan yang jumlahnya telah ditentukan secara tertulis, minimal Rp 100.000 dan maksimal Rp 1.000.000 sesuai dengan kadar pelanggarannya.

Terkait dengan ini, saya ingat pula ketika saya pernah terjaring polisi sebelumnya karena saya tidak menyalakan lampu utama di siang hari tanpa disengaja. Saat itu, saya ditetapkan untuk hadir di persidangan dan dikenai denda.

Pada awalnya, saya memang disodorkan kertas pelanggaran dan di situ memang tertulis sama, minimal Rp 100.000. Di samping, karena saya tidak punya uang cukup, saya lihat lainnya mayoritas membayar denda Rp 50.000 setelah tawar menawar lama, maka saya menuntut bayar seperti mereka cuma Rp 50.000 dan polisinya mau saja. Di situ juga tidak ada tanda tangan khusus sebagai perwakilan sidang.

Kalau dilihat dari kasus cara denda sejumlah 50 ribu itu, kayaknya timbul beberapa pertanyaan: Bukankah yang tertulis minimal 100 ribu serta harus ada tandatangan khusus untuk perwakilan sidang yang jelas siapa yang mewakili? Dan bukankah hasil denda itu langsung disetor berupa laporan kepada atasan dengan jumlah minimal 100 ribu itu juga? Maka, kalau begitu seharusnya, apakah tidak kelimpungan polisinya untuk mengganti kekurangan nominal yang sesuai dengan undang-undang tersebut mengingat begitu banyak yang melanggar? Ini tidak mungkin. Maka ini pantas dicurigai.

Namun, tidak bagi pengalaman yang di Blitar itu, uang masuk kantong polisi tidak benar. Sebab, prosedur penerimaan denda uang dan jumlahnya serta sistem perwakilan persidangannya jelas tertulis. Dan, sewaktu di jalan tidak ada polisi yang menerima bayaran denda dan langsung beres di tempat yang tidak sesuai dengan nominal aturannya.

Atau, kalau memang perkiraan saya ini salah, mungkin saja ada alternatif aturan lain terkait sahnya sidang beres di tempat dengan Rp 50.000 itu yang saya tidak ketahui. Soalnya, denda sebesar 50.000 plus sidang beres di tempat itu sepertinya sudah lumrah di jalan-jalan.

Kedua, kritikan orang yang membuat tidak terima ketika terjaring operasi adalah mayoritas beralasan karena tidak tahu aturannya. Saya lihat di jalan-jalan banyak yang memakai skotlet warna warni di lampunya dan knalpotnya variasi. Bisa saja mereka juga tidak tahu.

Mungkin kalau tidak tahu lampu dinyalakan di siang hari, itu pelanggarnya yang memang keterlaluan. Sebab, sosialisasinya sudah banyak di tempel-tempel di jalan-jalan dan di berbagai media massa. Namun, soal aturan lainnya sepertinya tidak atau kurang disosialisasikan. Misalnya, saya saja tidak pernah mendengar, membaca, atau melihat sosialisasi larangan knalpot variasi dan tempelan skotlet warna lain di lampu.

Dari pengalaman ini, maka dapat dikaji bahwa kalau boleh saya catat, bagaimana sekiranya masyarakat tahu dan paham tentang segala peraturan bersepeda motor atau berlalu lintas. Mulai dari hal-hal yang kecil (baca: yang tidak terbiasa) seperti peralatan standart, dan sampai kepada yang besar, seperti memiliki SIM, pelanggaran marka atau rambu jalan, soal sidang dan denda, serta segala aturan lalu lintas lainnya secara utuh.

Kalau tidak mungkin semua pasal secara utuh disosialisasikan di jalan-jalan umum, bisa saja dengan cara dijadikan sarat pendaftaran pembuatan SIM. Misalnya, sebelum proses pembuatan SIM para pendaftar wajib mengikuti pembinaan atau pemahaman khusus tentang pasal-pasal lalu lintas itu.

Atau, diadakan peraturan bahwa tiap pengendara wajib melengkapi surat-surat kendaraannya-bersama SIM atau STNK atau STCK-dengan pasal-pasal itu. Maka, ketika pembuatan SIM pasal-pasal itu juga disertakan. Dengan itu, paling tidak, tidak ada pikiran negatif atau misuh-misuh lagi kepada polisi di saat terjaring operasi. Karena polisinya dapat menunjukkan pasal-pasal itu langsung. Dengan ini juga, tidak perlu sidang-sidang untuk pemahaman karena sudah langsung bisa disidang dan dipahami di tempat dengan pasal-pasal yang jelas dibawa itu.

Dengan cara itu, insyaAllah semuanya menjadi lancar. Sang pengendara berlalu lintas dengan aman, memahami aturan, tidak terkesan macem-macem lagi terhadap polisi. Begitu juga polisinya tidak kelimpungan lagi mengatur lalu lintas yang tidak beres-beres dengan para pelanggar.

Di samping itu tidak kalah pentingnya, soal teknis sarana dan prasarana jalan umum, yang rusak, berlubang-lubang, atau tidak rata misalnya, harus cepat-cepat dibereskan pula. Pada akhirnya, semuanya sama-sama lancar dan selamat; persoalan macet berlama-lama, makin tingginya angka kecelakaan, paling tidak dapat diminimalisir.

Lebih dari itu, di samping undang-undang dapat ditegakkan bersama, semuanya juga berarti menegakkan aturan Tuhan. Sebab, aturan, pasal-pasal, atau undang-undang lalu lintas ini tidak hanya menjadi ketetapan pemerintah. Akan tetapi, Tuhan pun jauh-jauh sebelumnya telah menegaskan dengan wahyu-Nya, " (Allah Tuhan) yang telah menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu, dan yang menurunkan air (hujan) dari langit. Kemudian Kami tumbuhkan dengannya (air hujan itu) berjenis-jenis aneka macam tumbuh-tumbuhan." (QS, 20: 53). Inilah wahyu Tuhan Tentang per-lalu lintas-an.

Maka, melanggar aturan lalu lintas berarti melanggar aturan Tuhan. Begitu juga polisi yang oknum, berarti mempermainkan aturan Tuhan. Ini menjadi landasan prinsipil bagi para polisi dan rakyat pengendara. Wallahu a'lamu bisshowab.

YANG AWET MUDA KAWAN BERJATI


(Catatan reflektif sebuah persahabatan)

Sekilas bisa jadi tulisan ini terkesan GR (Gede Rasa) atau bisa juga pamer, dan semoga bukan takabbur. Tapi, saya tidak berniat demikian.

Saya punya seorang teman. Kira-kira 6 bulan yang lalu dari sekarang saya mengenalnya. Orangnya baik, dermawan, dan amat suka menolong meski orangnya tidak terlalu kaya. Saking baiknya, dia seperti saudara kandung saya sendiri. Umurnya jauh lebih tua dari saya, sudah berkepala 4, bahkan hampir sudah punya cucu. Meski demikian, dia masih tetap tampak muda, sehingga berteman dengan saya masih pantas. Fisiknya memang layaknya masih muda seumuran saya. Sampai-sampai ada sebuah anekdot, suatu hari saat dia mengambil raport putrinya yang sedang sekolah, ada yang mengira bahwa dia itu masnya (Pacarnya atau kakaknya), padahal bapaknya.

Kenapa begitu? Apakah dia punya resep awet muda khusus? Atau memang alaminya tampak fisiknya seperti itu?

Saya tanya dia, ternyata ada resepnya, jawabnya. Apa itu? Sederhana saja, hidup tidak usah ambil pusing, tapi enjoi dalam menghadapi segala hal. Pelan tapi pasti. Yag penting berusaha semampunya, doa, dan tidak macem-macem (tidak bermaksiat/neko-neko), lalu tawakkal, perbanyak kawan tapi disaring, dan suka menolong dalam kondisi bagaimanapun (tidak menunggu kondisi banyak uang), serta jangan sampai bermasalah dengan orang sedikitpun, misalnya selalu tepat waktu dalam memenuhi janji dan jangan mudah membuat hutang. Ringkasnya, baik bersosial dan baik berspritual; Selalu bersabar (enjoi, tak panik, tak berkeluh, tak pusing) dalam segala kesulitan sebesar apapun dan selalu bersyukur (nrimo) dengan rizki sekecil apapun. Ini jelasnya kepada saya.

Awet muda ini adalah keunikan yang paling tampak pada teman saya itu karena pandangan, prinsip, dan prilaku hebat yang dimilikinya sebagai kelebihanya dari pada yang lain.

Sejatinya, awet muda bukanlah berarti kita menjadi muda terus sehingga bertambah umur lalu kematian tertunda. Tapi, secara fisik, badan dan tenaga masih kuat sehat dan wajah tampak layaknya usia muda. Dengan ini diri menjadi selalu normal atau lancar beribadah dan bekerja atau beramal, serta PD bersosial, akhirnya orang suka kepadanya.

Secara batin, jiwa dan pikiran masih gress dan semangat layaknya anak muda. Sehingga, dari sini memiliki peluang dan jalan lebih luas atau panjang mewujudkan impian dan cita.

Lain dari pada yang cepat tua: tubuh rentan penyakitan, badan keropos, kulit keriput, wajah seperti langit mendung, kepala cepat memutih, tenaga menjadi loyo meski sebetulnya hitungan umurnya masih relatif muda. Sehingga, peluang buat beribadah, beramal, dan bersosial terganggu, akhirnya orang lain kurang suka kepadanya. Ini karena sebaliknya, jarang bersabar dan bersyukur, mangkel dan panik dengan kesulitan, selalu ambisi kurang dengan harta dunia, sombong, pelit, dan selalu sentimen dengan sesama, serta selalu membuat masalah dengan orang lain. Lebih dari itu, sibuk maksiat serta lupa ibadah dan Tuhannya.

Jadi, awet muda ini adalah tampak lahir batin, bukan tambah umur atau tertunda mati. Sebab, jatah umur atau kematian hanya Tuhan yang tahu selain jodoh dan rizqi, tapi dapat memanfaatkan taqdir jatah hidup itu dengan seoptimal mungkin dalam kebaikan. Da'i kondang sejuta umat, Zainuddin MZ  menyebutnya 3 hal misterius bagi manusia.

Sekarang, beralih ke topik semula, "kawan berjati". Apa maksudnya?

Begini, suatu hari, teman saya yang awet muda itu mengecek nomor saya di hpnya, lalu saya miscal dia. Di situ tampak nomor saya tertulis "Ali berjati". Saya kaget di hati, kenapa kok nama saya ditulis dengan tambahan aneh seperti itu? Secara diam-diam saya cek nama-nama kontak lainya tidak ada yang ditulis aneh lagi kecuali nama istrinya yang tertulis "syngku".

Saya sama sekali tidak mengurus nama itu kepadanya, saya tidak enak sendiri. Yang penting, yakinnya saya, maknanya tidak negatif. Bukankah berjati itu nilainya positif?

Berjati diri: diri yangg memiliki harga tinggi, terhormat. Namun demikian, saya justru lebih kawatir, sebab ini kepercayaan (amanah) dan tanggung jawab. Dipikir-pikir lagi, ini lebih berat. Lebih baik tertulis humoris atau negatif semisal centol, sontol dll tak ada tanggung jawab, malah menguji kesabaran diri, dan dapat bersikap bebas.

Maka, gara-gara itu saya harus ekstra hati-hati dalam bersikap terutama di depan teman saya itu. Saya juga kepikiran berat gara-gara itu. Memikul kepercayaan dan tanggung jawab ini saya rasa amat berat. Lebih berat dari pada menanggung malu dan sedih karena didholimi, dihina, atau disakiti. Sebab, satu kali saja lengah dalam kepercayaan dan tanggung jawab, ini berakibat hina yang makin meluas dan berkepanjangan dalam segala hal. Lebih-lebih teman saya itu juga kerap menjelaskan, bahwa sekali orang tidak percaya, maka selamanya tidak percaya. Bahkan, dapat merambah ke anak cucunya, "Ini lho anaknya si itu yang suka menipu dulu", orang akan berkata demikian. Katanya.

Akhirnya, saya renungi, sejatinya yang lebih pantas dijuluki "kawan berjati" itu ketimbang saya adalah dia, "Yang awet muda kawan berjati". Mengingat, amal salehnya lebih giat dari pada saya; saya yang suka ditolong, dia yang suka menolong. Subhanallah. Semoga kita semua dapat menirunya; saleh sosial dan soleh spiritual; berprilaku baik kepada orang lain, suka menolong, sekaligus giat salatnya.

Pulo, 11 05 2011



Minggu, Juli 31, 2011

IBADAH vs BADAI EKONOMI

 
Ibarat ikan dalam kolam. Ibarat ini saya dapat dari teman saya yang kata teman-teman lainnya dia itu banyol. Sebab, kalau ngomong ceplas ceplos terutama tentang agama atau Tuhan. Bahkan, sesekali dalam perbincangan dia protes kepada Tuhan. Teman lain hanya bisa tersenyum tidak berani menanggapi, sebab meski sering kali ditanggapi secara jelas dia tetap saja dongkol (mokong/bandel).

Pada awalnya, dia itu tidak banyol tapi orang yang giat beribadah dan tirakatnya kuat. Saking giatnya, konon sampai-sampai rambutnya yang panjang tidak bisa dipotong orang lain. Bahkan kalau lihat tv matanya sakit, saking hebatnya amalannya sehingga melindunginya dari maksiat. Demikian itu karena dia memang berguru lama kepada seorang kiai karismatik yang amat alim. Bergurunya bukan konsentrasi belajar kitab tentang agama namun belajar kusus ilmu-ilmu kedigdayaan. Karena niat bulat, keseriusan, dan kesabarannya, dia benar-benar berhasil, lumayan sakti.

Sudah saatnya berkeluarga, dia nikah dan punya beberapa anak. Dari sinilah keimanan dan kedigdayaan yang selama ini dia miliki betul-betul teruji, terjepit dengan tuntutan ekonomi keluarga. Singkat cerita, amalannya terbengkalai, imannya terkulai, kedigdayaannya tergadai. Apa saja dikerjakan yang penting dapat sesuap nasi. Entah itu haram atau riba semuanya diterabas.
Inilah sebabnya dia cerita tentang pengalaman masa lalunya.

Yang menarik, dia mengibaratkan dirinya sendiri dengan seekor ikan dalam kolam. Dulu, waktu jaya-jayanya kedigdayaan dan keimanannya, yakni semasa hidup denga gurunya itu sebelum nikah, dia menjadi seekor ikan dalam kolam. Dia aman-aman saja, enjoi dengan kondisi dirinya, segalanya terjamin, selalu bisa salat berjema'ah, sibuk dzikir tiap saat, pokoknya ibadah apa saja yang mau dilakukan dia bisa-bisa saja.

Adapun ketika dia sudah berkeluarga, dia menjadi seekor ikan kolam yang terlepas di samudra luas. Di situlah, baru dia merasa bahwa sekitarnya penuh dinamika, penuh gejolak, hukum tega berlaku, ada banyak ikan lain yang siap menerkamnya; yang cepat dapat, yang kalah musnah.

Akibatnya, dia menjadi tidak yakin lagi bahwa gejolak kebutuhan keluarganya dapat terpenuhi dari doa, salat, dzikir, atau tirakat kecuali dengan kerja keras. Akhirnya, dia memilih kerja keras sampai-sampai salat dan dzikirnya pun tidak punya jatah waktu. Hidupnya hanya bisa sibuk kerja. Makin lama hidupnya makin terjepit badai ekonomi. Anehnya, dia tak sadar-sadar, tetap saja makin sibuk kerja. Hidupnya nelangsa. Tuhan dan agama dalam pikirnya serba salah, menjadi kambing hitam.

Apa sebabnya? Apakah salat atau ibadah memang tidak menguntungkan sehingga pikiran orang itu yang benar? Bukankah janji Tuhan, orang yang taat beribadah akan dijamin oleh-Nya, yang salat akan bahagia selamat dunia akherat, dan amal kebajikan itu lebih baik dari pada dunia? "Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang terus menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan." (QS, 18: 46); dan yang sadaqah akan dilipat gandakan gantinya? "Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui." (QS, 2: 261).

Sebaliknya, bukankah yang lupa Tuhan maka Tuhan akan melupakannya dan menyiksanya di dunia dan akherat? "(yaitu) orang-orang yang menjadikan agamanya sebagai permainan dan senda gurau, dan mereka telah tertipu oleh kehidupan dunia. Maka pada hari ini (kiamat), Kami melupakan mereka sebagaimana mereka dahulu melupakan pertemuan hari ini, dan karena mereka mengingkari ayat-ayat Kami." (QS, 7: 51)

Jawabannya banyak, tergantung kondisi orangnya sendiri. Sebab, tidak ada yang tahu gerak hati dan dosa seseorang kecuali Tuhan. "Dan berapa banyak kaum setelah Nuh, yang telah kami binasakan. Dan cukuplah Tuhanmu yang Maha Mengetahui, Maha Melihat dosa hamba-hamba-Nya. (QS, 17:17). Dan, yang jelas Tuhan tidak salah dan janji Tuhan pasti terjadi. "Dia (Zulkarnain) berkata, '(Dinding) ini adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila janji Tuhanku sudah datang, Dia akan menghancurluluhkannya; dan janji Tuhanku itu benar." (QS, 18:98). Maka, ada beberapa kemungkinan jawabannya.

Pertama, jangan-jangan niat orang itu dalam ibadah atau tirakatnya salah, semata mata hanya menuntut kedigdayaan atau kesaktian, sedangkan Tuhan Maha Pemurah (Ar-Rahman) kepada siapa saja. Misalnya, meski orang kafir diberi kekayaan di dunia. Tapi hanya dikasih dengan kedigdayaan saja tidak mendapat ridho dan kasih sayang-Nya (Ar-Rahim), sehingga tidak membawa berkah. Atau, janji Tuhan itu dalam ibadahnya sekedar kedigdayaan yang justru membawa kepada kebimbangan. Istilah fikihnya ini disebut istidroj. Sedangkan orang Jawa menyebutnya dielu. Ibarat kita mencintai wanita bukan demi cintanya, tapi demi suatu hal lain darinya, maka kita tidak akan dapat apa-apa kecuali cinta tipuan belaka. Singkatnya, sama saja dengan cinta kita tidak ikhlas; ibadah kita tidak ikhlas. Orang bilang, "sama saja boongan".

Kedua, atau niatnya memang ridho Tuhan tapi dilapisi dengan sifat buruk, misalnya ingin dipuji, pamer ibadah, atau riya. "Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang yang salat. (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat riya', dan enggan memberikan bantuan." (QS, 107:1-70). Sehingga, meski betul-betul mendapat petunjuk sakti, seakan sudah ketrima ibadah atau tirakanya, jangan-jangan jalan atau petunjuk yang datang kepadanya itu dari sosok yang sok orang suci atau sok malaikat, yakni setan bukan betul-betul petunjuk ilahi, sedangkan dia tidak memahami itu. Atau, cuma perasaannya yg merasa ketrima.

Ketiga, bisa jadi cara ibadahnya salah. Misalnya salat tapi gerak, bacaan, dan rukunnya salah. Atau, tidak memahami najis-sucinya. Atau, banyak dzikir tapi bacaannya macam-macam bukan tuntunan para nabi dan para salafussholeh, layaknya kejawen di luar Tuntunan agama, atau bahkan ayat yang dirubah-rubah dicampuri dengan kejawen. Atau, sudah benar ibadahnya, tapi yang dipakai atau yang dimakan untuk beribadah itu dari barang-barang yang haram. Akibatnya, ibadahnya sejatinya tidak ketrima tanpa disadari, sehingga yang hadir bukan malah petunjuk dan ridho Tuhan atau malaikat atau orang suci tapi jin atau dedemit yang sok suci, sedangkan dia percaya. Seorang kiai mengibaratkan ibadah kayak ini seperti mencuci baju dengan air kencing. Percuma saja dan malah menyesatkan!

Maka dari cerita itu, kalau dipikir-pikir, kerap kali manusia itu memang membuat repot sendiri. Sudah benderang dijelaskan oleh yang Maha Memiliki Semesta ini masih tidak percaya, justru memilih larangan yang sejatinya merepotkan. Lebih parah lagi, menjadi reseh dengan aturan Tuhan. Itu hanya gara-gara nafsu Iblis diikuti: mau kaya tanpa kerja; mau jaya tanpa biaya; suka yang pintas-pintas atau serba instan, serta berlebih-lebihan; dan yang penting hidup senang. Muaranya, malah hidupnya rumit, lalu nelangsa dunia-akherat.

Allah swt telah mengingatkan tenang nafsu Iblis itu, "Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman kepada para Malaikat, 'Sujudlah kamu semua kepada Adam,' lalu mereka sujud, kecuali Iblis. Ia (Iblis) berkata, 'Apakah aku harus bersujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?' Ia (Iblis) berkata, 'Terangkanlah kepadaku, inikah yang lebih Engkau muliakan daripada aku? Sekiranya Engkau memberi waktu kepadaku sampai hari kiamat, pasti akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil.' Dia (Allah) berfirman, 'Pergilah, tetapi barang siapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sungguh, neraka jahannam balasanmu semua, sebagai pembalasan yang cukup. Dan perdayakanlah siapa saja di antara mereka yang engkau (Iblis) sanggup dengan suaramu (yang memukau), kerahkanlah pasukanmu terhadap mereka, yang berkuda dan yang berjalan kaki, dan bersekutulah dengan mereka pada harta dan anak-anak lalu beri janjilah kepada mereka.' Padahal setan itu hanya menjanjikan tipuan belaka kepada mereka. 'Sesungguhnya (terhadap) hamba-hamba-Ku, engkau (Iblis) tidaklah dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhanmu sebagai penjaga." (QS, 17:61-66).

Gusdur pun bilang, "Gampang kabuju' nafsu angkoro ing pepaese gebyare dunyo, iri lan meri sugie tonggo mulo atine peteng lan nisto.

Dengan demikian amat jelas, bahwa sejatinya, bukanlah tempat atau kondisi yg membuat rumit, tapi manusianya itu sendiri yang tidak beres memprilakukan aturan atau hukum kehidupannya itu sendiri berdasarkan nafsu angkara. Nafsu menjadi Tuhannya. "Sudahkah engkau (Muhammad) melihat orang yang menjadikan keinginannya sebagai Tuhannya. Apakah engkau akan menjadi pelindungnya?" (QS, 25:43).

Akhirnya, maka sejatinya manusia selayaknya mengikuti aturan Tuhannya sebagaimana yang sudah jelas-jelas diabadikan, "Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad saw), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS, 4:59). Dengan begitu, hidup pasti menjadi enjoi-enjoi saja; di dunia kaya di akherat lebih kaya. Bukankah ini yang kita inginkan? Wallahu a'lamu bisshowab.

Minggu, April 17, 2011

Ini Catatan Indah

 (Ide Sederhana Pergolakan Antara Cinta, Nurani, Tradisi, Mistik, dan Agama)

Ini buah curhatan saya kepada sahabat karib saya tentang sebuah masalah yang amat rumit saya hadapi berupa catatan ide solutif yang perlu saya abadikan di sini. Dan, mungkin menjadi cermin cemerlang buat yang lain:
 _
Buat sahabatku dan saudaraku lain ayah lain ibu…
Yang aku sayangi sekaligus aku hormati…

Sebelumnya maaf jika aku lancang berbicara tentang hal ini melalui surat.
Mengingat percakapan ringan kita dulu. Kamu bilang “Alhamdulillah, setiap yang aku harapkan dan aku yakini kebanyakan berhasil, dan yakin akan hadits yang berbunyi ‘ana inda dhanni abdi…’”.
Dari percakapan tersebut, saya lihat kamu yang sekarang sedikit berbeda dangan yang dulu. Pesimisme adalah sebuah sikap yang seharusnya kita jauhi… ingat itu!
Mohon maaf sebelumnya, sejak dulu aku tidak pernah meyakini dengan perkataan oang-orang supranatural seperti dukun, paranormal atau apapun itu walaupun perkataan mereka ada benarnya. Karena aku hanya yakin dengan ketentuan (qadha’ n qadar) Allah SWT. Ketahuilah bahwasannya kepercayaan-kepercayaan seperti itu mendekati syirik dan Allah sangat membenci itu. Di sini saya akan menuliskan sedikit tentang bahaya syirik seperti itu, antara lain: Pelecehan martabat manusia, membenarkan khurafat, syirik adalah kedzaliman yang terbesar, syirik menimbulkan rasa takut atau kekhawatiran yang tidak wajar, menyebarkan hala-hal yang negative dalam kehidupan manusia, dan orang syirik akan masuk neraka. Wallahu A’lam Bisshawwab…
Menurutku, ada baiknya jika kita memperhatikan filosofi air, ia tenang dan akan terus megalir. Jika ia didiamkan akan membawa dampak bagi dirinya sendiri dan orang lain (bau, berkuman dan tidak jernih), jika ia dibendung/ditentang juga demikian, ia akan berontak hingga bisa mengakibatkan banjir jika terlalu besar. Karena itulah, biarkan dia mengalirkan secara alamiah, serahkan dan pasrahkan kepada Allah SWT yang menciptakan dan mengaturnya niscaya kita akan mendapatkan manfaat darinya. Bahkan hal-hal yang najis akan suci jika terkena air yang mengalir, bukankah begitu? Allah maha adil, bijaksana, pengasih, penyayang dan maha segala-galanya. Masalah maut, rejeki dan jodoh itu ketentuan Allah bukan kita, kita hanya bisa bisa berdoa, berusaha ikhtiar dan tawakkal. 
Aku menulis ini bukan berarti aku menganggap kamu yang bukan-bukan, bahkan aku yakin kamu lebih paham dari aku apalagi kamu telah khatam dalam menghafal dan memahami al-Qur’an yang insya Allah kamu lebih memungkinkan untuk mengamalkannya dengan baik. Aku hanya tidak ingin kamu terus-menerus dalam kesedihan bahkan terjerumus ke dalam keputusasaan. Aku hanya ingin berbagi kepedulian terhadap seorang sahabat yang sudah aku anggap sebagai saudaraku lain ayah dan lain ibu, hehehe… jika memang hal terburuk terjadi (na’udzu billahi min dzalik; semoga hal ini tidak terjadi) sehingga kamu tidak berjodoh dengannya, yakinlah bahwa Allah tidak akan berbuat dzalim terhadap hambanya, apalagi ia adalah seorang yang mengagungkanNya dengan menjaga, menghafalkan dan mengamalkan al-Qur’an. IN TASHURULLAHA YANSHURKUM. Wallahul musta’an…
Sebenarnya masih banyak yang ingin aku sampaikan kepadamu, tapi aku rasa untuk saat ini sudah cukup dulu. Semoga tulisa ringan ini bermanfaat bagimu dan bagi kita semua. Amin…
LA TAHZAN INNALLAHA MA’ANA…
TEMPEH, 18 APRIL 2011
            SAUDARAMU:           M. MAHMUD KAMILUDDIN
 _


Demikian catatan teman saya itu. Selebihnya mohon maaf dan terima kasih

Terkhusus buat sahabat sekaligus saudara saya itu: "Kau adalah bagian dari sumber air yang mengalir itu yang amat jernih, jernih, dan jernih menuntunku. Mohon maaf dan terima kasih

Rabu, Maret 30, 2011

Tentara Iblis Paling Sakti

Ini pengalaman menarik yang harus direnungi dalam-dalam, terutama bagi saya pribadi. Sebetulnya ini persoalan pribadi yang mungkin saja tidak patut dicatat seperti ini, sebab terkait dengan kepribadian atau isi hati saya, kuat lemahnya iman saya. Tapi, setelah saya pikir-pikir, di samping karena saya sadari bahwa saya manusia biasa yang masih muda sehingga saya yakin ini juga dialami manusia lain, sekaligus-lebih dari itu-mungkin saja ini juga menjadi perenungan bagi yang lain, maka saya tidak malu-malu untuk mengungkap.
Begini, ada seorang gadis di desa saya. Dia amat berbeda menurut saya dengan para gadis sebayanya. Bedanya, dia terkenal dengan kecantikannya. Dari itu saya penasaran, saking cantiknya sehingga emak saya pun mengakuinya dan lelaki yang melihatnya pasti kepincut kepadanya meski diam-diam, ini kata orang-orang. Saya cuma berpikir, kok sampai segitunya orang-orang menilainya, diakah Zulaihah modern?
Suatu hari, pada saat salat magrib seperti biasa saya punya rutinisasi bacaan lumayan banyak yang tidak bisa saya tinggal sejak dari pesantren sebagai ajaran dari kiai. Magrib itu, ada tamu pas bapaknya dia ada keperluan dengan emak saya dan dia ikut. Tau dia ikut, saking penasarannya selama  ini, saya menjadi gelisah ga’ konsentrasi ingin cepat-cepat keluar dari musalla pribadi buat melihat gadis itu, sedangkan bacaan masih tinggal seperempat. Sehingga, dari pada ga’ khusu', pikiran melayang ke mana-mana, saya berhenti saja, lebih baik saya ngulang dari awal di waktu lain. Lalu saya menemuinya, alangkah memang indahnya, tapi tidak se-wah kata orang-orang, sebab saya pikir banyak yang cantik kayak dia juga. Apalagi sekarang, seakan tidak ada yang jelek berhubung teknologi kecanntikan dan modeling makin canggih. Lebih-lebih yang dulu bagian dari perempuan yang diidamkan amat sulit dilihat, sekarang sudah biasa terlihat. Wah, pokoknya saat itu selain cantik wajahnya bagiannya yang lain juga tampak lebih indah. Bayangkan saja, rambutnya terurai indah, bodinya amat uh dengan kaos ketat plus bagian bawahnya yang amat mulus dengan rok pendek. Semuanya tampak jelas. Sungguh bahasa anak mudanya, amat menggaerahkan. Sampai-sampai saya menghayal setinggi langit, betapa nikmat (secara dohir) andai  dia jadi istri saya!
Lalu, menyaksikan semua itu, saya mengelus dada tanpa tangan sekaligus menertawai dalam hati kondisi iman diri; Inikah ujian zaman ini sekaligus kondisi keimannya, amat lebih dahsyat dari pada godaan jin, pocong, gendoruwo, dedemit atau tempat-tempat angker dan sejenisnya, sampai-sampai dzikirpun ditinggal. "Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu semua kepada Adam", lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata: "Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?" Dia (iblis) berkata: "Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil". Tuhan berfirman: "Pergilah, barangsiapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahannam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup. Dan hasudlah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka. (QS: Al-Isra’ 61-64)
Dari itu saya sadari, ternyata iman saya tak seberapa, bahkan masih lebih ringan dari pada setitik debu yang terbang dibawa angin. Saya amat malu pada diri saya sendiri.
Saya juga menjadi ingat peristiwa seorang ustazd yang sudah diakui tirakatnya di gunung-gunung, di gua-gua amat kuat dan hebat; jin, dedemit dan hantu gaya apapun menggodanya tak dihiraunya; amalan dikirnya banyak, bangun malamnya kuat, orang berobat kepadanya sembuh. Eh, ternyata suatu hari dia terkena kasus meniduri seorang istri orang lain pemilik warung kopi yang memang lumayan seksi. Dia kepincut dengan bodi aduhai dan mulus apa yang menjadi bagian tubuhnya. Dia terjatuh zina muhson. Sungguh, amat kasian dia. Semua tirakatnya yang amat lama sia-sia, hancur lebur bur bur.... 
Kasus seperti ini, pembaca juga akan menyadarinya memang banyak terjadi pada orang yang malah tak disangka semisal kiai, pemimpin, tokoh, atau santri dalam kasus-kasus pencabulan, nikah paksa, ambisius poligami, dan sejenisnya.
Maka, saya ingat kata teman saya di jalanan, bahwa iman itu ibarat dataran ini, ada gunung ada lembah. Suatu saat kalau ada di atas gunung maka posisi tinggi, tapi pada saat yang lain ada pada lembah sehingga posisi rendah bahkan terjerembab ke jurang. Ini amat benar. Dan, bisa terjadi pada siapa saja. Sehingga manusia tidak bisa menilai, iman ini kuat iman itu bejat; apalagi bilang saya suci dia najis; saya manusia pilihan dia manusia pasaran; saya surga dia neraka. 
Padahal, sudah sangat jelas, "Dan berapa banyak kaum setelah nuh, yang telah kami binasakan. Dan cukuplah Tuhanmu Yang Maha mengetahui, Maha Melihat dosa hamba-hamba-Nya". (QS, Al-Isra': 17). Atau, bahkan merasa benar tapi justru sebetulnya dirinyalah yang paling salah, "Katakanlah (Muhammad saw), apakah perlu kami beritahukan kepadamu tentang an yang paling rugi perbuatannya? Yaitu orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya (QS, Al-Kahfi: 103-104). Na'udzubillahi min dzaalik dan Wallahu'alamu bis sowab.

Senin, Maret 28, 2011

Kesenangan Relatif





"Apa kabar sabil? Kamu hampir sukses jika hafal Quran lalu nikah. Aduh senangnya..." Ini sms teman  saya kepada saya.

Menurut kaca mata mahasiswa, hafal Quran dan nikah, ini variabel X-nya. Sukses dan senang, ini variabel Y-nya. Atau, yang pertama sebabnya yang kedua akibatnya. Betulkah begini? Bisa iya bisa tidak. Sebab, ini relatif, tergantung dari pribadinya.

Pikir saja, bukankah para pelacur itu hidupnya sukses dan senang, banyak yang punya rumah megah dan mobil mewah, begitu juga para pemain judi, perampok, para artis dan sejenisnya. Saya bilang sukses dan bahagia karena mereka melakoninya bahkan seumur hidupnya, ada unsur yang mendatangkan kesenangan sehingga mereka amat hobi itu. Secara akal tidak mungkin orang akan melakoni suatu hal yang menyusahkan dirinya. Padahal, bukankah semua itu bagi kita mungkin pekerjaan buruk atau keji dan menyedihkan? Ini karena kita berpandangan tidak ada unsur yang mendatangkan kebahagiaan tapi ada unsur yang mendatangkan celaka di dalamnya, sehingga kita tidak hobi dan menjauhinya, maka kita tidak melakoni sebagai mana orang yang melakoni itu. Sedangkan bagi kita mungkin ada suatu hal lain yang menurut kita lebih baik sehingga kita hobi dan melakoni, misalnya baca Quran, salat, puasa, dan lainnya, adapun para pelacur tidak melakukannya.

Kenapa demikian bedanya? Yaitu tadi, karena bukan yang diyakini atau yang dihobi. Jelasnya, sebagaimana dikata, "Duniamu milikmu dan duniaku milikku". Atau, " Untuk mu pekerjaanmu dan  untukku pekerjaanku" (QS, Al-Isra’: 139). “Katakanlah: ‘Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu dan hanya kepadaa-Nya kami mengikhlaskan hati.” (QS, Al-Baqarah: 139). Dalam ayat lain Allah swt menegaskan, "Katakanlah (Muhammad saw) tiap suatu (mahluk Tuhan/manusia) bekerja di atas jalannya, dan Tuhanmu Dia yang lebih mengetahui siapa yang lebih lurus jalanya." (QS, Al-Isra': 84).

Lalu bagimana sejatinya sukses atau senang itu yang pastinya semua menganggapnya begitu bagaimanapun, kapanpun, dan dimanapun?

Untuk menjawab itu maka kita harus mencari sudut pemahaman standart kesenangan yang sebetulnya semua mengakuinya. Ini disebut juga dengan kesenangan universal. Yakni semua orang kalau melakoninya bisa dan senang abadi dunia dan aherat sekaligus juga tidak hanya senang dengan dirinya sendiri seraya merugikan orang lain tapi juga dapat menyenangkan yang lain. Inilah kesenangan sejati (yang lebih lurus jalannya).

Untuk meraih ini harus ada standar universal bukan dari sudut partikular atau dunia masing-masing sebagaimana di atas. Maka, pekerjaan melacur atau mencuri kesenangannya nisbi atau sementara dan kadangkala luarnya saja tanpak senang tapi batinnya nelangsa sebab keji tidak abadi, dan bahaya masa depan serta menyakiti yang lain. “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adaalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (QS,Al- Isra’: 32)

Lalu bagaimana cara untuk senang sejati itu? Caranya melakoni sesuatu atau pekerjaan yang sekiranya tidak menyimpang dari aturan Tuhan sebagai pencipta (relasi vertikal/syariat agama/ulama), kemanusiaan (relasi sosial/perdata), aturan negara (sebagai warga negara/umara/pidana), dan nurani diri. Keempat aturan itu adalah dasar pertimbangan tertib sebelum menempuh suatu jalan pekerjaan, perbuatan, atau profesi, dengan demikian akan dapat mengarah ke jalan yang lebih lurus itu (kesenangan sejati).

Tertib artinya urut. Sebab, aturan Tuhan adalah aturan absolut yang harus menjadi dasar pertimbangan utama dari segalanya. Kalau yang ini baik maka yang lain pasti ikutan baik. Kalau yang lain berbeda dari yang ini berarti yang lain salah. Misalnya, agama jelas melarang perbuatan zina karena memang keji atau merusak, sudah pasti segala aturan harus mengakuinya. Jadi, kalau ada aturan yang  menghalalkan zina berarti aturan itu yang tidak beres. Dan, tidak ada aturan lain yang membentuk aturan baik kecuali memang sudah ada dalam aturan agama itu atau memang diangkat dari aturan agama itu. Adakah aturan baik yang di luar aturan agama itu?

Kalau demikian, bagaimana dengan bukankah Tuhan atau agama itu banyak dan berbeda. Soal ini memang agak rumit, sebab dalam hal ini manusia tidak akan lepas dari pandangan partikular, artinya masing-masing agama akan mengakui Tuhan dan kebenarannya masing-masing, dan memang sudah menjadi qodrat kehidupan dan hak pribadi masing-masing. “Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ? Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.” (QS, Yunus: 99-100).

Namun meski demikian, yang jelas agama apapun-apalagi samawi-pasti menetapkan aturan baik serta juga akan sesuai dengan segala aturan di luarnya. Kecuali ada agama yang misalnya menghalalkan pelacuran maka itu agama tidak benar. Negara, sosial, dan nuranipun akan merasakan itu juga.

Maka dengan demikian kesenangan itu ada dua macam, nisbi dan abadi. Ini menurut pemikiran manusia secara universal yang lebih damai. Adapun dalam hubungannya dengan Tuhan keduanya sama-sama relatif. Sebab, bisa jadi yang katanya manusia kesenangannya nisbi menurut Tuhan abadi dan sebaliknya “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS, Al-Baqarah: 216).

Sedangkan secara partikular masing-masing pasti merasa paling absolut berdasarkan sistem kesenangan dalam agama masing-masing. Misal, sudah barang pasti bagi saya kesenangan abadi adalah kesenangan yang diatur oleh Tuhan saya Allah swt dan agama saya Islam.

Kalau masalah kesenangan dalam agama mana yang paling benar ini rumit bahkan tidak bisa apalagi mau menyatukan semua agama. Masalah ini sudah terjadi sejak zaman jahiliah sampai kapanpun, ini sudah menjadi qadarat manusia sebagaimana pada surat Yunus 99-100 di atas.

Lalu bagaimana ahirnya? Urusan Tuhan atau agama itu menjadi urusan pribadi masing-masing. Maka yang penting sekarang adalah bersikap mencari kesenangan dengan kerukunan dan kedamaian antara sesasama yang sesuai dengan ril Tuhan masing-masing.

Aturan negara, adalah aturan yang dibuat pemerintah, para pemimpin atau agama menyebutnya umara' yang secara resmi tertulis, misalnyta Undang-Undang Dasar, Pansasila, GBHN dan lainnya. Aturan ini harus juga berdasar kepada aturan Tuhan. Ulama (agama) dan umara (negara) adalah sebuah keutuhan meski negara sejatinya adalah bagian dari aturan agama itu sendiri, sebagaimana agama mengatur bahwa manusia selain taat kepada Tuhan dan ulama harus taat juga kepada para pemimpin (QS, An-Nisa’: 59). Keduanya harus utuh kecuali aturan negaranya menyimpang dari ril agamanya. Misalnya ada sebuah negara yang melegitimasi nikah sesama jenis, maka harus tidak ditaati karena agama melarang itu. Begitu juga taat dalam agama harus utuh tidak setengah-setengah (QS, Al-Baqarah: 208). Misalnya nikah sirri, ini menurut hukum agama sah tapi menurut hukum negara tidak sah. Apakah ini hukum agama bertentangan dengan hukum negara dan negaranya yang benar? Tidak begitu. Tapi manusia yang mena’ati hukum agama itu yang tidak utuh. Yakni, mena’ati aturan nikahnya saja tapi tidak mena’ati bahwa agama mengatur harus ta’at kepada umara (negara). Jadi, dalam agama juga salah.

Aturan sosial adaalah aturan yang disepakati bersama guna kesejahteraan bersama, biasanya terkait dengan kebiasaan moral dalam bertingkah meski tidak tertulis. Maka dari itu, ini biasa disebut adat atau tradisi. Orang yang melanggar ini sanksinya menanggung beban moral seperti malu, dikucilkan, dicemooh, dan sejenisnya. Hukum ini juga harus tunduk kepada hukum agama dan negara di atasnya, maka harus dita'ati kecuali yang tidak sesuai, misalnya tradisi daerah metropolitan yang kalau bertemu pakai pelukan atau ciuman, maka harus dijauhi.

Nurani, ini aturan yang bersumber dari gerak batin atau rasa jiwa pribadi, seperti mampu tidaknya diri, atau tenang tidaknya hati, atau ihlas tidaknya. Sebab, nurani tidak akan mengajak buruk seperti nafsu. Dan, nurani ini biasanya lebih peka, maka sering disebut juga dengan insting. Caranya, sebelum melakoni sesuatu harus dipertimbangkan dulu dengan gerak nurani itu: mampukah saya, atau tenangkah saya, atau ihlaskah saya. Sanksi pelanggaranya jiwa tertekan, gelisah, gundah dan sejenisnya meski orang lain tidak tahu. Maka dikata "sal dhomiroka" (tanyalah nuranimu). Rasul saw pun menegaskan bahwa Di dalam tubuh ada segumpal daging apabila dia baik baiklah seluruhnya. Segumpal daging itu adalah hati. (Hadist Nabi saw)

Ahirnya, kesenangan dan kesuksesan sejatinya mudah, yakni berbuat atas dasar kerukunan, kedamaian, dan ketulusan yang sesuai dengan ril Tuhan dalam agama masing-masing, undang-undang negara, hukum sosial, dan suara nurani. Itu saja.

Kalau dalam Islam yang khusus saya yakini, berbuat sesuai tuntunan Al-Quran dan Hadist Rasul saw, sebagaimana pesan Beliau bahwa Aku tinggalkan dua perkara pada kalian yang apabila kalian berpegang kepada keduanya akan selamat, yaitu Al-Quran dan Hadist." Di dalam keduanya lengkap dan holistik mengatur kehidupan beribadah, bernegara, bersosial, dan pribadi. “Dan kami tidak mengutus Engkau (Muhammad saw) melainkan untuk seluruh umat manusia (secara utuh), tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahuinya.” (QS, Saba’: 28). Wallaahu'alamu bisshowaab.

Sabtu, Maret 12, 2011

Tip Cantik dan Generasi Muslim STMJ

Melihat orang makin cantik-cantik, saya berniat berpartisipasi dalam perkembangan dunia kecantikan meski saya bukan ahli kosmetik, atau perias, atau seniman model, tapi hanya dengan catatan sederhana ini.

Di zaman ini, saking sedang hebatnya modernitas manusia, semua bidang dan sisi sudah tersentuh dengan kehebatan itu, termasuk soal keindahan dan modeling. Jelasnya, sekarang, teknologi kosmetik makin canggih, keterampilan tata rias makin lengkap, dunia mode makin oke sehingga siapapun dengan bentuk tubuh dan body face apapun bisa cantik dan menarik. Sampai-sampai dalam sebuah obrolan dengan teman di warung kopi, karena tiap keluar ke manapun kami tidak lepas dari pandangan wanita indah dan model tubuh yang sungguh aduhai, di desa maupun di kota, malam maupun siang, terang maupun hujan, temanku bilang,"sapi pun andai disolek dan dimodel dengan busana seperti itu maka juga akan indah dan bentuknya juga semok." Saya percaya sambil menyeletuk dalam hati, "Ada-ada saja teman saya ini.

Namun meski demikian makin maju dan hebatnya, ada sisi atau nilai penting yang terlupakan dan makin rendah terbuang, bahkan nilai ini menjadi yang terpenting mempengaruhi nilai kemanusiaan sendiri.Yakni, sisi harga diri: harga diri wanita makin rendah dengan kecantikan dan bodi dohir yang aduhai itu. Semua orang makin gampang merengkuhnya, baik yang alim (ahli ilmu) lebih-lebih yang bejat (mavia wanita), baik yang agamis maupun sekuler, baik yang jelek maupun yang ganteng, baik yang miskin lebih-lebih yang kaya. Betapa tidak, pikir saja, jika kita ingin lihat wajah cantik dengan rambut indah dan pantat mulus keluar saja ke jalanan lebih-lebih di pasar-pasar dan tempat hiburan kita langsung mendapatknnya. Bukan seakan tapi memang sudah biasa terpajang tanpa karcis-karcis segala, kalah dengan kalau kita ingin lihat hantu-hantuan di pasar-pasar malam, itu masih dikarcis.

Lebih jauh dari itu, jika kita ingin membelai wajah indah atau menikmati nikmatnya pantat mulus, buah dada (maaf biar jelas), atau memasuki lobang peradaban wanita (meminjam istilah dosen filsafat saya) tinggal kenalan di jalanan, lalu pacaran, lalu apel mingguan, kemudian basa basi pembuktian kesetian, dapatlah kita menikmatinya sepuas-puasnya tanpa biaya-biaya mahar segala, tanpa acara akad segala, tanpa saksi segala. Bahkan, tanpa basa basi terlalu lama segala: ketemu, kenalan, langsung minta sendiri dicoblos. Kalau tidak, pakai cara lain yang tidak kalah mudahnya, tinggal beli saja di kios-kios kusus atau memang sudah banyak terpajang di pinggir jalan-jalan raya yang tak sulit dijangkau laksana kita mau beli es degan atau ote-ote di pinggir jalan. Betul-betul amat murah wanita cantik itu. Ini nyata amat menyedihkn. Inilah kecantikan dohir semata yang membawa petaka.


Apa sebab gaya dan model hidup demikian? Tidak lain karena kungkungan hawa nafsu yang terpengaruh oleh budaya bejat atau kelompok manusia jahiliah yang modern pengagum dunia, dajjal, dan setan. Ada yang menyebutnya Budaya Barat atau lebih intinya Budaya Yahudi (Freemason). Mereka hampir 100% telah berhasil merusak budaya masyarakat Timur (generasi Muslim) dengan berbagai bidang propaganda yang sengaja mereka agendakan layaknya dalam hal busana, mode, tokoh idola, musik, dsb (ingat agenda 3 F: food, fashion, fun). “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”. (QS, Al-Baqarah: 120). Mereka tanpa rumit-rumit menghilangkan ibadah atau ajaran Islam, tapi hanya dengan iming-iming kesenangan dan kenikmatan dunia itu; pandangan, gaya, dan prilaku generasi Muslim menjadi berkiblat kepada budaya mereka; generasi Muslim ikut-ikutan. “Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya. (QS. Al-A’raaf: 146).

Maka tanpaklah, kita sering lihat dan dengar jargon kalangan pemuda, "Salat Terus Maksiat tetap Jalan” (STMJ); waktu salat pakai busana jilbab, keluar salat ganti busana ketat, memajang aurat. Di sinilah salat yang mengalami pergeseran makna hanya sebagai tebeng, seremonial ritual semata, tak ihlas, sehingga tidak “Innas salaata tanha ‘anil fahsyaai wal munkari". Demikian itu karena salat tidak dipahami sehingga tidak bisa menghayati, salat hanya ikut-ikutan, atau sengaja diniatkan sebagai tebeng itu biar tidak dibilang orang buruk atau jahat. Ahirnya, salanya sia-sia bahkan melahirkan petaka saja (kuwalat). Seperti ini tidak ada bedanya dengan burung Beo yang menghafalkan rukun-rukun salat dan membacanya dengan fasih tapi tetap saja-karena tidak bisa menghayatinya-tak bermanfaat apa-apa: dia akan tetap tak pakai baju; tetap ibunya sendiri atau saudaranya yang dikawin, ngesek sembarangan,; tidak tahu malu. Sehingga, meski pinter bagaimanapun burung Beo baca doa-doa salat tetap saja tidak akan ada yang bilang burung Beo Muslim atau burung Beo saleh. Untuk lebih jelasnya agenda Yahudi atau Freemason, atau pengagum Dajjal (mata satu), atau pengikut Iblis di atas bias dilihat di film penelitian yang didokumentasikan oleh Karkoon film (www.youtube.com/user/karkoons) berjudul “Dhani Dewa dan Yahudi” dan ini sudah banyak beredar di internet.

Sekarang, bagaimana solusinya. jadi wanita cantik dohir batin; cantik plus berkepribadian tinggi dan terhormat?

Saya punya sedikit resep itu. Tip cantik terampuh tanpa lihat body face bagaimanapun dan tanpa biaya, alami tanpa bahan-bahan olahan dan racikan teknologi, juga tanpa aji-aji atau guna-guna, apalagi via dukun, plus sehat anti penyakit, serta berharga diri terhormat, nyata dan terbukti, apakah dan bagaimanakah itu? Gampang, yaitu berusaha kosisten menegakkan dengan sempurna salat 5 waktu, salat-salat sunnah, dan salat malam (tahajjud) serta baca Al-Quran. Sebab, dengan itu kita tidak akan pernah lepas dari wudlu’ (Paling tidak sering wudlu’) sebagai pembersih dan pencuci dohir-batin. Meskin tidak sempurna semua macam salat dan amal ibadah lainnya, paling tidak salat 5 waktu saja dan baca A-Quran dulu, itu sudah hebat asal konsisten sambil berusaha terus meningkatkan ibadah. Namun, salat di sini bukan salatnya burung Beo di atas, tapi salat yang dihayati dan dengan niat ihlas semata mena’ati perintah Allah swt serta mengharap ridla-Nya.
Logikanya, secara dohir, seseorang yang selalu mencuci muka dan anggota badan lainnya dengan berwudlu’, sehingga tiap berwudlu’ muka akan terbasuh, kotoran pasti hilang dan bakteri luntur tak sempat bersarang, maka akibatnya kulit selalu bersih, sehat, mengkilat, dan bercahya.

Secara batin, wudlu’ adalah salah satu aktivitas jasmani-rohani yang diajarkan Allah swt (agama) yang memiliki ketentuan dan kepastian gerak/rukun dan bacaan kusus serta makna, nilai atau fungsi yang sudah menjadi keputusan Tuhan yang dijanjikan, yakni suci lahir-batin/jiwa-raga, sehingga tiap melaksanakan wudlu’ dengan gerak dan bacaan kusus itu maka mendapat nilai itu, yakni sisi batin atau nilai kemanusiannya (hatinya) akan suci dari kotoran dosa atau nilai kuburukan sehingga menjadi manusia yang memiliki gerak, perangai, sifat dan sikap yang baik serta tenang. Dari semua sisi dohir-batin itu hasilnya badan sehat, kulit bersih, muka cerah bercahya, sekaligus sifat dan sikap baik yang dapat menyenangkan orang; orang suka padanya; orang cinta padanya; orang ini amat indah dan menyenangkan hati.

Termasuk nilai gerak sikap yang timbul dari sisi batin wudlu’ dan salatnya itu adalah hati wanita itu akan bergerak menjaga dohirnya dari segala yang tidak pantas atau maksiat seperti busana ketat yang memajang murah-murah keindahan tubuhnya itu, yakni dengan memakai kerudung atau jilbab atau menutupi seluruh auratnya. Dari sinilah logikanya, dia akan berwibawa dan terjaga dari gangguan lelaki hidung belang, sebab paling tidak kondisinya tidak memancing syahwat lelaki; lelaki akan berpikir sendiri bahwa wanita itu betul-betul menjaga dirinya sehingga tidak enak sendiri untuk iseng kepadanya. "Hai Nabi saw, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS, Al-Ahzab: 59)

Percaya? Buktikan saja asal dengan niat ihlas mena’ati perintah dan menjauhi larangan Allah swt serta mengharap ridlo-Nya semata sekaligus yakin, insallah anda akan menjadi wanita selain cantik anda berwibawa; kepribadian anda tinggi dan terhormat, pada muaranya kecantikan anda membawa selamat. Meskipun semua orang kepincut atau kesemsem kepada anda tidak sembarang orang meraih keindahan anda itu.

Ahirnya, anda tinggal pilih: mau tetap menjadi wanita cantik jasmani doang yang atas dasar hawa nafsu ikut-ikutan budaya Dajjal di atas; menjadi kaum Yahudi (Freemasory) yang bahagia dunia dan neraka di aherat sehingga pasangan anda juga pasti kaum dajjal itu, atau menjadi wanita Muslim sejati yang indah dan berkepribadian terhormat serta selamat bahagia dunia-aherat? “Katakanlah: ‘Barang siapa yang berada di dalam kesesatan, maka biarlah Tuhan yang Maha Pemurah memperpanjang tempo baginya; sehingga apabila mereka telah melihat apa yang diancamkan kepadanya, baik siksa maupun kiamat, maka mereka akan mengetahui siapa yang lebih jelek kedudukannya dan lebih lemah penolong-penolongnya'. Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. Dan amal-amal saleh yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik kesudahannya (aherat). (QS, Maryam: 75-76)

Sekarang, keputusan berada pada diri anda sendiri. “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga). (QS, An-Nur: 26). Selebihnya, Allah lebih tahu segalanya.