Rabu, Maret 30, 2011

Tentara Iblis Paling Sakti

Ini pengalaman menarik yang harus direnungi dalam-dalam, terutama bagi saya pribadi. Sebetulnya ini persoalan pribadi yang mungkin saja tidak patut dicatat seperti ini, sebab terkait dengan kepribadian atau isi hati saya, kuat lemahnya iman saya. Tapi, setelah saya pikir-pikir, di samping karena saya sadari bahwa saya manusia biasa yang masih muda sehingga saya yakin ini juga dialami manusia lain, sekaligus-lebih dari itu-mungkin saja ini juga menjadi perenungan bagi yang lain, maka saya tidak malu-malu untuk mengungkap.
Begini, ada seorang gadis di desa saya. Dia amat berbeda menurut saya dengan para gadis sebayanya. Bedanya, dia terkenal dengan kecantikannya. Dari itu saya penasaran, saking cantiknya sehingga emak saya pun mengakuinya dan lelaki yang melihatnya pasti kepincut kepadanya meski diam-diam, ini kata orang-orang. Saya cuma berpikir, kok sampai segitunya orang-orang menilainya, diakah Zulaihah modern?
Suatu hari, pada saat salat magrib seperti biasa saya punya rutinisasi bacaan lumayan banyak yang tidak bisa saya tinggal sejak dari pesantren sebagai ajaran dari kiai. Magrib itu, ada tamu pas bapaknya dia ada keperluan dengan emak saya dan dia ikut. Tau dia ikut, saking penasarannya selama  ini, saya menjadi gelisah ga’ konsentrasi ingin cepat-cepat keluar dari musalla pribadi buat melihat gadis itu, sedangkan bacaan masih tinggal seperempat. Sehingga, dari pada ga’ khusu', pikiran melayang ke mana-mana, saya berhenti saja, lebih baik saya ngulang dari awal di waktu lain. Lalu saya menemuinya, alangkah memang indahnya, tapi tidak se-wah kata orang-orang, sebab saya pikir banyak yang cantik kayak dia juga. Apalagi sekarang, seakan tidak ada yang jelek berhubung teknologi kecanntikan dan modeling makin canggih. Lebih-lebih yang dulu bagian dari perempuan yang diidamkan amat sulit dilihat, sekarang sudah biasa terlihat. Wah, pokoknya saat itu selain cantik wajahnya bagiannya yang lain juga tampak lebih indah. Bayangkan saja, rambutnya terurai indah, bodinya amat uh dengan kaos ketat plus bagian bawahnya yang amat mulus dengan rok pendek. Semuanya tampak jelas. Sungguh bahasa anak mudanya, amat menggaerahkan. Sampai-sampai saya menghayal setinggi langit, betapa nikmat (secara dohir) andai  dia jadi istri saya!
Lalu, menyaksikan semua itu, saya mengelus dada tanpa tangan sekaligus menertawai dalam hati kondisi iman diri; Inikah ujian zaman ini sekaligus kondisi keimannya, amat lebih dahsyat dari pada godaan jin, pocong, gendoruwo, dedemit atau tempat-tempat angker dan sejenisnya, sampai-sampai dzikirpun ditinggal. "Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu semua kepada Adam", lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata: "Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?" Dia (iblis) berkata: "Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil". Tuhan berfirman: "Pergilah, barangsiapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahannam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup. Dan hasudlah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka. (QS: Al-Isra’ 61-64)
Dari itu saya sadari, ternyata iman saya tak seberapa, bahkan masih lebih ringan dari pada setitik debu yang terbang dibawa angin. Saya amat malu pada diri saya sendiri.
Saya juga menjadi ingat peristiwa seorang ustazd yang sudah diakui tirakatnya di gunung-gunung, di gua-gua amat kuat dan hebat; jin, dedemit dan hantu gaya apapun menggodanya tak dihiraunya; amalan dikirnya banyak, bangun malamnya kuat, orang berobat kepadanya sembuh. Eh, ternyata suatu hari dia terkena kasus meniduri seorang istri orang lain pemilik warung kopi yang memang lumayan seksi. Dia kepincut dengan bodi aduhai dan mulus apa yang menjadi bagian tubuhnya. Dia terjatuh zina muhson. Sungguh, amat kasian dia. Semua tirakatnya yang amat lama sia-sia, hancur lebur bur bur.... 
Kasus seperti ini, pembaca juga akan menyadarinya memang banyak terjadi pada orang yang malah tak disangka semisal kiai, pemimpin, tokoh, atau santri dalam kasus-kasus pencabulan, nikah paksa, ambisius poligami, dan sejenisnya.
Maka, saya ingat kata teman saya di jalanan, bahwa iman itu ibarat dataran ini, ada gunung ada lembah. Suatu saat kalau ada di atas gunung maka posisi tinggi, tapi pada saat yang lain ada pada lembah sehingga posisi rendah bahkan terjerembab ke jurang. Ini amat benar. Dan, bisa terjadi pada siapa saja. Sehingga manusia tidak bisa menilai, iman ini kuat iman itu bejat; apalagi bilang saya suci dia najis; saya manusia pilihan dia manusia pasaran; saya surga dia neraka. 
Padahal, sudah sangat jelas, "Dan berapa banyak kaum setelah nuh, yang telah kami binasakan. Dan cukuplah Tuhanmu Yang Maha mengetahui, Maha Melihat dosa hamba-hamba-Nya". (QS, Al-Isra': 17). Atau, bahkan merasa benar tapi justru sebetulnya dirinyalah yang paling salah, "Katakanlah (Muhammad saw), apakah perlu kami beritahukan kepadamu tentang an yang paling rugi perbuatannya? Yaitu orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya (QS, Al-Kahfi: 103-104). Na'udzubillahi min dzaalik dan Wallahu'alamu bis sowab.

Senin, Maret 28, 2011

Kesenangan Relatif





"Apa kabar sabil? Kamu hampir sukses jika hafal Quran lalu nikah. Aduh senangnya..." Ini sms teman  saya kepada saya.

Menurut kaca mata mahasiswa, hafal Quran dan nikah, ini variabel X-nya. Sukses dan senang, ini variabel Y-nya. Atau, yang pertama sebabnya yang kedua akibatnya. Betulkah begini? Bisa iya bisa tidak. Sebab, ini relatif, tergantung dari pribadinya.

Pikir saja, bukankah para pelacur itu hidupnya sukses dan senang, banyak yang punya rumah megah dan mobil mewah, begitu juga para pemain judi, perampok, para artis dan sejenisnya. Saya bilang sukses dan bahagia karena mereka melakoninya bahkan seumur hidupnya, ada unsur yang mendatangkan kesenangan sehingga mereka amat hobi itu. Secara akal tidak mungkin orang akan melakoni suatu hal yang menyusahkan dirinya. Padahal, bukankah semua itu bagi kita mungkin pekerjaan buruk atau keji dan menyedihkan? Ini karena kita berpandangan tidak ada unsur yang mendatangkan kebahagiaan tapi ada unsur yang mendatangkan celaka di dalamnya, sehingga kita tidak hobi dan menjauhinya, maka kita tidak melakoni sebagai mana orang yang melakoni itu. Sedangkan bagi kita mungkin ada suatu hal lain yang menurut kita lebih baik sehingga kita hobi dan melakoni, misalnya baca Quran, salat, puasa, dan lainnya, adapun para pelacur tidak melakukannya.

Kenapa demikian bedanya? Yaitu tadi, karena bukan yang diyakini atau yang dihobi. Jelasnya, sebagaimana dikata, "Duniamu milikmu dan duniaku milikku". Atau, " Untuk mu pekerjaanmu dan  untukku pekerjaanku" (QS, Al-Isra’: 139). “Katakanlah: ‘Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu dan hanya kepadaa-Nya kami mengikhlaskan hati.” (QS, Al-Baqarah: 139). Dalam ayat lain Allah swt menegaskan, "Katakanlah (Muhammad saw) tiap suatu (mahluk Tuhan/manusia) bekerja di atas jalannya, dan Tuhanmu Dia yang lebih mengetahui siapa yang lebih lurus jalanya." (QS, Al-Isra': 84).

Lalu bagimana sejatinya sukses atau senang itu yang pastinya semua menganggapnya begitu bagaimanapun, kapanpun, dan dimanapun?

Untuk menjawab itu maka kita harus mencari sudut pemahaman standart kesenangan yang sebetulnya semua mengakuinya. Ini disebut juga dengan kesenangan universal. Yakni semua orang kalau melakoninya bisa dan senang abadi dunia dan aherat sekaligus juga tidak hanya senang dengan dirinya sendiri seraya merugikan orang lain tapi juga dapat menyenangkan yang lain. Inilah kesenangan sejati (yang lebih lurus jalannya).

Untuk meraih ini harus ada standar universal bukan dari sudut partikular atau dunia masing-masing sebagaimana di atas. Maka, pekerjaan melacur atau mencuri kesenangannya nisbi atau sementara dan kadangkala luarnya saja tanpak senang tapi batinnya nelangsa sebab keji tidak abadi, dan bahaya masa depan serta menyakiti yang lain. “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adaalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (QS,Al- Isra’: 32)

Lalu bagaimana cara untuk senang sejati itu? Caranya melakoni sesuatu atau pekerjaan yang sekiranya tidak menyimpang dari aturan Tuhan sebagai pencipta (relasi vertikal/syariat agama/ulama), kemanusiaan (relasi sosial/perdata), aturan negara (sebagai warga negara/umara/pidana), dan nurani diri. Keempat aturan itu adalah dasar pertimbangan tertib sebelum menempuh suatu jalan pekerjaan, perbuatan, atau profesi, dengan demikian akan dapat mengarah ke jalan yang lebih lurus itu (kesenangan sejati).

Tertib artinya urut. Sebab, aturan Tuhan adalah aturan absolut yang harus menjadi dasar pertimbangan utama dari segalanya. Kalau yang ini baik maka yang lain pasti ikutan baik. Kalau yang lain berbeda dari yang ini berarti yang lain salah. Misalnya, agama jelas melarang perbuatan zina karena memang keji atau merusak, sudah pasti segala aturan harus mengakuinya. Jadi, kalau ada aturan yang  menghalalkan zina berarti aturan itu yang tidak beres. Dan, tidak ada aturan lain yang membentuk aturan baik kecuali memang sudah ada dalam aturan agama itu atau memang diangkat dari aturan agama itu. Adakah aturan baik yang di luar aturan agama itu?

Kalau demikian, bagaimana dengan bukankah Tuhan atau agama itu banyak dan berbeda. Soal ini memang agak rumit, sebab dalam hal ini manusia tidak akan lepas dari pandangan partikular, artinya masing-masing agama akan mengakui Tuhan dan kebenarannya masing-masing, dan memang sudah menjadi qodrat kehidupan dan hak pribadi masing-masing. “Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ? Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.” (QS, Yunus: 99-100).

Namun meski demikian, yang jelas agama apapun-apalagi samawi-pasti menetapkan aturan baik serta juga akan sesuai dengan segala aturan di luarnya. Kecuali ada agama yang misalnya menghalalkan pelacuran maka itu agama tidak benar. Negara, sosial, dan nuranipun akan merasakan itu juga.

Maka dengan demikian kesenangan itu ada dua macam, nisbi dan abadi. Ini menurut pemikiran manusia secara universal yang lebih damai. Adapun dalam hubungannya dengan Tuhan keduanya sama-sama relatif. Sebab, bisa jadi yang katanya manusia kesenangannya nisbi menurut Tuhan abadi dan sebaliknya “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS, Al-Baqarah: 216).

Sedangkan secara partikular masing-masing pasti merasa paling absolut berdasarkan sistem kesenangan dalam agama masing-masing. Misal, sudah barang pasti bagi saya kesenangan abadi adalah kesenangan yang diatur oleh Tuhan saya Allah swt dan agama saya Islam.

Kalau masalah kesenangan dalam agama mana yang paling benar ini rumit bahkan tidak bisa apalagi mau menyatukan semua agama. Masalah ini sudah terjadi sejak zaman jahiliah sampai kapanpun, ini sudah menjadi qadarat manusia sebagaimana pada surat Yunus 99-100 di atas.

Lalu bagaimana ahirnya? Urusan Tuhan atau agama itu menjadi urusan pribadi masing-masing. Maka yang penting sekarang adalah bersikap mencari kesenangan dengan kerukunan dan kedamaian antara sesasama yang sesuai dengan ril Tuhan masing-masing.

Aturan negara, adalah aturan yang dibuat pemerintah, para pemimpin atau agama menyebutnya umara' yang secara resmi tertulis, misalnyta Undang-Undang Dasar, Pansasila, GBHN dan lainnya. Aturan ini harus juga berdasar kepada aturan Tuhan. Ulama (agama) dan umara (negara) adalah sebuah keutuhan meski negara sejatinya adalah bagian dari aturan agama itu sendiri, sebagaimana agama mengatur bahwa manusia selain taat kepada Tuhan dan ulama harus taat juga kepada para pemimpin (QS, An-Nisa’: 59). Keduanya harus utuh kecuali aturan negaranya menyimpang dari ril agamanya. Misalnya ada sebuah negara yang melegitimasi nikah sesama jenis, maka harus tidak ditaati karena agama melarang itu. Begitu juga taat dalam agama harus utuh tidak setengah-setengah (QS, Al-Baqarah: 208). Misalnya nikah sirri, ini menurut hukum agama sah tapi menurut hukum negara tidak sah. Apakah ini hukum agama bertentangan dengan hukum negara dan negaranya yang benar? Tidak begitu. Tapi manusia yang mena’ati hukum agama itu yang tidak utuh. Yakni, mena’ati aturan nikahnya saja tapi tidak mena’ati bahwa agama mengatur harus ta’at kepada umara (negara). Jadi, dalam agama juga salah.

Aturan sosial adaalah aturan yang disepakati bersama guna kesejahteraan bersama, biasanya terkait dengan kebiasaan moral dalam bertingkah meski tidak tertulis. Maka dari itu, ini biasa disebut adat atau tradisi. Orang yang melanggar ini sanksinya menanggung beban moral seperti malu, dikucilkan, dicemooh, dan sejenisnya. Hukum ini juga harus tunduk kepada hukum agama dan negara di atasnya, maka harus dita'ati kecuali yang tidak sesuai, misalnya tradisi daerah metropolitan yang kalau bertemu pakai pelukan atau ciuman, maka harus dijauhi.

Nurani, ini aturan yang bersumber dari gerak batin atau rasa jiwa pribadi, seperti mampu tidaknya diri, atau tenang tidaknya hati, atau ihlas tidaknya. Sebab, nurani tidak akan mengajak buruk seperti nafsu. Dan, nurani ini biasanya lebih peka, maka sering disebut juga dengan insting. Caranya, sebelum melakoni sesuatu harus dipertimbangkan dulu dengan gerak nurani itu: mampukah saya, atau tenangkah saya, atau ihlaskah saya. Sanksi pelanggaranya jiwa tertekan, gelisah, gundah dan sejenisnya meski orang lain tidak tahu. Maka dikata "sal dhomiroka" (tanyalah nuranimu). Rasul saw pun menegaskan bahwa Di dalam tubuh ada segumpal daging apabila dia baik baiklah seluruhnya. Segumpal daging itu adalah hati. (Hadist Nabi saw)

Ahirnya, kesenangan dan kesuksesan sejatinya mudah, yakni berbuat atas dasar kerukunan, kedamaian, dan ketulusan yang sesuai dengan ril Tuhan dalam agama masing-masing, undang-undang negara, hukum sosial, dan suara nurani. Itu saja.

Kalau dalam Islam yang khusus saya yakini, berbuat sesuai tuntunan Al-Quran dan Hadist Rasul saw, sebagaimana pesan Beliau bahwa Aku tinggalkan dua perkara pada kalian yang apabila kalian berpegang kepada keduanya akan selamat, yaitu Al-Quran dan Hadist." Di dalam keduanya lengkap dan holistik mengatur kehidupan beribadah, bernegara, bersosial, dan pribadi. “Dan kami tidak mengutus Engkau (Muhammad saw) melainkan untuk seluruh umat manusia (secara utuh), tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahuinya.” (QS, Saba’: 28). Wallaahu'alamu bisshowaab.

Sabtu, Maret 12, 2011

Tip Cantik dan Generasi Muslim STMJ

Melihat orang makin cantik-cantik, saya berniat berpartisipasi dalam perkembangan dunia kecantikan meski saya bukan ahli kosmetik, atau perias, atau seniman model, tapi hanya dengan catatan sederhana ini.

Di zaman ini, saking sedang hebatnya modernitas manusia, semua bidang dan sisi sudah tersentuh dengan kehebatan itu, termasuk soal keindahan dan modeling. Jelasnya, sekarang, teknologi kosmetik makin canggih, keterampilan tata rias makin lengkap, dunia mode makin oke sehingga siapapun dengan bentuk tubuh dan body face apapun bisa cantik dan menarik. Sampai-sampai dalam sebuah obrolan dengan teman di warung kopi, karena tiap keluar ke manapun kami tidak lepas dari pandangan wanita indah dan model tubuh yang sungguh aduhai, di desa maupun di kota, malam maupun siang, terang maupun hujan, temanku bilang,"sapi pun andai disolek dan dimodel dengan busana seperti itu maka juga akan indah dan bentuknya juga semok." Saya percaya sambil menyeletuk dalam hati, "Ada-ada saja teman saya ini.

Namun meski demikian makin maju dan hebatnya, ada sisi atau nilai penting yang terlupakan dan makin rendah terbuang, bahkan nilai ini menjadi yang terpenting mempengaruhi nilai kemanusiaan sendiri.Yakni, sisi harga diri: harga diri wanita makin rendah dengan kecantikan dan bodi dohir yang aduhai itu. Semua orang makin gampang merengkuhnya, baik yang alim (ahli ilmu) lebih-lebih yang bejat (mavia wanita), baik yang agamis maupun sekuler, baik yang jelek maupun yang ganteng, baik yang miskin lebih-lebih yang kaya. Betapa tidak, pikir saja, jika kita ingin lihat wajah cantik dengan rambut indah dan pantat mulus keluar saja ke jalanan lebih-lebih di pasar-pasar dan tempat hiburan kita langsung mendapatknnya. Bukan seakan tapi memang sudah biasa terpajang tanpa karcis-karcis segala, kalah dengan kalau kita ingin lihat hantu-hantuan di pasar-pasar malam, itu masih dikarcis.

Lebih jauh dari itu, jika kita ingin membelai wajah indah atau menikmati nikmatnya pantat mulus, buah dada (maaf biar jelas), atau memasuki lobang peradaban wanita (meminjam istilah dosen filsafat saya) tinggal kenalan di jalanan, lalu pacaran, lalu apel mingguan, kemudian basa basi pembuktian kesetian, dapatlah kita menikmatinya sepuas-puasnya tanpa biaya-biaya mahar segala, tanpa acara akad segala, tanpa saksi segala. Bahkan, tanpa basa basi terlalu lama segala: ketemu, kenalan, langsung minta sendiri dicoblos. Kalau tidak, pakai cara lain yang tidak kalah mudahnya, tinggal beli saja di kios-kios kusus atau memang sudah banyak terpajang di pinggir jalan-jalan raya yang tak sulit dijangkau laksana kita mau beli es degan atau ote-ote di pinggir jalan. Betul-betul amat murah wanita cantik itu. Ini nyata amat menyedihkn. Inilah kecantikan dohir semata yang membawa petaka.


Apa sebab gaya dan model hidup demikian? Tidak lain karena kungkungan hawa nafsu yang terpengaruh oleh budaya bejat atau kelompok manusia jahiliah yang modern pengagum dunia, dajjal, dan setan. Ada yang menyebutnya Budaya Barat atau lebih intinya Budaya Yahudi (Freemason). Mereka hampir 100% telah berhasil merusak budaya masyarakat Timur (generasi Muslim) dengan berbagai bidang propaganda yang sengaja mereka agendakan layaknya dalam hal busana, mode, tokoh idola, musik, dsb (ingat agenda 3 F: food, fashion, fun). “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”. (QS, Al-Baqarah: 120). Mereka tanpa rumit-rumit menghilangkan ibadah atau ajaran Islam, tapi hanya dengan iming-iming kesenangan dan kenikmatan dunia itu; pandangan, gaya, dan prilaku generasi Muslim menjadi berkiblat kepada budaya mereka; generasi Muslim ikut-ikutan. “Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya. (QS. Al-A’raaf: 146).

Maka tanpaklah, kita sering lihat dan dengar jargon kalangan pemuda, "Salat Terus Maksiat tetap Jalan” (STMJ); waktu salat pakai busana jilbab, keluar salat ganti busana ketat, memajang aurat. Di sinilah salat yang mengalami pergeseran makna hanya sebagai tebeng, seremonial ritual semata, tak ihlas, sehingga tidak “Innas salaata tanha ‘anil fahsyaai wal munkari". Demikian itu karena salat tidak dipahami sehingga tidak bisa menghayati, salat hanya ikut-ikutan, atau sengaja diniatkan sebagai tebeng itu biar tidak dibilang orang buruk atau jahat. Ahirnya, salanya sia-sia bahkan melahirkan petaka saja (kuwalat). Seperti ini tidak ada bedanya dengan burung Beo yang menghafalkan rukun-rukun salat dan membacanya dengan fasih tapi tetap saja-karena tidak bisa menghayatinya-tak bermanfaat apa-apa: dia akan tetap tak pakai baju; tetap ibunya sendiri atau saudaranya yang dikawin, ngesek sembarangan,; tidak tahu malu. Sehingga, meski pinter bagaimanapun burung Beo baca doa-doa salat tetap saja tidak akan ada yang bilang burung Beo Muslim atau burung Beo saleh. Untuk lebih jelasnya agenda Yahudi atau Freemason, atau pengagum Dajjal (mata satu), atau pengikut Iblis di atas bias dilihat di film penelitian yang didokumentasikan oleh Karkoon film (www.youtube.com/user/karkoons) berjudul “Dhani Dewa dan Yahudi” dan ini sudah banyak beredar di internet.

Sekarang, bagaimana solusinya. jadi wanita cantik dohir batin; cantik plus berkepribadian tinggi dan terhormat?

Saya punya sedikit resep itu. Tip cantik terampuh tanpa lihat body face bagaimanapun dan tanpa biaya, alami tanpa bahan-bahan olahan dan racikan teknologi, juga tanpa aji-aji atau guna-guna, apalagi via dukun, plus sehat anti penyakit, serta berharga diri terhormat, nyata dan terbukti, apakah dan bagaimanakah itu? Gampang, yaitu berusaha kosisten menegakkan dengan sempurna salat 5 waktu, salat-salat sunnah, dan salat malam (tahajjud) serta baca Al-Quran. Sebab, dengan itu kita tidak akan pernah lepas dari wudlu’ (Paling tidak sering wudlu’) sebagai pembersih dan pencuci dohir-batin. Meskin tidak sempurna semua macam salat dan amal ibadah lainnya, paling tidak salat 5 waktu saja dan baca A-Quran dulu, itu sudah hebat asal konsisten sambil berusaha terus meningkatkan ibadah. Namun, salat di sini bukan salatnya burung Beo di atas, tapi salat yang dihayati dan dengan niat ihlas semata mena’ati perintah Allah swt serta mengharap ridla-Nya.
Logikanya, secara dohir, seseorang yang selalu mencuci muka dan anggota badan lainnya dengan berwudlu’, sehingga tiap berwudlu’ muka akan terbasuh, kotoran pasti hilang dan bakteri luntur tak sempat bersarang, maka akibatnya kulit selalu bersih, sehat, mengkilat, dan bercahya.

Secara batin, wudlu’ adalah salah satu aktivitas jasmani-rohani yang diajarkan Allah swt (agama) yang memiliki ketentuan dan kepastian gerak/rukun dan bacaan kusus serta makna, nilai atau fungsi yang sudah menjadi keputusan Tuhan yang dijanjikan, yakni suci lahir-batin/jiwa-raga, sehingga tiap melaksanakan wudlu’ dengan gerak dan bacaan kusus itu maka mendapat nilai itu, yakni sisi batin atau nilai kemanusiannya (hatinya) akan suci dari kotoran dosa atau nilai kuburukan sehingga menjadi manusia yang memiliki gerak, perangai, sifat dan sikap yang baik serta tenang. Dari semua sisi dohir-batin itu hasilnya badan sehat, kulit bersih, muka cerah bercahya, sekaligus sifat dan sikap baik yang dapat menyenangkan orang; orang suka padanya; orang cinta padanya; orang ini amat indah dan menyenangkan hati.

Termasuk nilai gerak sikap yang timbul dari sisi batin wudlu’ dan salatnya itu adalah hati wanita itu akan bergerak menjaga dohirnya dari segala yang tidak pantas atau maksiat seperti busana ketat yang memajang murah-murah keindahan tubuhnya itu, yakni dengan memakai kerudung atau jilbab atau menutupi seluruh auratnya. Dari sinilah logikanya, dia akan berwibawa dan terjaga dari gangguan lelaki hidung belang, sebab paling tidak kondisinya tidak memancing syahwat lelaki; lelaki akan berpikir sendiri bahwa wanita itu betul-betul menjaga dirinya sehingga tidak enak sendiri untuk iseng kepadanya. "Hai Nabi saw, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS, Al-Ahzab: 59)

Percaya? Buktikan saja asal dengan niat ihlas mena’ati perintah dan menjauhi larangan Allah swt serta mengharap ridlo-Nya semata sekaligus yakin, insallah anda akan menjadi wanita selain cantik anda berwibawa; kepribadian anda tinggi dan terhormat, pada muaranya kecantikan anda membawa selamat. Meskipun semua orang kepincut atau kesemsem kepada anda tidak sembarang orang meraih keindahan anda itu.

Ahirnya, anda tinggal pilih: mau tetap menjadi wanita cantik jasmani doang yang atas dasar hawa nafsu ikut-ikutan budaya Dajjal di atas; menjadi kaum Yahudi (Freemasory) yang bahagia dunia dan neraka di aherat sehingga pasangan anda juga pasti kaum dajjal itu, atau menjadi wanita Muslim sejati yang indah dan berkepribadian terhormat serta selamat bahagia dunia-aherat? “Katakanlah: ‘Barang siapa yang berada di dalam kesesatan, maka biarlah Tuhan yang Maha Pemurah memperpanjang tempo baginya; sehingga apabila mereka telah melihat apa yang diancamkan kepadanya, baik siksa maupun kiamat, maka mereka akan mengetahui siapa yang lebih jelek kedudukannya dan lebih lemah penolong-penolongnya'. Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. Dan amal-amal saleh yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik kesudahannya (aherat). (QS, Maryam: 75-76)

Sekarang, keputusan berada pada diri anda sendiri. “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga). (QS, An-Nur: 26). Selebihnya, Allah lebih tahu segalanya.