Senin, Maret 28, 2011

Kesenangan Relatif





"Apa kabar sabil? Kamu hampir sukses jika hafal Quran lalu nikah. Aduh senangnya..." Ini sms teman  saya kepada saya.

Menurut kaca mata mahasiswa, hafal Quran dan nikah, ini variabel X-nya. Sukses dan senang, ini variabel Y-nya. Atau, yang pertama sebabnya yang kedua akibatnya. Betulkah begini? Bisa iya bisa tidak. Sebab, ini relatif, tergantung dari pribadinya.

Pikir saja, bukankah para pelacur itu hidupnya sukses dan senang, banyak yang punya rumah megah dan mobil mewah, begitu juga para pemain judi, perampok, para artis dan sejenisnya. Saya bilang sukses dan bahagia karena mereka melakoninya bahkan seumur hidupnya, ada unsur yang mendatangkan kesenangan sehingga mereka amat hobi itu. Secara akal tidak mungkin orang akan melakoni suatu hal yang menyusahkan dirinya. Padahal, bukankah semua itu bagi kita mungkin pekerjaan buruk atau keji dan menyedihkan? Ini karena kita berpandangan tidak ada unsur yang mendatangkan kebahagiaan tapi ada unsur yang mendatangkan celaka di dalamnya, sehingga kita tidak hobi dan menjauhinya, maka kita tidak melakoni sebagai mana orang yang melakoni itu. Sedangkan bagi kita mungkin ada suatu hal lain yang menurut kita lebih baik sehingga kita hobi dan melakoni, misalnya baca Quran, salat, puasa, dan lainnya, adapun para pelacur tidak melakukannya.

Kenapa demikian bedanya? Yaitu tadi, karena bukan yang diyakini atau yang dihobi. Jelasnya, sebagaimana dikata, "Duniamu milikmu dan duniaku milikku". Atau, " Untuk mu pekerjaanmu dan  untukku pekerjaanku" (QS, Al-Isra’: 139). “Katakanlah: ‘Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu dan hanya kepadaa-Nya kami mengikhlaskan hati.” (QS, Al-Baqarah: 139). Dalam ayat lain Allah swt menegaskan, "Katakanlah (Muhammad saw) tiap suatu (mahluk Tuhan/manusia) bekerja di atas jalannya, dan Tuhanmu Dia yang lebih mengetahui siapa yang lebih lurus jalanya." (QS, Al-Isra': 84).

Lalu bagimana sejatinya sukses atau senang itu yang pastinya semua menganggapnya begitu bagaimanapun, kapanpun, dan dimanapun?

Untuk menjawab itu maka kita harus mencari sudut pemahaman standart kesenangan yang sebetulnya semua mengakuinya. Ini disebut juga dengan kesenangan universal. Yakni semua orang kalau melakoninya bisa dan senang abadi dunia dan aherat sekaligus juga tidak hanya senang dengan dirinya sendiri seraya merugikan orang lain tapi juga dapat menyenangkan yang lain. Inilah kesenangan sejati (yang lebih lurus jalannya).

Untuk meraih ini harus ada standar universal bukan dari sudut partikular atau dunia masing-masing sebagaimana di atas. Maka, pekerjaan melacur atau mencuri kesenangannya nisbi atau sementara dan kadangkala luarnya saja tanpak senang tapi batinnya nelangsa sebab keji tidak abadi, dan bahaya masa depan serta menyakiti yang lain. “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adaalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (QS,Al- Isra’: 32)

Lalu bagaimana cara untuk senang sejati itu? Caranya melakoni sesuatu atau pekerjaan yang sekiranya tidak menyimpang dari aturan Tuhan sebagai pencipta (relasi vertikal/syariat agama/ulama), kemanusiaan (relasi sosial/perdata), aturan negara (sebagai warga negara/umara/pidana), dan nurani diri. Keempat aturan itu adalah dasar pertimbangan tertib sebelum menempuh suatu jalan pekerjaan, perbuatan, atau profesi, dengan demikian akan dapat mengarah ke jalan yang lebih lurus itu (kesenangan sejati).

Tertib artinya urut. Sebab, aturan Tuhan adalah aturan absolut yang harus menjadi dasar pertimbangan utama dari segalanya. Kalau yang ini baik maka yang lain pasti ikutan baik. Kalau yang lain berbeda dari yang ini berarti yang lain salah. Misalnya, agama jelas melarang perbuatan zina karena memang keji atau merusak, sudah pasti segala aturan harus mengakuinya. Jadi, kalau ada aturan yang  menghalalkan zina berarti aturan itu yang tidak beres. Dan, tidak ada aturan lain yang membentuk aturan baik kecuali memang sudah ada dalam aturan agama itu atau memang diangkat dari aturan agama itu. Adakah aturan baik yang di luar aturan agama itu?

Kalau demikian, bagaimana dengan bukankah Tuhan atau agama itu banyak dan berbeda. Soal ini memang agak rumit, sebab dalam hal ini manusia tidak akan lepas dari pandangan partikular, artinya masing-masing agama akan mengakui Tuhan dan kebenarannya masing-masing, dan memang sudah menjadi qodrat kehidupan dan hak pribadi masing-masing. “Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ? Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.” (QS, Yunus: 99-100).

Namun meski demikian, yang jelas agama apapun-apalagi samawi-pasti menetapkan aturan baik serta juga akan sesuai dengan segala aturan di luarnya. Kecuali ada agama yang misalnya menghalalkan pelacuran maka itu agama tidak benar. Negara, sosial, dan nuranipun akan merasakan itu juga.

Maka dengan demikian kesenangan itu ada dua macam, nisbi dan abadi. Ini menurut pemikiran manusia secara universal yang lebih damai. Adapun dalam hubungannya dengan Tuhan keduanya sama-sama relatif. Sebab, bisa jadi yang katanya manusia kesenangannya nisbi menurut Tuhan abadi dan sebaliknya “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS, Al-Baqarah: 216).

Sedangkan secara partikular masing-masing pasti merasa paling absolut berdasarkan sistem kesenangan dalam agama masing-masing. Misal, sudah barang pasti bagi saya kesenangan abadi adalah kesenangan yang diatur oleh Tuhan saya Allah swt dan agama saya Islam.

Kalau masalah kesenangan dalam agama mana yang paling benar ini rumit bahkan tidak bisa apalagi mau menyatukan semua agama. Masalah ini sudah terjadi sejak zaman jahiliah sampai kapanpun, ini sudah menjadi qadarat manusia sebagaimana pada surat Yunus 99-100 di atas.

Lalu bagaimana ahirnya? Urusan Tuhan atau agama itu menjadi urusan pribadi masing-masing. Maka yang penting sekarang adalah bersikap mencari kesenangan dengan kerukunan dan kedamaian antara sesasama yang sesuai dengan ril Tuhan masing-masing.

Aturan negara, adalah aturan yang dibuat pemerintah, para pemimpin atau agama menyebutnya umara' yang secara resmi tertulis, misalnyta Undang-Undang Dasar, Pansasila, GBHN dan lainnya. Aturan ini harus juga berdasar kepada aturan Tuhan. Ulama (agama) dan umara (negara) adalah sebuah keutuhan meski negara sejatinya adalah bagian dari aturan agama itu sendiri, sebagaimana agama mengatur bahwa manusia selain taat kepada Tuhan dan ulama harus taat juga kepada para pemimpin (QS, An-Nisa’: 59). Keduanya harus utuh kecuali aturan negaranya menyimpang dari ril agamanya. Misalnya ada sebuah negara yang melegitimasi nikah sesama jenis, maka harus tidak ditaati karena agama melarang itu. Begitu juga taat dalam agama harus utuh tidak setengah-setengah (QS, Al-Baqarah: 208). Misalnya nikah sirri, ini menurut hukum agama sah tapi menurut hukum negara tidak sah. Apakah ini hukum agama bertentangan dengan hukum negara dan negaranya yang benar? Tidak begitu. Tapi manusia yang mena’ati hukum agama itu yang tidak utuh. Yakni, mena’ati aturan nikahnya saja tapi tidak mena’ati bahwa agama mengatur harus ta’at kepada umara (negara). Jadi, dalam agama juga salah.

Aturan sosial adaalah aturan yang disepakati bersama guna kesejahteraan bersama, biasanya terkait dengan kebiasaan moral dalam bertingkah meski tidak tertulis. Maka dari itu, ini biasa disebut adat atau tradisi. Orang yang melanggar ini sanksinya menanggung beban moral seperti malu, dikucilkan, dicemooh, dan sejenisnya. Hukum ini juga harus tunduk kepada hukum agama dan negara di atasnya, maka harus dita'ati kecuali yang tidak sesuai, misalnya tradisi daerah metropolitan yang kalau bertemu pakai pelukan atau ciuman, maka harus dijauhi.

Nurani, ini aturan yang bersumber dari gerak batin atau rasa jiwa pribadi, seperti mampu tidaknya diri, atau tenang tidaknya hati, atau ihlas tidaknya. Sebab, nurani tidak akan mengajak buruk seperti nafsu. Dan, nurani ini biasanya lebih peka, maka sering disebut juga dengan insting. Caranya, sebelum melakoni sesuatu harus dipertimbangkan dulu dengan gerak nurani itu: mampukah saya, atau tenangkah saya, atau ihlaskah saya. Sanksi pelanggaranya jiwa tertekan, gelisah, gundah dan sejenisnya meski orang lain tidak tahu. Maka dikata "sal dhomiroka" (tanyalah nuranimu). Rasul saw pun menegaskan bahwa Di dalam tubuh ada segumpal daging apabila dia baik baiklah seluruhnya. Segumpal daging itu adalah hati. (Hadist Nabi saw)

Ahirnya, kesenangan dan kesuksesan sejatinya mudah, yakni berbuat atas dasar kerukunan, kedamaian, dan ketulusan yang sesuai dengan ril Tuhan dalam agama masing-masing, undang-undang negara, hukum sosial, dan suara nurani. Itu saja.

Kalau dalam Islam yang khusus saya yakini, berbuat sesuai tuntunan Al-Quran dan Hadist Rasul saw, sebagaimana pesan Beliau bahwa Aku tinggalkan dua perkara pada kalian yang apabila kalian berpegang kepada keduanya akan selamat, yaitu Al-Quran dan Hadist." Di dalam keduanya lengkap dan holistik mengatur kehidupan beribadah, bernegara, bersosial, dan pribadi. “Dan kami tidak mengutus Engkau (Muhammad saw) melainkan untuk seluruh umat manusia (secara utuh), tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahuinya.” (QS, Saba’: 28). Wallaahu'alamu bisshowaab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar