Rabu, Maret 30, 2011

Tentara Iblis Paling Sakti

Ini pengalaman menarik yang harus direnungi dalam-dalam, terutama bagi saya pribadi. Sebetulnya ini persoalan pribadi yang mungkin saja tidak patut dicatat seperti ini, sebab terkait dengan kepribadian atau isi hati saya, kuat lemahnya iman saya. Tapi, setelah saya pikir-pikir, di samping karena saya sadari bahwa saya manusia biasa yang masih muda sehingga saya yakin ini juga dialami manusia lain, sekaligus-lebih dari itu-mungkin saja ini juga menjadi perenungan bagi yang lain, maka saya tidak malu-malu untuk mengungkap.
Begini, ada seorang gadis di desa saya. Dia amat berbeda menurut saya dengan para gadis sebayanya. Bedanya, dia terkenal dengan kecantikannya. Dari itu saya penasaran, saking cantiknya sehingga emak saya pun mengakuinya dan lelaki yang melihatnya pasti kepincut kepadanya meski diam-diam, ini kata orang-orang. Saya cuma berpikir, kok sampai segitunya orang-orang menilainya, diakah Zulaihah modern?
Suatu hari, pada saat salat magrib seperti biasa saya punya rutinisasi bacaan lumayan banyak yang tidak bisa saya tinggal sejak dari pesantren sebagai ajaran dari kiai. Magrib itu, ada tamu pas bapaknya dia ada keperluan dengan emak saya dan dia ikut. Tau dia ikut, saking penasarannya selama  ini, saya menjadi gelisah ga’ konsentrasi ingin cepat-cepat keluar dari musalla pribadi buat melihat gadis itu, sedangkan bacaan masih tinggal seperempat. Sehingga, dari pada ga’ khusu', pikiran melayang ke mana-mana, saya berhenti saja, lebih baik saya ngulang dari awal di waktu lain. Lalu saya menemuinya, alangkah memang indahnya, tapi tidak se-wah kata orang-orang, sebab saya pikir banyak yang cantik kayak dia juga. Apalagi sekarang, seakan tidak ada yang jelek berhubung teknologi kecanntikan dan modeling makin canggih. Lebih-lebih yang dulu bagian dari perempuan yang diidamkan amat sulit dilihat, sekarang sudah biasa terlihat. Wah, pokoknya saat itu selain cantik wajahnya bagiannya yang lain juga tampak lebih indah. Bayangkan saja, rambutnya terurai indah, bodinya amat uh dengan kaos ketat plus bagian bawahnya yang amat mulus dengan rok pendek. Semuanya tampak jelas. Sungguh bahasa anak mudanya, amat menggaerahkan. Sampai-sampai saya menghayal setinggi langit, betapa nikmat (secara dohir) andai  dia jadi istri saya!
Lalu, menyaksikan semua itu, saya mengelus dada tanpa tangan sekaligus menertawai dalam hati kondisi iman diri; Inikah ujian zaman ini sekaligus kondisi keimannya, amat lebih dahsyat dari pada godaan jin, pocong, gendoruwo, dedemit atau tempat-tempat angker dan sejenisnya, sampai-sampai dzikirpun ditinggal. "Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu semua kepada Adam", lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata: "Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?" Dia (iblis) berkata: "Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil". Tuhan berfirman: "Pergilah, barangsiapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahannam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup. Dan hasudlah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka. (QS: Al-Isra’ 61-64)
Dari itu saya sadari, ternyata iman saya tak seberapa, bahkan masih lebih ringan dari pada setitik debu yang terbang dibawa angin. Saya amat malu pada diri saya sendiri.
Saya juga menjadi ingat peristiwa seorang ustazd yang sudah diakui tirakatnya di gunung-gunung, di gua-gua amat kuat dan hebat; jin, dedemit dan hantu gaya apapun menggodanya tak dihiraunya; amalan dikirnya banyak, bangun malamnya kuat, orang berobat kepadanya sembuh. Eh, ternyata suatu hari dia terkena kasus meniduri seorang istri orang lain pemilik warung kopi yang memang lumayan seksi. Dia kepincut dengan bodi aduhai dan mulus apa yang menjadi bagian tubuhnya. Dia terjatuh zina muhson. Sungguh, amat kasian dia. Semua tirakatnya yang amat lama sia-sia, hancur lebur bur bur.... 
Kasus seperti ini, pembaca juga akan menyadarinya memang banyak terjadi pada orang yang malah tak disangka semisal kiai, pemimpin, tokoh, atau santri dalam kasus-kasus pencabulan, nikah paksa, ambisius poligami, dan sejenisnya.
Maka, saya ingat kata teman saya di jalanan, bahwa iman itu ibarat dataran ini, ada gunung ada lembah. Suatu saat kalau ada di atas gunung maka posisi tinggi, tapi pada saat yang lain ada pada lembah sehingga posisi rendah bahkan terjerembab ke jurang. Ini amat benar. Dan, bisa terjadi pada siapa saja. Sehingga manusia tidak bisa menilai, iman ini kuat iman itu bejat; apalagi bilang saya suci dia najis; saya manusia pilihan dia manusia pasaran; saya surga dia neraka. 
Padahal, sudah sangat jelas, "Dan berapa banyak kaum setelah nuh, yang telah kami binasakan. Dan cukuplah Tuhanmu Yang Maha mengetahui, Maha Melihat dosa hamba-hamba-Nya". (QS, Al-Isra': 17). Atau, bahkan merasa benar tapi justru sebetulnya dirinyalah yang paling salah, "Katakanlah (Muhammad saw), apakah perlu kami beritahukan kepadamu tentang an yang paling rugi perbuatannya? Yaitu orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya (QS, Al-Kahfi: 103-104). Na'udzubillahi min dzaalik dan Wallahu'alamu bis sowab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar