Minggu, Juli 31, 2011

IBADAH vs BADAI EKONOMI

 
Ibarat ikan dalam kolam. Ibarat ini saya dapat dari teman saya yang kata teman-teman lainnya dia itu banyol. Sebab, kalau ngomong ceplas ceplos terutama tentang agama atau Tuhan. Bahkan, sesekali dalam perbincangan dia protes kepada Tuhan. Teman lain hanya bisa tersenyum tidak berani menanggapi, sebab meski sering kali ditanggapi secara jelas dia tetap saja dongkol (mokong/bandel).

Pada awalnya, dia itu tidak banyol tapi orang yang giat beribadah dan tirakatnya kuat. Saking giatnya, konon sampai-sampai rambutnya yang panjang tidak bisa dipotong orang lain. Bahkan kalau lihat tv matanya sakit, saking hebatnya amalannya sehingga melindunginya dari maksiat. Demikian itu karena dia memang berguru lama kepada seorang kiai karismatik yang amat alim. Bergurunya bukan konsentrasi belajar kitab tentang agama namun belajar kusus ilmu-ilmu kedigdayaan. Karena niat bulat, keseriusan, dan kesabarannya, dia benar-benar berhasil, lumayan sakti.

Sudah saatnya berkeluarga, dia nikah dan punya beberapa anak. Dari sinilah keimanan dan kedigdayaan yang selama ini dia miliki betul-betul teruji, terjepit dengan tuntutan ekonomi keluarga. Singkat cerita, amalannya terbengkalai, imannya terkulai, kedigdayaannya tergadai. Apa saja dikerjakan yang penting dapat sesuap nasi. Entah itu haram atau riba semuanya diterabas.
Inilah sebabnya dia cerita tentang pengalaman masa lalunya.

Yang menarik, dia mengibaratkan dirinya sendiri dengan seekor ikan dalam kolam. Dulu, waktu jaya-jayanya kedigdayaan dan keimanannya, yakni semasa hidup denga gurunya itu sebelum nikah, dia menjadi seekor ikan dalam kolam. Dia aman-aman saja, enjoi dengan kondisi dirinya, segalanya terjamin, selalu bisa salat berjema'ah, sibuk dzikir tiap saat, pokoknya ibadah apa saja yang mau dilakukan dia bisa-bisa saja.

Adapun ketika dia sudah berkeluarga, dia menjadi seekor ikan kolam yang terlepas di samudra luas. Di situlah, baru dia merasa bahwa sekitarnya penuh dinamika, penuh gejolak, hukum tega berlaku, ada banyak ikan lain yang siap menerkamnya; yang cepat dapat, yang kalah musnah.

Akibatnya, dia menjadi tidak yakin lagi bahwa gejolak kebutuhan keluarganya dapat terpenuhi dari doa, salat, dzikir, atau tirakat kecuali dengan kerja keras. Akhirnya, dia memilih kerja keras sampai-sampai salat dan dzikirnya pun tidak punya jatah waktu. Hidupnya hanya bisa sibuk kerja. Makin lama hidupnya makin terjepit badai ekonomi. Anehnya, dia tak sadar-sadar, tetap saja makin sibuk kerja. Hidupnya nelangsa. Tuhan dan agama dalam pikirnya serba salah, menjadi kambing hitam.

Apa sebabnya? Apakah salat atau ibadah memang tidak menguntungkan sehingga pikiran orang itu yang benar? Bukankah janji Tuhan, orang yang taat beribadah akan dijamin oleh-Nya, yang salat akan bahagia selamat dunia akherat, dan amal kebajikan itu lebih baik dari pada dunia? "Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang terus menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan." (QS, 18: 46); dan yang sadaqah akan dilipat gandakan gantinya? "Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui." (QS, 2: 261).

Sebaliknya, bukankah yang lupa Tuhan maka Tuhan akan melupakannya dan menyiksanya di dunia dan akherat? "(yaitu) orang-orang yang menjadikan agamanya sebagai permainan dan senda gurau, dan mereka telah tertipu oleh kehidupan dunia. Maka pada hari ini (kiamat), Kami melupakan mereka sebagaimana mereka dahulu melupakan pertemuan hari ini, dan karena mereka mengingkari ayat-ayat Kami." (QS, 7: 51)

Jawabannya banyak, tergantung kondisi orangnya sendiri. Sebab, tidak ada yang tahu gerak hati dan dosa seseorang kecuali Tuhan. "Dan berapa banyak kaum setelah Nuh, yang telah kami binasakan. Dan cukuplah Tuhanmu yang Maha Mengetahui, Maha Melihat dosa hamba-hamba-Nya. (QS, 17:17). Dan, yang jelas Tuhan tidak salah dan janji Tuhan pasti terjadi. "Dia (Zulkarnain) berkata, '(Dinding) ini adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila janji Tuhanku sudah datang, Dia akan menghancurluluhkannya; dan janji Tuhanku itu benar." (QS, 18:98). Maka, ada beberapa kemungkinan jawabannya.

Pertama, jangan-jangan niat orang itu dalam ibadah atau tirakatnya salah, semata mata hanya menuntut kedigdayaan atau kesaktian, sedangkan Tuhan Maha Pemurah (Ar-Rahman) kepada siapa saja. Misalnya, meski orang kafir diberi kekayaan di dunia. Tapi hanya dikasih dengan kedigdayaan saja tidak mendapat ridho dan kasih sayang-Nya (Ar-Rahim), sehingga tidak membawa berkah. Atau, janji Tuhan itu dalam ibadahnya sekedar kedigdayaan yang justru membawa kepada kebimbangan. Istilah fikihnya ini disebut istidroj. Sedangkan orang Jawa menyebutnya dielu. Ibarat kita mencintai wanita bukan demi cintanya, tapi demi suatu hal lain darinya, maka kita tidak akan dapat apa-apa kecuali cinta tipuan belaka. Singkatnya, sama saja dengan cinta kita tidak ikhlas; ibadah kita tidak ikhlas. Orang bilang, "sama saja boongan".

Kedua, atau niatnya memang ridho Tuhan tapi dilapisi dengan sifat buruk, misalnya ingin dipuji, pamer ibadah, atau riya. "Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang yang salat. (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat riya', dan enggan memberikan bantuan." (QS, 107:1-70). Sehingga, meski betul-betul mendapat petunjuk sakti, seakan sudah ketrima ibadah atau tirakanya, jangan-jangan jalan atau petunjuk yang datang kepadanya itu dari sosok yang sok orang suci atau sok malaikat, yakni setan bukan betul-betul petunjuk ilahi, sedangkan dia tidak memahami itu. Atau, cuma perasaannya yg merasa ketrima.

Ketiga, bisa jadi cara ibadahnya salah. Misalnya salat tapi gerak, bacaan, dan rukunnya salah. Atau, tidak memahami najis-sucinya. Atau, banyak dzikir tapi bacaannya macam-macam bukan tuntunan para nabi dan para salafussholeh, layaknya kejawen di luar Tuntunan agama, atau bahkan ayat yang dirubah-rubah dicampuri dengan kejawen. Atau, sudah benar ibadahnya, tapi yang dipakai atau yang dimakan untuk beribadah itu dari barang-barang yang haram. Akibatnya, ibadahnya sejatinya tidak ketrima tanpa disadari, sehingga yang hadir bukan malah petunjuk dan ridho Tuhan atau malaikat atau orang suci tapi jin atau dedemit yang sok suci, sedangkan dia percaya. Seorang kiai mengibaratkan ibadah kayak ini seperti mencuci baju dengan air kencing. Percuma saja dan malah menyesatkan!

Maka dari cerita itu, kalau dipikir-pikir, kerap kali manusia itu memang membuat repot sendiri. Sudah benderang dijelaskan oleh yang Maha Memiliki Semesta ini masih tidak percaya, justru memilih larangan yang sejatinya merepotkan. Lebih parah lagi, menjadi reseh dengan aturan Tuhan. Itu hanya gara-gara nafsu Iblis diikuti: mau kaya tanpa kerja; mau jaya tanpa biaya; suka yang pintas-pintas atau serba instan, serta berlebih-lebihan; dan yang penting hidup senang. Muaranya, malah hidupnya rumit, lalu nelangsa dunia-akherat.

Allah swt telah mengingatkan tenang nafsu Iblis itu, "Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman kepada para Malaikat, 'Sujudlah kamu semua kepada Adam,' lalu mereka sujud, kecuali Iblis. Ia (Iblis) berkata, 'Apakah aku harus bersujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?' Ia (Iblis) berkata, 'Terangkanlah kepadaku, inikah yang lebih Engkau muliakan daripada aku? Sekiranya Engkau memberi waktu kepadaku sampai hari kiamat, pasti akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil.' Dia (Allah) berfirman, 'Pergilah, tetapi barang siapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sungguh, neraka jahannam balasanmu semua, sebagai pembalasan yang cukup. Dan perdayakanlah siapa saja di antara mereka yang engkau (Iblis) sanggup dengan suaramu (yang memukau), kerahkanlah pasukanmu terhadap mereka, yang berkuda dan yang berjalan kaki, dan bersekutulah dengan mereka pada harta dan anak-anak lalu beri janjilah kepada mereka.' Padahal setan itu hanya menjanjikan tipuan belaka kepada mereka. 'Sesungguhnya (terhadap) hamba-hamba-Ku, engkau (Iblis) tidaklah dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhanmu sebagai penjaga." (QS, 17:61-66).

Gusdur pun bilang, "Gampang kabuju' nafsu angkoro ing pepaese gebyare dunyo, iri lan meri sugie tonggo mulo atine peteng lan nisto.

Dengan demikian amat jelas, bahwa sejatinya, bukanlah tempat atau kondisi yg membuat rumit, tapi manusianya itu sendiri yang tidak beres memprilakukan aturan atau hukum kehidupannya itu sendiri berdasarkan nafsu angkara. Nafsu menjadi Tuhannya. "Sudahkah engkau (Muhammad) melihat orang yang menjadikan keinginannya sebagai Tuhannya. Apakah engkau akan menjadi pelindungnya?" (QS, 25:43).

Akhirnya, maka sejatinya manusia selayaknya mengikuti aturan Tuhannya sebagaimana yang sudah jelas-jelas diabadikan, "Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad saw), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS, 4:59). Dengan begitu, hidup pasti menjadi enjoi-enjoi saja; di dunia kaya di akherat lebih kaya. Bukankah ini yang kita inginkan? Wallahu a'lamu bisshowab.