Minggu, Oktober 14, 2012

PERNIKAHAN: KEARIFAN LOKAL VS HEDONISME DAJJAL


           Pernikahan, adalah sebuah jenjang kehidupan yang paling diimpikan oleh semua orang, laki-laki maupun wanita, selama masih normal. Kecuali yang tidak normal, seperti banci, impoten, atau orang-orang tertentu yang mengalami kasus-kasus tertentu. Saya ingat guru saya, karena saking cinta matinya kepada ilmu pengetahuan jalur filsafat sampai-sampai mati cinta kepada perempuan.
Dan, pernikahan adalah ajaran agama sebagai sunnah Rosul saw. Tapi, bukan berarti tidak nikah disebut tidak ikut sunnah Rasul saw. Bahkan dikatakan oleh Nabi saw, “Barangsiapa nikah (beristeri) maka dia telah melindungi (menguasai) separo agamanya, karena itu hendaklah dia bertakwa kepada Allah dalam memelihara yang separonya lagi. (HR. Al Hakim dan Ath-Thahawi). Maka, barang siapa yang melaksanakan nikah berarti separo agamanya telah terlindungi, tinggal separonya lagi dengan ketakwaan. Sedangkan yang belum menikah maka masih menanggung agamanya secara utuh, sebab separonya belum terjamin.
Di sisi lain, nikah adalah kodrat natural. Dalam artian kehidupan ini tertuntut untuk itu. Sebab, selain karena manusia memiliki kebutuhan berpasang dengan manusia lain jenis (makhluk sosial, berinteraksi, patner membangun kebahagian, penghibur), dan kebutuhan batin (kasih sayang, sex, perkawinan), lebih dari itu pernikahan merupakan alat regenerasi yang baik. Tanpa pernikahan tidak akan pernah ada rantai kehidupan, yakni kelahiran.
Lain lagi dengan perkawinan, kelahiran yang dihasilkan melaluinya tidak baik yang membuat manusia tidak berbeda dengan binatang. Jadi, di sini perlu ditegaskan pernikahan berlaku bagi manusia sedangkan perkawinan berlaku bagi binatang. Tidak ada istilah pernikahan sapi, tapi ada istilah perkawinan manusia yang manusianya kayak hewan sapi (sek bebas, kawin di luar nikah, kumpul kebo), kecuali kawin melalui pernikahan.
Maka, inilah nikmatnya anugrah pernikahan bagi manusia, selain menjadi jenjang yang terindah, media kebahagiaan, juga menjadi nilai ibadah besar. Dan, alangkah celakanya orang yang menjadikan perkawinan tanpa pernikahan sebagai anugrah yang lumrah bagi dirinya, sehingga sama halnya membuat dirinya sendiri tidak ada bedanya dengan hewan, bahkan lebih hina, semisal kasus anak digagahi oleh bapak kandungnya sendiri atau ibu kandungnya sendiri ditiduri.
Terkait jenjang kehidupan yang terindah ini, kemarin sabtu (11082012), saya diajak meminang seorang gadis untuk ponakan saya. Secara umur dan syarat lainnya kurang meyakinkan, masih muda, terutama belum punya penghasilan tetap. Tapi karena beberapa pertimbangan yang menuntut lebih baik untuk tunangan lalu menikah, pertunanganpun dilanjutkan.
Bagi warga perkampungan sudah sangat lumrah untuk mengadakan pertunangan atau nikah itu tanpa banyak pertimbangan segala macam. Yang terpenting bagi mereka selamat dari hubungan maksiat di luar jalur nikah. Atau paling tidak, secara kultural, terhindar dari sikap memalukan berhubungan maksiat diantara anak-anak mereka, yakni pacaran. Sebab yang mereka tahu, berhubungan dengan lain jenis itu dosa dalam agama dan memalukan di sisi sosial kultural. Maka dari itu, lebih baik dilegalkan saja hubungannya berupa pertalian resmi diantara pihak laki dan wanita, yang disebut dengan pertunangan itu.
Sebetulnya, ini bentuk dari ajaran agama yang disebut dengan khitbah meski mereka (perkampungan) hanya sekedar tahu dari pengajian-pengajian umum atau petuah-petuah kiai mereka di surau-surau kecil, terlebih dikombinasi dengan rasa hukum adat, terkait dengan nilai persoalan yang memalukan. Seorang anak laki-laki lebih-lebih wanita jika ketahuan bersamaan dengan lain muhrim bagi mereka amat memalukan, bahkan bisa jadi diusir oleh orang tuanya atau dikurung dalam kamar berhari-hari. Maka, tunangan dan nikah cepat tanpa banyak pertimbangan kecuali menghindari dari hal-hal yang tabu memalukan itu menjadi pilihan yang lebih selamat sebagai kearifan lokal masyarakat perkampungan.
Akan tetapi, tidak semua masyarakat kampung begitu. Apalagi zaman sekarang, seakan-akan pandangannya sudah ngota semua. Atau bukan hanya karena masyarakat kota yang pikiran dan prilakunya modern dan hedonis, tapi juga perkampungan amat pelosokpun juga berlaku modern.
Misal lainnnya saja soal pakaian. Dulu, di desa saya misalnya, apalagi bagi ras Madura, yang namanya wanita memakai busana super ketat atau ngapret sehingga bentuk tubuhnya tanpak kayak telanjang, atau bahkan pakai celana cekak (hot spant) sehingga keliatan (maaf) mulus pantatnya, atau bahkan rok super mini sehingga pada posisi tertentu tampak (maaf) ketiak pantatnya, semua itu menjadi nilai yang amat tabu memalukan sehingga tidak dipakai. Tapi sekarang, semua pakaian yang hot-hot itu mejadi lumrah, bahkan menjadi kebanggaan ukuran kecantikan bagi para gadis dan wanita manapun, baik desa lebih-lebih kota; baik tani maupun pengusaha; baik bu' nyai maupun bu’ bakul roti, siswi maupun santri.
Begitu juga pacaran, bukan hanya di losmen, hotel, alun-alun atau taman-taman perkotaan sepasang kekasih bebas bermesraan, tapi di pinggir sungai, sawah, jalan, warung pelosokpun sudah biasa terjadi penampakan mesra begitu. Melihat virus budaya hedonisme yang makin mengusai peradaban umat manusia terutama agama Islam ini, seakan nilai-nilai sejati kemanusiaan yang etis dan agamis mulai musnah; Manusia sebagai makhluq pilihan Allah swt yang berakal dan mulya serta berbeda di atas makhluq yang lainnya mulai bermetamorfosis tiada beda dengan makhluq yang tak berakal.
Hanya saja, pada satu sisi pertunangan secara kultural mungkin ada sedikit menyimpang dari khitbah dalam agama. Yakni adanya kebiasaan membawa tunangan berduaan pada momen-momen tertentu, seperti pas lebaran, hajatan, dan lainnya. Bahkan sang cewek sampai-sampai bermalaman di rumah sang cowok. Padahal keduanya masih haram berkumpul. Toh demikianpun, kalau dipikir-pikir dibanding dengan parahnya pergaulan zaman ini, itu masih lebih selamat dan bijak dari pada main cabut semrawut anaknya orang sehingga datang-datangnya hamil duluan, tidak ketahuan penjantannya. Dalam hal ini wanita tidak ada nilai harkat dan martabatnya kecuali semurah uang atau bahkan gratis.
Paling tidak dengan tunangan ala kultural begitu, orang tuanya sama-sama tahu dan jelas sehingga kalaupun terjadi yang tidak diinginkan ke belakang tanggung jawab dipangku bersama-sama berupa pernikahan secepatnya. Tidak seperti budaya pacaran sa’ karepe dewe berlanjut hamil duluan yang akhirnya tidak ada yang bertanggung jawab, bahkan menyebabkan permusuhan dan keburukan yang lain.
Kiranya orang-orang kampung juga berpikiran menurut kaidah, "Jika berkumpul dua keburukan, maka pilihlah yang lebih ringan akibatnya." Namun kaidah ini berlaku bagi yang dalam keterpaksaan, dari pada pacaran, kata mereka. Toh, budaya pertunangan demikian tak perlu dilestrikan. Lebih baik tidak dibiasakan dengan membandingkan yang lebih selamat meski sama-sama dosa itu.
Ini yang perlu diperbaiki di dalam kearifan lokal itu. Alangkah lebih baiknya jika kearifan lokal menyandar kepada ajaran agama sepenuhnya tidak setengah-setengah. “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS, 22: 11).
Bukti kearifan lokal tidak sembarangan, pada saat pertunangan ponakan saya itu, pihak si perempuan saat keduanya baru kenalpun, sampai-sampai orang tuanya sudah menanyakan hari pasaran kelahiran ponakan saya itu untuk digabung dengan hari pasaran putrinya lalu ditafsir tanpa niatan mendahului kehendak Tuhan, apakah perjodohan keduanya dapat membawa berkah atau mala petaka ke depannya.
Dari pandangan ini saya berpikir, meski ada sisi menyimpangnya itu, ternyata orang perkampungan tradisional pandangannya kerap kali lebih arif dan futuristik serta sangat bermartabat dari pada budaya modern yang hedonis materialistik saat ini. Saking berhati-hatinya demi kemaslahatan masa depan anak cucunya sampai-sampai persoalan neptu kelahiranpun jauh-jauh diurus meski pandangan ini terkesan tidak masuk akal bahkan syirik yang tidak ada dalam agama. Namun, pada sisi niat di situ tersimpan sejati semangat kehati-hatian, harga diri, dan kemaslahatan masa depan.
Saya pikir pandangan lokal ini sejatinya nilainya tidak jauh dari ukuran lidiniha, linasabiha, limaliha, dan lijamaliha prinsip pernikahan dalam agama. Hanya saja dalam bahasa dan tradisi lokal. Karena dari neptu itu di situ terkumpul penafsiran segala kondisinya, termasuk mencakupi nilai 4 pertimbangan dalam agama itu.
Memang pandangan modern hedonis atau mungkin tradisi perkotaan seakan selaras dengan agama dan lebih logis, yakni soal nasab dan kondisi kemapanan ekonomi yang dipertimbangkan. Namun kerap kali pertimbangan yang wajar itu bergeser niat, soal nasab menjadi pangkat sosial yang terhormat dan nepotis; soal kemapanan ekonomi menjadi tujuan arogansi materialistik, yang kesemuanya buntut-buntutnya kecemburuan sosial. 
Akhirnya, alangkah baiknya jika semangat kearifan lokal pertunangan ini menjadi budaya masakini daripada budaya hedonisme dajjal yang justru mengikis jati diri dan martabat kemanusiaan itu sendiri. Dan, alangkah lebih baiknya lagi bila kearifan lokal itu ditegaskan dengan semangat keagamaan yang semestinya.

Senin, Oktober 01, 2012

TAUHID ALAM DAN CAROK RELIGIUS (Cara Hidup Beragama Bersama Alam)


Membahas tauhid secara spritual apalagi secara sufistik saya tidak begitu mengusai. Mau nekat takut salah. Mengingat ini masalah hati atau rasa keyakinan yang bertabir amat tipis dengan kafir, syirik, murtad, atau memakai bahasa yang lebih marak lagi "sesat". Jadi, kalau sembarangan berbicara soal tauhid arahnya ya sesat. Lebih-lebih zaman sekarang, kata sesat menyesatkan gampang diucapkan oleh orang-orang yang dampaknya tidak main-main, perang. Contohnya, belakang yang terjadi "carok religius" di Omben Sampang Madura. Itu hanya karena ucapan sesat menyesatkan, toh pada awalnya konon bermotif asmara.

Saya pilih yang lebih gampang dan simpel saja memahami tauhid ini. Yakni memakai cara pandang keberagamaan orang-orang awam pedesaan. Atau, karena saya juga orang pasaran maka saya pahami dari obrolan sehari-hari saat berinteraksi dengan orang-orang pasar dan petani di pedesaan.

Tauhid, berarti konsep pandangan dan keyakinan memusatkan segalanya kepada Tuhan yang Maha Tunggal. Yakni, syahadat; tidak ada Tuhan selain Allah, segalanya berasal dari dan kembali kepada Allah.

Tauhid alam, berarti menyadari konsep pemusatan dan penyatuan itu dengan mengamati dan merenungi fenomena alam secara langsung. Misalnya, terjadi gunung meletus. Kita menyaksikannya lalu berpikir dan merenungi bahwa gunung itu tidak akan pernah meletus kecuali karena Tuhan sudah menghendaki dengan tujuan tersendiri. Atau terjadi fenomena tabrakan di jalan, lalu kita menyadari bahwa kecelakaan tersebut karena kehendak Tuhan dan manusia tidak kuasa apa-apa, manusia amat kerdil. Ketika Tuhan berkehendak maka tidak ada yang bisa menolak, suka maupun tidak suka. “Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia.” (QS, 36: 82)

Saya pribadi amat bersyukur sekali diberi jalan hidup berotasi di jalanan atau di pasar-pasar sehingga dapat bertemu dengan berbagai macam tipe orang dalam memahami dan memprilakukan hidup ini. Dari perjalanan itu lama kelamaan saya dapat membaca dan memahami hidup ini. Dan pada intinya, semua manusia sama-sama mengakui adanya kekuatan yang Maha Dahsat seraya mengakui kelemahannya sendiri meski hanya sebatas dalam obrolan. Kekuatan Maha Dahsat itulah yang disebut dengan Tuhan melalui cara dan jalannya masing-masing yang kita kenal dengan agama.

Saya sering jagongan dengan seorang petani yang gagal panen. Dia berkata, “Tahun ini saya gagal panen. Tanaman padi saya ludes dimakan tikus. Anehnya, hanya semalam dilalap tikus langsung habis tidak disangka-sangka”. Lalu dia menyadari, “Tapi saya tetap bersyukur sekali kepada Tuhan, masih untung tikus-tikus itu tidak disuruh makan saya oleh Yang Kuasa.” Imbuhnya.

Suatu waktu, saya bertemu dengan mantan pengusaha besar yang bangkrut lalu ingin bangkit lagi dengan mracang kecil-kecilan di pasar. Dia berkata, “Saya dulu pernah jaya, karyawanku banyak dan mobilku gonta ganti, dan sekarang aku udah jatuh mulai dari nol lagi. Itulah dunyo, cuma sekedar titipan, kalau yang Maha Punya mau mengambilnya kembali, apa boleh buat. Dan saya sangat bersyukur bukan sayanya yang diambil, sehingga saya masih sehat dan kuat berusaha kembali.”

Suatu saat lain, di desa saya ada seorang yang dulunya miskin sekali. Tiba-tiba sekarang dia kaya raya punya pabrik bahan dasar obat nyamuk dan karyawannya banyak. Para tetangga melihatnya dan diantara mereka berkata, “Begitulah nasib orang tidak disangka-rangka, Le’ seng Kuoso wes kadung mbuka jalane maka orang akan jaya.

Di lain kesempatan, saya bertemu dengan seorang yang banyak tamunya karena keahliannya dalam mengobati orang sakit dan menyelesaikan masalah, sebutlah dukun. Dia berkata, “Memang sudah tugas saya begini, saya masak bisa menyembuhkan sakit, yang bisa hanya Allah, saya sekedar perantara saja.”

Saya juga pernah berbincang dengan seorang supranatural dan dia kolektor pusaka-pusaka keris dan barang antik. Dia berkata, “Sebetulnya keris ini tidak ada apa-apanya mas, cuma dulu para empu membuatnya dengan tirakat dan doa memohon kepada Tuhan yang Maha Kuasa agar di dalamnya diberi kekuatan buat kesejahteraan masyarakat, misalnya kekuatan dalam perang. Kekuatan itu disebut Yoni atau khoddam. Sebetulnya, itu adalah kekuatan keikhlasan doa mereka. Maka, memang menjadi musyrik jika orang menganggap keris ini sakti lalu dimintai perlindungan, kewibawaan, pesugihan, dan sejenisnya.”

Bukankah fenomena-fenomena di atas amat tauhid sekali?

Pada sisi lain yang bersebrangan dengan tauhid itu, fenomena syirik, murtad, atau kafir. Say` sering berjumpa dengan seseorang yang berkata, “Sekarang itu yang penting uang mas. Jadi orang pinter percuma kalau ga’ punya uang. Makanya cari uang yang giat.”

Begitu juga ketika saya berziaroh ke makam kramat di sekitar Malang. Pasti di setiap makam ada orang-orang yang nyepi hanya mengharap petunjuk nomor togel dari makam itu dengan ritual nyepi, sesajen dan sejenisnya. Padahal, tidak ada latar belakangnya makam para wali itu dapat memberi nomor togel jitu, kecuali karena manusianya itu yang terlalu gelap dikepung angkara dunia, sehingga menghalalkan segala cara.

Sama halnya ketika saya mengunjungi pantai Ngliyep selatan Malang. Di sana ada tempat ritual spesial yang sengaja dibuat semacam goa, gunung kombang, dan sendang kamulyan misalnya. Konon di situ banyak digunakan sebagai tempat pemujaan kepada Nyai Roro Kidul buat kedigdayaan, pesugihan, dan penyembuhan. Saya lihat caranya saja sudah aneh membakar dupa dan menaruh sesajen di bawah kayu besar.

Pada saat lain, saya bertemu dengan seseorang yang baru bangkrut dan ingin bangkit lagi dengan bekerja siang malam. Saat dia sedang sibuk-sibuknya kerja tiba-tiba terdengar suara adzan magrib, lalu dia misuh-misuh, “Taik! udah adzan rek, kok ce' cepete!" Pisuhnya.
Antara tauhid dan syirik ini bertabir amat tipis dan samar sekali. Mungkin saja contoh prilaku syirik di atas tidak disadari oleh pelakunya. Sehingga seakan gampang berucap dan melakukannya, bahkan masih merasa di jalur agama. Kalau kehati-hatian kita tidak begitu super akan rentan tersesat, sadar maupun tidak sadar. Kadang omongan kita amat sangat tauhid tapi rasa hati dan cara prilaku kita tidak betauhid sama sekali. Atau sebaliknya, prilaku kita tauhid tapi omongan kita tidak bertauhid.

Misalnya, saya amati banyak orang yang datang ke Sendang Kamulyan bicaranya amat tauhid, “Kita ke sini cuma sebagai perantara saja, tapi yang mengabulkan itu tetap yang Maha Kuasa.” Jelasnya. Tapi, ketika melakukan ritual mereka duduk nunduk khusuk sekali sambil membakar dupa dan sesajen di depan kayu besar, apalagi tampak membaca bacaan khusus yang dihadapkan ke kayu itu.

Misal lain yang rentan sekali adalah perdukunan, pusaka keris, batu akik, atau barang antik. Berkata seeorang, “ Kalau membawa keris ini atau memakai akik ini orang akan kebal, atau bertambah wibawa, atau banyak riski, atau ditakuti orang.” Sehingga biasanya kalau ada yang minat alat tukarnya disebut mahar atau mas kawin yang jumlahnya sampai milyaran rupiah.

Sejatinya, keris-keris, batu-batu, dan segala benda di semesta langit bumi ini tidak memiliki kekuatan sama sekali kecuali kalau toh keris-keris atau batu-batu itu memiliki kekuatan, itu adalah dari Allah semata. Ketika Allah bekehendak memberikan suatu kekuatan kepada benda-benda tertentu untuk membantu manusia dalam menegakkan kebenaran dan agama, maka terjadilah sesuatu itu istimewa memiliki kekuatan tertentu. Misalnya, angin yang diperintah tunduk kepada Nabi Sulaiman as, atau tongkat Nabi Musa as yang menjadi ular, atau kekuatan angin topan ketika perang Ahzab pada masa Rasulullah saw, atau bambu runcing yang dapat mengalahkan pesawat-pesawat tempur di zaman penjajahan, atau keris-keris para wali songo, dan sejenisnya.

Biasanya kekuatan-kekuatan itu adalah wujud doa mustajab para pembuat atau pemiliknya yang dikabulkan berupa benda-benda angker itu. Dengan tetap bahwa benda-benda itu sekedar merewangi (ditundukkan) manusianya. Karena bagaimanapun seharusnya manusia itu yang lebih mulya dari pada cinptaan lainnya.
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS, 17: 70). “Apakah kamu tiada melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya. Dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada Manusia.” (QS, 22: 65). Kekuatan-kekuatan itu, baik secara langsung berada pada tubuh manusia maupun berada pada benda yang dimilikinya, kalau bagi para Nabi dan Rasul disebut karomah dan bagi para wali atau orang-orang saleh disebut maunah.

Pada sisi lain, bisa jadi juga, selain Allah sengaja memberi kekuatan pada benda-benda tertentu itu, Allah juga berkehendak menjadikan benda-benda atau orang-orang tertentu (kesaktian atau perdukunan) sebagai ujian iman bagi manusia melalui fitnah iblis (talbis) dengan mengizinkan para iblis memasuki benda-benda atau dukun-dukun itu seraya memperlihatkan atau membisikkan kepada manusia bahwa benda itu memiliki dan menjanjikan kedigdayaan tertentu kalau dipuji, dimiliki dan dirawat, semisal pesugihan, kekebalan, dan kesaktian, yang pada akhirnya dapat menjerumuskan manusia kepada khurofat atau syirik berupa ketergantungan, sesajenan, penumbalan, dan sejenisnya.

Padahal yang pasti, segala sesuatu itu memiliki kekuatan atau sukma berupa tasbih (pemujian) kepada Allah semata. Dengan demikian, sejatinya segala sesuatu itu adalah ber-Islam (muslim: sama-sama memuji Allah/bertasbih) baik itu manusia, patung-patung, keris-keris, batu-batu, dan segalanya. “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. “Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS, 17: 44).

Maka kalau sudah demikian, kenapa kok malah benda-benda atau manusia-manusia itu yang dipuji-puji atau dimintai pertolongan?! Jadi, yang musyrik adalah manusianya dalam memprilakukan sesuatu, bukan sesuatunya. “Orang-orang yang mereka seru itu (termasuk benda-benda), mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.”  (QS, 17: 57)

Soal tauhid ini, sebetulnya kalau kita lebih perdalam lagi pemahamannya, bukan sekedar kita sadar akan keesaan Tuhan secara vertikal saja, secara horizontal juga ada ketauhidan itu. Yakni, penyatuan makhluq Tuhan yang Esa. Artinya, kalau awal segala ini, langit bumi, dan segala isinya dicipta, berasal, dan kembali kepada Tuhan yang Maha Tunggal, maka sejatinya segala makhluq ini adalah satu dengan variasi masing-masing. All in one. Satu dalam spirit spritual, spirit sosial, dan spirit natural.

Satu spirit spritual, karena segala sesuatu ini dicipta sama-sama bertasbih (memuji dan mengabdi) kepada Tuhan. Tidak ada satu ciptaanpun yang tidak bertasbih, terutama manusia. Hanya saja manusia kualitas tasbihnya bisa lebih miningkat sehingga lebih mulya dari pada makhluq lain, tapi juga bisa malah mengentengkan atau menjauhi tasbih sehingga lebih hina dari pada makhluq-makhluq lainnya.

Sementara makhluq lain, matahari, bulan, bintang, pohon, gunung, batu, besi, dan hewan-hewan senantiasa bertasbih sepanjang masa. Semua mahkluq sama-sama bertasbih hanya saja dengan cara dan kondisi masing-masing yang berbeda; manusia dengan ajarannya, yang peyair dengan syair-syairnya, yang guru dengan didikannya, yang kiai dengan petuah-petuahnya, yang lelaku dengan tirakatnya, yang petani dengan lahan-lahannya, yang pedagang dengan barang-barangnya, matahari dengan sinarnya, bulan bintang dengan cahayanya, daun-daun dengan lambaianya, rumput-rumput dengan goyangannya, burung-burung dengan kicauannya, lautan dengan ombaknya, angin dengan desirannya, dan sebagainya. “Katakanlah: ‘Tiap-tiap orang (sesuatu) berbuat menurut keadaannya masing-masing’. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.” (QS, 17: 84). Kecuali makhluq yang memang ketentuannya sudah membangkang, Iblis atau Setan.

Satu spirit sosial, karena manusia itu adalah satu dalam spirit kerukunan, tepa selera, saling menghargai, dan saling menghormati. Di sinilah persaudaraan universal terbangun, saudara “se-makhluq Tuhan yang Maha Esa”. Sama-sama dicipta dari tanah selanjutnya air yang memuncrat (maun daafiq); sama-sama memiliki anggota badan yang bertasbih; sama-sama punya rasa lapar dan sakit; dan sama-sama akan mati. Sehingga satu sama lain harus bersatu (bertauhid) saling membutuhkan dan melengkapi.

Satu spirit natural. Ini sebuah kesadaran bahwa benda-benda dan hewan apapun, mulai yang hidup maupun benda mati semuanya sama-sama memiliki rasa, atau kesadaran, atau sukma dengan bentuk, kondisi, dan caranya tentang pengakuan dan pengabdian kepada Tuhan yang Maha Pencipta dan Tunggal berupa tasbih itu sebagaimana ayat di atas.

Mungkin cara bertauhid demikianlah yang lebih konfrehensif, dengan alur beranjak dari tauhid sosial dan alam (tauhid fenomenal/horizontal) lalu mengerucut menjadi tauhid ilahi (spiritual/vertikal). Ketika sudah demikian, sungguh hidup ini akan indah dalam semangat kebersamaan dan persaudaraan. Kita tidak akan pernah menyakiti orang lain, karena kita memiliki kesadaran tunggal bahwa orang lain itu satu asal dan kembali dengan kita, juga sama-sama memiliki rasa ingin bahagia, dan sama-sama menderita kalau disakiti.

Begitu juga kita tidak akan pernah tega merusak lingkungan, menebang tumbuhan sembarangan, memprilakukan atau membunuh binatang seenaknya, karena kita paham bahwa semua itu juga sama-sama makhluq Tuhan dan mereka sama-sama memiliki sukma memuja Tuhan dan ingin bahagia. Dengan demikian mengejek, menyakiti, dan merusak citptaan Tuhan berarti sama halnya dengan menyakiti Tuhan Pencipta itu sendiri.

Mari kita analogikan secara logis saja, kita membuat sebuah karya lukisan misalnya. Setelah jadi, lalu ada orang lain yang mengejek karya kita itu. Bukankah kita otomatis yang merasa tersakiti?! Tentunya sudah pasti kita akan marah meski karya kita itu kaku tidak bisa berbuat apa-apa.

Membahas tauhid begini, saya ingat fenomena amat tragis mengerikan "Carok Religius" di omben Madura. Itu gara-gara pemahaman tauhid yang tidak utuh, sehingga bukan malah tauhid yang terjadi tapi malah fragmentasi (sekat-sekat) ketuhanan yang timbul. Ketika sudah ada semangat fragmentatif itu tentunya cenderung akan tumbuh "spirit keakuan sendiri" atau istilah lainnya arogansi diri: hanya tuhanku, agamaku, kelompokku, punyaku yang ada dan benar. Selainnya salah dan harus tidak ada, dibasmi. Akhirnya, terjadilah klaim salah menyalahkan, sesat menyesatkan, dan saling membantai. Na’udzubillahi mindzaalik.

Maka, mulai saat ini mari kita tanamkan kesadaran tauhid yang konfrehensif ini: tauhid spritual (ilahi), tauhid sosial (kemanusiaan), dan tauhid natur`l (lingkungan alam); langit, bumi, gunung, batu, besi, pohon, binatang, dan segalanya adalah saudara kita yang bersatu bersama dari, mengabdi, dan kembali kapada Tuhan yang Maha Esa. Wallahu ‘alamu bisshowab.

Jumat, September 14, 2012

BUDAYA HOT SPANTS, AROGANSI, DAN PERTIKAIAN OMBEN

"Tiap orang punya masa lalu, apakah kamu sudah merasa paling suci sendiri." balasan komentar dari seorang saudari kepada saya terhadap komentar saya tentang fotonya yang tertulis, "Budaya rumit! Budaya ngapret-ngapret. Budaya ini sejatinya budaya yahudi atau Dajjal yang kerap kita tidak menyadari sambil membanggakan ini perkembangan zaman..."
Saya sadari, mungkin saya yang salah cara atau bahasanya, sehingga orang tersinggung dengan komen saya itu. Namun demikian, niat saya sebetulnya baik dan bermaksud berbagi pengalaman dan ilmu, atau bertukar pikiran, dan berusaha tidak menurut benar sendiri tapi dari ilmu-ilmu agama dan logika etis, atau referensi yang pantas dan lumrah. Dan, saya juga bukan dengan niatan menggurui atau menvonis, anda salah dan ini lho saya yang benar, anda ikuti saya ini!
Membaca balasan itu meski tidak niat menyakiti, saya merasa tidak enak sendiri, ternyata orang malah tersinggung. Saya merasa amat bersalah dan mau minta maaf, namun menambah kegelisahan saya ketika saya berniat mau menjelaskan tapi ternyata link fb saya kepadanya langsung sudah diblokir sehingga saya tidak bisa menjelaskan maksud komen awal saya itu. Awalnya, saya cuma niat mau bertukar pikiran sambil ingin mengetahui pandangan dia. Sebab, saya lihat posenya lumayan mini bermesraan dengan lakinya. Anehnya, pada lain pose tampak dia seorang muslimah taat, berjilbab, dan dari gayanya dia itu seorang santri. Dari keunikan tampilanya itu saya penasaran.
Sampai saat menulis ini, fb saya tetap terblokir kepadanya. Titik persoalannya hanya dalam hal budaya busana hot spants dan sejenisnya. Maka, dengan tulisan ini, pertama spesial buat saudari yang tersinggung itu, saya minta maaf sebanyak-banyaknya, dan terserah saudari mau berekspresi bagaimanapun. Saya sekedar ingin berbagi pengetahuan saja. Selanjutnya, bagi saudara-saudari pada umumnya, saya ingin sedikit menulis uneg-uneg soal ini.
Saya merasa aneh saja soal zaman ini. Atau bahkan diri saya sendiri yang memang tidak beres dalam memandang dunia ini, maka dari itu membuat saya masih  bimbang dan masih selalu mengamati. Masalahnya, tiap kali saya mau membahas budaya busana yang hot-hot, mini-mini, atau ngpret-ngapret itu dengan teman-teman terutama wanita hampir semuanya tidak menggubris atau paling tidak diam, seakan sengaja tak mau membahas. Baik secara langsung maupun online.
Pun ketika saya pernah bertanya soal ini kepada seorang saudari yang tampak amat islamis yang giat mengabdate status soal halal-haram, hadist-bid'ah, dan shohih-dhoif, juga tidak ditanggapi, apakah dia masih sibuk cari sumber referensinya atau mungkin malah  juga pas dirinya sendiri sedang memakai busana muslimah ala hedonis Dajjal itu, saya tidak tau pastinya. Ada apa?
Lain lagi, ketika saya bercakap dengan beberapa ibu muslimah yang anaknya seorang mahasiswi yang hobi pakai celana ngapret dan kaos ketat meski tetap berkerudung, saat saya tanya tentang busana-busana gaul itu semuanya menjawab, pada intinya karena tuntutan zaman asal bisa menjaga diri, tidak keterlaluan, dan tidak lebih dari itu. Sama halnya ketika saya tanya soal anaknya yang terang terangan terbiasa sliwar sliwer antar jemput dengan pacarnya.
Kenapa saya ingin sekali membahas? Apakah saya lebih pandai, penceramah, atau sok guru, atau bahkan memang merasa benar dan suci sendiri? Jawabannya, saya hanya penasaran mencari jawaban, kenapa hampir semua kalangan wanita saat ini seakan tersulap serentak lebih banyak yang suka memakai busana yang gaul-gaul katanya; hot-hot, mini-mini, atau paling tidak ngapret, dari semua level dan golongan, tua-muda, akademis-awam, nyai-model, anak kiai-anak tukang parkir, siswa-santri, murid-guru, kota-desa dan sebagainya? Apakah pandangn saya yang salah bahwa itu yang tabu, atau terlalu membesar-besarkan? Atau, memang busana-busana itu sudah menjadi ajaran yang benar dan lumrah serta tidak dikenai dosa di zaman ini? Busana-busana ini serentak amat marak saat ini. Soalnya setahu saya, agama mengajarkan bahwa yang gitu-gitu itu maksiat, dan maksiat itu dilarang.
Ditambah sumber-sumber yang menerangkan bahwa itu bagian dari misi Zionisme atau Satanisme atau Dajjal sejak perjanjian primordial antara Tuhan dan Iblis pembangkang sebagai nenek moyang mereka. “Tuhan berfirman:Pergilah, barang siapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahanam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup.  Dan perdayakanlah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan suaramu (yang memukau: industri musik/modeling/fashion/pergaulan bebas/aksi panggung/figur selebritas/kesenangan dll), dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan belaka.” (QS, 17: 61-64).
Dan ingat, misi illuminati 3F (agenda Zionisme) yang didengung-dengungkan: Food ( makanan haram, minuman beralkohol, dll), fashion (modeling, hot spants, busana mini, selebritas, pornografi dll), dan fun (gaya hidup bebas nilai, hedonisme, pergaulan bebas, aksi panggung, belakangan marak asolelean dll). Melalui 3 sudut itulah Zionisme bergerak menentukan arah peradaban manusia guna membentuk “Tatanan Dunia Baru (Novus Ordo Seclorum) dan “Pemerintahan Satu Dunia” (E Pluribus Unum) di bawah otoritas Yahudi berdasarkan budaya mereka sebagai penganut setan, Dajjal (mata satu), atau Lucifer seraya membasmi semua agama berbudaya luhur yang ada (baca: Islam). (http://m.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/04/26/m32jdx-inilah-illuminati-dan-bahayanya)
Pun dalam pengalaman, saya pernah sengaja mencoba mengamati, dalam satu jalan kira-kira radius 1 km saja di desa, apakah yang saya temui lebih banyak wanita yang berbusana sesuai dengan tuntunan ajaran agama dan kepantasan atau tidak? Ternyata yang saya temui mayoritas memakai busana gaul-gaul itu, meski bukan rok amat mini atau hot spants, mereka hobi memakai celana pensil dan kaos ketat atau celana model ngapret sehingga bentuknya persis telanjang, (maaf) yang benjolan-benjolan atau cekungan-cekungan tubuhnya masih utuh terlihat jelas. Baik yang kepalanya berjilbab lebih-lebih yang tak berjilbab. Apalagi ketika saya mengamati di jalan-jalan kota, wah malah yang super hot mini yang banyak berseliweran.
Walah-walah! Apakah saya pengamat sambil menikmati atau bahkan hobi melirik wanita hot-hot itu sehingga amat paham sekali sampai-sampai sejelas itu? Mohon maaf, dikatakan iya, ya iya. Dikatakan tidak, ya iya.
Iyanya, karena meski saya tidak sengaja bahkan menghindari jelalatan mengamati tubuh-tubuh tampak seksi, aduhai, atau mulus-mulus itu, justru tubuh-tubuh itulah yang memperlihatkan diri. Artinya, saking banyaknya yang begitu sampai-sampai mata saya tidak dapat terhindar dari penglihatan itu.
Tidaknya, dalam hati yang paling dalam meski saya tak dapat menghindari, saya berupaya tidak meresapinya dalam-dalam, sehingga saya rasakan penampakan mulus-mulus itu tak ubahnya punggung trotoar atau kulit aspal yang kepanasan itu. Meskipun acapkali juga, saya tidak bisa mengelak, bahwa sebagai manusia biasa sesekali hati saya terpengaruh sekilas menikmati juga, saking dahsatnya benturan-benturan mata saya dengan yang mulus-mulus itu.
Soal ini, saya sebenarnya memang sangat amat tidak berhak sama sekali menjaga apalagi menilai orang lain, hanya saja menjadi bagian dari nilai luhur dalam persahabatan dan persaudaraan saling ingat mengingati dengan cara yang baik dan lembut tanpa harus menunggu mesti lebih suci dulu.
Acapkali kita gampang tersinggung ketika kita diingati oleh teman kita dengan perasaan gengsi dan arogansi lantas kita bersempat untuk mengumpat dengan berkata, "Emangnya apa hakmu menegor saya, apa kamu udah lebih suci, perbaiki dulu dirimu sendiri." Atau lebih ilmiah sedikit bagi yang merasa akademik merespon tegoran dengan mendebat membela-bela pandangan dan prilaku sendiri. Semua itu sebabnya adalah rasa gengsi dan arogansi: arogansi umur, arogansi ekonomi, arogansi status sosial, arogansi kelompok, atau arogansi ilmu dan pengalaman.
Padahal, saling mengingatkan sesama demi kebaikan dan keselamatan bersama adalah ajaran agama yang bahkan hukumnya wajib tanpa syarat harus lebih pintar atau lebih suci dahulu. Sebab, pertama, tidak ada manusia yang lepas dari salah dan dosa, kecuali Rosulullah saw yang sudah pasti maksum. Kedua, manusia tidak akan pernah bisa menilai kadar keimanan dirinya; apakah sudah lebih suci, agak suci, atau paling suci, karena hanya Tuhan yang tahu dan menentukan dosa pahala. “……. Dan cukuplah Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Melihat dosa hamba-hamba-Nya.” (QS, 17: 17).
Sehingga kalau menunggu lebih suci demikian, tatanan kehidupan akan menjadi semrawut, saling mengingatkan atau menegor dilarang dan tidak ada pengajaran; tidak ada namanya guru karena tetap pasti ada keliru; tidak ada yang namanya kiai karena dosanya tidak boleh tidak sudah pasti.
Selain itu, padahal, perubahan kita dari ilmu pengajaran atau dari pengalaman tegoran dan peringatan dari orang itu dikabulkan atau direstui oleh Tuhan bukan tergantung dari kualitas yang mengingatkan, tapi tergantung dari kondisi hati dan cara kita masing-masing dalam melakukannya. Yang penting peringatannya dalam kebaikan, pun muncul dari angjing kudisan.
Coba kita ingat, kisah seorang pelacur yang diampuni dosa-dosanya hanya lantaran mengambil hikmah dari seekor anjing yang kehausan. Sampai-sampai pepatah arab mengatakan, "Unzdur ma qaala wa laa tanzdur man qaala." Lihatlah apa yang dikatakan bukan siapa yang mengatakan. Kita tidak perlu mengurus orang yang mengingati kita sudah lebih suci sehingga pantas kita ikuti atau tidak. Sebab ini bukan aturannya.
Memang ada aturan bagi yang mengingatkan, tidak boleh mengingatkan atau memerintah orang lain kalau tidak melakukannya sendiri, kalau tidak berarti munafik dan dosa besar. Pun demikian itu, bukan urusan kita sebagai posisi yang diingati, dan kita tidak tahu bahwa orang yang mengingatkan sudah melakukannya atau cuma pinter negor. Kalau tidak itu urusannya dengan Tuhan, apakah munafik atau tidak. Yang penting itu poinnya baik menurut agama dan kita.
Begitu juga tidak bisa dibuat alasan yang diandalkan, kita bilang hak kebebasan seni dan budaya yang wajar, sehingga tidak pantas menegor orang lain dengan kondisi seni dan budayanya masing-masing. Persoalannya, apakah kebebasan berseni dan berbudaya itu tanpa batas, sehingga seenaknnya saja berseni dan berbudaya, meski di dalamnya ada ketersinggungan, keterhinaan, atau pelecehan martabat kemanusiaan?
Misalnya, ada seorang wanita yang dengan alasan kebebasan berseni lantas pamer karya seni berupa telanjang bulat menari-nari di jalan umum, apakah ini hak kebebasan dalam berseni? Saya kira, ini bukan hak kebebasan berseni tapi justru pamer pelecehan martabat kemanusiaannya sendiri sebagai makhluq yang tidak ada bedanya dengan hewan sapi yang tak berakal dan tak memiliki nilai moral. Saya berharap, tidak ada seorang seniman, budayawan, maupun cendikiawan yang mengandal-ngandalkan alasan ini agar nilai seni dan budaya yang sejatinya mengangkat moral kemanusiaan justru malah merendahkan kemanusiaan itu sendiri.
Saya yakin, kalau tiap kita lebih memegang kuat prinsip ini, tidak menonjolkan sifat dan sikap arogansi, atau alasan hak kebebasan ‘sa’ karepe udele dewe’ itu, hidup ini akan selalu damai dan menyenangkan, tidak ada ketersinggungan, sentimentil, permusuhan, dan pertikaian antar sesama, meski perbedaan adalah sebuah keniscayaan.
Sama halnya yang terjadi baru-baru ini, pertikaian kelompok di Omben Madura adalah sebagai akibat dari arogansi, arogansi agama dan kelompok. Andai tidak ada arogansi demikian dapat dipastikan tidak akan ada hal yang mengenaskan itu. Wallahu a’lamu bisshowab.