Jumat, September 14, 2012

BUDAYA HOT SPANTS, AROGANSI, DAN PERTIKAIAN OMBEN

"Tiap orang punya masa lalu, apakah kamu sudah merasa paling suci sendiri." balasan komentar dari seorang saudari kepada saya terhadap komentar saya tentang fotonya yang tertulis, "Budaya rumit! Budaya ngapret-ngapret. Budaya ini sejatinya budaya yahudi atau Dajjal yang kerap kita tidak menyadari sambil membanggakan ini perkembangan zaman..."
Saya sadari, mungkin saya yang salah cara atau bahasanya, sehingga orang tersinggung dengan komen saya itu. Namun demikian, niat saya sebetulnya baik dan bermaksud berbagi pengalaman dan ilmu, atau bertukar pikiran, dan berusaha tidak menurut benar sendiri tapi dari ilmu-ilmu agama dan logika etis, atau referensi yang pantas dan lumrah. Dan, saya juga bukan dengan niatan menggurui atau menvonis, anda salah dan ini lho saya yang benar, anda ikuti saya ini!
Membaca balasan itu meski tidak niat menyakiti, saya merasa tidak enak sendiri, ternyata orang malah tersinggung. Saya merasa amat bersalah dan mau minta maaf, namun menambah kegelisahan saya ketika saya berniat mau menjelaskan tapi ternyata link fb saya kepadanya langsung sudah diblokir sehingga saya tidak bisa menjelaskan maksud komen awal saya itu. Awalnya, saya cuma niat mau bertukar pikiran sambil ingin mengetahui pandangan dia. Sebab, saya lihat posenya lumayan mini bermesraan dengan lakinya. Anehnya, pada lain pose tampak dia seorang muslimah taat, berjilbab, dan dari gayanya dia itu seorang santri. Dari keunikan tampilanya itu saya penasaran.
Sampai saat menulis ini, fb saya tetap terblokir kepadanya. Titik persoalannya hanya dalam hal budaya busana hot spants dan sejenisnya. Maka, dengan tulisan ini, pertama spesial buat saudari yang tersinggung itu, saya minta maaf sebanyak-banyaknya, dan terserah saudari mau berekspresi bagaimanapun. Saya sekedar ingin berbagi pengetahuan saja. Selanjutnya, bagi saudara-saudari pada umumnya, saya ingin sedikit menulis uneg-uneg soal ini.
Saya merasa aneh saja soal zaman ini. Atau bahkan diri saya sendiri yang memang tidak beres dalam memandang dunia ini, maka dari itu membuat saya masih  bimbang dan masih selalu mengamati. Masalahnya, tiap kali saya mau membahas budaya busana yang hot-hot, mini-mini, atau ngpret-ngapret itu dengan teman-teman terutama wanita hampir semuanya tidak menggubris atau paling tidak diam, seakan sengaja tak mau membahas. Baik secara langsung maupun online.
Pun ketika saya pernah bertanya soal ini kepada seorang saudari yang tampak amat islamis yang giat mengabdate status soal halal-haram, hadist-bid'ah, dan shohih-dhoif, juga tidak ditanggapi, apakah dia masih sibuk cari sumber referensinya atau mungkin malah  juga pas dirinya sendiri sedang memakai busana muslimah ala hedonis Dajjal itu, saya tidak tau pastinya. Ada apa?
Lain lagi, ketika saya bercakap dengan beberapa ibu muslimah yang anaknya seorang mahasiswi yang hobi pakai celana ngapret dan kaos ketat meski tetap berkerudung, saat saya tanya tentang busana-busana gaul itu semuanya menjawab, pada intinya karena tuntutan zaman asal bisa menjaga diri, tidak keterlaluan, dan tidak lebih dari itu. Sama halnya ketika saya tanya soal anaknya yang terang terangan terbiasa sliwar sliwer antar jemput dengan pacarnya.
Kenapa saya ingin sekali membahas? Apakah saya lebih pandai, penceramah, atau sok guru, atau bahkan memang merasa benar dan suci sendiri? Jawabannya, saya hanya penasaran mencari jawaban, kenapa hampir semua kalangan wanita saat ini seakan tersulap serentak lebih banyak yang suka memakai busana yang gaul-gaul katanya; hot-hot, mini-mini, atau paling tidak ngapret, dari semua level dan golongan, tua-muda, akademis-awam, nyai-model, anak kiai-anak tukang parkir, siswa-santri, murid-guru, kota-desa dan sebagainya? Apakah pandangn saya yang salah bahwa itu yang tabu, atau terlalu membesar-besarkan? Atau, memang busana-busana itu sudah menjadi ajaran yang benar dan lumrah serta tidak dikenai dosa di zaman ini? Busana-busana ini serentak amat marak saat ini. Soalnya setahu saya, agama mengajarkan bahwa yang gitu-gitu itu maksiat, dan maksiat itu dilarang.
Ditambah sumber-sumber yang menerangkan bahwa itu bagian dari misi Zionisme atau Satanisme atau Dajjal sejak perjanjian primordial antara Tuhan dan Iblis pembangkang sebagai nenek moyang mereka. “Tuhan berfirman:Pergilah, barang siapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahanam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup.  Dan perdayakanlah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan suaramu (yang memukau: industri musik/modeling/fashion/pergaulan bebas/aksi panggung/figur selebritas/kesenangan dll), dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan belaka.” (QS, 17: 61-64).
Dan ingat, misi illuminati 3F (agenda Zionisme) yang didengung-dengungkan: Food ( makanan haram, minuman beralkohol, dll), fashion (modeling, hot spants, busana mini, selebritas, pornografi dll), dan fun (gaya hidup bebas nilai, hedonisme, pergaulan bebas, aksi panggung, belakangan marak asolelean dll). Melalui 3 sudut itulah Zionisme bergerak menentukan arah peradaban manusia guna membentuk “Tatanan Dunia Baru (Novus Ordo Seclorum) dan “Pemerintahan Satu Dunia” (E Pluribus Unum) di bawah otoritas Yahudi berdasarkan budaya mereka sebagai penganut setan, Dajjal (mata satu), atau Lucifer seraya membasmi semua agama berbudaya luhur yang ada (baca: Islam). (http://m.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/04/26/m32jdx-inilah-illuminati-dan-bahayanya)
Pun dalam pengalaman, saya pernah sengaja mencoba mengamati, dalam satu jalan kira-kira radius 1 km saja di desa, apakah yang saya temui lebih banyak wanita yang berbusana sesuai dengan tuntunan ajaran agama dan kepantasan atau tidak? Ternyata yang saya temui mayoritas memakai busana gaul-gaul itu, meski bukan rok amat mini atau hot spants, mereka hobi memakai celana pensil dan kaos ketat atau celana model ngapret sehingga bentuknya persis telanjang, (maaf) yang benjolan-benjolan atau cekungan-cekungan tubuhnya masih utuh terlihat jelas. Baik yang kepalanya berjilbab lebih-lebih yang tak berjilbab. Apalagi ketika saya mengamati di jalan-jalan kota, wah malah yang super hot mini yang banyak berseliweran.
Walah-walah! Apakah saya pengamat sambil menikmati atau bahkan hobi melirik wanita hot-hot itu sehingga amat paham sekali sampai-sampai sejelas itu? Mohon maaf, dikatakan iya, ya iya. Dikatakan tidak, ya iya.
Iyanya, karena meski saya tidak sengaja bahkan menghindari jelalatan mengamati tubuh-tubuh tampak seksi, aduhai, atau mulus-mulus itu, justru tubuh-tubuh itulah yang memperlihatkan diri. Artinya, saking banyaknya yang begitu sampai-sampai mata saya tidak dapat terhindar dari penglihatan itu.
Tidaknya, dalam hati yang paling dalam meski saya tak dapat menghindari, saya berupaya tidak meresapinya dalam-dalam, sehingga saya rasakan penampakan mulus-mulus itu tak ubahnya punggung trotoar atau kulit aspal yang kepanasan itu. Meskipun acapkali juga, saya tidak bisa mengelak, bahwa sebagai manusia biasa sesekali hati saya terpengaruh sekilas menikmati juga, saking dahsatnya benturan-benturan mata saya dengan yang mulus-mulus itu.
Soal ini, saya sebenarnya memang sangat amat tidak berhak sama sekali menjaga apalagi menilai orang lain, hanya saja menjadi bagian dari nilai luhur dalam persahabatan dan persaudaraan saling ingat mengingati dengan cara yang baik dan lembut tanpa harus menunggu mesti lebih suci dulu.
Acapkali kita gampang tersinggung ketika kita diingati oleh teman kita dengan perasaan gengsi dan arogansi lantas kita bersempat untuk mengumpat dengan berkata, "Emangnya apa hakmu menegor saya, apa kamu udah lebih suci, perbaiki dulu dirimu sendiri." Atau lebih ilmiah sedikit bagi yang merasa akademik merespon tegoran dengan mendebat membela-bela pandangan dan prilaku sendiri. Semua itu sebabnya adalah rasa gengsi dan arogansi: arogansi umur, arogansi ekonomi, arogansi status sosial, arogansi kelompok, atau arogansi ilmu dan pengalaman.
Padahal, saling mengingatkan sesama demi kebaikan dan keselamatan bersama adalah ajaran agama yang bahkan hukumnya wajib tanpa syarat harus lebih pintar atau lebih suci dahulu. Sebab, pertama, tidak ada manusia yang lepas dari salah dan dosa, kecuali Rosulullah saw yang sudah pasti maksum. Kedua, manusia tidak akan pernah bisa menilai kadar keimanan dirinya; apakah sudah lebih suci, agak suci, atau paling suci, karena hanya Tuhan yang tahu dan menentukan dosa pahala. “……. Dan cukuplah Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Melihat dosa hamba-hamba-Nya.” (QS, 17: 17).
Sehingga kalau menunggu lebih suci demikian, tatanan kehidupan akan menjadi semrawut, saling mengingatkan atau menegor dilarang dan tidak ada pengajaran; tidak ada namanya guru karena tetap pasti ada keliru; tidak ada yang namanya kiai karena dosanya tidak boleh tidak sudah pasti.
Selain itu, padahal, perubahan kita dari ilmu pengajaran atau dari pengalaman tegoran dan peringatan dari orang itu dikabulkan atau direstui oleh Tuhan bukan tergantung dari kualitas yang mengingatkan, tapi tergantung dari kondisi hati dan cara kita masing-masing dalam melakukannya. Yang penting peringatannya dalam kebaikan, pun muncul dari angjing kudisan.
Coba kita ingat, kisah seorang pelacur yang diampuni dosa-dosanya hanya lantaran mengambil hikmah dari seekor anjing yang kehausan. Sampai-sampai pepatah arab mengatakan, "Unzdur ma qaala wa laa tanzdur man qaala." Lihatlah apa yang dikatakan bukan siapa yang mengatakan. Kita tidak perlu mengurus orang yang mengingati kita sudah lebih suci sehingga pantas kita ikuti atau tidak. Sebab ini bukan aturannya.
Memang ada aturan bagi yang mengingatkan, tidak boleh mengingatkan atau memerintah orang lain kalau tidak melakukannya sendiri, kalau tidak berarti munafik dan dosa besar. Pun demikian itu, bukan urusan kita sebagai posisi yang diingati, dan kita tidak tahu bahwa orang yang mengingatkan sudah melakukannya atau cuma pinter negor. Kalau tidak itu urusannya dengan Tuhan, apakah munafik atau tidak. Yang penting itu poinnya baik menurut agama dan kita.
Begitu juga tidak bisa dibuat alasan yang diandalkan, kita bilang hak kebebasan seni dan budaya yang wajar, sehingga tidak pantas menegor orang lain dengan kondisi seni dan budayanya masing-masing. Persoalannya, apakah kebebasan berseni dan berbudaya itu tanpa batas, sehingga seenaknnya saja berseni dan berbudaya, meski di dalamnya ada ketersinggungan, keterhinaan, atau pelecehan martabat kemanusiaan?
Misalnya, ada seorang wanita yang dengan alasan kebebasan berseni lantas pamer karya seni berupa telanjang bulat menari-nari di jalan umum, apakah ini hak kebebasan dalam berseni? Saya kira, ini bukan hak kebebasan berseni tapi justru pamer pelecehan martabat kemanusiaannya sendiri sebagai makhluq yang tidak ada bedanya dengan hewan sapi yang tak berakal dan tak memiliki nilai moral. Saya berharap, tidak ada seorang seniman, budayawan, maupun cendikiawan yang mengandal-ngandalkan alasan ini agar nilai seni dan budaya yang sejatinya mengangkat moral kemanusiaan justru malah merendahkan kemanusiaan itu sendiri.
Saya yakin, kalau tiap kita lebih memegang kuat prinsip ini, tidak menonjolkan sifat dan sikap arogansi, atau alasan hak kebebasan ‘sa’ karepe udele dewe’ itu, hidup ini akan selalu damai dan menyenangkan, tidak ada ketersinggungan, sentimentil, permusuhan, dan pertikaian antar sesama, meski perbedaan adalah sebuah keniscayaan.
Sama halnya yang terjadi baru-baru ini, pertikaian kelompok di Omben Madura adalah sebagai akibat dari arogansi, arogansi agama dan kelompok. Andai tidak ada arogansi demikian dapat dipastikan tidak akan ada hal yang mengenaskan itu. Wallahu a’lamu bisshowab.