Minggu, Oktober 14, 2012

PERNIKAHAN: KEARIFAN LOKAL VS HEDONISME DAJJAL


           Pernikahan, adalah sebuah jenjang kehidupan yang paling diimpikan oleh semua orang, laki-laki maupun wanita, selama masih normal. Kecuali yang tidak normal, seperti banci, impoten, atau orang-orang tertentu yang mengalami kasus-kasus tertentu. Saya ingat guru saya, karena saking cinta matinya kepada ilmu pengetahuan jalur filsafat sampai-sampai mati cinta kepada perempuan.
Dan, pernikahan adalah ajaran agama sebagai sunnah Rosul saw. Tapi, bukan berarti tidak nikah disebut tidak ikut sunnah Rasul saw. Bahkan dikatakan oleh Nabi saw, “Barangsiapa nikah (beristeri) maka dia telah melindungi (menguasai) separo agamanya, karena itu hendaklah dia bertakwa kepada Allah dalam memelihara yang separonya lagi. (HR. Al Hakim dan Ath-Thahawi). Maka, barang siapa yang melaksanakan nikah berarti separo agamanya telah terlindungi, tinggal separonya lagi dengan ketakwaan. Sedangkan yang belum menikah maka masih menanggung agamanya secara utuh, sebab separonya belum terjamin.
Di sisi lain, nikah adalah kodrat natural. Dalam artian kehidupan ini tertuntut untuk itu. Sebab, selain karena manusia memiliki kebutuhan berpasang dengan manusia lain jenis (makhluk sosial, berinteraksi, patner membangun kebahagian, penghibur), dan kebutuhan batin (kasih sayang, sex, perkawinan), lebih dari itu pernikahan merupakan alat regenerasi yang baik. Tanpa pernikahan tidak akan pernah ada rantai kehidupan, yakni kelahiran.
Lain lagi dengan perkawinan, kelahiran yang dihasilkan melaluinya tidak baik yang membuat manusia tidak berbeda dengan binatang. Jadi, di sini perlu ditegaskan pernikahan berlaku bagi manusia sedangkan perkawinan berlaku bagi binatang. Tidak ada istilah pernikahan sapi, tapi ada istilah perkawinan manusia yang manusianya kayak hewan sapi (sek bebas, kawin di luar nikah, kumpul kebo), kecuali kawin melalui pernikahan.
Maka, inilah nikmatnya anugrah pernikahan bagi manusia, selain menjadi jenjang yang terindah, media kebahagiaan, juga menjadi nilai ibadah besar. Dan, alangkah celakanya orang yang menjadikan perkawinan tanpa pernikahan sebagai anugrah yang lumrah bagi dirinya, sehingga sama halnya membuat dirinya sendiri tidak ada bedanya dengan hewan, bahkan lebih hina, semisal kasus anak digagahi oleh bapak kandungnya sendiri atau ibu kandungnya sendiri ditiduri.
Terkait jenjang kehidupan yang terindah ini, kemarin sabtu (11082012), saya diajak meminang seorang gadis untuk ponakan saya. Secara umur dan syarat lainnya kurang meyakinkan, masih muda, terutama belum punya penghasilan tetap. Tapi karena beberapa pertimbangan yang menuntut lebih baik untuk tunangan lalu menikah, pertunanganpun dilanjutkan.
Bagi warga perkampungan sudah sangat lumrah untuk mengadakan pertunangan atau nikah itu tanpa banyak pertimbangan segala macam. Yang terpenting bagi mereka selamat dari hubungan maksiat di luar jalur nikah. Atau paling tidak, secara kultural, terhindar dari sikap memalukan berhubungan maksiat diantara anak-anak mereka, yakni pacaran. Sebab yang mereka tahu, berhubungan dengan lain jenis itu dosa dalam agama dan memalukan di sisi sosial kultural. Maka dari itu, lebih baik dilegalkan saja hubungannya berupa pertalian resmi diantara pihak laki dan wanita, yang disebut dengan pertunangan itu.
Sebetulnya, ini bentuk dari ajaran agama yang disebut dengan khitbah meski mereka (perkampungan) hanya sekedar tahu dari pengajian-pengajian umum atau petuah-petuah kiai mereka di surau-surau kecil, terlebih dikombinasi dengan rasa hukum adat, terkait dengan nilai persoalan yang memalukan. Seorang anak laki-laki lebih-lebih wanita jika ketahuan bersamaan dengan lain muhrim bagi mereka amat memalukan, bahkan bisa jadi diusir oleh orang tuanya atau dikurung dalam kamar berhari-hari. Maka, tunangan dan nikah cepat tanpa banyak pertimbangan kecuali menghindari dari hal-hal yang tabu memalukan itu menjadi pilihan yang lebih selamat sebagai kearifan lokal masyarakat perkampungan.
Akan tetapi, tidak semua masyarakat kampung begitu. Apalagi zaman sekarang, seakan-akan pandangannya sudah ngota semua. Atau bukan hanya karena masyarakat kota yang pikiran dan prilakunya modern dan hedonis, tapi juga perkampungan amat pelosokpun juga berlaku modern.
Misal lainnnya saja soal pakaian. Dulu, di desa saya misalnya, apalagi bagi ras Madura, yang namanya wanita memakai busana super ketat atau ngapret sehingga bentuk tubuhnya tanpak kayak telanjang, atau bahkan pakai celana cekak (hot spant) sehingga keliatan (maaf) mulus pantatnya, atau bahkan rok super mini sehingga pada posisi tertentu tampak (maaf) ketiak pantatnya, semua itu menjadi nilai yang amat tabu memalukan sehingga tidak dipakai. Tapi sekarang, semua pakaian yang hot-hot itu mejadi lumrah, bahkan menjadi kebanggaan ukuran kecantikan bagi para gadis dan wanita manapun, baik desa lebih-lebih kota; baik tani maupun pengusaha; baik bu' nyai maupun bu’ bakul roti, siswi maupun santri.
Begitu juga pacaran, bukan hanya di losmen, hotel, alun-alun atau taman-taman perkotaan sepasang kekasih bebas bermesraan, tapi di pinggir sungai, sawah, jalan, warung pelosokpun sudah biasa terjadi penampakan mesra begitu. Melihat virus budaya hedonisme yang makin mengusai peradaban umat manusia terutama agama Islam ini, seakan nilai-nilai sejati kemanusiaan yang etis dan agamis mulai musnah; Manusia sebagai makhluq pilihan Allah swt yang berakal dan mulya serta berbeda di atas makhluq yang lainnya mulai bermetamorfosis tiada beda dengan makhluq yang tak berakal.
Hanya saja, pada satu sisi pertunangan secara kultural mungkin ada sedikit menyimpang dari khitbah dalam agama. Yakni adanya kebiasaan membawa tunangan berduaan pada momen-momen tertentu, seperti pas lebaran, hajatan, dan lainnya. Bahkan sang cewek sampai-sampai bermalaman di rumah sang cowok. Padahal keduanya masih haram berkumpul. Toh demikianpun, kalau dipikir-pikir dibanding dengan parahnya pergaulan zaman ini, itu masih lebih selamat dan bijak dari pada main cabut semrawut anaknya orang sehingga datang-datangnya hamil duluan, tidak ketahuan penjantannya. Dalam hal ini wanita tidak ada nilai harkat dan martabatnya kecuali semurah uang atau bahkan gratis.
Paling tidak dengan tunangan ala kultural begitu, orang tuanya sama-sama tahu dan jelas sehingga kalaupun terjadi yang tidak diinginkan ke belakang tanggung jawab dipangku bersama-sama berupa pernikahan secepatnya. Tidak seperti budaya pacaran sa’ karepe dewe berlanjut hamil duluan yang akhirnya tidak ada yang bertanggung jawab, bahkan menyebabkan permusuhan dan keburukan yang lain.
Kiranya orang-orang kampung juga berpikiran menurut kaidah, "Jika berkumpul dua keburukan, maka pilihlah yang lebih ringan akibatnya." Namun kaidah ini berlaku bagi yang dalam keterpaksaan, dari pada pacaran, kata mereka. Toh, budaya pertunangan demikian tak perlu dilestrikan. Lebih baik tidak dibiasakan dengan membandingkan yang lebih selamat meski sama-sama dosa itu.
Ini yang perlu diperbaiki di dalam kearifan lokal itu. Alangkah lebih baiknya jika kearifan lokal menyandar kepada ajaran agama sepenuhnya tidak setengah-setengah. “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS, 22: 11).
Bukti kearifan lokal tidak sembarangan, pada saat pertunangan ponakan saya itu, pihak si perempuan saat keduanya baru kenalpun, sampai-sampai orang tuanya sudah menanyakan hari pasaran kelahiran ponakan saya itu untuk digabung dengan hari pasaran putrinya lalu ditafsir tanpa niatan mendahului kehendak Tuhan, apakah perjodohan keduanya dapat membawa berkah atau mala petaka ke depannya.
Dari pandangan ini saya berpikir, meski ada sisi menyimpangnya itu, ternyata orang perkampungan tradisional pandangannya kerap kali lebih arif dan futuristik serta sangat bermartabat dari pada budaya modern yang hedonis materialistik saat ini. Saking berhati-hatinya demi kemaslahatan masa depan anak cucunya sampai-sampai persoalan neptu kelahiranpun jauh-jauh diurus meski pandangan ini terkesan tidak masuk akal bahkan syirik yang tidak ada dalam agama. Namun, pada sisi niat di situ tersimpan sejati semangat kehati-hatian, harga diri, dan kemaslahatan masa depan.
Saya pikir pandangan lokal ini sejatinya nilainya tidak jauh dari ukuran lidiniha, linasabiha, limaliha, dan lijamaliha prinsip pernikahan dalam agama. Hanya saja dalam bahasa dan tradisi lokal. Karena dari neptu itu di situ terkumpul penafsiran segala kondisinya, termasuk mencakupi nilai 4 pertimbangan dalam agama itu.
Memang pandangan modern hedonis atau mungkin tradisi perkotaan seakan selaras dengan agama dan lebih logis, yakni soal nasab dan kondisi kemapanan ekonomi yang dipertimbangkan. Namun kerap kali pertimbangan yang wajar itu bergeser niat, soal nasab menjadi pangkat sosial yang terhormat dan nepotis; soal kemapanan ekonomi menjadi tujuan arogansi materialistik, yang kesemuanya buntut-buntutnya kecemburuan sosial. 
Akhirnya, alangkah baiknya jika semangat kearifan lokal pertunangan ini menjadi budaya masakini daripada budaya hedonisme dajjal yang justru mengikis jati diri dan martabat kemanusiaan itu sendiri. Dan, alangkah lebih baiknya lagi bila kearifan lokal itu ditegaskan dengan semangat keagamaan yang semestinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar