Senin, Januari 14, 2013

Cinta Sejati yang Dibawa Mati (Kisah Kecil Tentang Cinta yang Membawa Sorga)


Al-Mubarrid menyebutkan dari Abu Kamil dari Ishaq bin Ibrahim dari Raja' bin Amr An-Nakha'i, Beliau bercerita.

Adalah di Kufah, terdapat pemuda tampan, dia giat beribadah dan sangat santun. Suatu saat, pemuda tampan itu mampir di  kampung Bani An-Nakha'. Di situ dia melihat seorang wanita yang cantiknya luar biasa sehingga membuatnya sangat mengaguminya.

Ternyata, si wanita cantik ini pun juga merasa cinta kepadanya. Karena cintanya makin dalam tak mampu ditahan, akhirnya pemuda itu mengutus seorang kerabat dari ayahnya untuk melamarnya. Tetapi si ayah wanita itu mengabarkan bahwa putrinya telah dijodohkan dengan sepupunya. Yang namanya sudah kadung kasmaran sehingga pada awalnya sepontan saja pemuda itu kecewa. Tapi walaupun demikian, cinta keduanya tak bisa padam bahkan semakin berkobar.

Si wanita mengirim pesan lewat seseorang untuk si pemuda, “Aku telah tahu betapa besar cintamu kepadaku, dan betapa besar pula aku diuji dengan kamu. Bila kamu setuju, aku akan mengunjungimu atau aku akan mempermudah jalan bagimu untuk datang menemuiku di rumahku”. Tulisnya.

Dijawab oleh pemuda itu melalui orang suruhannya, “Aku tidak setuju dengan dua ide alternatif itu. Sesungguhnya aku merasa takut bila aku berbuat maksiat pada Rabbiku dengan adzab yang akan menimpaku pada hari yang besar. Aku takut pada api yang tidak pernah mengecil nyalanya dan tidak pernah padam kobaranya.” Jelasnya.

Ketika dibaca pesan tadi oleh si wanita, batinnya bergetar dan berkata, "Walau demikian, rupanya pemuda tampan itu masih takut kepada Allah? Demi Allah, tak ada seseorang yang lebih berhak untuk bertaqwa kepada Allah dari pada orang lain. Semua hamba sama-sama berhak untuk itu. “

Sejak itu, kemudian wanita cantik itu meninggalkan urusan dunia dan menyingkirkan perbuatan-perbuatan buruknya serta mulai beribadah mendekatkan diri kepada Allah. Akan tetapi, dia masih menyimpan perasaan cinta dan rindu pada sang pemuda itu, bahkan lebih menjadi karena kekagumannya kepada kecintaan dan ketakutan pemuda itu kepada Allah.

Makin hari makin kagum dan berupaya meniru prilaku pemuda tercinta itu terhadap Allah. Sehingga pada akhirnya, tubuhnya mulai kurus dan kurus menahan rindunya, sampai akhirnya dia meninggal dunia karenanya.

Mendengarnya pemuda itu amat sedih. Membuatnya kerap berziarah ke kuburnya seraya menangis dan mendo'akannya. Sampai-sampai suatu waktu dia tertidur di atas kuburannya. Lalu dia bermimpi berjumpa dengan kekasih cantiknya itu dengan penampilan yang sangat baik. Dia sempat bertanya, "Bagaimana keadaanmu? Dan apa yang kau dapatkan setelah meninggal?"

Si wanita menjawab, "Sebaik-baik cinta wahai orang yang bertanya, adalah cintamu. Sebuah cinta yang dapat menggiring menuju kebaikan."

Pemuda itu melanjutkan, "Jika demikian, ke manakah kamu menuju?"

Wanita itu menjelaskan, "Aku sekarang menuju pada kenikmatan dan kehidupan yang tak berakhir, Sorga, di mana kekekalan yang dapat kumiliki dan tidak akan pernah rusak."

 "Aku harap kau selalu ingat padaku di sana, sebab aku di sini juga tidak melupakanmu." Pinta pemuda itu.

 "Demi Allah, aku juga tidak melupakanmu. Dan aku meminta kepada Tuhan agar kita nanti bisa dikumpulkan. Maka, bantulah aku dalam hal ini dengan kesungguhanmu dalam ibadah." Jawabnya.

"Kapan aku bisa melihatmu?" Lanjutnya lagi.

"Tak lama lagi kau akan datang melihat kami." Jelas wanita itu.
Tujuh hari setelah mimpi itu berlalu, si pemuda dipanggil oleh Allah menuju kehadirat-Nya, meninggal dunia.
-----------------
Wahai saudara-saudaraku yang baik, dari kisah kecil tentang cinta di atas, saya sebut cinta sejati sampai mati, mari kita renungi, adakah cinta semacam itu di kalangan kita pada zaman ini? Cinta yang betul-betul tulus bukan karena nafsu tapi karena Allah? Cinta yang betul-betul jujur karena nurani kebaikan dan masa depan?

Kalau boleh saya jawab, kalau adanya ya ada, karena seringkali kita dengar spekulasi cinta andalan, “Cintaku kepadamu sehidup semati”,  “Demi cintaku padamu jiwa raga aku pertaruhkan.” Hanya saja itu sebatas adegan mulut saja, sejatinya sebuah topeng untuk memuluskan ambisi nafsu belaka.

Lihat saja,  banyak terjadi: agar tidak putus cinta, diabadikan dengan penyerahan harga diri; putus cinta, prustasi bunuh diri; dihianati cinta, ke sana ke mari jual diri; kadung harga diri menjadi tiada, kumpul kebo ketagihan sekalian terbiasa; kumpul kebo menjadi biasa, membuat cinta menjadi hampa tanpa makna. Akhirnya, cinta menjadi ajang kemaksiatan dan nafsu angkara yang hanya membawa kepada kehancuran, pergaulan bebas, hamil duluan, aborsi, jual diri, bunuh diri, muaranya neraka.

Nau,udzubillah, semoga kita tidak mengalami cinta nafsu angkara murka itu, tetapi cinta yang sejatinya karena Allah, cinta yang penuh makna, cinta yang makin menjadikan kita justru cinta kepada Allah dan kebaikan bersama, cinta yang membawa kita menuju sorga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar