Rabu, Januari 09, 2013

Taubat Seorang Perompak Lantaran sepenggal Ayat Suci Al-Quran (Catatan Kecil untuk menjalin keselamatan bersama di tengah-tengah gemerlap zaman Budaya Dajjalisme)


Taubat Seorang Perompak Lantaran sepenggal Ayat Suci Al-Quran
(Catatan Kecil untuk menjalin keselamatan bersama di tengah-tengah gemerlap zaman Budaya Dajjalisme)

Syaikh AI-Asrna'i r.a. bercerita:

Pada suatu musim haji, saya menuju ke kota Makkah untuk berhaji, kemudian saya bercadang untuk datang ke Madinah kerana hendak menziarahi Rasulullah s.a.w. di makamnya. Malangnya, di tengah perjalanan, saya dihalang oleh seorang Arab badwi, di tangannya ada sebilah pedang besar, yang digenggamnya, dan pada bahunya tergantung busur panah serta anak-anak panahnya sekali. Orang badwi itu mendekatiku dan bermaksud untuk merampas segala apa yang saya miliki. Dengan penuh perasaan takut dan bimbang, saya segera mengucapkan salam kepadanya, dan hairan pula la membalas salamku seraya bertanya:

"Dari manakah engkau ini?" 

"Saya dari tempat yang jauh, ingin pergi ke Baitullah serta ziarah kepada Rasulullah," jawabku. 

"Mana barang-barangmu?" tanya badwi itu pula. 

"Saya adalah seorang fakir dan tak memiliki harta yang berharga apa pun," jawabku lagi dengan penuh bimbang. 

"Apakah pekerjaanmu?" dia bertanya pula. 

"Aku adalah guru mengaji AI-Quran bagi anak-anak di kampung." 

"Apakah AI-Quran itu?" dia bertanya lagi. Rupanya dia tidak tahu AI-Quran. 

"Kau tak tahu AI-Quran?" aku bertanya kepadanya. 

"Jangan tanya aku, jawab soalanku?" dia membentak. 

"Baiklah, baiklah!" kataku. "AI-Quran adalah firman Allah s.w.t." 

"Adakah Allah itu berfirman?" 

"Benar, Allah s.w.t. berfirman." 

"Cubalah bacakan kepadaku di antara firmannya!" 

Saya pun membaca ayat berikut: Maksudnya: 'Dan dari langit (turun) rezekimu dan apa yang dijanjikan.' (Az-Zariyat: 22) 

Tanpa saya sangka-sangka, tiba-tiba orang itu membuang pedang dan busur beserta anak-anak panahnya. Dia tampak seperti orang yang ketakutan sekali, Ialu berkata: 

"Oh, alangkah celakanya hidup sebagai perompak, merampas hak orang. Dia telah mengkhianati rezekinya yang telah ditentukan oleh Allah di langit, sedang ia mencari-carinya di bumi," katanya dengan sungguh-sungguh. Saya juga takjub, bagaimana cepatnya dia boleh berubah. Ternyata orang badwi itu sangat menyesali segala perbuatannya yang terdahulu, dan berjanji akan meninggalkan segala perbuatan yang ganas itu, dan bermaksud akan bertaubat dengan sesungguhnya. 

Saya pun gembira sekali mendengar pernyataan dan janji orang badwi itu. la kembali kepada Islam dengan ketulusan hati, dan meminta agar saya mengajarya untuk bersholat dan melakukan ibadat-ibadat yang lain. Saya lalu melakukan segala permintaannya dengan senang hati, sehingga ia menjadi seorang yang cukup kenal akan liku-liku agamanya. 

Pada tahun berikutnya, pada saat saya bertawaf mengelilingi Kaabah, saya lihat seorang lelaki tua yang ketara kesalihannya datang mendekatiku, lalu mengucapkan salam. Saya membalas salamnya dan cuba mengingat-ingat siapa gerangan orangnya. la terus berkata kepadaku: 

"Bukankah tuan ini teman saya pada tahun yang lalu?" Saya cuba mengingat-ingatkan diriku sambil memerhatikan paras wajahnya, sehinggalah saya teringat. Dialah orang badwi yang saya ajarkannya Islam. 

"Oh, benar. Saya hampir lupa, dan anda datang lagi ke mari tahun ini?" aku bertanya kepadanya pula. la mengiyakannya, Ialu berkata: 

"Tuan! Tolonglah bacakan kepadaku suatu firman Allah yang lain!" pintanya kepadaku pula. 
Saya memenuhi permintaannya dengan membacakan firman Allah yang berbunyi: 

Maksudnya :'Demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya benarlah apa yang engkau katakan!' (Az-Zariyat: 23) 

Saya lihat orang badwi itu mendengarkannya dengan khusyuk, lalu mengangkat kepalanya seraya berkata: 

"Tuan! Mengapa Allah sampai bersumpah begitu?" 

Kemudian dia berdoa pula: "Ya Allah! Ampunilah segala dosa-dosa hamba selama ini. Selesai dari berdoa, saya lihat dia menangis dengan sangatnya, dan oleh kerana terlalu banyak tangisannya dia jatuh pengsan. Saya segera menyambutnya dan menidurkannya di atas pangkuanku. Tidak lama sesudah itu, ternyata ia telah pulang ke rahmatullah. 

Saya merasa sangat sedih sekali, lalu menangis. Kemudian saya teringat di dalam hatiku: Alangkah bahagianya orang itu. Kehidupannya yang begitu panjang berlumuran dengan dosa diakhiri Tuhan dengan kesedaran serta kesalihan. Dia kembali kepada Allah setelah bertaubat dan memohon ampunan terhadap segala perbuatannya yang telah berlalu. Demikianlah Allah memberikan petunjuk kepada hamba yang dikehendakinya.

-------
Dari kisah tersebut, mari kita merenungi: perampok jahat yang tidak mengenal Al-Quran sama sekali, bisa sadar dengan prilaku nistanya sekaligus menjadikannya ahli ibadah yang tidak tanggung-tanggung sampai di akhir hayatnya hanya setelah mendengarkan sepenggal dari ayat suci Al-Quran. Lalu bagaimana dengan kita yang amat sangat pandai bahkan giat membaca Al-quran, atau bahkan sering diundang orang untuk khataman dengan suara merdu dari pengeras suara, atau kita sudah pasti sering mendengarkan orang baca Al-Quran, apakah dengnnya kita sudah mendapatkan sebuah kesadaran atau tambahnya iman?

Rasanya, batin kita sendiri yang dapat menjawabnya. Dan tentunya, semoga kita tidak termasuk apa yang disinggung oleh Gus Dur dalam syair pamungkasnya,

"Akeh kang afal Quran Hadiste, seneng ngafirke marang liyane, kafire dewe gak digateke, yen isih kotor ati akale. Gampang kabujuk nafsu angkoro, ing pepaese gebyare dunyo, iri lan meri sugiye tonggo, mulo atine peteng lan nisto. Ayu sedulur jo nglalekake, wajibe ngaji sak pranate, nggo ngandelake iman lan tauhide, baguse sangu mulyo matine."

Mari kita sama-sama bergegas saudara2ku untuk berubah, bukankah kita ingin dalam hidup yang sekali ini, dengan nyawa yang satu ini, yang tidak ada cadangannya, tidak ada persewaannya, juga tidak ada peminjamannya, kita hidup damai lalu mati juga dengan damai, bak matinya perampok itu, mati dengan cinta kasih Tuhannya.
Dan sebaliknya, tentunya na'udzubillah, kita tidak mau seperti mati nistanya orang-orang yang matinya hobi atau sedang bermaksiat, over dosis, aborsi, tawuran, dan kenistaan lainnya.

Maka, mari sekali lagi, bergegaslah untuk menuju jalan Tuhan yang Maha Kasih Sayang, tinggalkan prilaku-prilaku dan budaya-budaya syetan, glamor, kemaksiatan, keburukan, dan kejahatan, menuju taat beribadah, takut, malu, dan cinta kepada Allah, serta berprilaku baik dan benar di tengah-tengah sosial. Tidak ada waktu lagi, karena detik ini, detik nanti, sejam lagi, besok hari, bulan depan, dan entah kapn kita tidak tahu pasti akan mati.

Astagfirullah wa atubu ilaihi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar