Minggu, Juni 09, 2013

Gadis Cantik yang Tergelincir



(Catatan kecil dari kisah seorang teman cantik yang harus membayar mahal ketergelincirannya)
Tadi malam, minggu 09052013, ada kasus mengenaskan. Saya punya seorang teman cewek,. Anaknya cantik bukan main dan suka pakaian yang bikini dan aduhai. Selain terkenal parasnya dan hobinya berpakaian bikini, dia punya keterkenalan miring di lingkungannya, nakal, sering keluar dengan gonta ganti pasangan. Amat disayangkan lagi, pasangannya terkenal sembarangan, seakan pokoknya laki yang suka langsung diladeni. Sebab, pasangannya melulu anak yang biasa nongol di jalananan yang tak berkualitas apa-apa, ya ga’ tajir, ya ga’ tanpan, apalagi pinter. Banyak orang yang menyayangkan, eman-eman  kata mereka.  Ibarat kecantikan yang diobral di jalanan.

Orang-orang  berpikir, andai dia bisa menjaga diri, jadi gadis baik-baik, maka dia tidak sulit kelak cari jodoh yang berkualiatas apapun, yang baik-baik pula, yang tampan juga hartawan. Karena kecantikannya memang di atas-rata-rata apalagi ditambah dengan andai dia menjadi anak baik-baik.

Lebih parah lagi, saat ini dia masih sekolah SMP kelas 2. Orang berpikir, sekelas SMP saja sudah gemar prilaku dewasa kayak itu apalagi nanti sekelas tinggi yang memang pertumbuhan badan dan pergaulannya memang sepantasnya dewasa, semisal SMA atau perguruan tinggi!

Kalau dilanjutkan  bigini, semasa dini itu saja dia sudah berani berduaan dengan banyak laki-laki, apakah kiranya dia kuat menjaga diri sampai kelas tinggi yang masih jauh! Berapa banyak tahun lagi, sedangkan dia hampir tiap hari selalu ketemu-paling tidak- via telpon berhubungan dengan pacarnya. Lebih-lebih pacarnya sudah relatif dewasa yang sudah barang pasti lebih kenal pergaulan, bahkan mungkin sudah terbiasa-dengan permainan nikmat bebas yang terlarang itu! Apalagi anak liar embongan. Dilihat dari sisi kesetiaan saja sudah tidak masuk akal.

Kasarnya, apakah mungkin dalam pergaulannya yang begitu, sepanjang SMP itu saja, dia kuat menjaga kesuciannya dengan prilaku yang luar biasanya itu?! Tentunya, prasangka liniernya, banyak orang telah meragukan kesuciannya. Tapi, entah! Sebab, maklum masyarakat akan pasti menilai yang tampak kebiasaannya yang memang mendekati itu. Saya pribadipun juga menyaksikan prilakunya, sehingga meski tidak berburuk sangka saya juga orang yang menghawatirkannya.

Karena keemanan atas kecantikannya, para kerabatnya dan tetangga-tetangganya sudah sering mengingati agar tidak berbiasa buruk itu terus-menerus, tapi tetap saja dia tidak menggubrisnya malah seakan tambah jadi. Begitu juga bukan karena tidak dijaga oleh kedua orang tuanya. Sampai-sampai ada ucapan, pukulan macam apa saja yang sudah dilakukan ibu bapaknya, sudah semuanya. Akhirnya, semuanya membeiarkannya dan hanya bisa menyayangi dan mengemaninya di dalam bathin.

Tadi malam, malam mingguan, mungkin akan menjadi akhir atau paling tidak menjadi pelajaran terhebat dalam petualangan cintanya. Di saat kegetiran orang tuannya karena anak gadisnya itu tidak ketahuuan keluar hingga larut malam, di malam yang memang pas malam unggulan kaula muda, malam yang panjang, tiba-tiba jam 2 an dini hari ada kabar sang gadis cantik anaknya itu sekarat kecelakan di jalan yang sepi bersama seorang laki-laki. Pupu mulusnya sobek tak karuan, tulangnya retak dan patah berantakan. Sedangkan laki-lakinya tidak cidera apa-apa. Ada pertanyaan, kenapa kok wanitanya yang parah? Konon, katanya Karena memang wanitanya yang nyetir di depan. Jadi, tambah menjadi pikiran sinis orang-orang bahwa memang terlalu bejat gadis itu, lawong cewek-cewek kok yang nyetir di depan sedangkan laki-lakinya di belakang!

Dari kejadian itulah, kemudian ketenaran miring sang cantik selama ini terbukti. Dengan kecelakaan na’asnya itu, orang bukan malah bersimpati tapi makin memperparah kabar miringnya. Orang yang tidak tahu malah tahu, dan orang yang mungkin dulunya tidak percaya malah percaya. Semakin menjadi omongan para tetangga. Sebab, masyarakat  menjadi menyaksikan langsung, sudah jelas wanita gak beres kalau keluar sampai larut malam tanpa sepengetahuan orang tuanya, apalagi bersama laki-laki yang bukan muhrimnya, juga di tempat sepi yang justru memang terkenal sebagai tempat berprilaku bejat. Untuk apa tengah malam di tempat itu kalau tidak untuk berbejatria?! Apakah ada yang membela bahwa mereka berdua sedang belajar bersama? Lucu!

Sekarang, ibarat nasi sudah menjadi bubur. Sudah terlanjur. Konon, cideranya dibawa ke rumah sakit, harus dengan operasi besar-besaran dan jahitan tidak sedikit. Dan tentunya dengan biaya yang tidak murah, 40 jutaan kalkulasinya. Ternyata kenikmatan sesaatnya harus dibayar amat mahal, harta habis, dan kecantikan yang selama ini dibangga-banggakan sedikit banyak tidak akan kembali ke semula. Kecantikan yang cacat. Lebih na’as lagi, harga diri dan keluarga yang tersungkur dalam-dalam dan sepanjang masa. Orang akan tetap menilai dan selalu ingat, bahwa dia anak yang pernah begitu.

Begitulah kiranya tanda-tanda kebesaran Tuhan. Tuhan telah menetapkan hukum, keburukan akan tetap tumbuh keburukan sebagai akibatnya. Dan keburukan tetap tidak akan bertahan lama. Innal baathila kaana zahuuqaa (QS, Al-Isra’). Sesungguhnya keburukan pasti akan musnah.

Coba direnungi, termasuk keterkenalan anak itu adalah paling gemar menampakkan auratnya dengan berpakain cekak atau bikini, bangga memperlihatkan-maaf-pahanya yang putih mulus, memamerkan buah dadanya yang montok, dan hampir semua keindahan yang dimilikinya seakan sengaja dipamer-pamerkan, lalu Tuhan dengan tanpa disangka memberikan pelajaran yang pas sebagai sebuah akibat, pahanya sobek dan tulang-tulangnya retak, sehingga apakah mungkin selanjutnya dia akan membanggakan paha mulusnya lagi?  Tidak mungkin karena tetap saja tidak mulus lagi alias cacat. Syukur-syukur, semoga tidak sampai diamputasi. Dengan demikian, Tuhan seakan sengaja memastikan agar dia tidak bisa ikut menyemarakkan maksiat lagi dengan bagian tubuhnya dan perilakunya itu.

Maka dari itu, dipikir-pikir-selain baginya-ini juga pelajaran bagi kita semua, sebelum berbuat suatu keburukan kita selalu diingatkan agar dipikir-pikir dahulu, jangan sampai terjadi, sebab, ya itu, akibatnya amat menyakitkan.

Namun, betapapun demikian ngenasnya yang dialami gadis cantik itu, bagi kita lebih-lebih gadis apes itu,  harus berpikiran bahwa kejadian itu bukan akhir dari segala-galanya baginya. Dan atau bukan berarti Tuhan telah membuangnya. Justru Tuhan malah menunjukkan kasih sayangnya. Bayangkan saja, untung Tuhan tidak langsung mengadzabnya dengan mencelakakan sakaligus mematikannya, tapi masih diberi sisa kehidupan agar dia masih memiliki kesempatan dan peluang untuk bertobat dan memperbaiki diri di dunia ini, meski dengan kondisi diri yang tidak seperti dulu lagi. Batapa banyak orang-orang yang langsung diadzab oleh Tuhan ketika sedang berprilaku maksiat dan berbuat dosa tanpa ada kesempatan umur lagi untuk memperbaiki diri?! Na’udzubillahi min dzaalik.

Akhirnya, kita sebagai manusia, bagaimanapun dia tetap saudara kita juga, manusia yang masih memiliki nurani. Dengan begitu, selanjutnya kita tidak perlu lagi menyebut dia terhina atau nakal, atau wanita bejat, atau bahkan pelacur, akan tetapi sejatinya dia adalah saudara kita yang sedang tergelincir dari jalan lurus yang butuh kebersamaan dengan kita untuk membangun masa depan yang lebih cemerlang.

Lebih dari itu, mari kita tinggalkan kebiasaan buruk seperti yang terjadi pada teman cantik itu, mumpung belum terjadi pada diri kita. Nasi kita belum menjadi bubur. Berpikir matang-matang sebelum bertindak, boleh atau dilarang, baik atau buruk, dan pantas atau tidak. Fakkir qabla an ta’zim. Berpikirlah sebelum bertindak.

Lebih-lebih seorang wanita, apakah tidak berpikir, ketika menggemari kemaksiatan bahwa wanita itu memiliki nilai tinggi yang harus dijaga rapi-rapi, yaitu kesuciannya. Tegakah membiarkan kesuciannya itu dikoyak-koyak dulu oleh para lelaki yang tak bertanggung jawab dan tidak ada hubungan apa-apa dalam hidupnya dan lalu mereka pergi begitu saja setelah mengoyak-ngoyak nilai satu-satunya pada dirinya itu, sedangkan bekas-bekasnya nanti dipersembahkan kepada sang suami yang akan berjuang bertanggung jawab sepanjang hidupnya?! Na’udzubillah, amat konyol sekali. 

Bagi diri saya pribadi, saya ingat, kira-kira tidak sampai semingguan dari kejadian itu, saya pernah mengingatkan gadis itu sambil setengah bercanda via pesat singkat. Begini, dik dlm pergaulan kini kmu hrs sllu ati-ati, kmu cantiq, apalagi skrng bnyk Fahtonian-fathonian atau Lutfian-lutfian (untuk menggarbarkan orang yang suka wanita-wanita cantik, karena sedang marak-maraknya berita Fahonah dan Lutfi Hasan yg terjerat kasus korupsi dan penggila wanita-wanita cantik) di skitar qt yg mngincar gdis2 cntik, nanti kamu slah 1 yg diincar, eman-eman, he…..

“Oke boz, aq selalu berhati-hati, perjalananq masih jauh maz. Balasnya dengan singkat.

Perjalananku masih jauh, katanya. Saya selalu ingat itu, ternyata masih baru diucapkan tak sampai seminggu dia sudah tergelincir jauh. Tapi bagaimanapun, bangunlah dari ketergelinciran itu, masih ada waktu untuk melanjutkan perjalanan yang masih amat amat jauh itu. Yang telah terjadi biarlah berlalu, dan tatap masa depan lebih tajam dengan peluang yang tersisa.  Biarlah kita menjadi ban dalam yang meski telah terlanjur bolong-bolong, jangan dibuang, tapi mari kita tambal ban dalam itu kuat-kuat lalu tutup dengan ban luar yang bagus, maka cepat lambat tambalan itu tidak akan tampak lagi sekaligus kita bisa melanjutkan perjalanan yang masih jauh itu dengan gagah lagi.

Perjalanan kita masih panjang dengan nafas yang amat pendek. Maka, saudara-saudaraku, selalu waspadalah dan hati-hati. Serta katakanlah selalu dalam bathin kita,  hidup di dunia ini sementara saja, dan masa depanku lebih indah dari pada segalanya.