Sabtu, Juli 13, 2013

Happy Birthday, Antara Partisipasi Manis dan Rasa Sedih

(Catatan Kecil sebagai kenangan buat saudara-saudariku yang telah memiliki kepedulian manis dengan Ultah saya, 12 07 2013)

Happy Birthday
Wish you all the best, and we hope
you can be a good teacher for us
Sincerely
Your students
Kemarin hari, jum'at 12 07 2013 adalah pas tanggal ulang tahun kelahiran saya, setelah 30 tahun yang lalu pertama kali saya nongol ke dunia yang sesak tapi indah ini. Hari itu Rabu 12 07 1984.

Terus terang, hari ini saya merasa mendapatkan perlakuan ulang tahun kelahiran yang sangat amat spesial sekali. Betapa tidak, karena sebelum-sebelumnya saya tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti ini, memperoleh ucapan selamat dan doa atau hadiah dari teman-teman yang terasa sangat menyenangkan. Jangankan orang lain mengenang tahun kelahiran saya, saya sendiri tidak peduli itu. Sepanjang hari seakan sama bagi saya. Hari dan tanggal kelahiran berlalu begitu saja.

Sebabnya, bagi saya yang hidup di desa, sejak kecil saya tidak kenal yang namanya ultah dan memang belum pernah ada budaya ultah di sekitar lingkungan saya tinggal. Memang, sejak kecil emak saya saban hari Rabu Kliwon membuat jenang warna lima dengan secangkir kopi hitam dan di taruh di atas meja belajar saya. Lalu, emak memanggil Bapak dan saya untuk membacakan doa-doa, saya hanya bisa mengucapkan amin. Setelah semalaman rapi berada di atas meja, pagi harinya emak menyuruh saya menghabiskan jenang warna warni itu sebelum berangkat sekolah. Setelah saya tanya untuk apa semua itu, emak menjawab buat selamatan hari kelahiran saya, agar saya selamat dan jadi anak yang pintar dan saleh, katanya. Ya, itu, emak hanya bilang "selamatan hari kelahiran" tanpa memperhatikan penanggalannya tapi dengan pasaran harinya, jadi tiap bulan. Sehingga, meski sejatinya sejak kecil hari kelahiran saya sudah diulang tahunkan, bahkan diulang bulankan oleh emak saya, saya tidak kenal yang namanya ultah semacam sekarang. Apalagi pakai seremonial-seremonial nyanyi segala. Kalau ingat perlakuan cara emak saya mengenang kelahiran saya itu, sungguh terasa sebagai seremonial yang indah sekali, unik, dan penuh makna.

Saya juga pernah ikut istilah acara ultah anak tetangga yang kebetulan ibunya berasal dari daerah yang agak ngota beragama Kristen. Namun waktu itu saya tidak terpikir istilah acara ultah ini, yang saya pikirkan waktu itu adalah dikira ritual budaya kristen karena ada nyanyi-nyanyinya. Apalagi istilah Happy Birthday.

Kenalnya istilah acara ultah itu adalah saat saya di pondok. Itupun saya tetap tidak peduli karena sejak dulu memang tak terpikirkan tentang istilah ultah saya, meski teman-teman di pondok biasa merayakan ultahnya. Dilihat dari latar belakang ini, mungkin seakan keterlaluan adanya, alias amat ketinggalan. Tapi bagaimana lagi memang begitu adanya.

Maka dari itulah, ultah saat ini terasa amat spesial sekali. Ultah saya pertama kali diperilakukan seperti ini dan berbeda cara serta istilah dari yang dirayakan emak saya dulu, itupun karena teman-teman via online yang memulai karena memang tanggal kelahiran saya tercantum di page profil fb saya. Andai tidak dimulai dulu oleh mereka sudah pasti saya tetap tidak ingat, apakah telah tiba ultah saya atau belum. Akan terasa seperti biasa-biasa saja, berlalu tidak ada apa-apa. Dari sini saya juga berpikir, ternyata persahabatan via online juga tidak kalah manfaatnya dari persahabatan yang berhadapan langsung tiap hari.

Dari latar belakang ini, saya yakin teman-teman akan berpikir, amat lucu! Saya pun jika ingat itu juga berpikiran, lucu sekali! He..

Maka dari itu, spesial buat teman-teman yang telah ikut peduli dan berpartisipasi mengekspresikan ultah saya ini, baik berupa catatan ucapan selamat, doa, pemberian hadiah, ataupun yang hanya sekedar melirik tanda ultah saya telah tiba di page fb saya yang tak sempat berbuat apa-apa, saya ucapkan terima kasih tak terhingga sekali kepada saudara-saudari. Dan, catatan ini sebagai saksi bahwa saudara-saudari adalah orang yang amat baik yang memiki semangat dan kepedulian yang manis di dalam semangat persahabatan dan persaudaraan.

Soal tradisi ultah ini, lebih detailnya saya tidak tahu, bagaimana latar belakang kemunculannya. Sampai saat ini saya belum sempat untuk menelusurinya lebih jauh.
Sebagai orang yang beragama terutama Islam bisa jadi kita akan merasa penasaran sambil dikait-kaitkannya dengan agama, apa hukumnya ultah? Adakah di dalam ajaran Islam?

Jawabannya, kita hubungkan saja dengan Maulid Nabi Muhammad saw, meski pada asalnya tidak pernah ada dalam ajaran formal Islam sehingga menimbulkan perbedaan pendapat. Yang menganggapnya Bid'ah, tentunya ini dilarang karena tidak pernah ada dalam ajaran Rosul sehingga arahnya sesat dan berdosa yang muaranya ke neraka. Adapun yang menganggapnya bid'ah tapi baik, ini pasti membolehkannya. Begitu juga kita kembalikan kepada ultah, bahasa lain dari maulid, untuk Rosul berarti Ultah Rosul, tentunya ini sama, penuh kontraversi.

Akan tetapi, bagaimanapun itu, bagi saya pribadi, yang terpenting niatnya dan caranya saja. Artinya, bila niat merayakan ultah itu betul-betul tidak keluar dari ajaran Islam, maka itu sah-sah saja. Misalnya, semata-mata mensyukuri nikmat Allah karena telah selamat dengan bertambahnya usia; sekaligus sebagai perenungan kolektif bahwa peluang umur jangan sampai disia-siakan dengan hal-hal yang tidak bermanfaat karena tetap akan berlalu tanpa kembali. "Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan mensyukuri)." (QS, 93:11)

Lebih dari itu, adalah diniatkan untuk mempererat tali persahabatan dan persaudaraan (ajaran silaturrohim), karena meski hadir sekedar mengucapkan selamat ultah, ini cukup membuat seseorang menjadi amat bahagia dan bersemangat. Dan ini bagi saya secara tidak langsung termasuk saling menyemangati sebagai bagian dari prinsip luhur ingat mengingati. "Oleh sebab itu berikanlah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat." (QS, 87:9)

Adapun mengenai caranya, juga harus tidak keluar dari garis-garis ajaran Islam. Misalnya, berupa pengundangan makan bersama, dalam artian untuk bersodaqah sehingga makin akrab atau tambah teman. Atau, memberikan kenangan hadiah, berupa barang-barang yang bermanfaat, lebih-lebih digunakan untuk beribadah.

Selain itu, bisa berupa saling bersalaman, apalagi diadakan khotmil Quran, pengajian umum, santunan yatim piatu, dan cara-cara lainnya yang sesuai dengan tuntunan Islam. Maka, dengan niat dan cara yang tidak menyimpang dari haluan Islam itu, bagi saya pribadi khususnya, ultah ini sah-sah saja. Terlebih lagi, kalau dikaitkan dengan pengembangan kemaslahatan hidup di dunia ini. Sebagaimana kita sering dengar ajaran Rosul yang kira kira isinya begini, duniamu adalah urusanmu.

Kecuali, niat atau caranya salah apalagi konyol. Misalnya, ultah dengan niat pamer atau sombong-sombongan, atau dengan cara pesta dugem, mabuk-mabukan, kumpul kebo, dan keburukan lainnya. Pun, meski ajarannya betul-betul Islami tapi cara dan niatnya salah, ya juga tidak sah. Misalnya, ada di sekitar penduduk pesisir pantai selatan yang pada saat tiba peringatan Maulid Nabi saw mereka merayakannya dengan membuat tumpengan raksasa lalu digotong oleh pemuda yang kuat-kuat ke arah pantai lantas dilemparkan atau dihanyutkan di tengah-tengah ombak sebagai sesajen untuk penguasa selatan agar kehidupan mereka aman tentram. Ini sangat salah dan tentunya hukumnya haram bahkan syirik.

Di sisi lain dari ekspresi saya atas kebahagian ultah ini, ada sisi sedih yang harus juga saya ekspresikan dengan catatan sederhana ini. Yakni, sejatinya dengan bertambahnya umur dipikir-pikir berarti semakin kurang jatah hidup saya di dunia ini. Atau dengan kata lain, makin berkurang peluang waktu saya untuk berbuat di dunia ini.

Umpamanya, andai saya diukur sama Allah hanya berumur tinggal 30 tahun, maka dengan bertambahnya umur saya tahun ini berarti jatah 30 tahun itu berkurang menjadi tinggal 29 tahun lagi mau mati. Apalagi jatahnya cuma tinggal 5 tahun lagi berarti dengan ulang tahun kali ini menjadi tersisa hanya tinggal 4 kali lagi saya berulang tahun lalu dipendam di kuburan.

Ya Tuhan! Coba ini direnungi dan disadari. Lalu kalau demikian sejatinya, jadi, sama halnya, apakah pantas kita merayakan dengan bangga acara kedekatan dengan kematian ini?!

Ya Tuhan...! Tentunya kita sedih. Sedih bukan karena kita terlalu ambisi dengan kenikmatan hidup di dunia, tapi sedih karena kita belum bisa berbuat apa-apa untuk Agama, kedua orang tua, nusa, dan bangsa. Maka, kita tidak mau mati konyol. Hidup hanya untuk bisa makan minum atau hura-hura begitu saja. Lantas, akhirnya menjadi bangkai yang tak berarti. Na'uzdubillah.

Akhirnya, wahai sahabat-sahabat dan saudara-saudari saya yang lembut dan baik hatinya, sekali lagi saya hanya mampu mengucapkan terima kasih tak terhingga atas kepedulian dan partisipasi manisnya terhadap ultah saya. Dan, cacatan ini menjadi kenangan sekaligus saksi bahwa kalian adalah jiwa-jiwa yang manis.

Juga, terspesial buat adik-adikku yang memiliki mimpi bersama terwujudnya Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) dan Paguyuban Masyarakat Qur'ani (PMQ) JAGAT QUR'AN JATIKERTO, suara hati suci kalian yang terangkai indah dalam catatan manis di atas adalah menjadi kenangan terindah dalam langkah mimpi-mimpiku. Dan, kalian adalah cikal bakal suci lahirnya mimpi-mimpi indah itu. Thanks so much n lovingful for all as always. Wassalam.

Wallahu'lamu bisshowab.
 

Senin, Juli 08, 2013

Santet dalam Jalinan Asmara


Kemarin hari, Senin 07 07 2013, datang seorang tamu yang umurnya kira-kira 60an, cukup bisa dibilang lumayan sudah sepuh. Anggaplah namanya Pak Misal. Tujuannya saya pikir aneh, shering soal istrinya yang telah mengajukan gugatan cerai ke instalasi terkait.

Sudah berbagai cara ditempuh untuk mengurungkan gugatannya. Tapi, istrinya sudah memasang harga mati.  Dia tidak mau sekali berpisah dengan istrinya itu.

Di tanya sebabnya, singkatnya, konon akibat ulah  menantunya  yang ada relasi dan niat spesial dengan istrinya itu. Istri menantunya itu memang anak tirinya, istrinya itu memang istri kedua setelah istri pertamanya meninggal dunia . Sehingga disinyalir memang sengaja untuk memisahkannya dari ibunya itu agar dirumah itu menantunya itu menjadi satu-satunya lelaki yang berkuasa di rumah atau di tengah-tengah keluarga yang memang lumayan kaya itu.

Tidak tahu sebabnya, kenapa Pak Misal itu amat ngebet  sekali untuk tidak berpisah dengan istri keduanya itu yang padahal belum punya anak sama sekali meski kira-kira telah dua tahun berlalu menjalin keluarga. Apakah justru dia seperti yang dituduhkan ke menantunya itu, ingin hartanya, atau eman-eman dengan kecantikannya, atau memang semata-semata keutuhan keluarga lillahita’ala. Saya tidak tahu itu.

Saya cuma heranya,  termasuk inti dari curhatnya itu solusi pamungkas yang dipilihnya adalah menyantet menantunya itu sekiranya tewas. Karena rupanya memang sangat pasti sekali bahwa yang membuat ulah itu adalah menantunya itu, lebih-lebih ada hubungan amat tak terduga dengan istri yang amat dicintainya itu. Konon, solusi santet itu dihalalkan oleh seorang ustazd sebagai hasil dari terawangannya bahwa telah pasti menantunya itu yang telah mendloliminya. Saking dilihat amat kejam kedlolimamnya itu sehingga halal untuk dibunuh meski dengan cara santet.  Selain karena memakai santet lebih menyelamatkan dari penjara.

Dalam kesempatan ini, karena beberapa keterbatasan, sementara saya ingin meringkas soal santetnya saja. Yakni, santet memang betul adanya. Karena kejengkelan, atau sakit hati, atau balas dendam dan sudah tidak ada cara lain untuk mengekspresikan kejengkelannya itu, seseorang bisa saja memakai jalan pintas yaitu santet atau sejenisnya
  
Santet ini memang sudah ada sejak zaman Para Nabi yang dikenal dengan sihir. Dikisahkan Nabi Muhammad SAW konon juga pernah disihir seorang kafir. Bahkan, Al-Quran jauh-jauh telah menjelaskan, “ Dan diantara laki-laki dari golongan manusia meminta bantuan kepada golongan jin. Padahal mereka (golongan jin) hanya menambah kesesatan (kecelakaan/kerusakan) bagi mereka (manusia yang minta bantuan).(Qs, Al-Jin)

Jadi, yang namanya santet atau sihir itu tidak ada yang halal bagaimanapun adanya. Maka, kalau ada orang yang menghalalkan santet itu, siapapun itu, ustadz atau kiai apalagi dukun, itu adalah hanya berdasarkan kebodohan dan fitnah syetan belaka.

Akhirnya, mari kita serahkan segala urusannya hanya kepada Allah SWT semata, dan selalu berikhtiar untuk selalu berperilaku baik dan berjalan di jalan-Nya semata. Kebenaran akan tetap benar dan menang, sedangkan kebathilan bagaimanapun adanya tetap akan musnah. “Innal baathila kaana zahuqaa.( Al-Isra’)