Senin, Juli 08, 2013

Santet dalam Jalinan Asmara


Kemarin hari, Senin 07 07 2013, datang seorang tamu yang umurnya kira-kira 60an, cukup bisa dibilang lumayan sudah sepuh. Anggaplah namanya Pak Misal. Tujuannya saya pikir aneh, shering soal istrinya yang telah mengajukan gugatan cerai ke instalasi terkait.

Sudah berbagai cara ditempuh untuk mengurungkan gugatannya. Tapi, istrinya sudah memasang harga mati.  Dia tidak mau sekali berpisah dengan istrinya itu.

Di tanya sebabnya, singkatnya, konon akibat ulah  menantunya  yang ada relasi dan niat spesial dengan istrinya itu. Istri menantunya itu memang anak tirinya, istrinya itu memang istri kedua setelah istri pertamanya meninggal dunia . Sehingga disinyalir memang sengaja untuk memisahkannya dari ibunya itu agar dirumah itu menantunya itu menjadi satu-satunya lelaki yang berkuasa di rumah atau di tengah-tengah keluarga yang memang lumayan kaya itu.

Tidak tahu sebabnya, kenapa Pak Misal itu amat ngebet  sekali untuk tidak berpisah dengan istri keduanya itu yang padahal belum punya anak sama sekali meski kira-kira telah dua tahun berlalu menjalin keluarga. Apakah justru dia seperti yang dituduhkan ke menantunya itu, ingin hartanya, atau eman-eman dengan kecantikannya, atau memang semata-semata keutuhan keluarga lillahita’ala. Saya tidak tahu itu.

Saya cuma heranya,  termasuk inti dari curhatnya itu solusi pamungkas yang dipilihnya adalah menyantet menantunya itu sekiranya tewas. Karena rupanya memang sangat pasti sekali bahwa yang membuat ulah itu adalah menantunya itu, lebih-lebih ada hubungan amat tak terduga dengan istri yang amat dicintainya itu. Konon, solusi santet itu dihalalkan oleh seorang ustazd sebagai hasil dari terawangannya bahwa telah pasti menantunya itu yang telah mendloliminya. Saking dilihat amat kejam kedlolimamnya itu sehingga halal untuk dibunuh meski dengan cara santet.  Selain karena memakai santet lebih menyelamatkan dari penjara.

Dalam kesempatan ini, karena beberapa keterbatasan, sementara saya ingin meringkas soal santetnya saja. Yakni, santet memang betul adanya. Karena kejengkelan, atau sakit hati, atau balas dendam dan sudah tidak ada cara lain untuk mengekspresikan kejengkelannya itu, seseorang bisa saja memakai jalan pintas yaitu santet atau sejenisnya
  
Santet ini memang sudah ada sejak zaman Para Nabi yang dikenal dengan sihir. Dikisahkan Nabi Muhammad SAW konon juga pernah disihir seorang kafir. Bahkan, Al-Quran jauh-jauh telah menjelaskan, “ Dan diantara laki-laki dari golongan manusia meminta bantuan kepada golongan jin. Padahal mereka (golongan jin) hanya menambah kesesatan (kecelakaan/kerusakan) bagi mereka (manusia yang minta bantuan).(Qs, Al-Jin)

Jadi, yang namanya santet atau sihir itu tidak ada yang halal bagaimanapun adanya. Maka, kalau ada orang yang menghalalkan santet itu, siapapun itu, ustadz atau kiai apalagi dukun, itu adalah hanya berdasarkan kebodohan dan fitnah syetan belaka.

Akhirnya, mari kita serahkan segala urusannya hanya kepada Allah SWT semata, dan selalu berikhtiar untuk selalu berperilaku baik dan berjalan di jalan-Nya semata. Kebenaran akan tetap benar dan menang, sedangkan kebathilan bagaimanapun adanya tetap akan musnah. “Innal baathila kaana zahuqaa.( Al-Isra’)

1 komentar: