Minggu, Desember 22, 2013

ANEKA JALAN MENUJU ALLAH


Oleh: Ali Sabilullah, S.Fil.I

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّلَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَلَكَ سَبِيْلَهُ وَاهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن
. أَمَّا بَعْدُ
فيا عبادالله, أوصيكم و إياي نفسى بتقوى الله. فقد فاز المتقون وخاب الطاغون. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
Para Jama’ah salat Jum’at yang dicintai Allah.
Pada kesempatan emas ini sekaligus di tempat yang suci ini, alangkah indahnya kalau kita senantiasa memulai sesuatunya dengan mengedepankan ungkapan rasa syukur yang tak terhingga hanya kepada Allah swt, atas segala nikmat yang telah dilimpahkan kepada kita.
Kemudian, salawat beserta salam selalu kita haturkan kepada junjungan kita, pencerah kehidupan, Nabi tercinta Muhammad saw. Yang telah mendidik kita untuk menjadi manusia yang penuh dengan welas asih demi keselamatan dan kebahagiaan bersama di dunia lebih-lebih di akherat kelak.
Sebagai khotib, saya mengajak diri saya pribadi dan saudara-saudara sekalian untuk selalu dan selalu menjaga dan meningkatkan kualitas iman dan taqwa kita kepada Allah swt, yang dalam hal ini saya akan membawa sebuah tema terkait dengan ‘Aneka Jalan Menuju Allah’.
Saudara-saudaraku jama’ah salat Jum’at yang dimulyakan Allah.
Dalam kitab kifayatul Atqiya’ Karya Assyyid Abi Bakar Al-Ma’ruf  bi Sayyid Bakar Al-Makki Beliau menulis, ada banyak jalan menuju Allah, diantaranya yang biasa dilakukan oleh orang-orang saleh dibedakan menjadi 4 jalan. Pertama, duduk diantara manusia untuk mengajari dan memberi mereka ilmu atau petunjuk untuk melakukan ibadah dan berakhlak mulia. Kedua, memperbanyak dzikir atau jenis-jenis ibadah formal lainnya seperti salat, puasa, membaca Al-Quran, dan bertashbih. Ketiga, membantu para ahli fikih, para sufi, atau orang-orang yng memperjuangkan Islam. Dan Keempat, mencari kayu bakar atau pekerjaan lainnya dan dijual di pasar demi kejujuran dan kehalalan buat kebutuhan keluarga.
Saudara-saudaraku jama’ah salat Jum’at yang dirahmati Allah.
Jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah itu dalam ilmu fikih disebut tarekat, dan dalam istilah tasawwuf di sebut suluk, sedangkan dalam budaya jawa disebut tirakat. Jadi jikalau istilah ini dikaitkan dengan macam jalan di atas maka ada 4 macam jalan mendekatkan diri kepada Allah, atau tarekat, suluk, atau tirakat itu.
Yang pertama, duduk diantara manusia untuk mengajari dan memberi mereka ilmu atau petunjuk untuk melakukan ibadah dan berakhlak mulia. Di sini contohnya adalah para guru, ustazd, kiai, motivator, dan sejenisnya. Pada intinya, siapapun orangnya meskipun tidak berpredikat guru, ustadz atau kiai, tapi dia memiliki ilmu dan mengajarkannya, atau saling menasehati untuk kebenaran, beribadah, dan berakhlaq mulia maka dia termasuk golongan tarekat ini.
Sebab, dengan ilmu yang diajarkan atau petunjuk yang diberikan, maka seseorang yang pada awalnya tidak tahu menjadi tahu, orang yang tidak salat menjadi salat, atau orang yang salatnya jarang-jarang menjadi sregep salatnya, atau seseorang yang suka maksiat berubah menjadi taat kepada Allah, atau orang yang prilakunya buruk menjadi orang yang prilakunya santun dan berakhlaq mulia. Oleh karena itu, sampai-sampai Imam Ghozali mengibaratkan orang ini seperti mentari yang bisa bersinar untuk dirinya sendiri sekaligus dapat menyinari yang lainnya. Atau, seperti minyak wangi yang selain harum dirinya sendiri juga dapat mengharumkan yang lainnya.
Sebagaimana firmal Allah swt dalam surat Al-‘Ashr ayat 1-3:
وَالْعَصْر إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْر
Artinya, Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.”
Saudara-saudaraku jama’ah salat Jum’at yang dirahmati Allah.
Tarekat yang kedua adalah memperbanyak dzikir atau jenis-jenis ibadah formal lainnya seperti salat, puasa, membaca Al-Quran, bertashbih, dan sejenisnya. Jalan inilah yang sering disebut terekat-tarekat formal yang dijalani oleh kebanyakan orang-orang yang berkholwat, menyepi, atau menyendiri, atau orang yang menghususkan diri kepada amalan-amalan dzikir atau ibadah-ibadah spesial yang berasal dari silsilah-silsilah kelompok tertentu. Misalnya tarekat At-Tijaniyah, Naqsabandiyah, dan sejenisnya.
Selain itu juga, ada pengamalan yang di luar formal silsilah kelompok tarekat dzikir spesial tersebut, tapi hanya dirinya sendiri yang mengoptimalkan tata cara dan keyakinnya dalam melaksanakan ibadah syariat pada umumnya, seperti halnya orang yang mengistiqamahkan diri bangun dan dzikir malam, memperbanyak salat tahajjud, istigfar, dan amalan dzikir dalam syariat pada umumnya.
Sebagaimana firman Allah swt dalam surat Al-Baqarah ayat 45-46:
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلا عَلَى الْخَاشِعِين الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ َ
Artinya, Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.”
Saudara-saudaraku jama’ah salat Jum’at yang dirahmati Allah.
Tarekat yang ketiga adalah membantu para ahli fikih, para sufi, atau orang-orang yang sedang berjuang di jalan Allah. Maksudnya, orang yang sedang berjuang menegakkan agama Allah atau orang yang membantu orang yang sedang berjuang di jalan Allah. Orang yang berjuang atau yang membantu, keduanya sama kedudukannya di depan Allah. Misalnya, para syuhada’ atau orang yang membantu para shuhada’, orang yang membangun pendidikan atau sarana-sarana ibadah seperti Masjid dan pesantren atau orang yang membantu pembangunan tersebut dengan tenaga maupun harta, dan sejenisnya.
Di sini, Allah memberi peluang bagi siapa saja untuk bisa ikut andil dalam memperjuangkan kebenaran atau agama Allah; Kalau kita tidak bisa menjadi Kiai untuk mengolah pesantren, maka kita diberi peluang oleh Allah untuk berkedudukan bersama dengan kiai, yaitu dengan apa yang kita miliki, misalnya menyumbang pesantren dengan harta yang kita miliki. Kalau kita tidak punya harta, maka bisa jadi dengan bantuan tenaga atau paling tidak dukungan moral dan do’a atau memondokkan anak kita di pesantren; Jikalau mungkin kita tidak mampu untuk berjuang menjadi ta’mir Masjid, maka Allah juga memberi peluang untuk berkedudukan bersama dengan posisi takmir Masjid di depan Allah, yaitu dengan membantu pembangunan atau pengembangan Masjid dengan harta, tenaga, maupun moral, atau paling tidak senang dan giat mengikuti salat jama’ah di Masjid.
Di samping itu, termasuk tarekat ini adalah mengistiqamahkan diri pada ajaran-ajaran moral agama yang biasa dilakukan oleh para sufi atau Assalufussaleh seperti prilaku santun dan welas asih kepada siapa saja, tawadlu’, dan sabar.
Sebagaimana yang ditegaskan Allah pada ayat sebelumnya, dalam surat Al-Baqarah ayat 45-46:
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلا عَلَى الْخَاشِعِين الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ َ
Artinya, “Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” Orang yang ini adalah orang yang selalu eling mati.
Dan saking ampuhnya tarekat ini menuju Allah, sampai-sampai Sulthonil Auliya’ Syeh Abdul Qodir Al-Jailany menegaskan, “Ma washoltu ilallahi ta’ala biqiyami lailin wa la shiyami naharin, walakin washoltu ilallahi bilkaromi, wat tawadlu’i wa salamatis shodri.” “Saya tidak sampai kepada Allah (berhasil dekat dengan Allah) dengan bangun malam, dan tidak dengan puasa terus menerus di siang hari, akan tetapi saya sampai kepada Allah dengan Akhlaq yang mulia, tawadlu’, dan selalu menjaga keselamatan hati.”
Rasullah saw menegaskan tentang ini yang artinya, "Barang siapa merendahkan diri kepada Allah SWT, maka Allah SWT akan angkat (kedudukannya di antara sesama makhluq-Nya)." (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Saudara-saudaraku jama’ah salat Jum’at yang dirahmati Allah.
Tarekat yang keempat adalah mencari kayu bakar atau pekerjaan lainnya, lalu dijual di pasar demi kejujuran dan kehalalan buat kebutuhan keluarga. Jelasnya, ini adalah usaha, pekerjaan, atau profesi yang sedang kita jalani.
Namun di sini bukan berarti sembarang profesi, tapi pada intinya usaha, pekerjaan, atau profesi yang menjaga prisip kejujuran dan kehalalan untuk mencukupi nafkah keluarga. Ini anugrah Allah bagi orang pada umumnya yang mungkin tidak mampu untuk menjalankan tarekat-tarekat mendekatkan diri kepada Allah yang sebelumnya. Misalnya, para pedagang, para petani, para buruh, para pemulung, tukang ojek, tukang becak, pembantu rumah tangga, bahkan pengemispun. Semuanya itu bisa menjadi tarekat jalan lintas menuju kedekatan diri kepada Allah dengan syarat bisa menjaga dan menegakkan hukum Allah berupa kejujuran atau kehalalan.
Kita mungkin bertanya, mungkinkah usaha-usaha di sini menjadi tarekat cepat mendekatkan diri kepada Allah tidak kalah dengan tarekat-tarekat formal? Jawabannya, lihatlah Rasul kita tercinta Muhammad saw, sebagai manusia yang paling sempurna pilihan Allah, yang tidak ada manusia yang lebih dekatnya dengan Allah selain Beliau, Beliau itu adalah seorang pedagang.
Beliau tidak akan pernah sempurna kedewasaan dan kerasulannya tanpa Beliau dididik secara langung oleh Allah melalui nasib menjadi seorang manusia yang sejak kecil sudah mandiri menghidupkan dirinya sendiri dengan mencari rizki yang halal dan menjaga kejujuran; mulai menjadi seorang pengembala kambing, buruh perdagangan, hingga menjadi pengusaha yang hebat. Saking hebatnya kejujurannya dalam berdagang sampai-sampai jeragannya sendiri jatuh hati kepada Beliau, yaitu Siti Khodijah Ra. Dan, Islam tidak akan pernah merata dan berkembang di segala zaman dan tempat kecuali melalui gerak Rasulullah saw dalam perdagangan itu yang pada gilirannya diwarisi oleh saudagar-saudagar Islam yang menyebar setelahnya.
Beliau sendiri menegaskan yang artinya, "Sebaik-baik pendapatan adalah pekerjaan seseorang melalui tangannya .(HR. Ahmad dan Ath-Thabrani)
Para Jama’ah salat Jum’at yang dicintai Allah.
Demikianlah macam-macam jalan, tarekat, atau suluk untuk manjadi manusia ingkang kradu utawi ingkang sae ing ngersani Gusti Allah swt, bahwa cara atau jalan menuju Allah itu banyak sekali. Allah betul-betul Maha adil, bijaksana, dan Maha Memahami kondisi dan potensi setiap hamba-Nya sepanjang masa. Yakni, dengan memberi kadar peluang atau kesempatan yang sama kepada masing-masing hamba-Nya sesuai dengan kondisi, posisi, atau potensi masing-masing. Karena Allah mencipta manusia dengan berbeda-beda dan beraneka ragam.
Jadi, bukan kareka orang yang selalu berpakaian putih-putih, berhaji, atau bersorban gagah; juga bukan karena yang selalu ada dalam Masjid, selalu ada di dalam pesantren, kiai, atau santri, akan tetapi siapapun itu dengan posisi dan profesi apapun itu, sama-sama dikasih peluang sama di depan Allah untuk menjadi orang yang cocok di sisi Allah. Jangan-jangan orang yang tampak penuh kemelaratan, lusuh, dan bahkan seakan jauh dari ibadah justru mereka yang memiliki mati yang istiqamah.
Sungguh, dari itu marilah kita jangan pernah sedikitpun rumongso, hanya gara-gara kita sudah tidak pernah telat ke Masjid, atau memiliki amalan dzikir hebat tertentu lalu kita rumongso sudah menjadi orang yang paling saleh seraya menganggap orang yang tampaknya tidak pernah ke Masjid atau kehidupannya melarat sebagai orang yang tidak pernah salat lebih-lebih dianggap sebagai orang yang salah dan sesat.
Rasulullah menegaskan yang artinya, "Tidak sepatutnya orang yang benar itu menjadi orang yang suka mengutuk orang lain." (HR. Muslim)
Begitu juga pada sisi yang lain, mari kita jangan keder, kawatir, atau kecil hati, atau bahkan patah hati dengan kondisi, posisi, potensi atau nasib yang ada pada diri kita masing-masing: yang para petani silahkan Anda bertarekat mendekatkan diri kepada Allah dengan cangkul-cangkul atau tanaman-tanaman anda; Yang para buruh silahkan Anda bersuluk menuju Allah dengan keringat-keringat keras Anda; Yang para pedagang silahkan Anda berjalan menuju Allah dengan jual beli Anda; para kiai dengan nasehat-nasehatnya; para guru atau ustadz dengan pengajarannya; para santri, siswa, atau mahasiswa dengan belajarnya; para pejabat dengan kebijakan-kebijakan adilnya; para dokter dengan terapi-terapinya; para tukang becak dengan ayunan kakinya; pun para pengemis bisa jadi Allah dengan rahmat-Nya menjadikan tiap tadahan tangannya sebagai tarekat sukses menuju kepada-Nya.
Sebab, yang berhak menjadi penilai atau pemasti anggota sorga bukan diri kita sendiri, atau boyot-boyot kita, sesepuh-sepuh kita, apalagi sekedar pejabat atau tokoh, akan tetapi yang menentukan segalanya adalah hakim yang Maha Agung Allah swt yang Maha Bijaksana melalui prilaku-prilaku kita sendiri baik yang berhubungan dengan Allah, antara sesama, dan dengan lingkungan sekitarnya.
Dalam hal ini Allah menegaskan,
وَكَفَى بِرَبِّكَ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرً وَكَمْ أَهْلَكْنَا مِنَ الْقُرُونِ مِنْ بَعْدِ نُوحٍ
Artinya, “Dan berapa banyaknya kaum sesudah Nuh telah Kami binasakan. Dan cukuplah Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Melihat dosa hamba-hamba-Nya.” (Al-Isra’: 17)
Begitu juga seluruh makhluq Allah yang lainnya, dengan kasih sayang-Nya mereka juga bersama-sama berdzikir atau bertarekat memuji Allah; bintang-bintang dengan gugusan-gugusannya; burung-burung dengan kicauannya; air dengan beriaknya; lautan dengan gelombangnya; batu-batu dengan kepadatannya; tanaman dengan dahan-dahannya; keris-keris dengan pamornya; pun mobil-mobil dengan deruannya.
Allah menegaskan ini dalam surat Al-Isra’ ayat 84,
قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَى سَبِيلا
Artinya, Katakanlah: ‘Tiap-tiap sesuatu berbuat menurut keadaannya masing-masing’. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.”
Para Jama’ah salat Jum’at yang dicintai Allah.
Namun demikian welas asih-Nya, adil, dan bijaksana-Nya Allah, lantas tidak seenaknya saja kita menjalaninya, ada hukum atau aturan agar diterima sebagai jalan lintas yang sah atau diakui di sisi Allah swt, yakni bentuk cara atau jalan dan suasana hati. Kedua syarat inilah yang menjadi syarat mutlak menjadi jalan lintas yang sah. Sehingga keduanya harus selalu utuh. Artinya, caranya baik maka niatnya juga harus baik.
Akan menjadi batal apabila caranya tidak baik meski niatnya sudah baik. Seperti halnya sering kita dengar dengan bangga orang bersemboyan, mencuri untuk nolong orang, atau bershodaqah dari hasil cara korupsi. Atau, niatnya lillahita’ala memenuhi nafkah keluarga, tapi dengan cara bekerja sebagai penyanyi biduan, atau dengan goyangan asolelean yang sekarang sedang marak digemari masyarakat.
Begitu juga sebaliknya, caranya benar tapi niatnya salah, ini juga tertolak. Misalnya, giat salat jama’ah di Masjid, tapi niatnya agar dipuji orang. Atau giat berzakat tapi untuk mendokrak pangkat. Apabila cara dan niatnya sudah begitu, maka menjadi batal atau gagal menjadi tarekat menuju Allah.
Semua itu karena sudah menjadi hukum atau ketentuan paten Allah. Allah telah tegas-tegas membagi antara yang haq dan yang bathil. Dua sisi aturan Allah yang jauh berlawanan. Yang haq adalah perintah Allah sandingnya adalah kepatuhan, dan yang bathil adalah larangan Allah pasangannya adalah pelanggaran. Kepatuhan tetap kepatuhan sedangkan pelanggaran tetap pelanggaran. Tidak ada kepatuhan campur aduk dengan pelanggaran atau pelanggaran dengan kepatuhan. Nah, di sinilah keutuhan itu, cara dan niatnya harus sama-sama di dalam garis Allah yang namanya haq.
Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Isra’ ayat 81,
وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا
Artinya, Dan katakanlah: ‘Yang benar telah datang dan yang bathil telah lenyap’. Sesungguhnya yang bathil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.”
Pada sisi lain, meskipun demikian halnya hukum Allah, karena welas asihnya Allah, Allah tetap memberi peluang atau kesempatan buat hamba-hamba-Nya yang terjerumus kepada kebathilan atau pelanggaran tersebut, yaitu satu-satunya jalan atau tarekat atau suluknya adalah taubat nasuha. Maka, wahai saudaraku-saudaraku yang sedang sedang tergelincir hobi maksiat, para penggila oplosan, para penggemar togel, para pegoyang asolelean, para biduan, dan sejeninsya, ketahuilah Allah masih amat sangat sayang kepada kita dengan memberi peluang luas untuk kita berupa pertobatan dengan sebenar-benarnya tobat mumpung nafas kita masih bisa bergerak di dalam tubuh kita. Marilah kita belajar kepada berapa banyak saudara-saudara kita yang matinya konyol, belum sempat menegakkan salat dan matinya dalam keadaan bermaksiat. Na’udzubillah…
Para Jama’ah salat Jum’at yang dicintai Allah.
Pada akhirnya, marilah kita selalu memperbaiki diri sendiri untuk selalu istiqamah mena’ati Allah dan Rasul-Nya, saling welas asih dan husnudhon baik sangka antara sesama siapapun dan bagaimanapun, serta buang jauh-jauh perasaan rumongso, arogansi, atau sombong diri seraya su’udon buruk sangka kepada yang lain.
Sebagaimana sabda Rasul saw, "Janganlah engkau meremehkan sekecil apapun perbuatan baik itu, walaupun hanya dengan berwajah manis saat bertemu saudaramu." (HR. Muslim)
Demikianlah isi khutbah yang mampu saya sampaikan, semoga menjadi tarekat tersendiri untuk menjadi manusia yang sama-sama cocok di sisi Allah swt.

Khutbah Kedua
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ؛ قَالَ اللهُ تَعَالَى: اَلْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلاَ تَكُوْنَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِيْنَ.
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
Ya Allah ya Tuhan kami yang maha Pengasih dan Bijaksana, jadikan kami ya Allah sebagai hamba-hamba-Mu yang berhati bersih, yang penuh saling welas asih, dan jauh dari hati yang kotor, jiwa yang arogan, sikap merasa benar sendiri, prilaku sombong, dengki, dan saling merendahkan di antara sesama kami.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar