Senin, Desember 02, 2013

Pengakuan Perampok dan Amalan Ampuh

Satu mingguan kemarin, 15112013, saya bercakap-cakap dengan seorang perampok besar yang berniat tobat.

"Mas, di antara pengalaman pean selama kurang lebih puluhan tahun menjadi bajingan, ada pengalaman yang paling berkesan ga' yang ditemui saat ngrampok?" Tanyaku penasaran.

"Ada!" Jawabnya tegas.

"Sejak jadi perampok puluhan tahun, saya sering bertemu dengan orang hebat tidak mampan dibacok dan lihai bersilat, tapi untuk yang gitu-gitu itu saya masih memiliki akal untuk menghadapi, pakai tembak beres, atau paling tidak saya selamat. Hanya ada satu pengalaman yang saya sendiri merasa ta'jub karena tidak bisa saya akali serta saya dan teman-teman tidak bisa menyelamatkan diri.

Suatu saat, saya mendengar kabar ada seorang keluarga yang menyimpan uang cash sebesar ratusan juta lebih, karena masih kurang dari harga mobil yang mau dibeli, sehingga harus menunggu pasnya. Mendengar kabar itu saya bagaikan ketiban rizki noplok dari langit. Maka tidak sabar menunggu-nunggu waktu lagi, malam berikutnya saya langsung bereaksi takut kehilangan momen super itu. Saya mengajak komplotanku berjumlah 5 orang dengan membawa mobil khas mavia, Tab beroda besar.

Kami tidak terlalu banyak teori atau terlalu matang mengatur strategi. Karena kami lihat, keluarga tersebut biasa-biasa saja, tidak terlalu ada yang istimewa yang membuat kami kawatir. Sepasang suami istri yang masih beranak satu perempuan masih belia. Kelebihannya mungkin yang kami amati sehari-harinya sekedar sebuah keluarga yang tampak sregep ibadah sehingga seakan keluarga ustadz. Tapi betapa demikian tidak terlalu menjadi kepikiran kami. Kami menganggap itu biasa-biasa saja. Sehingga kami main langsung srobot saja masuk ke rumahnya.

Malam itu, kira-kira lewat tengah malam, kami langsung masuk ke dalam pagarnya yang pas kebetulan tak terkunci, sehingga kami dengan enak sekali langsung memarkirkan mobil pas depan pintunya. Pun, lebih mulus lagi, pintu rumahnya juga tak terkunci. Kami senang sekali menemukan kondisi objek empuk seperti itu yang belum pernah kami alami sebelumnya. Kami masuk ke dalam rumahnya seakan rumah sendiri. Kami geledah semua kamarnya mencari di mana letak uang ratusan juta itu.

Masuk ke kamar pertama, saya melihat lelakinya sedang tidur pulas. Di sini saya sudah mulai merasakan keanehan, tidurnya terasa angker dalam penglihatanku, bersedekap. Saya merasa takut sehingga saya melewatinya begitu saja. Ah, agar tidak kalut dengan perasaan kawatir, saya langsung ke kamar yang berada di loteng. Di situ saya menemukan keanehan yang lebih lagi, terdengar sayup sayup suara lembut namun terasa lebih menggetarkan jiwa, saya lihat ternyata suara istrinya yang sedang khusuk berdzikir. Ah, lagi-lagi saya tidak mau kalut dengan keanehan, sehingga meski nurani juga tidak mampu untuk mengganggunya langsung saya tidak kehilangan akal, saya masuki kamar anaknya di sebelah lalu saya ambil sebagai sandraan.

Dengan cara begitu semuanya terjaga dari kondisi yang bagi saya tidak biasa itu, lelakinya terbangun dari tidur sedekapnya sedangkan istrinya tersadar dari dzikir sunyinya. Tak banyak ngomong, to the poin saja, segera saya tanya posisi uangnya dengan ancaman cloret yang telah mengalungi leher anak lugunya itu. Dengan posisi yang tampak tetap tenang, keduanya segera mengambil uang yang saya maksud. Langsung saya buka kopernya dan saya amati uangnya. Merasa betul-betul uang asli ratusan juta yang saya maksud langsung saja saya embat dan meninggalkan mereka.

Tapi, saya menemukan klimaks keajaiban yang tidak bisa saya akali lagi seperti sebelumnya, saat beranjak dari depan pasangan suami istri itu sambil membawa koper rizki nomplok itu, tiba-tiba semua sisi ruangan itu tanpak tertutup tembok putih terasa keras dan gagah sekali menutupi kami. Satu jendelapun tak tampak. Lebih-lebih pintu rumah yang tadinya terbuka lebar-lebar berubah menjadi tembok. Lebih hebat lagi, di hati dan akal kami terasa ada guncangan hebat yang membuat kami buntu dan lumpuh. Jiwa kami terasa tiada jalan lagi selain tiba-tiba kami merangkak tersungkur di hadapan kedua orang itu yang terasa justru tampak makin tenang, bersahaja, dan berwibawa. Kami akhirnya cuma bisa menangis minta ampun.

Sungguh, ini yang membuat kami lebih menyadari dan damai melihat orang itu, justru orang itu berkata lembut kepada kami, ‘Udahlah saudara-saudaraku, kalian jangan takut, tapi sadarlah, bekerjalah dengan yang lebih baik, kalau kalian menginginkan uang mintalah dengan baik kepadaku akan saya kasih. Ini buat kalian, dan tenanglah. Pintu saya sudah terbuka lebar-lebar kalau kalian ingin pergi. Dan juga terbuka lebar-lebar untuk kalian kembali. Kembalilah ke sini di hari yang lain untuk bersilaturrohim kepada kami. Kami anggap kalian saudara kami sendiri.’ Nasehatnya. Mendengar itu air mata kami malah makin deras sangat merasakan kedamaian yang luar biasa dari kelembutan sikap orang itu.

Singkat cerita, tanpa disangka uang yang disangukan kepada kami, perkami satu jutaan. Seminggu kemudian kami kembali lagi untuk bersilaturrohim sekaligus membawa keheranan apa kiranya ilmu yang dimiliki keluarga itu sehingga kami betul-betul kalah.
Gus, apa kiranya ilmu yang jenengan miliki yang membuat kami tak berdaya kemarin? Ajarkanlah kepada kami untuk bekal hidup kami sehingga kami tidak berpilaku hidup na’as itu lagi. Kami ingin menjadi orang yang lurus saja. Pinta kami.

‘Subhanallah, saya tidak memiliki ilmu atau amalan macem-macem, kalau kalian ingin tiru, kami hanya selalu berupaya takut lupa dan lalai pada Allah, sehingga kami selalu menjaga salat kami, kami meratapi diri dengan dzikir malam, dan selalu berupaya menapaki langkah Rasulullah. Selain itu, kami juga takut bermasalah dengan sesama manusia sekaligus segala ciptaan Allah di jagat ini dengan selalu menjaga prilaku baik, sabar, lemah lembut, welas asih dengan sesama. Itu saja.’ Tegasnya dengan lembut.

Mendengarnya kami cuma bisa manggut-manggut dan menunduk dengan mata berkaca-kaca. Akhirnya, kami sebagai komplotan perampok betul-betul mengakui tiada kehebatan di jagat ini selain mematuhi perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya. Itu saja.”

Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS, 2:45-46)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., Beliau berkata, telah bersabda Rasulullah saw, sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla berfirman, Siapa yang memusuhi seorang kekasih-Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya, dan tiada mendekat kepada-Ku seorang hamba-Ku, dengan sesuatu yang lebih kusukai daripada melaksanakan kewajibannya, dan selalu hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan melakukan sunah-sunah sehingga Aku sukai, maka apabila Aku telah kasih kepadanya, Akulah yang menjadi pendengarannya, dan penglihatannya, dan sebagai tangan yang digunakannya dan kaki yang dijalankannya, dan apabila ia memohon kepada-Ku pasti Ku-kabulkan dan jika perlindung kepada-Ku pasti Ku-lindungi.” (HR: Bukhari)

Demikian cerita sang perampok besar. Semoga menelurkan kesadaran yang penuh berkah di dalam jiwa-jiwa kita sehingga pada akhirnya menetaskan cinta dan welas asih Tuhan pada kita.

Jatikerto Malang, 01122013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar