Kamis, Desember 25, 2014

Tarekat Menuju Allah

Oleh: Ali Sabilullah, S.Fil.I

Khutbah Pertama

الحمدلله الذى خلق السماوات والأرض وجعل الظلمات والنور ثمّ الذين كفروا بربهم يعدلون. أشهدان لا اله الاالله وحده لاشريك له وأشهد ان محمدا عبده ورسوله. اللهم صل وسلم على عبدكورسولك محمدٍ وعلى آله وصحبه أجمعين، أمّا بعد:
فياعبادالله, أوصيكم و إياي نفسى بتقوى الله. فقد فاز المتقون وخاب الطاغون. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

Para Jama’ah salat Jum’at yang dicintai Allah
Mari kita selalu merawat dan meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah swt. Dengan sepenuh jiwa raga serta lebih utama dari segalanya. Dalam situasi atau kondisi apa dan bagaimanapun kita. Mari kita selalu berupaya iman dan taqwa kita jangan sampai kendor, kurang, maupun lemah, apalagi tercerabut dari jiwa raga kita.

Saudara-saudaraku,  Allah itu Maha Memahami kondisi tiap hamba-Nya, dhohirnya maupun batinnya. Begitu juga Allah itu Maha Adil,B ijaksana, dan Welas Asih. Karena Allah Maha Mengetahui segala kondisi masing-masing hamba-Nya, dari hal yang terkecil sampai yang terbesar. Allah Adil dan Bijaksana mengatur dan memastikan kehidupan masing-masing hamba-Nya.

Bukan hanya bagi hamba manusia, bagi segala makhluq yang lain Allah juga Maha Welas Asih, Adil, dan  Bijaksana. Lihat saja, hewan-hewan dan tumbuhan di sekitar kita, kucing misalnya. Dalam kehidupan kucing tidak mengenal uang apalagi bisnis. Tidak ada kucing yang berdagang. Namun, meski kucing tak kenal uang untuk beli beras Allah juga mengasih mereka makan dengan cara-Nya. Tidak ada ceritanya kucing kelaparan karena tak kuat beli beras. Begitu juga, sampai-sampai katak yang terjebak dalam tempurungpun Allah masih mendatangkan makanan dengan cara-Nya.

Lebih-lebih kepada manusia sebagai makhluq pilihan-Nya. Kita sering melihat, bahkan orang gila pun yang akalnya sudah tidak paham untuk bekerja mencari uang, Allah masih mencukupinya baik makanannya maupun kesehatannya dengan jalan-Nya.

Kesehatan orang gila, Allah selalu menjaganya dengan tidak memberinya ujian sakit. Kita telah tahu, kita tidak pernah menemukan orang gila masuk rumah sakit gara-gara kangker.

Begitu juga orang yang durhaka atau kafir sekalipun, Allah masih memberi mereka kekayaan hidup. Subhanallah.

Saudara-saudaraku,  Jama’ah salat Jum’at yang dimulyakan Allah
Termasuk Maha Welas Asih dan Bijaksannya Allah, adalah Allah sama-sama memberi peluang cara,jalan, atau tarekat mendekatkan diri kepada-Nya untuk tiap hamba-Nya sesuai dengan kondisi dan potensi masing-masing. Siapapun itu. Atau singkatnya,masing-masing  manusia dianugrahi cara,jalan, atau tarekat masing-masing untuk masuk sorga.

Namun, cara atau jalan ini adalah menjadi jalan tambahan atau alternatif selain jalan ibadah mahdhoh yang sudah ditentukan sama bagi masing-masing orang, seperti kewajiban salat, puasa, dan zakat. Dalam artian, tiap orang siapapun itu sama-sama wajib melakukan salat 5 waktu. Bukan lantaran sudah kaya raya banyak bersodaqah lantas dapat dispensasi tidak salat. Atau bukan karena telah lanjut usia lalu dapat pensiunan salat. Siapapun dan bagaimanapun tetap sama-sama wajib menegakkan salat 5 waktu dg cara yang telah ditetapkan.

Selain jalan wajib tersebut, Allah juga menyediakan beberapa jalan alternatif atau bahkan menjadi jalan pintas yang dapat menyelamatkan manusia dunia akherat sesuai kondisi dan potensinya masing-masing itu.

Dalam kitab kifayatul Atqiya’ Karya Syayyid Abi Bakar Al-Makki Beliau menulis: ada banyak jalan menuju Allah, diantaranya yang biasa dilakukan oleh orang-orang saleh dibedakan menjadi 4 jalan. Pertama, duduk diantara manusia untuk mengajari dan memberi mereka ilmu atau petunjuk untuk melakukan ibadah dan berakhlak mulia. Ini contohnya adalah menjadi guru.

Kedua, memperbanyak dzikir atau jenis-jenis ibadah formal lainnya seperti salat, puasa, membaca Al-Quran, dan bertashbih. Di sini contohnya adalah tarekat-tarekat formal seperti tarekat Tijaniyah atau Naqsyabandiyah.

Ketiga,membantu para ahli fikih, para sufi, atau orang-orang yang memperjuangkan Islam. Ini contohnya jihad di jalan Allah, membantu pembangunan Masjid, atau jama’ah-jama’ah dakwah tertentu.

Dan Keempat, mencari kayu bakar atau pekerjaan lainnya lalu dijual di pasar demi kejujuran dan kehalalan buat kebutuhan keluarga. Ini contohnya petani, pedagang, penjual bakso, bakul es, tukang batu, dan sejenisnya.

Saudara-saudaraku, maka selain kewajiban salat 5 waktu ada banyak jalan tambahan yang membuat kita bisa diridloi Allah sesuai dengan kondisi kita. Jadi, bukanlah berarti karena menjadi kiai atau ustadz lantas menjadi paling ta’at. Juga bukan hanya orang yang mengikuti tarekat-tarekat spesial yang menjadi lebih alim. Atau bukanlah hanya yang ikut jama’ah-jama’ah tertentu yang dapat masuk sorga Allah. Seorang petanipun, penjual baksopun, tukang kayupun sama-sama bisa menjadi orang alim dan masuk sorga.

Saudara-saudaraku,  Jama’ah salat Jum’at yang dimulyakan Allah
Ada sebuah kisah Rasulullah saw:
Diriwayatkan, Rasulullah saw pada saat baru tiba dari perang Tabuk, ketika mendekati kota Madinah, di salah satu sudut jalan Rasulullah bertemu dengan seorang buruh tukang batu. Beliau melihat tangan buruh tukang batu itu melepuh, kulitnya merah kehitam-hitaman, seperti terpanggang matahari.

Rasulullah saw bertanya, “Kenapa tanganmu sangat kasar begini wahai tukang batu?"

Si tukang batu menjawab, "Ya Rasulullah, pekerjaan saya ini membelah batu setiap hari, dan belahan batu itu saya jual ke pasar, lalu hasilnya saya gunakan untuk menafkahi anak istri saya. Karena itulah tangan saya kasar begini."

Rasulullah saw adalah manusia paling mulia, tetapi orang yang paling mulia tersebut begitu melihat tangan si tukang batu yang kasar karena mencari nafkah yang halal, Rasulpun menggenggam tangan itu, dan menciumnya sambil bersabda,
"Hadzihi yadun laa tamatsahaa naarunabadaa". 'Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka selama-lamanya'.

Saudara-saudaraku, Rasulullah saw tidak pernah mencium tangan para Pemimpin Quraisy, tangan para pemimpin Khabilah, raja atau siapapun.

Sejarah mencatat bahwa hanya putrinya Fatimah Az-Zahra dan tukang batu itulah yang pernah dicium tangannya oleh Rasulullah saw. Padahal tangan tukang batu yang dicium oleh Rasulullah saw itu justru tangan yang telapaknya melepuh dan kasar, kapalan, karena membelah batu dan karena kerja keras.

Suatu ketika seorang laki-laki melintas di hadapan Rasulullah saw. Orang itu dikenal sebagai pekerja yang giat dan tangkas. Para sahabat kemudian berkata,
Wahai Rasulullah, andai bekerja seperti yg dilakukan orang itu dapat digolongkan jihad di jalan Allah (Fisabilillah), maka alangkah baiknya.” Mendengar itu Rasulullah menjawab,“Kalau ia bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, maka itufi sabilillah; kalau ia bekerja untuk menghidupi kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia, maka itu fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, maka itu fi sabilillah.” (HR Thabrani)

Allah swt juga menegaskan,
Maka apabila telah dilaksanakan shalat, bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (QS. Al-Jumu’ah 10)

Saudara-saudaraku,  Jama’ah salat Jum’at yang dimulyakan Allah
Banyak hal yang secara akal itu sepele bahkan menjadi suatu yang seakan rendahan, justru menjadi perantara kecintaanAllah swt. Di antara Hadist Rasulullah saw yang menegaskannya sebagai berikut:

Tidak ada yang lebih baik bagi seseorang yang makan sesuatu makanan, selain makanan dari hasil usahanya. Dan sesungguhnya Nabiyullah Daud, selalu makan dan hasil usahanya”. (HR.Bukhari)

Sesungguhnya di antara dosa-dosaitu, ada yang tidak dapat terhapus dengan puasa dan shalat”. Maka para sahabatpun bertanya: 'Apakah yang dapat menghapusnya, wahai Rasulullah?' Beliau menjawab: ”Bersusah payah dalam mencari nafkah.” (HR. Bukhari)

Barang siapa yang bekerja kerasmencari nafkah untuk keluarganya, maka sama dengan pejuang di jaIan Allah ‘AzzaWa Jalla”. (HR. Ahmad)

Subhanallah...

Saudara-saudaraku  Jama’ah salat Jum’at yang diridloi Allah
Mari kita berupaya menjadi manusia yang pandai-pandai dan lihai mensyukuri dengan memanfa’atkan apa yang ada pada diri kita sendiri sebagai jalan cepat menjadi manusia yang cocok di sisi Allah, kradu ing kersani Allah. Bukan malah lihai memanfaatkan diri berbuat maksiat, jiwanya selalu dipicu oleh nafsu, dan enjoy meninggalkansalat.

Yang jadi petani, mari kita giat salat serta meniatkan sawah-sawah kita sebagai ladang tarekat bertaqarrub kepada Allah, ikhlas dan mensyukuri pertanian kita. Ini namanya tarekat pertanian. Begitu juga bagi yang lain, bagi yang penjual bakso, setiap olahan bakso anda menjadi tarekat. Bagi yang sopir, mobil yang anda sopiri bisa menjadi tarekat. Yang lain juga menjadi tarekat-tarekat demikian.

Tapi, sekali lagi bagaimanapun kondisi atau posisi kita yang bisa dijadikan tarekat itu, jangan sampai lupa salat. Bagaimanapun anda ikhlas dan bersyukur menjadi petani tapi anda tidak salat, anda tetap saja terancam api neraka. Na’udzubillahi mindzalik. Tukang batu dalam kisah Rasul di atas sudah jelas-jelas dipastikan masuk sorga selain karena Ikhlas, nrima ing pandum, dia juga giat salatnya.

Mari Ingatlah sabda Rasul ini yang artinya:
Dari Abu Hurairah, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah berfirman,’Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya seperti itu.”

Akhirnya, semoga kita dipastikan oleh Allah sebagai orang-orang yang betul-betul beriman sekaligus mena’ati-Nya sesuai dengan hidayah-Nya seutuh-utuhnya; giat dengan kewajiban, nrimoing pandum, serta berbuat baik dengan sekitarnya. Amin ya robbal alamin.


يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَحَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
باركاللهلى ولكم بما فيه من الآيات والذكرالحكيم وتقبلالله منى ومنكم تلاوته إنه هوالسميعالعليم.

Khutbah Kedua
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُوَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا،مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُأَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ؛ قَالَ اللهُ تَعَالَى: اَلْحَقُّ مِنْ رَبِّكَفَلاَ تَكُوْنَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِيْنَ.
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَعَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْاتَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَعَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْعَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَىآلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَااغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْفِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ.رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّمِنَ الْخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَاللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَىوَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْوَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

 Jatikerto Kromengan Malang, Jum’at , 26 102014 M

Rabu, Desember 17, 2014

Diblokir: Sebegitu Sesatkah Saya?



(Catatan kritis-historis dari seorang hamba lemah yang ingin betul-betul cocok di sisi Allah)
Oleh: Ali Sabilullah, S.Fil.I
Sebelumnya, saya mohon maaf kepada sahabt2 pembaca yang baik, semoga catatan ini tidak mengandung unsur-unsur arogansi apalagi provokasi. Saya hanya sekedar ingin sharing bersama tentang sebuah pengalaman ketika saya diblokir dari sebuah komunitas di FB, lantaran mungkin saja catatan saya dianggap kekacauan yang dapat menggangu. Padahal saya berniat mencari kebaikan yang sejatinya. Begitu juga cara dan bahasanya.
Begini, ini kelanjutan catatan dialogis sy sebelumnya via FB menanggapi postingan seorang ustd yang mengiklankan dirinya sebagai ahli pengobatan nabawi, pendakwah tauhid, dan pembasmi kesyirikan.
Berawal dari sebuah pelatihan pengobatan ala Nabi, sy ikut dan disuruh membawa jimat2 atau keris untuk dijelaskan kesejatiannya lalu dimusnahkan setelah melalui proseduralnya. Sebagai seorang yg ingin belajar dan bertauhid murni sy bawa 1 koleksi keris sy yg terbagus (bukn tersakti) dg niat dapat sebuah pemahaman, apakah prilaku saya menyimpan keris dan kerisnnya itu ada unsur syirik atau tidak.
Ternyata setelah dikumpulkan tidak disinggung masalah keris dan jimat itu sedikitpun. Keris dan jimat2 yg dikumpulkan itu tidak ada kabarnya.
Singkat cerita, belakangan saya tanya keris itu via FB kepada ustdz bersangkutan, ternyata kesimpulan jawabannya tidak enak. Seenaknya dia mengklaim saya, tidak usah ngurus keris yang membuat syirik itu. Lebih sinis lagi dg bahasa ceplas ceplos dia menganggap hati sy telah tertutup karena tetap saja tidak bisa memahami sesuatu yang membuat syirik meski telah mengikuti pelatihan itu (ilmu ruqyah), karena sy pernh bilng tdk dpt ilmunya keris. Padahal sy cuma ingin kepastian kemananya dan diapakan keris itu. Demi sebuah ketauhidan.
Tidak cukup itu, semua pertanyaan saya satupun tidak ia jawab, malah langsung memposting sebuah catatn pedas di komunitasnya yg menyinggung persoalan saya itu, berjudul: ‘Jimat barang Siji seng Dirumat’.  Isinya mengenai pemastian keris sebagai bagian dari jimat yang syirik, tidak mendatangkan apa-apa, malah dapat mendatangkan malapetaka dari khaddam jin yang bersarang di dalamnya, sehingga keris2 harus dimusnahkan; dengan yakin juga dia memastikan tidak ada keris yang membuat nangis tambah iman dan menjadi penyemangat tahajjud. (ini menyinggung sy yg menyebutkan keris sy yg gak ada kbrnya itu menjadi PERANTARA penyemangat mbah sy istiqamah tahajjud karena mngingatkan masa perjuangan buyut dahulu). Padahal, sekedar sbg perantara dalm kebaikan apapun bisa jadi asal tidk keluar dr syar’i spt mbah sy itu. Termasuk seorang tokoh Habibpun demikian.
Ditambah dg konfirmasi kepada sebuah komen seorang wanita (yang menjadi subjek catatn saya di bawah ini) mengadu tentang koleksi keris warisannya yang banyak yang diyakini sering mendatangkan malapetaka bagi keluarganya. Spontan saja ustad tersebut memerintah sdri itu jangan takut-takut membakarnya, dimusnahkan saja semuanya. (Sebuah solusi yang kaku dan destruktif)
Akhirnya, dg semua perilakunya itu, saya merasa ustadz yang mengaku komunitas tauhid tersebut memiliki etika perilaku keagamaan yang kurang baik (mengklaim pasti saya seenaknya) sekaligus memiliki etos keilmuan yang tidak bertanggung jawab (mengabaikan semua pertanyaan sy), maka sy kejar dia tetap dg cara dan etos keilmiahan yang lurus-lurus, eh malah akhirnya dia makin menjadi dg meblokir link saya.
Di bawah ini sebagian catatn dialogis sy paling akhir untuk menanggapi catatn ustd yg menjajah saya tersebut yg gagal terkirim setelh terblokir. Dg terpaksa saya posting di dinding fb dan website pribadi sy. Dg harapan, setidaknya saya bukan orang pengecut, atau mungkin ada masukan cantik dr sahabat2 pembaca.
*Sdri Triie Anjaniie, bukn kerisnya itu yg mbuat syirik, tp pikiran atau cara pandang kita sj. Jngnkan keris, uang dan apa sj di sekitrnya bisa menjadi perantara syirik. apalgi memang sdri berpikirn atau dari wejangan seorang ustd sdri yg menggalakkan anti syirik, bahwa keris itu minta darah, atau membawa sial, atau mintak tumbal. Sama halnya kita bilang, "BAKAR SAJA KERIS-KERIS ITU, BIAR TIDAK MENDATANGKAN MALAPETAKA BAGI KITA". Sdri, justru bukankah ucapan seprti ini yg mengandung kesyirikan?
Buknkah kekuasaan dan yg berkehendak menentukan segalanya adalah hanya Allah semata? Lalu knp kok justru keris2 itu yg dianggap demikian alih-alih mau dimusnahkan?! Justru membakar keris lantaran punya anggapan DAPAT MENIMBULKAN PETAKA atau ADA JINNYA YG DAPAT MENCELAKAKAN itulah yg mbuat kita kurg bertauhd kpd Allah.
Kalau tauhid atau tawakkal kita betul2 mulus hanya semata untuk Allah kita tidak perlu merusak peninggalan2 itu. Kalau kita betul2 bertauhid dan bertawakkal kepada Allah semata, kita tidk akan terpengaruhi apapun di sekitar kita, apalagi dibarengi dengan buruk sangka kepada siapa dan apa yg ada sekitr kita, membuat syirik katanya, apalagi membakar keris lantaran meyakini KERIS2 ITU ADA KHADDAM JINNYA YANG DAPAT MENDATANGKAN MALAPETAKA SEHINGGA HARUS DIBAKAR.
Ketahuilah, keris itu tidk syirik, tidk memiliki kekuatan apa2. Bahkan keris2 itu memiliki sejarah tersendiri yg justru menjadi ibrah dari kaum-kaum terdahulu.
Seringkali kita takut syirik dg perilaku, pandangan, atau perkataan yg justru sejatinya itu sendiri yg mbuat kita syirik.
Allah sj menegaskan, agar kita melihat sejarah, mengamati peninggalan2 orang2 terdahulu, agar menjadi ibrah, sebagai cara atau perantara untuk makin yakin keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah.
Lihatlah, sampai2 Allah mengabadikan mayat  fir’aun, mengabadikan bekas2 budaya kaum terdahulu, Madyan, Stamud, ‘Ad, kaum Luth, dan lainnya, termasuk di Indonesia bekas2 kerajaan atau keris2 misalnya dan lainnya, kita juga masih bisa melihat jejak2 Rasul dr peninggalan2nya berupa pedang dll miliknya (bahkan ada satu pedangnya bernama Al-Fajar yang berukir dua naga dan berlapis emas warisan dari ayahnya),  semua itu sebagai ayat-ayat kebesaran Allah sekaligus agar menjadi ibroh bagi kita untuk makin yakin dan cinta hanya kepada Allah semata.  Kita bisa lebih cinta kepada Rasul. BUKAN UNTUK DIMUSNAHKAN.
Begitu juga, kita bisa mengingat Rasul, bahwa Beliau tidak berperilaku merusak tp menjunjung etika luhur. Dalam berperang Beliau melarang menghancurkan segala sekitarnya termasuk bangunan2 gereja. Di saat Rasul diganggu Iblis saat salat di sebuah Masjib Beliau juga tdk arogansi membasmi Iblis itu, tp Beliau masih menghargai Sdranya Nabi Sulaiman yang dahulu memiliki bala tentara bangsa jin.
Andai boleh dibahasa-gamblangkan beginilah maksudnya firman2 Allah itu: Ini lho bukti akibat orang2 dlolim, atau ini lho balasan orang2 baik, atau ini lho bukti perjuangan dulu”! Maka jangan gampang menklaim syirik seseorang lantaran dia merawat keris-keris. Liht juga para wali songo, dan banyak kiai-kiai sepuh yng menyimpan keris2 itu.
Ini salah satu firman Allah itu yang artinya:
 Dan apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu MELIHAT (sbg ibrah/kontemplasi) bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka, sedangkan orang-orang itu adalah lebih besar kekuatannya dari mereka? Dan tiada sesuatu pun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS, Fathir: 44).
Lalu, kalau Allah sj demikian, knp kita lantas mau merusak peninggalan2 itu?! Apakah kita tidk percaya dg firman Allah ini lantaran dalih waspada dari syirik?! Atau lebih percaya kata-kata orang yg belum pasti kebenarannya dari pada firman Allah?
Kedloliman atau kesyirikan semua itu ada pada pikiran dan hati kita. Kita memang harus bertauhid dan mjauhi syirik, tp di sisi lain kita juga bukan pengrusak. Dlm agama bukn hanya hukum halal-haram, bid’ah-sunnah, atau tauhid-syirik saja yang ada, tp di situ juga ada akhlaq atau etika (makaarimal akhlaq): Rahman Rahimnya Allah, dan misi sejati Rasulullah, Rahmatan lil’alamin, kebesaran Allah.
Mari kita renungi: tidk bisa dibayangkan kalau semua peninggalan mau dimusnahkan gara-gara diklaim ada khoddam jinnya yang dapat membawa petaka. Justru bukankah prilaku seperti ini, selain menunjukkan sikap atau mental keimanan dan ketaqwaan yang nihil, juga bisa-bisa mjadi sikap menantang firman Allah di atas?!
Begitu juga, perlu dipertegas, perbedaan antara jimat yg dilarang dalam Hadist Rasul itu dan keris-keris atau peninggalan2 sejenisnya.
Memang, siapa saja yg sengaja datang kepada dukun atau kiai lalu minta jimat atau berupa bungkusan2 lainnya untuk niat ini itu, baru itu syirik. Sama halnya, nyembh keris, atau bilng keris mendatangkn malapetaka, baru ini syirik. Tapi yg syirik bukn kerisnya, orngnyalah yang harus diluruskan. Seperti halnya, anda takut syirik, maka diri anda yg harus belajar dan bertaubat, bukan malah membakar semua keris2 peninggalan ayah atau buyut2 anda.

Tidak ada benda atau keris itu syirik apalagi MEMBUAT SYIRIK, justru ucapan seperti ini secara samar masuk syirik. bahkan, segala benda di semesta ini hanya memuji Allah, mereka bisa jadi lebih bertauhid dari pada kita. amati ayat Allah ini: "Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun." (QS, Al-Isra': 44)
Pun bukan keris atau jimat saja, anda sibuk ngurus uang, sampai lupa salat maka anda syirik. Bahkan, dalam hadist Nabi diterangkan bahwa paling kecilnya syirik adalah senang ketika melihat orang lain susah.
Malahan, keris2 itu bisa menjadi perantara pengeling (ibroh/intropeksi) terhadap masa lalu sesepuh2 anda, kalau baik ditiru dan kalau buruk mari mhonkan ampun, jikalau anda mau belajar dan mau merenungi dg baik. Kalau dimusnahkan mka lantas tdk ada sisi2 sejarah yg dapat mengingatkn masa lalu sesepuh2 anda.
Jadi mungkin begini: Tidak semua keris atau peninggalan2 kuno itu jimat, dan tidak semua jimat itu berupa keris.
Begitu juga: semua yang diniatkan jimat itu sudah pasti syirik, tapi bukan semua yang syirik itu adalah pasti jimat.
Begitu juga: bukan semua orng yang tampak mendakwahkan tauhid itu betul-betul diridloi Allah, tp orang yang diridloi Allah pasti betul-betul bertauhid kepada Allah. Wallahu ‘alamu bisshowab.

Jatikerto Malang, 17122014 M

Sabtu, Desember 06, 2014

Kaya Miskin Sama Mati


Bincang-bincang itu topiknya dipengaruhi oleh siapa teman ngobrolnya. Kalau temannya seorang petani ngobrolnya ya tidak jauh dari pertanian. Jika temannya  orang-orang kejawen, isinya ya tidak jauh dari kejawen. Kalau temannya pengusaha dan pengrajin emas, ya omongannya tidak jauh dari emas. Bila temannya seorang ustadz, ya dialognya soal agama. Meski siapapun bebas punya hak ngomong apa saja yang bukan dari profesi atau latar belakangnya. Apalagi khususnya di negri kita ini negri demokrasi. Negri bebas berorasi dan berkreasi.

Secara pribadi, saya punya teman dengan profesi apapun: dari tukang becak, loper koran, tukang batu akik, pelaku kejawen, dukun, bajingan, sampai politikus. Semua teman ini memiliki keindahan tersendiri yang dapat mengisi dan menambah investasi pengalaman saya. Saya akrabi semuanya tanpa pandang bulu.

Topik yang paling netral dan dibincangkan oleh siapapun saya bertemu dengan nereka adalah soal dunyo, usaha, jelasnya uang. Ini sebagai bukti bahwa siapapun butuh uang. Siapapun ujung-ujungnya mencari uang. Dan apapun bisa dijadikan jalan atau alat menghasilkan uang.

Apalagi zaman sekarang, tidak pandang batas atau banyak aturan, pokoknya menghasilkan uang.

Di zaman ini, tidak heran lagi ada seseorang hanya duduk-duduk di depan komputer dia bisa menghasilkan uang jutaan rupiah. Juga bukan hal yang tabu lagi kalau banyak seorang ustazd atau kiai menarget harga ceramah-ceramahnya yang dengannya bisa kaya raya bermobil mewah berumah megah. Pun tidak aneh lagi banyak yang berlatih menjadi para normal atau dukun, karena ini memang menjadi cara potensial menghasilkan uang banyak.

Soal uang juga tidak ada batasnya dan tidak pernah terhenti. Bukan karena sudah kaya lantas sudah santai atau mandeg berkerja. Atau bukan karena miskin lantas kebingungan mencari uang. Sekarang, yang uangnya sudah trilyunanpun masih sibuk mengurus uang ngalah-ngalahi yang miskin. Bukan karena melestarikan usahanya atau mengembangkannya, akan tetapi karena masih kurang dan kurang, setidaknya usahanya takut tersaingi.

Sekarang, yang dibilang orang miskin karena kelaparan atau kurang makan semata juga jarang sekali. Yang ramai adalah orang yang merasa miskin sekarang ini adalah orang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan senang-senang, atau orang yang tidak mampu paling tidak membeli sepeda motor baru, atau orang yang belum mampu membangun rumah mentereng. Ini yang merasa atau disebut miskin. Yang miskin betul-betul karena kurang makan sangat amat langka.

Seakan-akan sekarang, orang menjadi miskin semua. Semuamya sama-sama kebingungan mencari uang hingga dengan berbagai carapun.

Pemikiran-pemikiranseperti ini saya dapat dari bincang-bincang di warung-warung kopi, di rumah-rumah, di masjid-masjid dan di manapun saat saya bincang-bincang dengan teman-teman dari latar berlakang apapun. Sampai-sampai ada di antara mereka yang menyimpulkan begini:

"Orang kaya mati karena kekurangan, orang miskin mati karena keinginan."

Artinya, yang kaya mati kekurangan, karena masih saja bingung cari uang, harta  sudah melimpah masih merasa kurang, hingga matinya. Yang miskin mati dalam keinginan, karena bingung cari uang gak sampai-sampai mewujudkan keinginannya hingga datang ajalnya.

Tapi tidak semua orang kaya dan miskin seperti itu, meski sedikit sekali.

Mari kita belajar ati-ati dengan merenungi jawaban seorang sufi Hasan Bashri ketika ditanya perihal kezuhudanya ini: “Apa rahasia zuhudmu di dunia ini? Beliau menjawab: aku tahu rezekiku tidak akan diambil orang lain, karena itu hatiku selalu tenang. Aku tahu amalku tidak akan dikerjakan orang lain, karena itulah aku sibuk beramal soleh. Aku tahu Allah Ta'ala selalu memerhatikanku, karena itulah aku malu jika Allah melihatku sedang dalam maksiat. Dan aku tahu kematian itu sudah menungguku, karena itulah aku selalu menambah bekal untuk hari pertemuanku dengan Allah.”

“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syetan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.” (QS, Al-Fathir: 5)

Sumber Tempur Malang, 06 12 2014 M

Jumat, Desember 05, 2014

Saya Antara Impian dan Kenyataan


Menulis, adalah hobi terutama saya. Lebih-lebih menulis ini menjadi misi andalan almamater saya dulu di pesantren. Pak Kiai mewanti-wanti santri-santrinya harus bisa menulis. Jadi apa saja di masyarakat. Jadi petanipun harus menjadi petani yang bisa menulis.

Secara pribadi, saya sebagai seorang wirausahawan saya pegang pesan Kiai itu, saya harus bisa menulis. Setidaknya agar anak cucu saya bisa membaca jejak-jejak hidup saya. Tidak ada waktu bagi saya untuk tidak menulis. No Day No Writing.

Menulis bukan karena sekolah tinggi, atau jadi pejabat tinggi. Menulis juga tidak menunggu bisa, tapi dengan menulis baru bisa.

Nasib memang tidak menentu dan tidak ada yang tahu apa jadinya kita di dalam mengisi giliran hidup di atas bumi ini. Manusia hanya bisa berusaha dan merencanakan. Tak bisa memastikan jadinya apa dan sampai akhirnya bagaimana.

Diri saya, saya contohkan. Dulu, berawal dari sekolah dasar (MI dan MTS) di pedalaman desa, saya bercita belajar di sebuah pesantren modern,yang pelajarannya lengkap, ada bahasa arab inggrisnya, yang sangat jauh dari rumah sehingga tidak pulang-pulang. Meski libur tidak pulang. Paling tidak setahun sekali.

Sebagai anak desa, di desa saya saat itu, seorang pemuda bercita demikian sangatlah asing sekali. Bahkan bisa jadi cemohan yang tak masuk akal. Kedua orang tua saya dapat cemohan itu, buat apa sekolah tinggi toh kembalinya tetap jadi petani miskin, katanya.

Tradisinya, paling banter sampai SMA adalah sudah paling tinggi. Setelah itu bekerja atau nikah. Apalagi bagi anak wanita, selesai MA atau SMP langsung dinikahkan.

Tapi, tradisi demikian tidak berlaku bagi keluarga saya. Orang tua saya meski orang tani tulen, masih menyadari betapa pentingnya pendidikan. Begitu juga saya. Entah, tiba-tiba saat itu, saya berpikiran idealis sepertiitu. Asalnya simpel saja, saat itu saya terinspirasi ketika nonton televisi di rumah tetangga. Saat itu yang punya televisi satu kampung sangat bisa dihitung dengan jari. Saya berpikiran ingin menjadi maha siswa yang bersepatu dan berdasi seperti yang ditayangkan di sinetron-sinetron yang saya tonton.

Ternyata impian akademis ini bersamaan dengan kehendakTuhan, saya betul-betul mondok di sebuah pesantren modern, persis yang saya impikan. Jauh sekali. Bahkan menyebrang selat. Berbahasa resmi asing, arab inggris. Juga berdasi, setidaknya waktu program-program khusus di kelas seperti latihan pidato. Bahkan saya selesai sampai sarjana. Saya dapat tugas ngajar selama kuliah, jadi guru memakai dasi saben hari. Mimpi saya yang melanggar logika tradisi kampung saat itu menjadi nyata.

Teman-teman saya yang taat pada tradisi saat itu, sekarang hampir semuanya sudah bercucu. Ngerumput tiap hari memelihara sapi. Tapi giliran selanjutnya saya tidak tahu mereka menjadi apa.

Saat di pesantren, saya juga berimpian. Meski impian saya tidak jelas profesinya. Pokoknya di pikiran saya menjadi orang yang tidak biasa, yang tidak hanya bermanfaat seperti biasa bagi orang lain. Setidaknya, saya memiliki lembaga pendidikan yang mendidik santri banyak dari mana-mana asalnya, seperti kiai saya di pesantren meski saya bukan Kiai.

Oleh karena itu saya berambisi sekolah harus terus lanjut, sampai selesai S3. Soal nikah, itu nomor ke 99 nya dari ibarat impian saya berjumlah 100.

Namun, kali ini, impian saya itu tidak mulus (untuk mengganti istilah gagal, sehingga bukan kegagalan) seperti impian saya ingin mondok dulu.Tuhan menginginkan yang lain dari apa yang ada pada angan-angan saya itu. Tapi saya yakin, tentunya ini lebih baik dari Tuhan. Karena Tuhan memang Maha Baik apapun jadinya.

Singkat cerita dan tak disangka nyatanya lulus sarjana di pondok saya nikah, tidak jadi lanjut ke S2.

Saya berkeluarga, membuat saya terdampar pada sebuah pertarungan hidup yang sesungguhnya, saya bekerja memenuhi nafkah keluarga.

Awal kali menjadi seorang sales emas menawarkan emas di toko-toko pasar. Begini tentunya membuat saya lebih sering ke luar rumah. Tiap hari saya pergi ke pasar-pasar.

Singkat cerita. Perkembangannya baru setahun jadi seles, saya mempunyai toko perak juga ada beberapa emasnya. Baru setahun punya toko perak emas saya bisa buka cabang satu. Pada akhirnya, bangkrut.

Sekarang, saya di rumah saja menjadi penjual es degan durian sambil merintis mengajari anak-anak kecil mengaji. Dan alhamdulillah sudah dua TPQ yang saya rintis. Keduanya saya yang ngajar sendirian. Gratis. Dan yang satu sedang proses pembangunan menjadi lembaga pendidikan pesantren yang juga menampung yatim piatu. Meski saya tidak menjadi kiai.

Soal usaha, saya tidak terlalu ngotot lagi. Yang penting saya bisa memberi sesuatu kepada selain diriku walaupun berupa pengajaran alif ba' ta'  kepada anak-anak kecil di desa pedalaman. Kalau memang ada taqdir kaya, pada saatnya tiba juga.

Sambil melateni anak-anak kecil belajar mengaji dan menjadi orang cerdas buat agama dan bangsa, saya juga masih memiliki cita-cita menjadi orang kaya namun juga mulya, saya melateni kuliner yang inovatif, dari kecil tapi melangkah pasti: Es Degan Durian, degan buah naga, alpokat, jeruk, susu madu,dan degan joss.

Ini inovssi es sy. Sy ingin inovasi kuliner saya go nusantara bahkan internasional layaknya Pocari Sweet. Impian yang agak lebay memang. Tapi bukankah kebanyakan orang-orang sukses itu dulunya juga impiannya lebay-lebay?!

Filosofinya: bercitalah setinggi langit, sehingga jika tak sampai paling tidak jatuh di atas bukit. Masih tinggi.

Soal kuliah, saya tetap ngotot, tidak bisa tahun ini, ya tahun depan. Pokoknya saya harus selesai kuliah. Sambil sementara belajar dengan anak-anak, dengan alam, dan dengan Es Degan Durian.

Jatikerto Kromengan Malang, 09112014 M

Senin, September 01, 2014

Mereka yang Hidup Melas dan yang Berkelas

"Bang, tolong saya minta air esnya, saya haus," ucapan seorang penjaja koran kepada saya sewaktu melintas di depan kedai es degan durian saya. Tampaknya sangat lelah, peluhnya bergerimis, pakaiannya kumuh dan kayaknya agak idiot. Segera saya kasih seporsi es degan yang enak. Saya tidak tega sekali. Lalu dia pergi tanpa ucapan apa-apa lagi.

Selang beberapa hari, ada lagi: "Mas, minta air esnya," ucapan tegas dari seorang lelaki kepada saya yang melintas. Perawakannya tinggi, lumayan gagah, tampak masih muda, tapi pakaiannya kumuh, omongannya normal, dan ucapannya tegas sekali kepada saya seakan memerintah tanpa tak tampak sedikitpun rasa malu. 

Sehingga saya sempat bingung dalam hati: ini orang normal atau agak miring ya?! pikirku. Ah, saya tampik pikiran macam-macam. Saya gak tega dengan kondisinya tampak ngosngosan. Lalu segera saya kasih es degan yang seger. Langsung saja dia minum dengan dahaganya sambil berdiri di depan kedai.

Selesai, tiba-tiba dia pergi begitu saja sambil nyengir tanpa ucapan apa-apa kepada saya. Saya biarkan dengan ikhlas. Pikir saya, maklum mungkin dia orang yang sedikit tidak sehat. Andai sehat dengan perilaku yang, mohon maaf, kurang ajar kayak itu, tidak akan saya kasih es.

Kali itu, (selasa, 24/03/2014) siang-siang bolong, ada lagi permintaan itu. Namun, kali itu bukan seseorang yang agak-agak itu. Ini normal sekali. "Mas, menawi jenengan badhe tumbas tape? Menawi mboten, ngapunten, kulo numpang lengga mawon nggeh, kulo badhe istirahat, panas, mboten kiat maleh, kulo nuwon tuyo es mas," pintanya dengan bahasa Jawi tulen.

Lihat caranya yang santun, saya keburu menyilahkannya duduk dan saya haturkan es degan lebih santun lagi. Ditambah, saya melihatnya betul-betul loyo, keringat memenuhi wajahnya yang sudah lumayan keriput. Berperawakan kecil, baju kumuh, dan pandangan mata yang mengisyaratkan hidup penuh derita, melas sekali. Es diminum dengan lahap sekali.

Tape yang dijajakan ditaruh di meja dengan rapi. Terlihat pada plastik bungkusannya sudah lusuh berdebu, kebanyakan dipegang. Dia menjajakannya berjalan kaki dan menentengnya dengan kedua tangannya. Karena dia menjajakannya hanya beberapa bungkus kresek saja tanpa wadah khusus. Tidak sampe 15 bungkusan. Terangnya, dari kemarin tidak laku-laku. Sehingga, rupanya di dalam ada sebagian yang pinggirannya sudah basi.

Saya suruh dia istirahat di kedai saya, sekalian saya ajak ngobrol biar merasa enjoi dan bersemangat.

"Mas, saya sudah berpuluh tahun menjajakan ini dan sejak itu pula saya gak pernah berubah, lakunya sedikit-sedikit saja. Pokoknya dapat buat makan keluarga sehari saja saya sudah syukur, mau lebih dari itu tidak pernah mungkin sejak dulu. Bahkan sering juga defisit. Bahkan kemarin yang laku cuma 1 kresek saja. 

Sekarang, panas-panas begini mulai tadi pagi keliling gak ada yang laku 1 pun. Tapi, inilah memang bagian saya. Saya tetap selalu bersyukur. Yang penting sehat dan dapat makan sehari-hari. Lha whong Tuhan sudah menentukan saya begini. Dan saya selalu niat buat nafkahi keluarga," keluhnya kepada saya.

"Zaman ini mas, orang miskin seperti saya makin sulit cari uang. Sedangkan yang kaya enak-enak saja makin kaya, cari uang sangat gampang," lanjutnya.

"Ya pak, sabar saja, yang penting sehat dan kumpul keluarga. Pada saatnya tiba ya bisa sukses juga, entah kita atau pada anak-anak kita kelak. Kesuksesan juga bukan berupa kaya atau banyak harta melulu. Karena anugrah Tuhan bukan hanya berupa bahagia atau harta melimpah, tapi sering kali juga berupa kelemahan atau kemiskinan yang pada saatnya justru menjadi pengantar sampai kepada kebesaran yang lebih abadi," tanggapku mencoba menyemangati.

"Iya mas, iya mas, sangat benar itu, terima kasih banyak, "balasnya dengan melas. Lalu, dia pergi menenteng tape-tape lusuh itu.

Pada sisi lain, saya menyaksikan di depan kedai saya dan samping kanan kiri, bertengger ruko-ruko megah yang dimiliki bos-bos besar bermobil mewah. Saben hari mobil-mobil mewah berjejer parkir, orangnya berbelanja. Bahkan ada beberapa resto nasi yang harganya untuk 1 porsi 30an ribu, ini banyak pengunjungnya.

Begitu juga, ada salon elit, saya lihat pengunjungnya wanita-wanita konglomerat. Dari yang kayaknya masih muda seumuran SMP SMA yang menyetir mobil mewah sendiri sekelas pajero, sampe kepada ibu-ibu yang lumayan sudah berumur, mereka datang hanya untuk berdandan. Konon, sekali dandan sampai jutaan rupiah. Ini dirutinkannya paling tidak 3 hari sekali.

Ini sekelumit cerita tentang satu sisi hidup penuh derita dan sisi lain penuh kemewahan. Keduanya saling berdampingan tapi amat sangat jauh.

Alam menunjukkan kepada saya, pada satu sisi ada kehidupan yang penuh kenikmatan, kemegahan, dan tawa-tawa, tapi pada sisi yang lain ada kemelaratan atau kesengsaran dan tangisan; Pada satu sisi ada yang suka menghambur-hamburkan uang, tapi pada sisi yang lain bersamaan, ada banyak yang mencari sesuap nasi saja dalam sehari sangat kesulitan.

Aduh, ini dua sisi yang sebetulnya berdampingan dan bersamaan, tapi terasa sangat jauh sekali dan tidak nyambung. Betapa tidak, pikirkan saja, modal buat berdandan sekali saja bagi sisi orang elit itu bisa dibuat makan sampai berbulan-bulan bagi ukuran yang melarat-melarat itu.
Andai saja ada kesambungan di antara dua sisi itu, maka saya sangat percaya, setidaknya, yang melarat-melarat itu sedikit lega. Tidak terlalu sengsara dalam hal makan saja. Yakni, kesambungan berupa kesadaran untuk saling peduli dan berbagi.

Maka, bukanlah salah ketika yang melarat sampai mengatakan, dunia begitu kejam. Sebetulnya ini kiasan metaforis, bukan dunianya yang kejam tapi memang banyak yang berdiri di atas bumi ini yang betul-betul tega-tegaan melihat penderitaan yang lainnya.

Toh, memang juga tidak salah, kalau ada yang berpendapat bahwa seringkali penderitaan itu mereka yang melarat sendiri yang membuatnya karena mereka berprilaku malas atau memprilakukan hidupnya sendiri secara tidak cerdas dan tidak hati-hati.

Meski demikian, ini bukan lantas menjadikan alasan masuk akal untuk juga malas dalam berbagi. Karena kita tidak berhak untuk menjadi pengkapok atau pemberi akibat kepada yang lain. Akibat atau dosa seseorang untuk dirinya sendiri bukan berarti membatalkan kita untuk berbuat baik. Namun, justru menjadi peluang kita untuk berbuat yang lebih baik lagi.

Kita tidak usah ngurus, apakah kesengsaraan seseorang akibat sengaja dibuat karena kejahatannya sendiri, yang penting kita bisa berbuat baik kepadanya. Tuhan tidak mengajarkan kita agar mengurus sebab-sebab kemiskinan seseorang, namun Tuhan memerintahkan kepada kita agar saling peduli dan berbagi.

"Sesungguhnya orang-orang baik itu meminum dari gelas yang campurannya kafuro. Yaitu, sumber mata air yang diminum para hamba-hamba Allah dengan bebas mereka memancarkannya. Mereka memenuhi nadzar dan takut akan hari yang siksanya merata. Dan mereka memberi makan makanan yang disukainya kepada fakir miskin, yatim piatu, dan yang tertawan. Mereka berkata, 'Sesungguhnya kami memberi makan kalian karena mengharap ridlo Allah semata, bukan karena ingin balasan atau rasa terima kasih dari kalian." (Al-Insan )

Akhirnya, orang miskin bukanlah kehinaan di depan kita. Akan tetapi, mereka yang miskin adalah pengutuh bahkan kebutuhan hidup kita. Karena dengan adanya mereka kita bisa berbuat dan menjadi  lebih baik, dengan hidup bersama, saling melengkapi dan berbagi.

Laksana siang dan malam. Bukanlah malam adalah kegelapan yang menyesatkan. Tapi malam adalah keutuhan dari adanya siang.

Jatikerto Malang, 30 08 M.