Jumat, Februari 07, 2014

PANGGILAN ALLAH


Oleh: Ali Sabilullah, S.Fil.I

Khutbah Pertama

الحمد لله الذى خلق السماوات والأرض وجعل الظلمات والنور ثمّ الذين كفروا بربهم يعدلون. أشهد ان لا اله الاالله وحده لاشريك له وأشهد ان محمدا عبده ورسوله. اللهم صل وسلم على عبدك ورسولك محمدٍ وعلى آله وصحبه أجمعين، أمّا بعد:
فيا عبادالله, أوصيكم و إياي نفسى بتقوى الله. فقد فاز المتقون وخاب الطاغون. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
Para Jama’ah salat Jum’at yang dicintai Allah
Saat ini, di hari jum’at yang mulya ini, di tempat yang suci ini, kita sedang dalam memenuhi undangan atau panggila Allah, yakni melaksanakan salat jam’ah jum’at yang waktunya hanya sekali dalam seminggu. Dalam hidup yang sekali ini, hanya ada 3 macam undangan Allah buat kita.
Pertama, Allah mengundang kita untuk menghadiri jamuannya di rumah sucinya Masjidil haram berupa pelaksanaan haji. Namun, undangan ini tidak semua orang mendapatkannya selama hidupnya, hanya orang-orang tertentu saja yang memiliki sarat-saratnya baik secara lahir maupun batin. Sehingga toah seandanya dalam hidup kita tidak mampu sama sekali dengan bebagai upaya kita usahakan dan kita nuatkan untuk memenuhi undangan Allah ini maka kita tidak menanggung beban apa-apa. Allah Maha Tahu akan memaklumi ketidakmampuan kita. Toh demikian, meski kita tidak mampu memenuhi undangan berupa haji ini, Allah Welas asih, maish ada peluang amalan lain yang nilai dan pahalanya disamakan oleh Allah dengan pahala naik haji itu. Misalnya, melaksanakan salat jama’ah jum’at secara konsisten, salat subuh salat jama’ah di Masjid secara istiqamah, dan ibadah lainnya.
Panggilan Allah yang kedua, Allah memanggil kita berupa adzan salat 5 waktu. Panggilan Allah ini wajib dan tidak boleh tidak siapa saja laki-laki atau wanita harus memenuhinya. Namun demikian wajibnya saking bijaksananya Allah, Allah tidak memaksa hamba-nya untuk memenuhi panggilan ini. Namun, Allah hanya menyediakan peringatan, akibat, atau ancaman, bagi orang-orang yang tidak memenuhi atau lalai dengan panggilan salat ini. Sebab, salat inilah yang menjadi satu-satu barometer atau patokan iman tidaknya, taqwa tidaknya, taat tidaknya, baik tidaknya, dan selamat tidaknya seorang hamba.
Maka dari itu, salat inilah yang pertama kali akan dihisab atau yang menjadi awal perhitungan di alam kubur dan di aherat kelak. Rasullah bersabadah, Yang pertama-tama dipertanyakan (diperhitungkan) terhadap seorang hamba pada hari kiamat dari amal perbuatannya adalah tentang shalatnya. Apabila shalatnya baik maka dia beruntung dan sukses dan apabila shalatnya buruk maka dia kecewa dan merugi. (HR. An-Nasaa'i dan Tirmidzi)
Selain itu, salat menjadi borometer amal perbuatan kita, kalau salatya baik maka ikutlah amal lainnya, namun apabila salatnya tidak baik maka begitu juga amal yang lainnya. jadi orang salatpun tidak semuanya sejatinya dia salat.
Allah 'Azza wajalla berfirman (hadits Qudsi): "Tidak semua orang yang shalat itu bershalat. Aku hanya menerima shalatnya orang yang merendahkan diri kepada keagunganKu, menahan syahwatnya dari perbuatan haram laranganKu dan tidak terus-menerus (ngotot) bermaksiat terhadapKu, memberi makan kepada yang lapar dan memberi pakaian orang yang telanjang, mengasihi orang yang terkena musibah dan menampung orang asing. Semua itu dilakukan karena Aku." "Demi keagungan dan kebesaranKu, sesungguhnya bagiKu cahaya wajahnya lebih bersinar dari matahari dan Aku menjadikan kejahilannya kesabaran (kebijaksanaan) dan menjadikan kegelapan terang, dia berdoa kepada-Ku dan Aku mengabulkannya, dia mohon dan Aku memberikannya dan dia mengikat janji dengan-Ku dan Aku tepati (perkokoh) janjinya. Aku lindungi dia dengan pendekatan kepadanya dan Aku menyuruh para Malaikat menjaganya. BagiKu dia sebagai surga Firdaus yang belum tersentuh buahnya dan tidak berobah keadaannya." (HR. Ad-Dailami)
Maka, Ada orang yang salatnya baik atau diterima namun ada orang yang salatnya tidak baik atau tidak diterima. Orang yang diterima salatnya adalah orang bedasrkan aturan, sarat- dan rukunnya sah secara lahir batin. Secara lahir sesuai dengan aturan-aturan fikih seperti cara dan ketma’niaanya dan secara batin niat atau kadar kehusus’an dan keikhlasannya.
Maka jangan heran, kalau ada orang yang mengerjakan salat namun perbuatannya tetap-tetap saja tidak baik, jangan-jangan salatnya tidak benar atau tertolak di sisi Allah. Dan begitu juga sebaiknya, jangan heran apabila ada orang yang prilakunya baik sedangkan dia tidak salat. Perilaku amal baiknya akan menjadi musnah dan sia-sia belaka. Atau semua itu kebohongan semata. Sebab, Secara logika bagaimana mungkin, seseorang akan berprilaku baik kpda orang lain, atau mematuhi aturan dan kedisiplinan yang dibuat bersama dalam kehidupan bermasarakat lawong aturan salat yang Allah langsung yang mewajibkan kepadanya dengan segala pahala dan akibatnya dia tidak mematuhinya.
Dalam hal ini Allah telah mengingtkan kepada kita,
الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالأخْسَرِينَ أَعْمَالا
 Artinya, “Katakanlah: ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS, Al-Kahfi: 103-104)
Ini bagi orang yang melaksanakan salat. Belum tentu sejatinya dia salat. Lebih-lebih orang yang tidak melaksanakan salat secara terang-terangan, atau melaksanakan salat seenaknya dan semaunya saja.
Rasullah bersabdah, “Barangsiapa meninggalkan shalat dengan sengaja maka dia kafir terang-terangan.” (HR. Ahmad)
Namun betapapun demikian aturan atau hukumnya salat, masih banyak saja, pribadi-pribadi yang dengan tenangnya sengaja meninggalkan salat, atau seenaknya dan semaunya saja dia mengerjakan salat. Apakah dia tidak sadar, bahwa umurnya hanya sekali dan dia pasti mati, hidup di dunia ini hanya sangat sebentar sekali, hidup yang abadi di aherat setelah mati kelak, sedangkan sangu mati satu-satunya adalah salat yang baik dan berprilaku baik.
Lalu, apakah kita mau menukar kehidupan dunia yang amat semaentara ini dengn kehidupn yang lebih abadi di aherat kelak. Seberapa sih puncak kenikmatan yang anda nikmati dengan tidak salat di dunia ini, apa sih nikmatnya meninggalkan salat, dan apa sih ruginya melaksanakan salat? Seberapapun nikmat dan kesenangan yang anda nikmati di dunia ini tetap akan musnah, umurnya hanya sesaat saja. Anda akan terbujur kaku menjadi bangkai yang terbungkus hanya dengan sehelai kain putih.
Dalam surat
كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ إِلا أَصْحَابَ الْيَمِين فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءَلُونَ عَنِ الْمُجْرِمِينَ مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ حَتَّى أَتَانَا الْيَقِينُ ِ
Artinya, “Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?" Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan salat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian".
Dan yang terkhir panggilan Allah adalah, panggilan kematian. Ini panggilan Allah yang pasti bagi siapa saja, muda tua, laki-laki perempuan, semuanya bagi yang hidup tanpa sarat-sarat segala, dan waktunya tanpa ada yang tahu, kapan, di mana, dan bagaimana Allah berkehendak untuk mencabut nyawa kita, maka kita pasti mati. Sejatinya, dalam hidup ini kita hanya menunggu panggilan kematian ini, yang tidak boleh tidak. Sejatinya, saben saat kita berjalan menuju kuburan, pada saatnya tiba kita akan tinggal di kuburan. Sejatinya, saben hari kita menggali liang lahat kita, pada saatnya tiba kita akan dipendam.
Maka dari itu, saudara-saudaraku, mari seharusnya kita selalu eleng, eleng, dan eleng tentang sejatinya kondisi kita sebagai manusia yang tak berdaya ini, sebelum Allah memanggil yang keterakhirkalinya ini.
Mari kita selalu berupaya beriman dan bertaqwa sebenar-benarnya terhadapa Allah. Selalu bertaubat, memohon ampunan dan Ridlo Allah yang Mah Welas Asih serta jang samapi lupa berbuat baik dengan sesama.
باركالله لى ولكم بما فيه من الآيات والذكرالحكيم وتقبل الله منى ومنكم تلاوته إنه هوالسميع العليم.
Khutbah Kedua
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ؛ قَالَ اللهُ تَعَالَى: اَلْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلاَ تَكُوْنَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِيْنَ.
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
Ya Allah ya Tuhan kami yang Maha Pengasih dan Bijaksana, jadikan kami ya Allah sebagai hamba-hamba-Mu yang berhati bersih, yang penuh saling welas asih, jauh dari hati yang kotor, jiwa yang arogan, sikap merasa benar sendiri, prilaku sombong, dengki, dan saling merendahkan di antara sesama kami. Serta jauhkan kami dari jiwa yang suka dan bangga dengan maksiat. Ya Allah, ampuni kebodohan kami, kelemahan kami, kelalaian kami, kemaksiatan kami dan dosa-dosa kami.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Malang, Jumat Legi 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar