Jumat, Maret 28, 2014

MEREKA YANG MELARAT SESUAP NASI


"Bang, tolong saya minta air esnya. Saya haus," ucapan seorang penjaja koran kepada saya sewaktu melintas di depan kedai Es Degan Durian saya. Tampaknya sangat lelah, peluhnya bergerimis, pakaiannya kumuh dan kayaknya agak idiot. Segera saya kasih seporsi es degan yang enak. Saya tidak tega sekali. Lalu dia pergi tanpa ucapan apa-apa lagi.

Selang beberapa hari dari itu ada lagi: "Mas, minta air esnya," ucapan tegas dari seorang lelaki kepada saya yang melintas di depan kedai Es Degan Durian saya. Perawakannya tinggi, lumayan gagah, tampak masih muda, tapi pakaiannya kumuh, omongannya normal, dan ucapannya tegas sekali kepada saya seakan merintah tanpa tak tampak sedikitpun rasa malu kepada saya. Sehingga saya sempat bingung dalam hati, ini orang normal atau agak miring ya?! pikirku. Ah, saya tampik pikiran yang macem-macem, saya gak tega dengan kondisinya tanpak ngosngosan. Lalu segera saya kasih es degan yang seger. Langsung saja dia minum dengan dahaganya sambil tetapi berdiri di depan kedai. Selesai, lalu tiba-tiba dia pergi begitu saja sambil nyengir tanpa ucapan apa-apa kepada saya.

Hari ini, baru saja, (selasa, 24/03/2014) siang-siang bolong, ada lagi permintaan itu. Namun, kali ini bukan seseorang yang agak-agak itu. Ini normal sekali. "Mas, menawi jenengan badhe tumbas tape? Menawi mboten, ngapunten, kulo numpang lenggah mawon nggeh, kulo badhe istirahat, panas, mboten kiat maleh, kulo nyuwon tuyo es mas," pintanya dengan bahasa jawi tulen.

Lihat caranya yang santun, saya keburu menyilahkannya duduk dan saya haturkan es degan lebih santun lagi. Ditambah, saya melihatnya betul-betul loyo, keringat memenuhi wajahnya yang sudah lumayan keriput. Berperawakan kecil, baju kumuh, dan pandangan mata yang tampak mengisyaratkan kehidupan yang penuh derita. Dia minum es dengan lahap sekali. Tape yang dijajakan ditaruh di meja dengan rapi. Tampak pada plastik bungkusannya sudah lusuh berdebu, pertanda kebanyakan dipegang. Dia menjajakannya dengan berjalan kaki dan menentengnya dengan pegangan kedua tangannya. Karena dia menjajakannya hanya beberapa bungkusan kresek saja tanpa wadah. Tidak sampe 15 bungkusan. Kayaknya dari kemarin tidak laku-laku. Bisa jadi, rupanya di dalam ada sebagian yang pinggirannya sudah basi.

Saya suruh dia istirahat di kedai es saya, sekalian saya ajak ngobrol biar merasa enjoi  dan semangat.

"Mas, saya sudah berpuluh tahun menjajakan ini dan sejak itu pula saya ga’ pernah berubah. Lakunya sedikit-sedikit saja. Pokoknya dapat buat makan keluarga sehari saja saya sudah sukur. Mau lebih dari itu tidak pernah mungkin sejak dulu. Bahkan sering juga defisit. Bahkan kemarin yang laku cuma 1 kresek saja. Sekarang, panas-panas begini, mulai tadi pagi keliling ga’ ada yang laku 1 pun. Tapi bagaimanapun itu, inilah memang bagian saya. Saya selalu bersyukur. Yang penting sehat dan dapat makan sehari-hari. Lha whong Tuhan sudah menentukan saya begini. Dan saya selalu niat begini buat nafkahi keluarga," keluhnya kepada saya, sambil sesekali memandangi jejeran tapenya di atas meja.

"Zaman ini mas, orang miskin seperti saya makin sulit cari uang. Sedangkan yang kaya enak-enak saja makin kaya. Cari uang sangat gampang," lanjutnya.

"Ya pak, sabar saja, yang penting sehat dan kumpul keluarga. Pada saatnya tiba, ya bisa sukses juga. Entah kita atau pada anak-anak kita kelak. Kesuksesan juga bukan berupa kaya atau banyak harta melulu. Karena anugrah Tuhan bukan hanya berupa bahagia atau harta melimpah, tapi sering kali juga berupa kelemahan atau kemiskinan yang pada saatnya justru menjadi selancar hebat sampai kepada kebesaran yang lebih abadi," tanggapku mencoba menyemangati.

"Iya mas, iya mas, sangat benar itu, terima kasih banyak," katanya tampak matanya lembab.
Lalu, dia pergi menenteng tape-tape lusuh itu.

Pada sisi lain, saya menyaksikan di depan kedai saya dan samping kanan kirinya, ruko-ruko megah yang dimiliki bos-bos besar bermobil mewah. Saben hari mobil-mobil mewah berjejeran parkir, orangnya berbelanja. Bahkan ada beberapa resto nasi yang harganya untuk 1 porsi 30an ribu, ini banyak pengunjungnya.

Begitu juga, ada salon elit, saya liat pengunjungnya wanita-wanita konglomerat cantik-cantik. Dari yang kayaknya masih muda seumuran SMP SMA yang menyetir mobil mewah sendiri sekelas pajero, sampe kepada ibu-ibu yang lumayan sudah berumur. Mereka datang hanya untuk berdandan. Konon sekali dandan sampai jutaan rupiah. Ini dirutinkannya paling tidak 3 hari sekali.

Ini sekelumit cerita tentang derita dan ajaran tentang sebuah pemberian atau berbagi.

Alam menunjukkan kepada kita, pada satu sisi ada kehidupan yang penuh kenikmatan, kemegahan, dan tawa-tawa, tapi pada sisi yang lain ada kemelaratan atau kesengsaran dan jerit tangis; Pada satu sisi ada yang suka menghambur-hamburkan uang, tapi pada sisi yang lain bersamaan, ada banyak yang mencari sesuap nasi saja dalam sehari sangat kesulitan.

Aduh, ini dua sisi yang sebetulnya berdampingan dan bersamaan, tapi terasa sangat jauh sekali dan tidak nyambung. Betapa tidak, pikirkan saja, modal buat berdandan sekali saja bagi sisi orang elit itu bisa dibuat makan sampai berbulan-bulan bagi ukuran yang melarat-melarat itu. Andai saja ada kesambungan diantara dua sisi itu, maka saya sangat percaya, setidaknya, yang melarat-melarat itu sedikit lega, tidak terlalu sengsara hanya dalam hal makan saja. Yakni, kesambungan berupa kesadaran untuk saling peduli dan berbagi.

Maka, melihat itu semua, bukan salah ketika dunia melarat sampai mengatakan, “Dunia ini begitu kejam”. Sebetulnya ini kiasan metaforis, bukan dunianya yang kejam, tapi memang banyak yang berdiri di atas bumi ini yang betul-betul tega-tegaan melihat penderitaan yang lainnya. Toh, memang juga tidak salah, kalau dunia elit ada yang berpendapat bahwa seringkali penderitaan itu mereka yang melarat sendiri yang membuatnya karena mereka berprilaku malas atau memprilakukan hidupnya sendiri secara tidak cerdas atau tidak hati-hati.

Meski demikian, ini bukan lantas menjadikan alasan masuk akal untuk juga malas dalam berbagi. Karena kita tidak berhak untuk menjadi peng-kapok atau pemberi akibat kepada yang lain. Akibat atau dosa seseorang untuk dirinya sendiri bukan berarti membatalkan kita untuk berbuat baik. Namun, justru menjadi peluang kita untuk berbuat yang lebih baik lagi. Kita tidak usah ngurus, apakah kesengsaraan seseorang akibat sengaja dibuat karena kejahatannya sendiri, yang penting kita bisa berbuat baik kepada siapa saja dan berbagi bersama yang terbaik.

Begitu juga, harus selalu diingat, bahwa berbagi bukan berarti pokoknya memberi. Tapi, berbagi harus dengan hati, ketulusan serta kelembutan. Bukan dengan arogansi. Saya yakin Tuhan juga berpandangan seperti itu.

Inilah pendapat Tuhan itu, Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan salat, yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta),…. “ (Al-Ma’aarij: 19-25)

"Sesungguhnya orang-orang berbuat baik itu akan meminum dari gelas yang campurannya air kafur. Yaitu, sumber mata air (dalam surga) yang diminum oleh hamba-hamba Allah dan mereka dapat memancarkannya dengan sebaik-baiknya. Mereka memenuhi nadzar dan takut akan hari yang siksanya merata di mana-mana. Dan mereka memberi makan makanan yang disukainya kepada fakir miskin, yatim piatu, dan yang tertawan. Mereka berkata, 'Sesungguhnya kami memberi makan kalian karena mengharap ridlo Allah semata, bukan karena ingin balasan dan ucapan terima kasih dari kalian." (Al-Insan: 5-9)

Akhirnya, mari kita hidup secara berdampingan dengan penuh saling welas asih. Perbedaan adalah keindahan. Mari kita bayangkan, kita yang menjadi mereka yang melarat hanya mencari sesuap nasi itu sepanjang hari. Sungguh amat nelangsanya. Dan, sungguh secara pribadi, saya pernah betul-betul sering, bukan hanya sesekali, mengalami hal itu, derita itu, sakit itu. Aduh, sangat nelangsa sekali. Meski sampai saat ini saya belum betul-betul pulih. Namun, saya aman-aman saja, saya senang-senang saja. Karena saya masih muda, yang memiliki impian dan keyakinan. Serta lebih dari itu, saya orang yang memiliki Tuhan yang Maha Kaya, Bijaksana, dan Welas Asih.

Perhatikan janji Tuhan ini, Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (As-Syarh: 5-8)

Saya juga selalu ingat seorang anak bayi yang sedang berlatih berjalan. Dia tidak pernah merasa lelah walau harus selalu berupaya. Dia tidak pernah merasa menyerah walau penuh lelah. Dia tidak pernah mengeluh walau harus terjatuh-jatuh. Dia tidak pernah merasa duka walau harus luka. Dia tidak pernah merasa sedih walau harus menangis. Dia tidak pernah merasa menyesal walau selalu gagal. Dia selalu gigih sambil riang gembira, berlatih, berlatih, dan berlatih. Sehingga akhirnya, dia bisa berjalan bahkan berlarian. Tidak ada ceritanya anak bayi belajar berjalan, lalu gagal, apalagi sampai prustasi. Saya dan kita seharusnya tidak kalah dengan anak-anak bayi itu. Amin.

Malang, 25 03 2014 M

Salat Dikalahkan Oleh HP


Oleh: Ali Sabilullah, S.Fil.I

Khutbah Pertama

الحمد لله الذى خلق السماوات والأرض وجعل الظلمات والنور ثمّ الذين كفروا بربهم يعدلون. أشهد ان لا اله الاالله وحده لاشريك له وأشهد ان محمدا عبده ورسوله. اللهم صل وسلم على عبدك ورسولك محمدٍ وعلى آله وصحبه أجمعين، أمّا بعد:
فيا عبادالله, أوصيكم و إياي نفسى بتقوى الله. فقد فاز المتقون وخاب الطاغون. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
Saudara-saudarku,  Jama’ah salat Jum’at yang dicintai Allah
Mari kita selalu merawat dan meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah swt. Dengan sepenuh jiwa raga serta dari lebih utama dari segalanya. Dalam situasi atau kondisi apa dan bagaimanapun kita. Baik dikala sehat maupun sakit, kaya maupun miskin, kuat maupn lemah, semanagt maupn lelah, senang maupun susah, untung maupun rugi, menang maupun kalah, sukses maupun gagal, bangga maupun kecewa, istirahat maupun bekerja; saat berada di tempat kerja, ladang, kantor, dsb. Mari kita selalu berupaya bagaimanpun iman dan taqwa kita jangan sampai kendor, kurang, maupun lemah, apalagi tercerabut dari jiwa raga kita.
Sebab, orang yang tidak beriman atau tidak bertaqwa kepada Allah, ibarat mayat. Mayat yang hidup, mayat yang berjalan. Dia hidup tapi jiwanya tidak nyambung dengan rahmat Allah yang Maha hidup. Jiwanya telah mati dari menaati perintah-perintah Allah dan menjauhi larangannya. Bahkan, bukan hanya tidak mena’ati perintah Allah, bukan hanya tidak salat misalnya, bukan hanya kerjanya bermaksiat misalnya, akan tetapi malah hobi menyakiti yang lainnya, suka menyesatkan yang lainnya, gemar mengajak atau membuat yang lain bermaksiat seperti dirinya. Orang yang seperti itu jiwanya lebih keras dari batu. Hidupnya sekedar menjadi istidraj atau eluan dari Allah.
Saudara-saudarku,  Jama’ah salat Jum’at yang dimulyakan Allah
Mari kita renungi, salah satu ciri orang yang betul-betul beriman dan bertaqwa kepada Allah yang paling utama adalah salat. Apakah kita telah menjadi orang yang betul-betul menegakkan salat? Atau kita menjadi orang yang sudah menegakkan salat, tapi sudah betulkah salat kita?
Acapkali terjadi, dan mungkin terjadi pada diri kita sendiri: salat menjadi nomor yang ke beberapa kalinya dari pada aktivitas yang lainnya. Mengerjakan salat kalau sudah selesai urusan yang lain, selama masih urusan lain belum selesai salat tetap tidak dilaksanakan, bahkan waktunya sampai diundur-undur dan kehabisan.
Mari kita amati, misalnya, banyak sekali terjadi atau bahkan pada diri kita sendiri, kalau Hp berdering tanda ada panggilan atau sms dari saudara atau teman dengan segera menerimanya, namun ketika ada suara adzan panggilan dari Allah untuk segera salat nyantai-nyantai saja, seakan tak mendengar apa-apa, bahkan waktu salat masih panjang, pikirnya. Bahkan, saat naik sepeda di jalanpun HP  yang dibelan belani, hp berdering langsung kebingungan segera dirogoh disakunya lalu dibuka sambil bersepeda tanpa ada rasa takut jatuh atau kecelakaan. Kalau ada suara adzan deringan dari Allah, lanjut-lanjut saja, bahkan adzan tak terdengar saking fokusnya naik sepeda.
Jadinya, kalau dipikir-pikir, deringan Hp lebih penting dari pada salat, HP lebih utama dari pada Tuhan. Belum lagi Tuhan dikalahkan dari kegiatan-kegiatan yang tampak lebih menggiurkan lainnya, sperti acara-acara televisi, ngobrol-ngobrol, nongkrong di kafe-kafe, oplosan, dan sejenisnya. Nastaghfirullah wa Nu’udzubillahi min dzaalik.
Padahal, berapa lamakah waktu mengerjakan salat sebanyak hanya 5 waktu itu? Mari kita hitung, kalau kita salat normalnya dengan bacaan tartil itu saja memakai waktu sekitar 15 menitan, itu yang 4 rakaat, anggaplah 15 menit untuk semua masing-masing salat 5 waktu itu. 15 menit kali 5 waktu hasilnya 75 menit atau 1 jam lebih 15 menit. Jadi, mengerjakan salat 5 kali sehari semalam itu cuma menghabiskan 1 jam 15 menit saja. Ini bagian waktu yang kita pakai untuk menghadap Allah hanya 1 jam 15 menit saja sehari semalam dari 24 jam.
Bandingkan dengan waktu yang kita pakai untuk selain beribadah kepada Allah. Waktu untuk sekedar telponan atau smsan saja sampai berjam-jam dalam sekali telpon. Waktu untuk nonton televisi saja bahkan sampai semalaman, waktu untuk nonton sepak bola saja kita belan-belani sampai berjam-jam. Waktu untuk Allah itu tidak ada seberapanya dari pada aktivitas yang lainnya. Sibuk aktivitas ini dan itu, sibuk acara ini dan itu.
Padahal, Allahlah Tuhan yang menentukan segala kehidupan kita, Allah yang menciptakan kita, Allahlah yang dengan segala welas asih-Nya selalu memberi kita rizki sehingga kita bisa makan, menyehatkan kita, menggerakkan tubuh kita sehingga kita bisa berkegiatan, dan Allahlah yang dengan kuasa-Nya masih eman mempertahankan nafas kita masih melekat dengan tubuh kita sehingga kita hidup. Andai Allah sakit hati, andai Allah Tega, atau andai Allah Kejam, tidak dapat dibayangkan bagaimana jadinya kita yang tidak taat pada Allah, yang tidak mengerjakan salat. Untungnya, Allah bukan seperti itu, tapi Allah Maha Cinta Welas Asih, Pengasih dan Penyayang, Maha Kuasa, Maha Adil, Maha Kaya, dan Maha Bijaksana. Dia Mengasihi kepada siapa saja, toh kepada hamba-hamba-Nya yang tidak mena’ati-Nya, yang sombong dan melupakan-Nya.
Dengan demikian, alangkah berdosanya kita, alangkah tidak tahu bersukurnya kita, alangkah kurang ajarnya kita, dan alangkah jahatnya kita kepada diri kita sendiri, tidak mena’ati, berbuat seenaknya saja, dan melupakan Allah yang Maha Asih Punya hidup dan Mati. Diperintah salat 1 jam 15 menit saja sehari semalam kita keberatan, kita tinggalkan. Padahal, kita tidak punya apa-apa, kita tidak kuasa apa-apa. Kapanpun Allah berkehendak mencabut segalanya dari kita, bahkan nyawa kita, kita tidak berdaya apa-apa, bagaimanapun jayanya kita, hebatnya kita, kita akan musnah seketika.
Allah Berfirman:
قُلْ هُوَ الَّذِي ذَرَأَكُمْ فِي الأرْضِ وَإِلَيْهِ تُحْشَرُونَ, قَلِيلا مَا تَشْكُرُونَ, قُلْ هُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ
Artinya: Katakanlah: "Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati". (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur. Katakanlah: "Dia-lah Yang menjadikan kamu berkembang biak di muka bumi, dan hanya kepada-Nya-lah kamu kelak dikumpulkan". (Al-Mulk: 23-24).
Saudara-saudarku,  Jama’ah salat Jum’at yang dimulyakan Allah
Bagaimanapun manusia, apa yang dimilikinya di dunia ini hanya ada tiga macam: yang 2 macam hanya bisa dinikmati di dunia saja, dan yang 1 bisa dibawa sampai mati. Pertama, apa yang kita makan dan minum, dapat kita miliki atau kita nikmati hanya sebatas sampai pada kerongkongan saja. Ini sangat pendek sekali bisa kita nikmati. Seenak apapun dan semahal bagaimanapun makanan tetap saja akan habis sampai pada kerongkongan. Jangankan sampai di kerongkongan, bahkan hany terkena penyakit sedikit saja sudah tidak berguna makanan yang nikmat-nikmat itu. Bnyak kita lihat orang yang kaya raya, tapi hanya gara-gara penyakit yang bersarang ditubuhya, dia dilarang makan ini makan itu.
yang kedua, apa yang kita miliki atau kita pakai sekitar kita, rumah, kendaraan, istri/suami, anak-anak, harta, saudara, pengikut, dan sejenisnya. Ini akan bisa kita nikmati hanya sampai di atas kuburan saja. Jangankan menikmati, melihat ucapan terakhir yang tertulis besar-besar  “Ikut Berduka Cita” yang diukir dengan indah dipajang di rumah atau di atas kuburan kita, atau sekedar melihat lambaian selamat tinggal, kita tidak bisa lagi. Jangankan saat mati, banyak sekali kita melihat orang yang bermobil mewah dan beristri cantik, semua itu tak bisa ia nikmati, hanya gara-gara penyakit, dia dilarang ke mana-mana pakai mobil mewahnya kecuali dengan ambulan, apalagi mau makai istrinya yang cantik.
Dalam hal ini Allah swt menegaskan dalam surat Al-Haqqah: 25-31,
وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُوتَ كِتَابِيَهْ, وَلَمْ أَدْرِ مَا حِسَابِيَهْ, يَالَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَة,َ مَا أَغْنَى عَنِّي مَالِيَه,ْ هَلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيَهْ, خُذُوهُ فَغُلُّوهُ, ثُمَّ الْجَحِيمَ صَلُّوهُ,
Artinya, “Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: "Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku, Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku dariku,” (Allah berfirman): "Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya." Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala.
Yang ketiga, ibadah dan amal saleh. Ini sesuatu yang apabila kita miliki juga bisa ikut kita sampai mati. Ibadah, misalnya kita giat salat. Amal saleh, misalnya sodaqah, memberi makan fakir miskin, berprilaku santun, menjaga lisan, ilmu yang bermanfaat, anak yang saleh, dan tidak bermaksiat.
Jadi, dengan demikian jelas, kalau kita sudah tahu bahwa segalanya akan musnah, kecuali ibadah dan amal saleh itu, maka kenapa kita tidak bosan-bosannya, tidak lelah-lelahnya, hanya sibuk urusan duniawi semata sepanjang hari, yang tentunya bagaimanapun tetap akan musnah, bahkan hanya akan menjeruskan kita kepada kesengsaraan neraka, seraya justru berat, enggan bahkan dengan sombongnya menantang perintah Tuhan.
Maka, sejatinya, kalau kita tidak salat atau salat tapi masih hobi maksiat, sejatinya kita menukarkan kebahagiaan dengan kesengsaraan berkepanjangan, menukar keabadian dengan kesementaraan, menukar akherat dengan dunia, menukar sorga dengan neraka. Bahkan dengan lelah sekali mengumpulkan harta sepanjang hari, dan kaya raya, malah akhirnya hanya membuatnya mati masuk neraka. Alangkah amat sengsaranya orang seperti ini.
Sedangkan yang tanpa biaya besar, yang mudah, yang tidak menyibukkan, yang dapat menenangkan, yang hanya membutuhkan waktu sedikit sekali, yang tidak melelahkan, dan yang mengajak kepada kebahagiaan yang abadi yaitu ibadah dan amal saleh, dia tinggalkan, dia bosan, bahkan dia reseh.
Sampai lelahkan kita melakukan salat 15 menit itu? Sampai sakitkah kita melaksanakannya? Atau apakah ada yang kenak strok gara-gara salat hanya 15 menit itu? Lalu kenapa banyak yang berat beribadah dan enggan taat kepada Allah?!
Saudara-saudarku,  Jama’ah salat Jum’at yang dimulyakan Allah
Mari kita renungi Ayat-ayat Allah swt dibawah ini:
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلا عَلَى الْخَاشِعِين الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Artinya, Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya (mati).” Al-Baqarah ayat 45-46.
Pada suarat Al-Ma’aarij: 19-23 Allah menjelaskan:
الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلاتِهِمْ دَائِمُونَ, إِلا الْمُصَلِّينَ, وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا, إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا, إِنَّ الإنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا
Artinya, “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan salat, yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya,…”.
Pada ayat yang lain Allah menegaskan:
كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ إِلا أَصْحَابَ الْيَمِين فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءَلُونَ عَنِ الْمُجْرِمِينَ مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ حَتَّى أَتَانَا الْيَقِينُ
Artinya, “Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?" Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan salat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian" (Al-Muddasstir: 38-47).
Akhirnya, mari kita selalu berupaya beriman dan bertaqwa sebenar-benarnya terhadap Allah swt. Mari kita belani salat, ibadah, dan amal saleh. Serta selalu bertaubat, memohon ampunan dan Ridlo Allah yang Mah Welas Asih dan Pengampun.
باركالله لى ولكم بما فيه من الآيات والذكرالحكيم وتقبل الله منى ومنكم تلاوته إنه هوالسميع العليم.
Khutbah Kedua
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ؛ قَالَ اللهُ تَعَالَى: اَلْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلاَ تَكُوْنَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِيْنَ.
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
Ya Allah ya Tuhan kami yang Maha Pengasih dan Bijaksana, jadikan kami ya Allah sebagai hamba-hamba-Mu yang ahli ibadah, berhati bersih, yang penuh saling welas asih, jauh dari hati yang kotor, jiwa yang arogan, sikap merasa benar sendiri, prilaku sombong, dengki, dan saling merendahkan di antara sesama kami. Serta jauhkan kami dari jiwa yang suka dan bangga dengan maksiat. Ya Allah, ampuni kebodohan kami, kelemahan kami, kelalaian kami, kemaksiatan kami dan dosa-dosa kami.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.


Malang, Jumat Legi 27 03 2014 M

Jumat, Maret 21, 2014

BABU NGEBLOG, MEMBUATKU TERGUGAH

Awal kali, saya ketemu dengan kalimat ini, “Babu Ngeblog”, dari pemberitaan di halaman depan koran jawa pos, senen 17/03/2014. Isi beritanya terkait dengan seorang TKW migran di Hongkong bernama Sri Lestari yang sangat populer di dunia blogwalking (blog di internet) dengan kegetolannya menulis di blog. Tepatnya, dia gemar menulis segala apa yang dialami di blognya yang bernama "Babu Ngeblog".

Dia ingin dunia tahu tentang bagaimana pernak pernik langkah seorang TKW di negri orang. Sampai-sampai dia berujar, "Lewat blog, saya merasa ada." Meniru ucapan seorang filsuf Prancis terkenal Descartes, "Cogito ergo sum" (Aku berpikir, maka aku ada).

Penasaran, saya buka sekilas. Sekilasnya karena saya cuma nyelang seorang teman saya yang sedang asyik-asyiknya ngenet di komputer tempat kerjanya. Jadi nengoknya sekilas saja, hanya untuk mengonfirmasi pikiranku, betul gak ada blog hebat yang sampai diidentitaskan di koran terkenal senusantara itu. Segera saja saya telusuri di google,  BABU NGEBLOG, tidak sampai 1 menit langsung muncul di deretan teratas. Saya langsung lega, pokoknya betul-betul terbukti ada kelihatan oleh mata kepala saya.

Pada penglihatan kilas itu, saya lihat followernya 250an lebih, bahkan yang mengunjungi rupanya sampai 1000an visiter. Saya juga lihat sekilas isinya pada dinding tema-temanya, di situ ada tema perkosaan, penganiayaan, persoalan banyak terkait TKW, dan juga ga' ketinggalan ada karya fiksinya bak seorang sastrawan tulen.

Menariknya lagi, gaya bahasanya ceplas ceplos, luwes, sangat renyah dibaca, dan penuh referensi tidak kalah dengan tulisan para akademisi. Saya makin tertarik dan penasaran.

Saya menjadi merenungi, hebat benar seorang TKW yang profesinya, maaf, babu (pekerja rumah tangga), yang penuh dengan rutinitas dan aturan sang juragan, masih sempat-sempatnya nulis. Bahkan bukan hanya sempat-sempatnya, tapi sengaja digemari dan dilakoni secara konsis. Ini luar biasa seorang sosok TKW menurut saya.

Di sisi lain rasa kagum, saya menjadi malu. Betapa tidak, sebagai mantan seorang pelajar sarjana ga’ pernah berkarya tulis lagi. Saya kalah karya dengan seorang babu.

Selesai melihat singkat itu, saya langsung segera ingin mencatat sesuatu. Catatan ini. Rasanya saya amat rugi kalau tidak mengenang secara spesial dari fenomena babu fenomenal ini. Saya tergugah untuk menulis kembali seperti saat menjadi pelajar dulu. Mungkin ini  bisa menjadi umpan ampuh gaerah tulis saya agar muncul kembali secara konsis ke depan. Terima kasih saya ucapkan kepada ba’ Sri.

Dari situ, saya juga ingat lagi pesan yang menyulut sekaligus selalu mengobarkan jiwa saya untuk semangat menulis saat di pesantren dulu, pesan kiai saya tercinta, Allahu yuhibbuhu Kh. Moh. Idris Jauhari (alm), ingatnya begini:

"Jadilah kalian penulis dalam posisi apa saja, sebab ada banyak kelebihan menulis. Pertama, kalian akan lebih hidup abadi. Karena karya tulis kalian masih ada dan dibaca. Kedua, karya kalian akan memiliki jangkauan medan yang lebih luas. Dan ketiga, jangkauan objek lebih banyak. Misalnya, toh walaupun kalian ada di pedalaman desa, di ruangan bagaimanapun, tapi kalian seorang penulis, lalu mengirimkan tulisannya di media masa dan dimuat, maka tulisan kamu itu memenuhi nusantara, dibaca orang banyak, dan andai kau pergi ke manapun atau bahkan mati, maka tulisanmu tetap ada terbaca. Bahkan, tulisanmu bisa dibaca seluruh dunia dengan adanya perkembangan teknologi sekarang. Andai kalian berdakwah melalui suara saja, maka akan sangat terbatas sekali. Berhenti bersuara berarti selesai, dan hanya dapat ditangkap bagi orang yang dapat mendengarnya saja, selain lagi dapat menguras tenaga."

Saudari hebat Sri dengan “Babu Ngeblog”nya menjadi contoh gambaran hidup pesan Kiai saya ini.
Saya juga ingat ungkapan sastrawan terkenal Pramoedya Ananta Toer, "Karena kau menulis. Suaramu tak kan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari."

Selain itu semua, soal tulisan, pihak realitas tertinggi di luar kasat pun menegaskan, Tuhan bersumpah demi qalam (alat tulis), "Nun, demi qalam dan apa yang mereka tulis, berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya” (QS, Al-Qalam: 1-3).

Wah, dari semua keistimewaan menulis di atas, tidak bisa diragukan lagi, bila dikembalikan kepada personal, rasanya seorang babu Sri Lestari atau nama trend blogwalkingnya “Rie Rie” adalah seorang wanita yang hebat. Seorang babu yang mengandung berlian di dalam dirinya. Dia tidak kalah dengan seorang akademisi.

Sejatinya, dia yang lebih hebat dari juragannya. Dia adalah seorang jurnalis yang sejati; menulis dengan sanubari; menulis hanya semata untuk memperjelas eksistensi diri; menulis karena hanya sekedar ingin berbagi dengan dunia. Dalam ruang dan waktu yang amat sangat terbatas. Tanpa harap apa-apa. Ini sebuah kesejatian yang luar biasa saya kira.

Kalau boleh saya berandai, andai saya seorang owner sebuah perusahaan media tulis, maka saya posisikan seorang “Rie Rie” pada posisi yang tepat setepat-tepatnya, bukan sebagai babu lagi.

Akhirnya, saya ucapkan kepada ba' Rie Rie, "Kau manusia besar, kau manusia hebat, kau anak negri masa depan, yang ditunggu dunia, kau akan mampu mengubah dunia!"

Jujur, saya amat iri dengan lelakumu.