Jumat, Maret 28, 2014

MEREKA YANG MELARAT SESUAP NASI


"Bang, tolong saya minta air esnya. Saya haus," ucapan seorang penjaja koran kepada saya sewaktu melintas di depan kedai Es Degan Durian saya. Tampaknya sangat lelah, peluhnya bergerimis, pakaiannya kumuh dan kayaknya agak idiot. Segera saya kasih seporsi es degan yang enak. Saya tidak tega sekali. Lalu dia pergi tanpa ucapan apa-apa lagi.

Selang beberapa hari dari itu ada lagi: "Mas, minta air esnya," ucapan tegas dari seorang lelaki kepada saya yang melintas di depan kedai Es Degan Durian saya. Perawakannya tinggi, lumayan gagah, tampak masih muda, tapi pakaiannya kumuh, omongannya normal, dan ucapannya tegas sekali kepada saya seakan merintah tanpa tak tampak sedikitpun rasa malu kepada saya. Sehingga saya sempat bingung dalam hati, ini orang normal atau agak miring ya?! pikirku. Ah, saya tampik pikiran yang macem-macem, saya gak tega dengan kondisinya tanpak ngosngosan. Lalu segera saya kasih es degan yang seger. Langsung saja dia minum dengan dahaganya sambil tetapi berdiri di depan kedai. Selesai, lalu tiba-tiba dia pergi begitu saja sambil nyengir tanpa ucapan apa-apa kepada saya.

Hari ini, baru saja, (selasa, 24/03/2014) siang-siang bolong, ada lagi permintaan itu. Namun, kali ini bukan seseorang yang agak-agak itu. Ini normal sekali. "Mas, menawi jenengan badhe tumbas tape? Menawi mboten, ngapunten, kulo numpang lenggah mawon nggeh, kulo badhe istirahat, panas, mboten kiat maleh, kulo nyuwon tuyo es mas," pintanya dengan bahasa jawi tulen.

Lihat caranya yang santun, saya keburu menyilahkannya duduk dan saya haturkan es degan lebih santun lagi. Ditambah, saya melihatnya betul-betul loyo, keringat memenuhi wajahnya yang sudah lumayan keriput. Berperawakan kecil, baju kumuh, dan pandangan mata yang tampak mengisyaratkan kehidupan yang penuh derita. Dia minum es dengan lahap sekali. Tape yang dijajakan ditaruh di meja dengan rapi. Tampak pada plastik bungkusannya sudah lusuh berdebu, pertanda kebanyakan dipegang. Dia menjajakannya dengan berjalan kaki dan menentengnya dengan pegangan kedua tangannya. Karena dia menjajakannya hanya beberapa bungkusan kresek saja tanpa wadah. Tidak sampe 15 bungkusan. Kayaknya dari kemarin tidak laku-laku. Bisa jadi, rupanya di dalam ada sebagian yang pinggirannya sudah basi.

Saya suruh dia istirahat di kedai es saya, sekalian saya ajak ngobrol biar merasa enjoi  dan semangat.

"Mas, saya sudah berpuluh tahun menjajakan ini dan sejak itu pula saya ga’ pernah berubah. Lakunya sedikit-sedikit saja. Pokoknya dapat buat makan keluarga sehari saja saya sudah sukur. Mau lebih dari itu tidak pernah mungkin sejak dulu. Bahkan sering juga defisit. Bahkan kemarin yang laku cuma 1 kresek saja. Sekarang, panas-panas begini, mulai tadi pagi keliling ga’ ada yang laku 1 pun. Tapi bagaimanapun itu, inilah memang bagian saya. Saya selalu bersyukur. Yang penting sehat dan dapat makan sehari-hari. Lha whong Tuhan sudah menentukan saya begini. Dan saya selalu niat begini buat nafkahi keluarga," keluhnya kepada saya, sambil sesekali memandangi jejeran tapenya di atas meja.

"Zaman ini mas, orang miskin seperti saya makin sulit cari uang. Sedangkan yang kaya enak-enak saja makin kaya. Cari uang sangat gampang," lanjutnya.

"Ya pak, sabar saja, yang penting sehat dan kumpul keluarga. Pada saatnya tiba, ya bisa sukses juga. Entah kita atau pada anak-anak kita kelak. Kesuksesan juga bukan berupa kaya atau banyak harta melulu. Karena anugrah Tuhan bukan hanya berupa bahagia atau harta melimpah, tapi sering kali juga berupa kelemahan atau kemiskinan yang pada saatnya justru menjadi selancar hebat sampai kepada kebesaran yang lebih abadi," tanggapku mencoba menyemangati.

"Iya mas, iya mas, sangat benar itu, terima kasih banyak," katanya tampak matanya lembab.
Lalu, dia pergi menenteng tape-tape lusuh itu.

Pada sisi lain, saya menyaksikan di depan kedai saya dan samping kanan kirinya, ruko-ruko megah yang dimiliki bos-bos besar bermobil mewah. Saben hari mobil-mobil mewah berjejeran parkir, orangnya berbelanja. Bahkan ada beberapa resto nasi yang harganya untuk 1 porsi 30an ribu, ini banyak pengunjungnya.

Begitu juga, ada salon elit, saya liat pengunjungnya wanita-wanita konglomerat cantik-cantik. Dari yang kayaknya masih muda seumuran SMP SMA yang menyetir mobil mewah sendiri sekelas pajero, sampe kepada ibu-ibu yang lumayan sudah berumur. Mereka datang hanya untuk berdandan. Konon sekali dandan sampai jutaan rupiah. Ini dirutinkannya paling tidak 3 hari sekali.

Ini sekelumit cerita tentang derita dan ajaran tentang sebuah pemberian atau berbagi.

Alam menunjukkan kepada kita, pada satu sisi ada kehidupan yang penuh kenikmatan, kemegahan, dan tawa-tawa, tapi pada sisi yang lain ada kemelaratan atau kesengsaran dan jerit tangis; Pada satu sisi ada yang suka menghambur-hamburkan uang, tapi pada sisi yang lain bersamaan, ada banyak yang mencari sesuap nasi saja dalam sehari sangat kesulitan.

Aduh, ini dua sisi yang sebetulnya berdampingan dan bersamaan, tapi terasa sangat jauh sekali dan tidak nyambung. Betapa tidak, pikirkan saja, modal buat berdandan sekali saja bagi sisi orang elit itu bisa dibuat makan sampai berbulan-bulan bagi ukuran yang melarat-melarat itu. Andai saja ada kesambungan diantara dua sisi itu, maka saya sangat percaya, setidaknya, yang melarat-melarat itu sedikit lega, tidak terlalu sengsara hanya dalam hal makan saja. Yakni, kesambungan berupa kesadaran untuk saling peduli dan berbagi.

Maka, melihat itu semua, bukan salah ketika dunia melarat sampai mengatakan, “Dunia ini begitu kejam”. Sebetulnya ini kiasan metaforis, bukan dunianya yang kejam, tapi memang banyak yang berdiri di atas bumi ini yang betul-betul tega-tegaan melihat penderitaan yang lainnya. Toh, memang juga tidak salah, kalau dunia elit ada yang berpendapat bahwa seringkali penderitaan itu mereka yang melarat sendiri yang membuatnya karena mereka berprilaku malas atau memprilakukan hidupnya sendiri secara tidak cerdas atau tidak hati-hati.

Meski demikian, ini bukan lantas menjadikan alasan masuk akal untuk juga malas dalam berbagi. Karena kita tidak berhak untuk menjadi peng-kapok atau pemberi akibat kepada yang lain. Akibat atau dosa seseorang untuk dirinya sendiri bukan berarti membatalkan kita untuk berbuat baik. Namun, justru menjadi peluang kita untuk berbuat yang lebih baik lagi. Kita tidak usah ngurus, apakah kesengsaraan seseorang akibat sengaja dibuat karena kejahatannya sendiri, yang penting kita bisa berbuat baik kepada siapa saja dan berbagi bersama yang terbaik.

Begitu juga, harus selalu diingat, bahwa berbagi bukan berarti pokoknya memberi. Tapi, berbagi harus dengan hati, ketulusan serta kelembutan. Bukan dengan arogansi. Saya yakin Tuhan juga berpandangan seperti itu.

Inilah pendapat Tuhan itu, Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan salat, yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta),…. “ (Al-Ma’aarij: 19-25)

"Sesungguhnya orang-orang berbuat baik itu akan meminum dari gelas yang campurannya air kafur. Yaitu, sumber mata air (dalam surga) yang diminum oleh hamba-hamba Allah dan mereka dapat memancarkannya dengan sebaik-baiknya. Mereka memenuhi nadzar dan takut akan hari yang siksanya merata di mana-mana. Dan mereka memberi makan makanan yang disukainya kepada fakir miskin, yatim piatu, dan yang tertawan. Mereka berkata, 'Sesungguhnya kami memberi makan kalian karena mengharap ridlo Allah semata, bukan karena ingin balasan dan ucapan terima kasih dari kalian." (Al-Insan: 5-9)

Akhirnya, mari kita hidup secara berdampingan dengan penuh saling welas asih. Perbedaan adalah keindahan. Mari kita bayangkan, kita yang menjadi mereka yang melarat hanya mencari sesuap nasi itu sepanjang hari. Sungguh amat nelangsanya. Dan, sungguh secara pribadi, saya pernah betul-betul sering, bukan hanya sesekali, mengalami hal itu, derita itu, sakit itu. Aduh, sangat nelangsa sekali. Meski sampai saat ini saya belum betul-betul pulih. Namun, saya aman-aman saja, saya senang-senang saja. Karena saya masih muda, yang memiliki impian dan keyakinan. Serta lebih dari itu, saya orang yang memiliki Tuhan yang Maha Kaya, Bijaksana, dan Welas Asih.

Perhatikan janji Tuhan ini, Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (As-Syarh: 5-8)

Saya juga selalu ingat seorang anak bayi yang sedang berlatih berjalan. Dia tidak pernah merasa lelah walau harus selalu berupaya. Dia tidak pernah merasa menyerah walau penuh lelah. Dia tidak pernah mengeluh walau harus terjatuh-jatuh. Dia tidak pernah merasa duka walau harus luka. Dia tidak pernah merasa sedih walau harus menangis. Dia tidak pernah merasa menyesal walau selalu gagal. Dia selalu gigih sambil riang gembira, berlatih, berlatih, dan berlatih. Sehingga akhirnya, dia bisa berjalan bahkan berlarian. Tidak ada ceritanya anak bayi belajar berjalan, lalu gagal, apalagi sampai prustasi. Saya dan kita seharusnya tidak kalah dengan anak-anak bayi itu. Amin.

Malang, 25 03 2014 M

Tidak ada komentar:

Posting Komentar