Sabtu, April 12, 2014

Demokrasi Eksploitasi dan Pemimpin-Pemimpin Tikus Curut


"How much i pay?"

"Only 5 thousand sir".

"Only five?! Very chief, it's very deliciaus!"

"Yes, that i want, not only money, but more impotant than all for me is mister happy here."

"Ooh yea, very good. You are good men."

"Oh, i am not it sir! But i know nothing. In my life the important is i can make other happy. Just that. He.."

"Oke, thanks so much. Nice too meet you."

"I am too sir."

Ini pengalamanku ngobrol-ngobrol dengan seorang bule waktu mampir di kedai es degan durian saya. Saat itu, ada seorang Jawa yang minum es juga. Dia bertanya perihal percakapanku.

"Mas, tadi itu nanya apa?"

"Ow, nanya harga."

"Berapa pean bilang?"

"5 ribu saja mas."

"Cuma 5 ribu mas?!" "Kok ga’ dimahalkan aja, lha wong bule banyak uangnya, walaupun 20 ribu dia mau aja."

"Ngga’ mas, saya ga' bisaan. Bagi saya semua orang sama, kalau itu udah harganya ya semuanya gitu." tegasku.

Dalam kesempatan lain. Ada serombongan orang bermobil mercy mewah warna hitam plat B malam-malam tiba-tiba mampir di kedai saya nge-es juga. Jumlahnya 5 orang. semuanya bergaya perlente, bersepatu hitam mengkilat dan berjas. Tampaknya pejabat yang baru datang dari kunjungan, mungkin.

Selesai minum es degan alami tanpa rasa-rasa, dia bertanya harga, "Berapa mas?"

"5 ribuan pak. 5 ribu x 5 = 25 ribu pak."

Di saat itu juga ada tetanggaku yang mendengar, dia menyikapi saya, "Mas kok pean kasih cuma 5 ribu, itu orang-orang kaya. Pean target 10 ribuan mereka mau.

Saya jawab sama seperti pengalaman pada orang bule sebelumnya. Kaya miskin sama bagi saya. Bahkan kalau tampak orang kurang mampu saya kasih di bawahnya.

Kemarin hari, di kedai es degan saya yang cabang, saya juga mengalami hal yang sama. Ada orang Cina bermobil mewah beli es degan. Karena kedai ini lebih berada di kota, maka saya kasih harga 7 ribuan. Semuanya juga sama 7 ribuan. Kebetulan saat itu ada orang yang kenal dengan saya pas minum es juga. Dia menyikapi begini, "Bro, kok cuma 7 ribu? Itu orang kaya.” Jawaban saya seperti pengalaman-pengalaman sebelumnya.

Saya juga sering mengalami begini: sering ada orang sakit, atau terapi, atau over dosis minuman keras, mereka gupuh beli air degan sebagai obat atau jamu. Sering orang-orang yang melihat mereka menegor saya, kok dikasih murah.

Semua mereka itu menegor saya demikian bermaksud ingin menunjukkan kepada saya, bahwa itu menjadi peluang untuk menjual mahal karena mereka sedang kepepet sehingga mahalpun dibayar. Jawaban saya tetap, siapapun dan bagaimanapun kalau sudah saya pastikan harganya segitu ya segitu. Bahkan umpama saya gak tega dengan sakitnya, saya kasih gratis biar cepat sembuh.

Pengalaman-pengalaman ini menjadi pelajaran bagi saya, ini kuliah alam materi sosial, bahwa semua yang ikut dalam pengalaman saya itu menyikapinya sebagai peluang atau jurus 'mumpung' demi kepentingan atau kebahagian sendiri. Bahkan terjadi di atas keterjepitan yang lain. Ini namanya eksploitasi. Memperalat orang lain. Menjadikan orang lain sebagai media untuk mewujudkan kepentingan pribadi.

Saya menjadi ingat dengan sejarah bangsa ini. Prilaku eksploitasi ini adalah kebiasaan para penjajah dulu di negri kita ini. Saat itu bangsa ini tidak berharkat dan bermartabat layaknya benda mati yang dibuat alat dalam bentuk kerja rodi atau kerja paksa. Saat itu bangsa kita sedang lemah, sehingga menjadi peluang atau lahan gembur bagi negara lain yang lebih maju sekaligus berkarakter bringas untuk mengesploitasi negara ini, baik dari SDA maupun SDMnya.

Namun, tidak selamanya dan tidak semuanya SDM-SDM di negri ini lemah dan bodoh. Dari mereka ada yang cerdas, ada yang berani, ada yang sadar, lalu mereka berontak dan mengangkis bangsa ini dari ekspoitasi kejam itu menuju kepada kemerdekaan. Mereka itu adalah pahlawan. Akhirnya negri ini bisa merdeka. Bangsa Indonesia.

Sekarang, kita tinggal enaknya. Perjuangan bukan berarti perang atau pemberontakan. Tapi, perjuangan itu adalah mengisi, menghiasi, dan melestarikan kemerdekaan ini dengan karya kesejahteraan dan kebaikan bersama.

Ini yang harus selalu kita ingat, bahwa perjuangan dahulu adalah memerangi para penjajah dan kejahatan yang mengeksploitasi. Juga, bukan lantas hidup sudah merdeka dari penjajah-penjajah malah menjadi tiran-tiran, penjajah, atau bajingan-bajingan baru di negri sendiri. Menjajah sesama di negri sendiri dan tukang mengekploitasi saudara sendiri yang tidak tahu apa-apa.

Cerita saya ini menjadi contoh, alangkah banyaknya manusia-manusia yang bermental penjajah, tiran-tiran eksploitatif, dan berbahagia di atas kesedihan yang lain. Contoh besarnya, banyak para pemimpin-pemimpin cap bajingan di negri ini. Mereka tiran-tiran kejam berdarah dingin, korup, main wanita, dan hobi melahap hak-hak rakyat.

Di negri ini, tahun ini, 2013-2014, adalah momen-momen pemilu dari level pilkades, pilkada, pileg, sampai pilpres, ini adalah perjuangan dalam mengisi kemerdekaan. Bentuknya, sebelum memilih, kita memerhatikan, mengamati, mengenali, menimbang-nimbang, dan kalau bisa harus mengetes secara jeli, siapakah yang betul-betul pantas menjadi para pemimpin di tanah sorga ini. Jangan sampai terulang lagi pemimpin yang dikira pantas ternyata jadinya banyak yang berkarakter tikus curut, yang kehadirannya meninggalkan bau busuk di negri ini. Mereka penjajah. Mereka sosok eksploitatif.

Akhirnya, mungkin catatan ini terasa terlalu membesar-besarkan, atau lebay. Tapi, bagaimanapun, ini adalah miniatur sosial isi negri ini, saya dengan pengalaman saya adalah bagian dari bangsa ini, bahwa diantara orang-orang di sekitar saya itu pada khususnya, banyak yang berkarakter 'mumpung ada peluang', raja tega, bahagia di atas derita, atau tukang ekspoitasi. Saya dan mereka rakyat Indonesia. Saya, kita, para pemimpin, semuanya adalah bangsa Indonesia.

Paling terakhir, saya berdoa semoga orang-orang, setidaknya, khusus yang saya temui di kedai es degan saya itu, yang suka menjadikan orang lain peluang pribadi itu, tidak nyaleg atau daftar nyalon jadi pemimpin di level apapun. Karena kalau jadi sudah jelas nantinya negri ini lebih banyak dikerubungi tikus-tikus curut lagi.

Simpang Wilis-Malang, 09 14 2014 M

SAYA, ES DEGAN, DAN ORANG CINA


Tuhan menciptakan segala sesuatu itu tidak pernah sia-sia, apapun itu, baik yang terkecil maupun sampai terbesar. Itu semua saking Maha Bijaksana dan Welas Asihnya Tuhan, terutama bagi manusia. Juga Tuhan tidak pernah malu atau segan menciptakan apapun yang Ia mau.


Secara pribadi, saya sampai tidak mampu mengekspresikannya saking Maha Berkhikmahnya Tuhan dalam penciptaan-Nya. Sehingga seringkali saya hanya bisa terharu sambil tak terasa air mata menetes. Bayangkan saja ayat-nyat ini: "Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?" Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik," (QS, 2: 26). Subhanallah.

Termasuk penciptaan Tuhan yang tak pernah sia-sia itu adalah kemiskinan. Ya, saya saja contohnya. Banyak keberuntungan yang saya dapat dari menjadi orang miskin. Saya contohkan cerita ini:

Karena saya miskin tentunya saya harus berubah, lebih memastikan visi dan misi hidup ke depan. Pada intinya, masa ke depan saya tidak miskin lagi, sukses kaya raya. Saya tulis besar-besar di kamar salat saya, 'SAYA LELAH JADI ORANG MISKIN.'

Satu-satunya cara paling populer pada umumnya untuk sukses itu adalah bekerja. Soal bekerja ini, sampai-sampai menteri BUMN mempopulerkan falsafah publik yang berbunyi, 'bekerja, bekerja, dan bekerja'.

Setelah ada beberapa pekerjaan yang telah saya tekuni dan belum membuat saya menemukan kesuksesan materi itu (baca: kaya raya), maka saya mencoba usaha lain, yaitu menjadi bakul es degan inovasi rasa, yang saya mulai dari dengan mendorong rombong di jalanan dan alhamdulillah sampai saat ini sedikit ada kemajuan, saya menjual di dalam kedai meski belum bagus, masih apa adanya. Kerena sudah tidak keliling lagi di jalanan makai rombong, maka saya sangat amat senang sekali, saya pasang besar-besar di depan kedai saya banner bertulis, BEDHODW ICE: ES/JUSS DEGAN DURIAN (Inovasi Es/jus Degan Masa Depan Sehat Kuat Nikmat) RASA SUSU MADU, ALPOKAT, JERUK, STROWBERY, JAMBU, BUAH NAGA MERAH/HITAM, dll.

Namanya jualan minuman di warung otomatis banyak macam orang yang membeli. Semuanya harus saya prilakukan bak raja, tidak ada yang berbeda. Baik pembeli yang potongannya gembel, siswa, pejabat, karyawan, orang cina, bermobil mewah, dan semuanya saya tidak ngurus. Yang penting dalam hal ini, jualan saya laku dan menjadi makin laris. Tapi bagaimanapun itu, kalau boleh saya ungkapkan, saya merasakan banyak keunikan atau perbedaan, dan kadang terlalu ekstrim dari para pembeli yang berbeda begron itu.
Saya jelaskan yang paling nampak di sini:

Orang Cina, mereka cenderung gengsi, egois, enaknya sendiri, dan kalau saya bahasakan kasarnya 'kemenyek'. Memang, kebanyakan mereka memerhatikan kualitas tanpa peduli harga, mereka oke-oke saja mahal asal berkualitas, cuma banyak juga yang kualitas ingin nomor 1 dengan harga super murah. Ngotot-ngototan untuk dapat murah ditambah dengan gaya gengsi dan egoisnya.

Gengsinya, mereka tidak mau dengan warung atau kedai yang bentuk dan kondisinya kurang meyakinkan. Yang mereka suka terkesan elit. Kalau terpaksa beli kekawatirannya terhadap keseterilan sampi ekstrim, semua peralatannya sampai-sampai diperiksa bahkan diciumin tanpa ada rasa sungkan atau  malu seraya mengurus bertanya.

Ya, tapi ada juga sih, walau sedikit sekali orang Cina yang percaya saja, dengan perhatian sekedarnya dan tanpa banyak nawar, bahkan ada yang amat pengertian, seperti tanpa uang kembalian kalau hanya gopek.
Pada intinya, gampang saja memprilakukan konsumen Cina, tanpakkan kebersihan dulu lalu kualitas, dan biasanya yang alami-alami atau murni. Soal egoisme murah dicuekin saja. Beli tidak beli ya biar saja. Pada akhirnya biasanya beli juga. Mereka memang kebanyakan serba perhatian dan kawatir soal kebersihan, kemurnian, dan kesehatan sehingga kerap sampai membuat mereka berlebihan ketingkat egois, elitis, buruk sangka, dan gengsi.

Lain lagi dengan orang Madura. Mereka cenderung yang diurus awal kali adalah harga murah dapat banyak. Tidak begitu peduli, entah itu kualitas enak atau tidak. Entah warungnya gubuk di pinggiran sungai atau elit, bahkan ga’ peduli yang elit-elit, yang penting murah dapat banyak. Tapi tidak jarang juga yang terlalu egois, ingin dapat enak dan banyak dengan ngotot-ngototan nawar. Bahkan bisa jadi kalau sudah tidak bisa ditawar murah mereka nekat meninggalkan keliling-keliling ke yang lain yang lebih murah dan dapat banyak. Namun, mereka tidak sedikit juga yang baik penuh pengertian. Pada intinya, mudah melayani konsumen Madura: lebih diperhatikan terus dikasih banyak. Soal kecerewetan harga tidak usah dipedulikan. Beli tidak beli terserah.

Orang Jawa juga beda, mereka cenderung yang diurus awal kali enaknya. Meski selanjutnya ngurus harga, tapi ini tidak seekstrim orang Madura. Mereka cenderung pengertian, memaklumi, dan lemah lembut. Ono rupo ono rejo, kata mreka.

Jadi, jadi bakul es degan ini saya sangat amat beruntung kalau begitu. Banyak hal yang saya temui di jalanan. Sehingga bisa menjadi ilmu, cerminan, ketahanan, dan menambah kedewasaan diri. Saya sangat amat bersyukur sekali.

Toh demikian, bukan berarti saya kerasan jadi miskin begini, jadi bakul es degan kecil begini. Seperti di awal kali saya catat, ini adalah salah satu dari banyak cara kesuksesan yang saya tempuh. Mungkin saja dan saya yakin, tarekat es degan ini yang bisa mengantarkan saya kepada kebesaran. Saya selalu semangat dengan pengamatan, betapa lebih banyak orang besar (baca: sukses) berangkat dari yang kecil, hal-hal yang sepele; Berapa lebih banyak justru kelemahan menyebabkan orang menjadi kuat; Berapa banyak malah kekurangan seseorang berbalik menjadi kelebihannya yang membuatnya ngetop. Dan, sering saya catat janji Tuhan, inna ma'al 'usri yusron, fainna ma'al 'uri yusron’ (QS, Asy-Syarhu). Serta, 'Innani 'inda dzonni abdi by'. (Hadist Qudsi).

Terakhir, saya mohon maaf kalau saya menyebut perbedaan suku-suku di atas. Itu bukan niat saya mengorek aib, tapi sebuah kewajaran dalam perbedaan, dan perbedaan adalah kekayaan. Tiap makhluk Tuhan, lebih-lebih suku atau manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dan kekurangan itu ada yang terlalu tampak ada juga yang biasa-biasa. Masing-masing memiliki ciri khas, dan ciri khas ini menjadi identitas tiap pribadi, suku, bangsa, atau yang lainnya.

Di sisi lain, saya katakan, bukan lantas saya benci dengan orang-orang yang bagi saya itu egois atau negatif lainnya. Saya hanya hendak mengekspresikan bahwa sungguh Tuhan Maha Kaya dan Bijaksana menciptakan segalanya beraneka ragam dengan jenis, karakter, dan ciri yang berbeda-beda. Maka bagi saya, biarlah masing-masing berbeda dengan kelebihan dan kekurangannya. Yang terpenting adalah kita saling rukun dan welas asih dalam menjalani hidup yang sekali ini.

Simpang Wilis-Malang, 06042014.

3 KAWAN, KEAKRABAN DALAM PERBEDAAN

Ada 3 orang berkawan akrab, masing-masing berbeda jauh. Samanya, ketiganya sama baiknya. Anggaplah ketiganya A B dan C.

Perbedaannya: yang A, umurnya sudah lebih separuh baya. Latar belakangnya dari keluarga orang besar, bahkan darah biru, keratonan. Konon, kaya raya berpangkat dan terhormat.

Pada suatu rentang kehidupannya mengalami kebangkrutan besar. Konon katanya karena tidak peduli dengan agama. Pokoknya uang banyak hidup nikmat. Jadinya, hidupnya berubah drastis. Bahkan, ibarat sebuah perjalanan dia bukan hanya kembali tertatih-tatih tapi ngesot. Jelata sekali. Jalan rasanya makin buntu untuk bangkit kembali menuju kejayaannya lagi. Lalu dia banting setir. Dia tidak memilih usaha menuju kejayaan materi lagi, tapi justru mencari jalan pintas yang menuju kepada posisi yang di luar logika dan kasat mata, kekayaan batin, ketenangan.

Dia menjadi trauma berat dengan persoalan harta. Merasa bagaimanapun manusia tetap saja mahluk lemah tak punya apa-apa. Semuanya cuma titipan Tuhan. Kapanpun Tuhan berkehendak mencabut nikmatnya seketika akan habis musnah. Entah dengan apapun caranya tak bisa diduga. Pada intinya, musibah kebangkrutannya justru menjadikannya arif dan bijaksana serta ahli spritual.

Kearifan dan spritualitasnya itu tidak seperti spritualitasnya santri atau para agamis. Dia tidak bisa ngaji karena dalam keluarga besarnya sejak kecil tidak terbiasa mengaji. Biasanya cuma ritual kejawenan ala keraton. Begitu juga ajaran kesalehan sosialnya bukan ajaran agamis tapi semacam ajaran prilaku budi luhur ala keraton. Pokoknya, semua aktivitasnya tulen berwarna kejawenan.

Sekarang, usahanya apa adanya. Selalu menjaga budi luhur, kejujuran, kelembutan, dan welas asih. Selain itu, aktivitasnya juga merawat pusaka keris-keris warisan keraton.

Kalau malam jarang tidur. Selalu ngalas, bersatu dengan alam, di gunungi-gunung dan di petilasan-petilasan. Pagi kembali pulang ke keluarganya bekerja memenuhi nafkah.

"Sungguh mas, kalau udah ada di puncak melihat ke bawah sekitar, rasanya diri ini kecil mas. Sungguh, di situ kita akan betul-betul menyadari kekuasaan Tuhan," ini ceritanya suatu saat pada saya.

Dia menjadi disukai orang. Entah mungkin karena dia suka lelaku malam, dia memiliki kelebihan unik, dia menjadi sosok problem solver, dijujuki orang untuk meminta solusi berbagai persoalan apapun, terutama soal kemistikan. Misalnya, orang kena santet, rumah dihuni lelembut, orang kerasukan, dsb. Meski demikian dia tidak mau disebut dukun. Dia selalu merahasiakan posisi dan kelebihan dirinya. Kecuali teman-teman terdekatnya karena tahu dengan sendirinya. Dia berprilaku dan bergaul seperti masyarakat pada umumnya. Mungkin kalau boleh saya bilang, dia seorang mistikus supranatural.

Yang B. Ini bisa dibilang pengusaha sukses. Punya pabrik kerajinan perak dan emas. Namanya pabrik emas, tentunya tidak butuh gedung besar seperti pabrik rokok. Rumah bagian belakangnya dia buatkan loteng, kira-kira ukuran 6x6 persegi, sebagai pusat kerajinan tersebut. Beberapa kode model emas yang telah ia lahirkan dan telah menyebar ke banyak bagian nusantara ini, termasuk di Bali dan luar pulau, seperti kode NB, HSN, DOA, dll. Tenaga kerja alias karyawannya kurang lebih 20 orangan.

Namanya usaha pembuatan perhiasan emas tentunya hasilnya bukan 100an ribu, dan perputaran keuangannya bukan hanya puluhan juta tapi milyaran. Bayangkan saja, sekali dapat job sebanyak kiloan emas tua 24 krt. Tiap 1 gr emas 24 karat tidak pernah kurang dari 500 ribu harganya.

Jangankan hasil untung kerajinannya, konon karpet yang dibuat alas kamar pengrajinan tersebut tiap 6 bulan sekali dibersihkan dan disaring untuk dipilih serbuk-serbuk emas sisa gilingan yang tertempel. Serbuk-serbuk emas yang mengendap di karpet itu saja sudah dapat menghasilkan puluhan gram mas tua. Ini bonus yang tak terduga sama sekali. Lebih istimewa lagi, penampungan air sanitasi (comberan) dari dalam rumahnya jadi rebutan orang. Kira-kira 1 tahunan sekali disaring dan masih dapat menghasilkan beberapa gram emas tua.
Dari usahanya ini tentunya yang B ini seorang pengusaha atau bos sukses. Kaya raya. Cari uang mudah sekali. Tanpa capek-capek.

Sisi sosialnya, orang ini juga santun dan penyantun. Santunnya, prilakunya baik dan lembut dengan orang sekitarnya tanpa pandang bulu, kepada siapa saja. Penyantunnya, dia suka menolong atau membantu orang lain. Bukan hanya kepada yang susah tapi juga kepada yang tidak susah. Dan juga tidak pandang bulu, lebih-lebih orang yang membutuhkan bantuan.

Dari ceritanya, toh mujur demikian hidupnya, dia tidak secara tiba-tiba jadi orang kaya. Tapi awalnya dia orang yang penuh derita juga. Bahkan, konon suatu saat, pernah menjual beberapa pakaiannya lantaran saking terpaksanya tidak punya uang membeli beras. Sering juga pindah-pindah tempat kerja, gonta ganti jeragan. Jadi, kesuksesannya yang sekarang ini betul-betul berangkat dari kosong bahkan min (pinjaman), dari jerih payahnya, dari kesusahannya.

Maka dari itu, seringkali ketika ngobrol dia selalu bercerita tentang ketidaktegaan. Karena dia telah lama mengalami kemiskinan dan penderitaan, bahwa menjadi orang melarat itu amat menyakitkan. Sehingga siapapun yang melarat lalu meminta bantuan kepadanya tidak akan pernah balik dengan kecewa. Selain itu, dia juga suka ngobrol dengan orang-orang yang berlatih usaha, berbagi pengalaman untuk menyemangatinya. Bahkan, tidak jarang berbagi modal. Dari semua itu dia akhirnya menjadi orang kaya yang disukai dan disegani. Di mana mana banyak temannya.

Yang C. Ini yang aneh sendiri. Berbeda dengan kedua temannya, A dan B. Paling muda dan sedang melarat. Namun demikian, dia memiliki sesuatu yang tidak pernah dimiliki kedua temannya A dan B. Kalau soal kemelaratan A dan B sudah merasakan juga. Kalau soal kekayaan malah A dan B sedang merasakan. Yakni, yang C ini belum pernah kaya tapi dia seorang sarjana. Malah masih berencana pasca sarjana dan sampai selesai. Umurnya sekitaran 29an. Belajar sejak kecil di pesantren, mulai SMP sampe sarjana. Terakhir dia mondok ngafal Al-Qur'an. Lama mondok semuanya kira-kira 13 tahunan. Sehingga mungkn meski bukan ahli agama dia sedikit banyak paham tentang agama. Di samping sarjana, dia juga seorang hafidz Qur'an.

Dengan ilmu yang ditabung selama di pesantren itu, dia  dipercaya dan disenangi masyarakat, sehingga dia bisa merintis anak-anak ngaji semacam TPQ. Kira-kira sudah ada 50an jumlah muridnya. Begitu juga, tidak hanya anak-anak kecilnya yang dia didik, tapi orang dewasanya juga dia adakan pengajian semacam taklim dan tahlilan.

Baru-baru ini, ini yang membuat dia meski paling melarat, makin memiliki nilai lebih dari pada kedua temannya, yakni merintis yayasan Pendidikan Pesantren Al-Qur'an dan sosial yatim piatu. Gedung-gedungnya dalam proses pembangunan. Kurang lebih 30an anak yatim piatu yang dia santuni tiap bulan. Semua muridnya sudah kurang lebih 50an. Kalau dia ngobrol dengan temannya termasuk A dan B itu, dia tidak segan selalu memohon doa agar impiannya terkabul, bahwa dia bercita yayasannya menjadi pesantren yang besar dan terkenal suatu saat.

Cerita soal sisi ekonomi si Hafidz Qur’an ini, sungguh sangat mengharukan. Coba dibayangi ini: usahanya untuk memenuhi nafkah keluarganya adalah jual es degan. Awalnya, dia menjualnya pakai rombong yang didorong di pinggir jalan. Beberapa bulan kemudian sampai sekarang alhamdulillah sudah ada di dalam kedai di sebuah jalan ramai di tengah kota.

Meski tampaknya ada perkembangan pada es degannya itu, soal makan sehari-hari ia tetap kekurangan. Tidak jarang kalau sudah dalam seharian degannya tidak laku, atau hanya 1-3 porsi saja lakunya, dia membeli beras dengan berhutang, padahal hanya 1-2 kg beras, itupun dia pilih paling murah. Lauknya, dia tidak jarang meminta pepaya di pekarangan tetangganya dan dimasak sedemikian mungkin oleh istrinya biar enak. Prinsip, "lauk makan paling enak adalah lapar", artinya kalau sudah lapar orang pasti lahap makan, ini sudah biasa menjadi jargon andalan yang amat melekat dalam kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Karena, meski kedai es degannya sudah berada di keramaian, pembelinya masih sepi. Maklum memang masih 1 bulanan buka. Orang belum mengenal. Dan masih satu jenis kuliner saja yang dihadapi, es degan. Jadi, 1 hari hanya laku 1-2 porsi itu sudah biasa. 1 porsinya 4000. Terkadang, baru buka saja sudah hujan sampai seharian, karena musimnya pas hujan. Maka betul-betul masuk akal dengan usaha yang baru ditekuninya itu untuk sepiring nasi saja masih kelimpungan. Lakunya cuma habis wira wiri dari rumahnya menuju kedainya. Bensinnya sudah pasti 15000an PP, sedangkan lakunya Rp 5-10 ribu. Lalu mana sisa uang kerja buat beli beras? Tentunya tidak ada. Buat bensin besoknya saja harus pinjam. Jarak antara rumah dan kedainya sangat lumayan Jauh. Ini hampir dialami saben hari.

Mungkin ada yang iseng bertanya, kok terlalu demikian melaratnya lha wong zaman sudah semacam ini, dan bukankah dia seorang sarjana? Jawabannya, selain karena dia tidak diwarisi harta oleh orang tuanya, orang tuanya miskin, yang diusahakan kedua orang tuanya selama ini hanya habis memperjuangkan mondoknya sampai selesai, di samping itu kemelaratannya bukan karena malas atau tidak cerdas atau tidak lihai bekerja, tapi karena memang nasib sukses segi ekonomi belum saatnya memihaknya.

Kalau mau cerita soal pengalamannya bekerja, C ini tidak kalah serunya dengan yang A dan B. Seusai ngafal Al-Qur'an dia langsung nikah. Beberapa waktu kemudian dia dibantu dan dipercaya oleh temannya yang B jeragan emas untuk menjadi seles perak dan emas. Meski baru-baru belajar usaha tiba-tiba dia mendapat usaha barang mewah itu, dia bisa menjalaninya dan giat sekali sampai 2 tahunan saja sudah lumayan berhasil, sehingga dari seles dia mampu membuka sendiri hingga 2 toko perak emas yang dijagakan karyawannya. Dari sini sebetulnya dia lihai berdagang, cuma karena memang nasib belum berpihak padanya, dia gagal dalam hal kekayaan dari usaha emas itu.

Sebelumnya, juga pernah mengalami usaha yang gagal serupa. Saat mondok sambil kuliah, dia sudah bisa membiayai kuliahnya sendiri, bahkan ngirim uang kepada ortunya buat kebutuhan sehari-hari di rumah, dia nyambi bisnis bunga hias yang lumayan terkenal saat marak-maraknya bunga saat itu. Stand bungannya lumayan dikenal oleh pengagum-pengagum bunga saat itu. Bahkan sesekali bunganya diikutkan kontes. Sampai-sampai saat itu dia kenal sekali berbagai jenis bunga seperti adenium, anthorium, sensivera dll. Tidak sampai 1 tahun dia besar dalam bisnis kesukaan wanita ini, tapi tidak sampai 1 tahun juga dia jatuh kembali.
Sekali lagi, soal pengalaman bisnis dia lumayan jago, dia berani, sejak jadi santri di pesantren, hanya saja nasib sukses belum berjumpa. Kata orang, ibarat orang nikah, belum jodohnya. Bunga hias bukan jodoh, seperti halnya emas perak bukan jodohnya.

Belakangan, sebetulnya kalau mau diteruskan yang bisnis emas, dia bisa. Sebab, temannya yang B jeragan emas itu masih selalu menghubunginya agar nyeles emas lagi tanpa mikir modal. Begitu juga teman-teman jeragan emas lainnya baik dari home industri maupun industri pabrikan, menawarinya tanpa modal tinggal bawa saja. Tapi, dia tidak mau meneruskannnya.

Dia mikir dengan dua pilihan, kalau nyeles emas lagi berarti harus meninggalkan anak-anak ngaji. TPQ tutup. Sebab dia yang merintis dan satu-satunya gurunya. Tapi, kalau umpama tetap ngajar ngaji, dia tidak mungkin nyeles, keluar ke pasar-pasar. Bayangkan, tiap pasar bagian arah timur sampai Bali dan lokasi barat sampai Tulungagung, kira-kira sekali keliling itu 1 mingguan baru pulang. Akhirnya, dia lebih memilih anak-anak ngaji. Dia tidak habis pikir, betapa na’asnya, andai anak-anak ngaji berhenti tutup hanya lantaran dirinya tidak bisa mengajari karena mengejar dunyo. Bukankah, khoirukum man ta’allamal Quran wa’allamahu, pikirnya mengingat wasiat Nabi SAW.

Akhirnya, soal urusan nafkah dan rizki, dia tawakkalkan kepada Tuhan sambil berusaha keras. Sebab, meski dia menyadari akherat atau ngaji lebih utama dari pada yang lainnya, tapi dia juga menyadari bahwa dunia itu harus dicukupi juga biar tidak sengsara. Mengingat hadist nabi, I’mal li dunyaaka kaannaka tangiisyu Abadan, wa’mal li aakhiratika kaannaka tamuutu ghodan.

Lebih dari itu, dia memang selalu merasa sulit kalau menjadi orang melarat, mau sodaqah tidak mampu, mau berbuat lebih tidak bisa. Dia juga ingat, mau beli damparnya anak-anak ngaji saja tidak mampu dan tidak ada yang membelikan. Dari itu, dia berprinsip harus jadi orang kaya raya. Sehingga di samping aktif mendidik anak dia juga mengatur waktu buat bekerja keras. Maka dari itu, sekarang yang ia pilih: pagi sampai sore jual es degan, sore sampai malam mengajar dan mendidik anak-anak ngaji. Dia yakin dengan begitu dia akan sukses, pasti ada berkah tersendiri, bukan hanya kaya raya tapi sekaligus banyak santrinya. Dunia kenak akherat juga kenak.

Demikianlah ceritanya 3 kawan yang akrab dan bersama di dalam perbedaan yang jauh. Apa yang menyebabkan begitu? Jawabannya satu, mereka sama-sama memiliki visi dan misi hidup berbuat baik untuk kebaikan, tiada yang lain. Dalam kebaikan ada kebersamaan toh walaupun berlatar belakang berbeda. Bukan karena yang kaya lantas baik. Atau bukan karena pejabat jadinya baik. Dan juga bukan karena miskin jadinya tidak baik. Di dalam kebaikan seperti itu semuanya duduk bersama bersatu. Sama-sama mengakui dan berprilaku kebaikan itu.

Namun, kalau dalam kebaikan pasti ada kebersamaan, tidak demikian sebaliknya, 'dalam kebersamaan belum pasti ada kebaikan'. Atau 'Tidak semua kebersamaan ada kebaikan'. Misalnya, bersama dalam pesta oplosan.

Yang dimaksud Kebaikan di sini juga harus ada syaratnya, yaitu kebaikan menurut sosial kemanusiaan bukan menurut agama dan adat. Misalnya, tolong menolong, saling menghargai, dan welas asih. Ini tidak ada adat atau agama satupun yang menolak bahwa ini tidak baik. Semua bersama bilang itu kebaikan.

Lain lagi dengan kebaikan di sisi agama. Karena agama banyak maka ada sesuatu yang baik bagi agamanya tapi tidak baik bagi agama lain. Misalnya, menyembelih sapi dengan diawali baca Basmalah adalah halal dimakan bagi umat Islam. Tapi, bagi agama Yahudi dan agama tertentu ini tidak baik bahkan larangan keras menyembelih binatang sapi karena dianggap dalam agamanya sebagai binatang suci dan bagian dari Tuhan.

Sama halnya dengan kebaikan menurut adat. Ini relatif juga. Misalnya, adat orang-orang metropolitan kalau ketemu saling berpelukan bahkan ciuman meski bukan muhrim. Ini biasa. Menjadi lambang sebuah keakraban. Akan tetapi, bagi adat orang Madura misalnya, ini adalah aib atau kecemburuan, bahkan bisa jadi ujung-ujungnya carok.

Akhirnya, mari berusaha selalu berprilaku baik dan untuk kebaikan, dengan sendirinya kita akan selalu bersama dan bersatu.

Tidak salah para pejuang kemerdekaan dahulu buat jargon, 'Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh,' ini bukan sekedar slogan bualan, tapi betul-betul dipegang, sehingga Indonesia betul-betul merdeka. Tafsirannya, slogan ini betul-betul terbukti karena saat itu para pejuang betul-betul sama-sama memiliki visi dan misi kebaikan yakni negri ini merdeka dan bangsa tak terjajah, hidup aman dan tentram. Dengan begitu, dengan sendirinya mereka selalu bersatu, lalu teguh, ujungnya merdeka.

Lain dengan yang sekarang, pejabat-pejabat negri, wakil-wakil bangsa ini, sudah tak bisa lagi menerapkan 
slogan suci itu. Slogan itu hanya sekedar menjadi warisan pustaka sastra, atau hanya menjadi yel-yel di hari-hari peringatan kemerdekaan saja. Sebabnya, karena kebaikan bukan lagi sesuai dengan sosial kemanusiaan, tapi karena menurut adat nafsu diri masing-masing, kelompok masing, tafsiran agama masing-masing. Korupsi dianggap biasa tak berdosa, kesenangan menurut akalnya sendiri, main perempuan sudah tak tabu lagi, kecurangan, kedustaan, dan keserakahan menjadi cara baik tersendiri. Hasilnya, bangsa ini rusak, tidak berjati diri, kepercayaan antara yang satu dan lainnya sudah usang, bahkan semuanya bisa dibeli pakai uang.

Dari fenomena kaprah negri ini, saya menjadi punya inisiatif, bagaimana kalau slogan itu dirubah saja, 'Bersatu kita runtuh (karena banyak yang bersama-sama korupsi), bercerai kita teguh (karena lebih baik bercerai/berpisah dari pejabat-pejabat korup itu biar selamat, atau pejabat-pejabat korup itu cepet-cepet diceraikan/dibuang saja dari jajaran bangsa ini biar tidak teru-terusan menjadi tikus dan hama wereng yang merusak negri ini).

Kembali kepada 3 kawan akrab itu, mereka menjadi miniatur kebersamaan yang pantas ditiru bangsa ini.

Wilis, Malang, 040414