Sabtu, April 12, 2014

SAYA, ES DEGAN, DAN ORANG CINA


Tuhan menciptakan segala sesuatu itu tidak pernah sia-sia, apapun itu, baik yang terkecil maupun sampai terbesar. Itu semua saking Maha Bijaksana dan Welas Asihnya Tuhan, terutama bagi manusia. Juga Tuhan tidak pernah malu atau segan menciptakan apapun yang Ia mau.


Secara pribadi, saya sampai tidak mampu mengekspresikannya saking Maha Berkhikmahnya Tuhan dalam penciptaan-Nya. Sehingga seringkali saya hanya bisa terharu sambil tak terasa air mata menetes. Bayangkan saja ayat-nyat ini: "Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?" Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik," (QS, 2: 26). Subhanallah.

Termasuk penciptaan Tuhan yang tak pernah sia-sia itu adalah kemiskinan. Ya, saya saja contohnya. Banyak keberuntungan yang saya dapat dari menjadi orang miskin. Saya contohkan cerita ini:

Karena saya miskin tentunya saya harus berubah, lebih memastikan visi dan misi hidup ke depan. Pada intinya, masa ke depan saya tidak miskin lagi, sukses kaya raya. Saya tulis besar-besar di kamar salat saya, 'SAYA LELAH JADI ORANG MISKIN.'

Satu-satunya cara paling populer pada umumnya untuk sukses itu adalah bekerja. Soal bekerja ini, sampai-sampai menteri BUMN mempopulerkan falsafah publik yang berbunyi, 'bekerja, bekerja, dan bekerja'.

Setelah ada beberapa pekerjaan yang telah saya tekuni dan belum membuat saya menemukan kesuksesan materi itu (baca: kaya raya), maka saya mencoba usaha lain, yaitu menjadi bakul es degan inovasi rasa, yang saya mulai dari dengan mendorong rombong di jalanan dan alhamdulillah sampai saat ini sedikit ada kemajuan, saya menjual di dalam kedai meski belum bagus, masih apa adanya. Kerena sudah tidak keliling lagi di jalanan makai rombong, maka saya sangat amat senang sekali, saya pasang besar-besar di depan kedai saya banner bertulis, BEDHODW ICE: ES/JUSS DEGAN DURIAN (Inovasi Es/jus Degan Masa Depan Sehat Kuat Nikmat) RASA SUSU MADU, ALPOKAT, JERUK, STROWBERY, JAMBU, BUAH NAGA MERAH/HITAM, dll.

Namanya jualan minuman di warung otomatis banyak macam orang yang membeli. Semuanya harus saya prilakukan bak raja, tidak ada yang berbeda. Baik pembeli yang potongannya gembel, siswa, pejabat, karyawan, orang cina, bermobil mewah, dan semuanya saya tidak ngurus. Yang penting dalam hal ini, jualan saya laku dan menjadi makin laris. Tapi bagaimanapun itu, kalau boleh saya ungkapkan, saya merasakan banyak keunikan atau perbedaan, dan kadang terlalu ekstrim dari para pembeli yang berbeda begron itu.
Saya jelaskan yang paling nampak di sini:

Orang Cina, mereka cenderung gengsi, egois, enaknya sendiri, dan kalau saya bahasakan kasarnya 'kemenyek'. Memang, kebanyakan mereka memerhatikan kualitas tanpa peduli harga, mereka oke-oke saja mahal asal berkualitas, cuma banyak juga yang kualitas ingin nomor 1 dengan harga super murah. Ngotot-ngototan untuk dapat murah ditambah dengan gaya gengsi dan egoisnya.

Gengsinya, mereka tidak mau dengan warung atau kedai yang bentuk dan kondisinya kurang meyakinkan. Yang mereka suka terkesan elit. Kalau terpaksa beli kekawatirannya terhadap keseterilan sampi ekstrim, semua peralatannya sampai-sampai diperiksa bahkan diciumin tanpa ada rasa sungkan atau  malu seraya mengurus bertanya.

Ya, tapi ada juga sih, walau sedikit sekali orang Cina yang percaya saja, dengan perhatian sekedarnya dan tanpa banyak nawar, bahkan ada yang amat pengertian, seperti tanpa uang kembalian kalau hanya gopek.
Pada intinya, gampang saja memprilakukan konsumen Cina, tanpakkan kebersihan dulu lalu kualitas, dan biasanya yang alami-alami atau murni. Soal egoisme murah dicuekin saja. Beli tidak beli ya biar saja. Pada akhirnya biasanya beli juga. Mereka memang kebanyakan serba perhatian dan kawatir soal kebersihan, kemurnian, dan kesehatan sehingga kerap sampai membuat mereka berlebihan ketingkat egois, elitis, buruk sangka, dan gengsi.

Lain lagi dengan orang Madura. Mereka cenderung yang diurus awal kali adalah harga murah dapat banyak. Tidak begitu peduli, entah itu kualitas enak atau tidak. Entah warungnya gubuk di pinggiran sungai atau elit, bahkan ga’ peduli yang elit-elit, yang penting murah dapat banyak. Tapi tidak jarang juga yang terlalu egois, ingin dapat enak dan banyak dengan ngotot-ngototan nawar. Bahkan bisa jadi kalau sudah tidak bisa ditawar murah mereka nekat meninggalkan keliling-keliling ke yang lain yang lebih murah dan dapat banyak. Namun, mereka tidak sedikit juga yang baik penuh pengertian. Pada intinya, mudah melayani konsumen Madura: lebih diperhatikan terus dikasih banyak. Soal kecerewetan harga tidak usah dipedulikan. Beli tidak beli terserah.

Orang Jawa juga beda, mereka cenderung yang diurus awal kali enaknya. Meski selanjutnya ngurus harga, tapi ini tidak seekstrim orang Madura. Mereka cenderung pengertian, memaklumi, dan lemah lembut. Ono rupo ono rejo, kata mreka.

Jadi, jadi bakul es degan ini saya sangat amat beruntung kalau begitu. Banyak hal yang saya temui di jalanan. Sehingga bisa menjadi ilmu, cerminan, ketahanan, dan menambah kedewasaan diri. Saya sangat amat bersyukur sekali.

Toh demikian, bukan berarti saya kerasan jadi miskin begini, jadi bakul es degan kecil begini. Seperti di awal kali saya catat, ini adalah salah satu dari banyak cara kesuksesan yang saya tempuh. Mungkin saja dan saya yakin, tarekat es degan ini yang bisa mengantarkan saya kepada kebesaran. Saya selalu semangat dengan pengamatan, betapa lebih banyak orang besar (baca: sukses) berangkat dari yang kecil, hal-hal yang sepele; Berapa lebih banyak justru kelemahan menyebabkan orang menjadi kuat; Berapa banyak malah kekurangan seseorang berbalik menjadi kelebihannya yang membuatnya ngetop. Dan, sering saya catat janji Tuhan, inna ma'al 'usri yusron, fainna ma'al 'uri yusron’ (QS, Asy-Syarhu). Serta, 'Innani 'inda dzonni abdi by'. (Hadist Qudsi).

Terakhir, saya mohon maaf kalau saya menyebut perbedaan suku-suku di atas. Itu bukan niat saya mengorek aib, tapi sebuah kewajaran dalam perbedaan, dan perbedaan adalah kekayaan. Tiap makhluk Tuhan, lebih-lebih suku atau manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dan kekurangan itu ada yang terlalu tampak ada juga yang biasa-biasa. Masing-masing memiliki ciri khas, dan ciri khas ini menjadi identitas tiap pribadi, suku, bangsa, atau yang lainnya.

Di sisi lain, saya katakan, bukan lantas saya benci dengan orang-orang yang bagi saya itu egois atau negatif lainnya. Saya hanya hendak mengekspresikan bahwa sungguh Tuhan Maha Kaya dan Bijaksana menciptakan segalanya beraneka ragam dengan jenis, karakter, dan ciri yang berbeda-beda. Maka bagi saya, biarlah masing-masing berbeda dengan kelebihan dan kekurangannya. Yang terpenting adalah kita saling rukun dan welas asih dalam menjalani hidup yang sekali ini.

Simpang Wilis-Malang, 06042014.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar