Selasa, Juni 10, 2014

Eling Mati

Oleh: Ali Sabilullah, S.Fil.I

Khutbah Pertama


الحمد لله الذى خلق السماوات والأرض وجعل الظلمات والنور ثمّ الذين كفروا بربهم يعدلون. أشهد ان لا اله الاالله وحده لاشريك له وأشهد ان محمدا عبده ورسوله. اللهم صل وسلم على عبدك ورسولك محمدٍ وعلى آله وصحبه أجمعين، أمّا بعد:
فيا عبادالله, أوصيكم و إياي نفسى بتقوى الله. فقد فاز المتقون وخاب الطاغون. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
Saudara-saudarku,  Jama’ah salat Jum’at yang dicintai Allah
Mari kita selalu merawat dan meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah swt. Dengan sepenuh jiwa raga serta lebih utama dari segalanya. Dalam situasi atau kondisi apa dan bagaimanapun kita. Baik dikala sehat maupun sakit, kaya maupun miskin, kuat maupun lemah, semangat maupun lelah, senang maupun susah, untung maupun rugi, menang maupun kalah, sukses maupun gagal, bangga maupun kecewa, istirahat maupun bekerja; saat berada di tempat kerja, ladang, kantor, dsb. Mari kita selalu berupaya iman dan taqwa kita jangan sampai kendor, kurang, maupun lemah, apalagi tercerabut dari jiwa raga kita.

Saudara-saudarku,  Jama’ah salat Jum’at yang dimulyakan Allah
Mari kita renungi, di antara ciri orang yang betul-betul beriman dan bertaqwa kepada Allah yang paling utama adalah salat dan amal baik. Mari kita menimbang-nimbang salat  dan amal baik kita: betulkah kita telah menegakkan salat, atau melaksanakan salat tapi selalu telat, atau sudah rajin salat tapi masih berprilaku bejat, atau merasa sudah khusuk salat tapi masih gemar bermaksiat, atau merasa telah ahli salat tapi masih saja tega membiarkan tetangganya melarat dan suka mengumpat, atau bahkan kita menjadi orang yang tidak salat ditambah perilaku reseh melihat orang yang rajin salat.
Sering kali, kita telah merasa hebat dalam menegakkan salat, tapi di sisi lain kita masih saja terbelenggu dengan maksiat, prilaku bejat, tega dengan tetangga yang hidup melarat, masih saja suka mengumpat, membeberkan aib dan fitnah, bahkan tidak jarang dari kita menjadi orang yang alergi dengan salat ditambah dengan sikap reseh melihat orang yang menegakkan salat, lebih parah lagi masih ada saja yang sengaja mengganggu orang yang rajin salat dan beramal baik. Na’udzubillahi mindzalik.

Saudara-saudarku,  Jama’ah salat Jum’at yang dimulyakan Allah
Meski demikian buruknya kondisi seseorang  dengan salatnya, atau besarnya dosa seseorang kepada Tuhannya, bukan berarti lantas Allah bulat-bulat mengecapnya sebagai orang yang jahat yang lalu pantasnya hanya menjadi bahan kayu bakar neraka. Sebab, Allah Maha welas Asih dan Maha Pengampun.
Berapa banyak Allah menegaskan kepada hamba-hamba-Nya tentang janji Welas Asih dan ampuna-Nya. Diataranya:
“Kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan yang ada di bumi. Dia memberi ampun kepada siapa yang Dia kehendaki; Dia menyiksa siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. ( Al-Imran: 129)
“Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Annisa: 110)
“Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian bertaubat sesudah itu dan beriman; sesungguhnya Tuhan kamu sesudah taubat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-A’raf: 153)
“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” . ( Al-Hijr: 49)
“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar “. (Thaha: 82)
“kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. ( An-Nur: 5)

Begitulah penegasan-penegasan Allah agar kita yakin bahwa Allah Maha Welas Asih dan Maha Pengampun. Allah bukan Maha Jahat, Allah bukan Maha kejam, Toh walaupun Allah Maha Berkehendak, Berhak melakukan apa saja yang dikehendaki.
Secara logika, juga bisa menjadi bukti kasih saying dan beserta pengampunan Allah. Mari kita amati, Berapa banyak orang-orang yang hidupnya selalu bemaksiat dan jahat, meremehkan ajaran-ajaran Allah, acuh tak acuh dengan salat, mengganggu orang-orang yang taat kepada Allah, bahkan sengaja memusuhi Allah dan menghancurkan agama dan hamba-hamba yang taat di jalan Allah, Allah masih saja memelihara mereka, mengasihi mereka; Allah masih saja melekatkan nafas mereka di dalam tubuh mereka sehingga mereka masih bisa bercanda senang, Allah masih saja membahagiakan mereka, lihatlah mereka masih bisa bersenang-senang di dunia ini, bermesra dengan harta tahta dan wanita.
Allah tidak begitu saja mengadzab mereka. Andai saja bukan karena welas asih Allah, maka mereka yang bergelimang dengan maksiat itulah yang dimusnahkan dahulu oleh Allah dengan siksaan yang amat pedih. Tidak akan ada orang jahat yang dengan pongah berjalan di muka bumi ini. Tidak ada orang yang ahli maksiat angkuh berjalan dengan bangga di muka bumi ini. Namun, sekali lagi, Allah tidak demikian, Allah Maha Welas Asih dan Pengmpun.

”Dan Tuhanmulah yang Maha Pengampun, lagi mempunyai rahmat. Jika Dia mengazab mereka karena perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegerakan azab bagi mereka. Tetapi bagi mereka ada waktu yang tertentu (untuk mendapat azab) yang mereka sekali-kali tidak akan menemukan tempat berlindung dari padanya.”  (Al-Kahfi:  58)
Kecuali, bagi orang-orang tertentu atau kelompok-kelompok tertentu yang gemar bermaksiat, Allah secara langsung mengadzab mereka di dunia ini dan sekaligus di akherat, seperti halnya umat-umat terdahulu, Kaum Samud yang dibinasakan dengan suara keras, Kaum ‘Ad yang dibinasakan dengan angin topan, kaum nabi Nuh yang dibinasakan dengan banjir, Kaum Nabi Luth yang dijungkirkan ke dalam bumi, fir’aun dan bala tentaranya yang ditenggelamkan.

Pembinasaan atau adzab langsung itu tidak hanya terjadi pada umat-umat terduhulu saja, tapi Allah memperagakan adzab-Nya juga pada orang-orang atau kelompok-kelompok tertentu yang ahli maksiat di zaman modern ini: berapa banyak  malapetaka-malapetaka dahsyat yang telah terjadi, gempa bumi, tsunami, banjir, gunung meletus, dan belakangan makin subur penyakit ganas yang tiada obatnya tiba-tiba menewaskan.

Semua itu Allah buktikan, bukan karena Allah Maha kejam, namun justru karena saking welas asihnya Allah, agar menjadi contoh, menjadi pelajaran bagi manusia yang lain dan sesudahnya tidak terjadi pada mereka sendiri; agar mereka menjadi selamat tidak seperti mereka yang telah binasa dan tersiksa karena perilaku mereka sendiri.

Dan berapa banyaknya kaum sesudah Nuh telah Kami binasakan. Dan cukuplah Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Melihat dosa hamba-hamba-Nya. (Al-Isra’: 17)

Saudara-saudarku,  Jama’ah salat Jum’at yang dimulyakan Allah
Meski demikian welas asihnya Allah namun jangan sampai malah menimbulkan pandangan jiwa kita menggampangkan atau menunda-nunda ketaatan dan amal baik, jangan sampai justru menjadi alasan andalan, karena Allah Maha pengampun lantas kita berbuat dosa seenaknya lalu selanjutnya bertaubat mohon ampun kepada Allah, lalu Allah pasti mengampuni, lalu kita selamat meski pada awalnya kita adalah seorang pendosa.

Atau, bagi yang pendosa menjadi tenang-tenang saja dengan angkuhnya, karena punya niat suatu saat akan bertobat dan beribadah kepada Allah. Tidak demikian halnya. Hukum Allah tidak sesederhana demikian dan kepastian Allah tidak berarti menurut aturan rencana  atau akal pikiran kita. Justru kalau demikian malah kita menjadi orang yang tak pernah terampuni oleh Allah; atau menjadi orang yang hanya punya rumongso sudah terampuni padahal belum terampuni; atau hanya sekedar menjadi ornag punya rencana taubat namun sisa umurnya tidak kesampaian, atau bahkan merasa sudah menjadi manusia yag diakui di sisi Tuhan karena kebesaran dan kejayaannya yang makin meningkat, padahal semu a itu adalah bara api dalam sekam, tabungan bara neraka, yang akhirnya tinggal penyesalan; kebesaran dan kejayaannya itu adalah istidraj atau eluan Tuhan, saking conkaknya manusia itu.

Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al Qur'an). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui, dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh.(Al-Qalam: 44-45)

Maka biarkanlah mereka tenggelam (dalam kebatilan) dan bermain-main sampai mereka menjumpai hari yang diancamkan kepada mereka, (yaitu) pada hari mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala (sewaktu di dunia), dalam keadaan mereka menekurkan pandangannya (serta) diliputi kehinaan. Itulah hari yang dahulunya diancamkan kepada mereka. (Al-Ma’arij: 42-44)

Mari kita renungi, umur bukan aturan akal kita; kematian bukan karena sehat atau sakit, bukan juga karena muda atau tua. Berapa banyak orang mati masih muda belia, orang sehat-sehat tiba-tiba mati. Hari kemarin, masih bercanda ria dengan kita namun tiba tiba hari brikutnya terdengar berita duka kematiannya.

Umur kita sejatinya hanya sesaat. Umpama, umur kita ditetapkan sama Allah tinggal hari ini, maka esok hari kita akan dikafani; andaikan kematian kita dipastikan oleh Allah tinggal seminggu ini, maka hari jum’at depan kita sudah tidak bersama salat jama’ah jum’at di sini lagi. Betapa misterinya umur. Maka, kita harus selalu eling ini; kita harus selalu eling mati. Karena dengan selalu eling mati, maka kita insaallah menjadi manusia yang selamat, tidak akan merasa  angkuh, akan takut bermaksiat, kita akan bersegera bertaubat, kita akan melaksanakan dan menegakkan salat, kita akan selalu berupaya untuk menjadi manusia yang ta’at kepada Allah. Bagi siapapun itu, lebih-lebih orang yang selama ini jauh dari Allah dan bergelimang dengan maksiat. Mumpung nafas kita masih bisa bergerak dan Allah Maha Welas Asih dan Pengampun.
Mari kita renungi Ayat-ayat Allah swt dibawah ini:
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلا عَلَى الْخَاشِعِين الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Artinya, Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya (mati).” Al-Baqarah ayat 45-46.
Elig mati ini adalah ajaran dan amalan ampuh para Nabi dan Rasul, para sahabat, dan orang-orang saleh untuk menjadi orang yang slamat bahagia dunia akherat.

Konon, sahabat Nabi, kholifah Umar bin Khattab, Beliau adalah seorang yang hebat, pemberani, cerdas, sekaligus ahli ibadah, tiap hari Beliau selalu mengingat mati. Setiap keliling menyambangi rakyatnya, Beliau selalu bersyair, kulla yamin yuqaalu mata fulan 3x, wadzata yaumin yuqaalu mata umar. Setiap hari diumumkan telah meninggal sang fulan, dan pada suatu hari akan diumumkan juga telah meninggal Umar. Bgitu juga, tiap saat kita mendengar pengumuman di Masjid, innalillahi wainailaihi rajiun pertanda telah meninggal seorang saudara kita, namun secara pasti suatu saat akan juga diumumkan innalillahi wa inna ilaihi rajiun pertanda kita sendiri telah meninggal. Ya Allah, Subhanallah, nastagfirullah.

Saudara-saudarku,  Jama’ah salat Jum’at yang dimulyakan Allah 
Demikianlah apa yang bisa saya samapaikan untuk meningkatkan dan mememlihra keimanan dan ketaqwaan kita. Semoga Allah memastika kita sebagai orang yang ahli taubat, ahli ibadah, dan ahli beramal saleh. Amin ya rabbal alamin.
باركالله لى ولكم بما فيه من الآيات والذكرالحكيم وتقبل الله منى ومنكم تلاوته إنه هوالسميع العليم.
Khutbah Kedua
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ؛ قَالَ اللهُ تَعَالَى: اَلْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلاَ تَكُوْنَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِيْنَ.
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
Ya Allah ya Tuhan kami yang Maha Pengasih dan Bijaksana, jadikan kami ya Allah sebagai hamba-hamba-Mu yang ahli ibadah, berhati bersih, yang penuh saling welas asih, jauh dari hati yang kotor, jiwa yang arogan, sikap merasa benar sendiri, prilaku sombong, dengki, dan saling merendahkan di antara sesama kami. Serta jauhkan kami dari jiwa yang suka dan bangga dengan maksiat. Ya Allah, ampuni kebodohan kami, kelemahan kami, kelalaian kami, kemaksiatan kami dan dosa-dosa kami.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Jum’at Legi, Malang, 06062014

·         Doa-doa dan ayat-ayat dihafal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar