Rabu, Juni 11, 2014

Sisi Edan Penas Petani dan Nelayan 2014


Oleh: Ali Sabilullah, S.Fil.I
Acara ini saya bilang memang amat istimewa, Penas (Pekan Nasional) petani dan Nelayan Seindonesia yang diadakan di gedung stadion Kanjuruan Kepanjen Malang, yang dimulai sejak hari minggu 8 Juni kemarin sampai tanggal 12 hari ini. Saya tidak begitu tahu secara detail apa agenda dan apa maksud acaranya, yang jelas tujuannya paling tidak menumbuhkan semangat dan pengembangan antar petani dan nelayan(http://berita2bahasa.com/berita/08/23332705-penas-2014-tingkatkan-motivasi-petani-dan-nelayan).
PENAS 2014 Tingkatkan Motivasi Petani dan Nelayan
PENAS 2014 Tingkatkan Motivasi Petani dan Nelayan
PENAS 2014 Tingkatkan Motivasi Petani dan Nelayan
PENAS 2014 Tingkatkan Motivasi Petani dan Nelayan
PENAS 2014 Tingkatkan Motivasi Petani dan Nelayan).

Saya lihat di luar gedung pameran-pameran karya dan hasil pertanian yang dipamerkan di stand yang sudah terkotak-kotak, konon satu kotak sewanya 25 jutaan. Harga ini saya dengar dari keluhan seorang peserta dari luar Jawa di saat nge-es di outlite es degan durian saya.

Anehnya, sisi nelayannya saya tidak melihatnya, atau mungkin pamerannya di dalam gedung. Di luar gedung tidak ada pameran karya bidang kenelayanan. Saya sampai mencari-cari penasaran soal ini, gimana caranya memamerkan hasil nelayan itu, apa kalau ikan pakai akuarium-akuarium, atau lain caranya?

Pengaruh yang paling tampak dari adanya acara akbar negara ini adalah hebohnya para pedagang. Dari soal tingginya harga sewa stand penjualan-penjualan, rebutan posisi stand strategis, sampai kepada penargetan harga jasa dan penjualan oleh para pedagang. Maklum, acara ini membawa peluang besar untuk penghasilan.

Taruh saja soal target harga, tiba-tiba menjulang tinggi tak masuk akal. Misalnya, harga parkiran menjadi 5-10 ribu dari biasanya cuma 1 ribu. Jasa ojek, dari harga tidak sampai 5 ribuan dengan jarak 100-300 meteran menjadi 15-25 ribuan dalam jarak hanya meteran itu. Sehingga, banyak cerita, 1 tukang ojek dadakan seharinya mendapat 1-2 jutaan. Dari situ banyak profesi ojek dadakan. Es degan, biasanya hanya 3 ribuan pergelasnya meroket menjadi 15 ribuan.

Ada beberapa kejadian seru, dan ini yang perlu saya tekankan di sini. Ada penjual bakso, pembelinya 5 orang kulit hitam, sepertinya peserta dari Papua. Selesai makan, 1 orang bertanya harganya mau bayar, si penjual menjawab dengan tegas 500 ribu. Si pembeli tidak percaya lalu mengulangi pertanyaannya. Si penjual lebih menegaskan lagi 1 porsi 100 ribuan jadi 5 orang 5 porsi 500 ribu. Kelima orang itu kaget kepalang kaget, kok ada 1 porsi bakso harganya 100 ribu. Jengkel, kelima  pembeli itu tiba-tiba pergi begitu saja tanpa bayar menuju pos polisi. Hasilnya mereka kembali ke stand bakso dengan beberapa polisi mengakibatkan stand bakso itu diusir dari arena dilarang berjualan lagi.

Lain lagi dengan penjual rawon ini. Ini lebih seru. Singkat cerita, ini pembelinya sama-sama orang lokal, Malang. Dia membeli nasi rawon sendirian. Mau bayar bertanya harganya. 50 ribu jelas tukang bakso. Spontan saja pembeli Arema itu, bukan malah membayar tapi melemparkan sisa-sisa bakso di mangkoknya ke penjualnya. Tidak cukup itu, pembeli Singo Edan itu mengamuk menjungkir balikkkan rombong bakso dan standnya itu. Suasana menjadi gaduh, sangat amat mengundang perhatian. Petugas keamanan datang. Akhirnya, si tukang bakso diusir dari arena dilarang berjualan.

Dari Penas ini kita dapat memandang, secara bisnis, suasana atau kondisi tertentu memang sangat mempengaruhi harga atau nilai sesuatu. Makin besar atau langka acaranya makin besar pula nilai-nilai di dalamnya.

Pada aspek lain, tanpak banyak orang yang memanfaatkan kondisi secara-meminjam istilah bukunya Donald B. Calne-batas nalar, secara tamak, sehingga tidak memperhatikan hak-hak atau kondisi orang lain. Yang penting diri untung tak pikir orang lain buntung. Mereka silau atau gawat melihat kondisi-kondisi yang wah, suatu kelangkaan, atau kehebohan, atau kebesaran. Sehingga, yang namanya tamak adalah tetap bagian dari keburukan atau kedloliman. Sedangkan kedloliman tentunya pasti musnah. Bukan malah ingin menjadi bertambah malah akibatnya susah.

Ini pelajaran berharga bagi kita semua. Kita memang harus peka dan cerdas memanfaatkan peluang atau kesempatan yang datang, namun jangan sampai mengorbankan nilai-nilai yang lebih dari sekedar itu, jangan merugikan yang lainnya.
Malang, 12062014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar