Minggu, Juli 13, 2014

Giat Tarawih Karena Tidak Enak Sendiri

Saya diminta untuk mengimami di sebuah Masjid kecil tempat saya merintis anak belajar dan mengaji, di kampung pedalaman dekat dengan Gunung Kawi. Padahal saya orang jauh, adanya saya di situ hanya karena ngajar anak ngaji. Saya harus wira wiri dari rumah ke situ kurang lebih 17 km saben hari. Atau 2 liter bensin PP. Jalanya beraspal lumayan mulus tapi naik-naik, belok-belok, dan bulaan, perkebunan, masih jarang rumah.

Mulanya saya berpikir, apakah di situ tidak ada yang bisa ngaji buat ngimami sehingga harus meminta saya yang jauh? Setelah saya cari-cari sebabnya ternyata maca-macam: pemudanya tidak ada yang dianggap pandai mengaji, sekedar bisa tapi salah-salah itupun merantau; ada satu dua orang yang lumayan pandai, tapi tidak mau tarawih kumpul dengan yang lain karena berbeda aliran; apalagi yang sudah sepuh-sepuh mereka tidak ada yang bisa ngaji atau ngajinya parah banget salah-salahnya.

Sebab kelangkaan bisa ngaji itu karena sejak dulu tidak ada yang mengajar ngaji, toh ada itupun yang ngajar kemampuannya pas-pasan dan tidak pernah berlanjut lama. Sampai saat ini begitu seterusnya.

Dari alasan-alasan itu akhirnya saya turuti meski harus merangkap: ngimami tarawih selesainya langsung ngajar ngaji. Jadinya, tiap hari saya harus pulang jam 9 malam lebih dari kampung perbukitan itu.

Suatu malam usai salat tarawih saya ngobrol-ngobrol, salah seorang yang agak sepuh tiba-tiba bilang, "Mas, di sini sejak dulu tidak pernah sampai selama dan sebanyak ini tarawihnya. Biasanya tidak sampai seminggu saja yang ikut tarawih sudah sangat jarang. Sampai tanggal 20an ke atas tinggal satu dua orang jama'ahnya, terkadang Masjidnya kosong. Kami kalau sudah malam kecapean jadi males mau ke Masjid. Maklum orang sini siang hari kerjanya di kebun. Sekarang orang-orang gak enak sendiri kalau tidak ikut tarawih di Masjid, kasihan masnya yang ngimami jauh-jauh datang ke sini. Kalau masnya saja yang jauh-jauh sregep ngimami kami salat di sini kenapa kami males yang dekat-dekat. Jadi meski males dan capek tetap saja datang ke Masjid ini," tuturnya, dan yang lainnya mendengarkan sambil tersenyum-senyum kecil.

Mendengarnya saya hanya tersenyum dengan berkata sedikit, "Oh gitu pak, terima kasih dan mohon maaf, saya cuma eman-eman, mumpung masih sehat dan punya kesempatan untuk berbuat dan melakukan salat."

Saya tidak banyak jawab dan komentar. Ini soal ibadah dan keikhlasan, tak usah diulas banyak-banyak, kurang baik.

Hanya saja di jalan saat pulang, saya selalu ingat ucapan-ucapan Bapak itu di hati dengan berharap, semoga dengan kabar itu hati saya tidak menjadi keruh dan kuat menemani mereka selamanya, dalam tarawih, ngaji, dan berjuang seterusnya.

Bagi sahabat-sahabatku, percayalah apapun dan bagaimanapun untuk kebaikan kita tidak akan pernah sia-sia. Yang saya alami begitu.

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Al-Imran: 191)

Malang, 13 07 2014 M

Tidak ada komentar:

Posting Komentar