Kamis, Juli 10, 2014

Mimpi Pak Jokowi: No Otoriter

Terus terang, kalau hati kecil saya menganggap dan memilih Pak Prabowo lebih pantas jadi presiden. Cuma kecenderungan saya itu tidak fanatik. Yang terpenting bagi saya pribadi adalah lebih menaruh tawakkal kepada Tuhan. Siapapun yang menjadi presiden berarti pilihan Tuhan dan rakyat. Tidak ada Tuhan yang mendlolimi atau berniat buruk dalam kehendak-Nya. Dia Maha Adil dan Bijaksana.

Dengan bahasa lain, saya selalu berhusnudhon saja, siapapun yang menang berarti yang lebih pantas dan terbaik. Tapi, juga yang tidak terpilih bukan berarti lebih buruk, tetap baik hanya saja belum saatnya jadi, atau lebih pantas pada sisi atau tugas lainya.

Dengan demikian, umpama pilihan saya itu yang menang saya lebih selamat dari rasa arogansi, dan sebaliknya jika lawan pilihan saya yang menang saya juga lebih selamat dari kecewa.

Tadi (100714), pas waktu antara imsak dan adzan subuh, saya tiba-tiba ketiduran dengan duduk sila sambil menunggu adzan, sesaat itu saya mimpi salah satu calon presiden itu yang pas bukan pilihan saya, Bapak Jokowi.

Dalam mimpi itu tiba-tiba saya sudah duduk bersila dalam sebuah acara kumpul kenegaraan. Perkumpulan itu berupa lesehan. Pas di belakang saya duduk Pak Jokowi dengan tim suksesnya. Tampak dia membuka buku bagan paling tengah sambil menanyakan isinya kepada seorang tim yang duduk di sebelahnya. Buku itu sebagai pedoman ketika Pak Jokowi tampil berpidato.

Entah untuk apa acara kumpul itu diadakan. Yang jelas para hadirin memakai pakaian resmi dan Pak Jokowi tetap dengan kotak-kotaknya. Saat itu, siap-siap Pak Jokowi maju ke podium. Dia tidak begitu menguasai materi yang akan disampaikan sehingga harus membawa buku acuan yang masih ditanyakan ke timnya itu.

Penasaran, saya pinjam buku itu dari tangannya. Saya lihat sampulnya berjudul NEGRI INDONESIA, dan judul topik yang dibuka tertulis NO OTORITER.

Sebelum Pak Jokowi maju ke podium saya sudah bangun. Sehingga saya tidak tahu cara dan isi ceramahnya. Begitu juga, saya tidak tahu acaranya itu untuk apa. Apakah acara pelantikan karena Pak Jokowi mungkin yang terpilih jadi presiden nanti. Atau sebaliknya, pernyataan pers Pak Jokowi soal keikhlasannya atas kekalahannya. Tapi, dalam acara itu saya tidak pernah melihat Pak Prabowo.

Apalagi soal penafsiran mimpi saya juga tidak paham. Apakah mimpi ini menjadi pertanda atau sekedar bunga tidur saya. Saya takut jatuh ke dalam fanatisme. Ini sekedar hanya mimpi.

Bagi saya sekali lagi, siapapun yang menjadi terpilih berarti dia yang dianggap pantas memikul amanah bangsa ini, dan semoga dia mampu. Sedangkan bagi yang tak terpilih semoga dia legawa sekaligus optimis, ada sisi lain atau saat lain yang lebih pantas baginya untuk berbuat baik bagi negri ini.

Salam damai untuk negri kita tercinta. Salam 5 jari, pancasila.

Malang, 100714 M

Tidak ada komentar:

Posting Komentar