Minggu, Juli 06, 2014

Pernikahan Paling Mudah Paling Bejat

Di saat menunggu jualan es seorang teman penjual sebelah bercerita sekelumit masa lalunya, kisah pertunangan dengan istrinya.

Begini, dulu saat tunangan, orang tua pihak wanita tidak suka nikah cepat-cepat bagaimanapun itu. Sebabnya calon wanita masih kurang umur, di bawah 20 tahun.

Dengan alasan keburu tidak kuat lagi untuk melakukan ‘sesuatu’ yang hanya dibolehkan pasca sah pernikahan pihak lelaki tidak kurang akal, dia tiba-tiba punya solusi ampuh agar bisa menikmati sesuatu itu tanpa mengganggu komitmen harga mati orang tuanya itu, mengadakan pernikahan rahasia di pihak laki-laki tanpa sepengetahuan pihak orang tua wanita.

Wali wanitanya? Dia wakilkan kepada orang tertentu yang penting ada walinya (walaupun siapa saja), pengakad, dan pokoknya ada saksi. Itu sudah sah, yakinnya. Maka terjadilah pernikahan rahasia dengan walian-walian yang sah menurutnya itu.

Akhirnya dia bisa menikmati ‘sesuatu’ itu semaunya dan sepuasnya di masa-masa pertunangan itu. Keduanya menjadi enjoi-enjoi saja karena ‘tegangan tingginya’ telah terpenuhi tanpa terganggu komitmen orang tuanya itu. Nostalgia kenikmatan ini berjalan sampai keduanya betul-betul nikah secara terbuka yang diridloi oleh orang tua wanitanya sendiri setelah beberapa tahun kemudian.

Kisah serupa ini, bahkan lebih seru lagi, sebelumnya pernah saya dengar juga dari seorang teman yang umurnya sudah sangat bapak. Dia kerjanya keluyuran ke mana-mana, di samping karena profesinya seorang kernet bis, dia juga seorang terapis supranatural, jelasnya dukun.

Dia dipanggil orang ke mana-mana dalam rangka mendukuni: menyarang hujan dan membuat pagar keamanan goib orang yang punya hajatan, menyebul orang yang kenak santet, mendeksi adanya pusaka-pusaka, dan sejenisnya. Entah betul-betul ampuh atau hanya sekedar omongan, saya tidak urus itu.

Dia bercerita punya banyak istri. Di mana dia sering singgah, di situ ada istri, atau pokoknya ada terminal kencan tidur layaknya seorang istri di manapun dia parkir.

Anehnya, tiap istri yang baru atau muda tahu bahwa dia sudah punya istri dan anak-anak sebelumnya, tapi istri yang tua tidak ada yang tahu kalau dia punya istri baru lagi setelahnya. Begitu seterusnya.

Cara nikahnya katanya secara rahasia. Rahasia dari beberapa pihak utama: dari istri tua karena tidak mungkin direstui kalau ketahuan, dari orang tua calon istri baru karena takut tidak disetujui. Maka, konon, solusinya adalah akad atau ijab qabulnya berdua dan hanya beberapa saksi.

Calon suami merangkap banyak fungsi, sebagai wakil wali sekaligus sebagai penghulunya. Di situ juga secara langsung ada maharnya. Jadi, cara nikahnya simpel saja, kalau sudah kapan dan di mana saja cinta langsung mengakad dengan sendiri dan ada maharnya. Dengan begitu nikah sudah dianggap sah, tanpa ngundang wali, penghulu, dan saksi-saksi segala.

Tiap mendengar cerita-cerita itu, spontan saja saya, malah tidak ingat urusan dalil-dalilnya, tapi langsung saja nyambung dengan logika, “Wah enak sekali nikah begitu!”

Apalagi cerita yag kedua, di mana dan kapan saja sama-sama cinta langsung saja siapkan mahar seadanya, lalu pergi ke ruangan tenang berdua, pegangan tangan, dan langsung saja pihak lelaki berbunyi ngakad, jadilah nikah dan main sodok.

Logika saya lalu berkembang, “Ajaran imam siapa yang dianut mereka?” “Kitab apa yang menjadi kiblatnya?”

Langsung saja logika saya juga menjawab sendiri, seumur hidup saya tak pernah mengetahui adanya imam atau kiai dan kitab paling mengenakkan itu. Kalaupun ada, ya, itu imam atau kitab nafsu bejat. Sehingga, akhirnya logika saya juga memastikan, kalau demikian ajarannya, betapa murahnya harga perempuan, lebih rendah dari komoditas perdagangan. Barang dagangan saja masih tawar menawar harga, tapi yang ini nggak, kapan mau, salaman akad, lalu sodok, selesai beres.

Setujukah kaum Hawa diperilakukan pernikahan seperti itu? Dan kaum Adam, sebejat itukah nafsu birahi anda? Maka, rasanya pernikahan seperti itu amat sangat mengancam kemanusiaan, tak perlu dilestarikan.

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS: Al-Isra’, 28)

Malang, 6 07 2012 M

Tidak ada komentar:

Posting Komentar