Minggu, Agustus 10, 2014

Orang Gila yang Tak Gila


Sementara, biar seperti pada umumnya sehingga langsung dapat dipahami, saya sebut di sini 'orang gila’. Untuk menunjukkan orang yang tidak normal atau sakit jiwa. Karena bagi pribadi saya, saya tidak mau menyebut orang yang sakit jiwa itu 'orang gila'. Paling tidak sebut saja 'sakit jiwa', atau 'orang yang sedang sakit', atau yang sedang teruji.'

Kenapa demikian? Alasan singkatnya: setidaknya saya bersikap lebih lembut atau halus. Dengan ini akan tampak, mana orang yang beretika dan mana orang yang kasar.

Ini penting. Sebab, kerap orang disebut gila bukan karena dia berpakaian lusuh, atau telanjang di jalan, atau mengamuk, tapi kita juga sering dengar, orang yang penampilannya normal disebut gila karena sikap atau perkataannya yang sembarangan, kasar, tidak sopan, dan suka mengganggu lainnya. Sebaliknya, justru yang dari penampilannya pantas disebut gila, malah sedikit bicara, jalan saja, merasa lapar tinggal menghampiri orang dengan hanya mengulurkan tangannya atau memegang perutnya isyarat lapar, tak banyak pola. Selesai diberi hanya tersenyum sambil berlalu. Bukankah Ini justru orang gila tampak lebih santun? Liat saja, kayaknya hampir semua orang gila justru prilakunya seperti itu. Ini yang saya lihat.

Kalau mau dibahas lebih dalam lagi, banyak sisi perenungan, terutama ini: pertama, orang gila sejatinya dia tidak gila. Bisa saja karena dia difitnah gila. Karena ada kepentingan oknum tertentu. Di sini saya ingat Rasulullah saw. Oleh orang-orang yang tidak menyukai Beliau, Beliau bukan hanya difitnah gila, tapi juga disebar sebagai dukun, tukang santet, dan penyair tak waras (lihat: awal-awal QS Al-Qalam). Padahal Beliau betul-betul seorang utusan Tuhan.

Kedua, bisa jadi, memang mulanya seseorang gila karena stres atau trauma atas pengalaman tertentu, tapi setelah diobati atau diterapi dia bisa betul-betul pulih normal kembali. Hanya saja karena orang-orang sudah kadung tahu dia gila, maka orang-orang tetap terbiasa menyikapinya sebagai orang gila. Ini ada contohnya.

Saya punya teman yang begitu. Entah, karena pengalaman tertentu, suatu saat dia sampai terganggu jiwanya, stres. Dirinya tak terkontrol lagi sehingga layaknya orang gila. Sering bicara sendiri dan tiba-tiba selalu tertawa. Orang tuanya berupaya menyembuhkannya dengan banyak cara, membawanya kepada orang pinter, rumah sakit, dan terapi.

Walhasil, akhirnya dia membaik kembali, bahkan lebih bijaksana dari yang sebelum stres. Sebab, dia pandai, menyadari dan mengambil hikmah dari keterasingannya selama agak lama dia betul-betul stres. Namun sayang, meski justru sembuh lebih dewasa, sampai saat ini orang-orang kampungnya tetap memprilakukanya sebagai orang gila. Yang sulit sekarang, malah membuat orang sadar bahwa dirinya sudah sembuh, sudah tidak gila lagi.

Ketiga, ada orang yang gila pura-pura. Biasanya orang yang menjalani lelaku tertentu, seperti tirakat jalan. Orang ini sengaja berpenampilan layaknya orang gila. Berjalan dengan ketentuan masa dan arah tertentu. Berpakaian lusuh dan tak berbicara.

Saya sering menemukan orang-orang lelaku ini di jalanan. Bahkan, karena rumah saya di pinggir jalan raya dekat Masjid, saya sering diampiri dan dimintai minuman. Awalnya pasti dikira orang gila, tapi setelah berbicara, dapat dimengerti bukan orang gila. Saya tanya, jawabannya memang sengaja sedang menjalani lelaku.

Suatu saat, saya diampiri orang yang pura-pura gila semacam ini, toh akhirnya bagi saya dia betul-betul tak waras. Prilakunya yang gila. Omongannya nglantur ke mana-mana tak sesuai nyatanya.

Begini, tiba-tiba dengan pakaian yang lusuh dia memohon minuman pada saya. Tak tega, bukan hanya saya kasih minum, tapi saya tawari makan dan nginap di rumah. Dia mau. Sebelem tidur saya temani bincang-bincang. Omongannya kental mistik dan idialis bijaksana.

Pernah ngomong, "Saya tidak boleh tidur malam mas, tidur saja harus di masjid, makan juga harus di Masjid, minum air Masjid." Nyatanya, ketika saya beri makan, dia lahap sekali. Ketika tiba tengah malam, saya lihat tidurnya ngorok, tidak bangun malam. Bahkan bangunnya kesiangan. Subuhnya los.

Lebih parah lagi, dia banyak janji. Janji mau belikan TV anak saya. Janji mau ngasih pusaka. Janji mau bawa istrinya berkunjung. Pokoknya segudang janji. Nyatanya dia tidak datang lagi.

Pengalaman terbaru saya, kemarin pagi (9 08 2014), saya juga diampiri orang gila. Tidak berbaju. Hanya bercelana pendek sobak sobek dan lusuh. Tetangga saya sebelah mengabari saya di dapur bahwa orang gila telah berdiri menunggu saya depan pintu pagar rumah sejak tadi. Tak bersuara tak apa. Berdiri memaku. Segera saya temui keluar.

Menyambut saya dia sudah siapkan kedua tangannya membentuk pertanda permohonan dengan ucapan kosong. Saya langsung paham bahwa dia sedang lapar butuh makanan. Dengan pertanda tangan juga saya suruh tunggu. Segera saya kembali ke dapur.

Syukur ada sisa nasi pas seporsi di piring dari mejikom. Nasi yang sedang dimasak belum matang. Juga untung lauknya ada yang baru selesai digoreng, lele kriuk kriuk masih hangat. Sambal goreng juga baru dihangat. Saya kira sudah cukup: sambal goreng, lele kriuk kriuk, dan nasi, lalu saya bungkuskn.

Saya masih merasa ada yang kurang untuk dikasih. Kopi panas pagi yang baru saja saya minum 1 teplek juga saya bungkuskan. Lalu saya kasihkan, bungkusan nasi plus kopi panas. Tampak dia tersenyum tanda seneng dan terima kasih. Lalu dia pergi.

Sungguh, pagi itu, saya merasa didatangi yang katanya 'orang gila' yang amat paham sekali tentang tatakrama bertamu dan meminta: berdiri di depan pintu pagar bukan pas pintu rumah, diam saja seakan pasrah takut mengganggu, dan hanya dengan isyarat tangan yang santun. Subhanallah.

Saya menjadi terkesima dengan orang yang bagi saya gila yang waras itu. Sungguh, lebih untung lagi pagi itu, saya tidak menyebutnya, dalam hatipun, dia sebagai 'orang gila' kecuali hanya mendengar ungkapan kabar tetangga itu dan istilah yang saya sebut beberapa kali dalam catatan ini. Andai saja saya bilang dia 'orang gila', maka sejatinya sayalah yang gila.

Lebih penting lagi, saya juga berpikir: siapapun orangnya, bagaimanapun bentuk dan prilakunya, semuanya adalah ciptaan Tuhan, dalam peliharaan Tuhan. Tuhan masih mengakuinya dan menyayanginya dengan memenuhi kebutuhannya bagaimanapun kondisi dirinya. Lalu kalau Tuhan masih demikian kepada semua makhluqnya, kenapa kita masih bisa-bisanya membedakan: orang gila, kotor, kumuh, lusuh, menelantarkan, menghina, acuh-tak acuh, atau prasangka buruk?!

Mari kita selalu belajar lebih peka, menyadari, dan menghayati hidup ini degan sebenar-benarnya.

Jatikerto, Kromegan, Malang: 10 08 2014 M

Arak Kearifan Lokalnya


Ini mengingat-ingat masa lalu, di saat saya membuka cabang kedai Es Degan Durian di jalan Wilis Malang. Sebetulnya ini sudah agak basi di benak, tapi rasanya ada pentingnya untuk saya tulis.

Meski umur kedai saya itu tidak berusia panjang karena suatu masalah, masih banyak hikmah yang saya dapat. Diantaranya terutama adalah lebih banyak menambah kenalan.

Ada satu kenalan pelanggan dari obrolannya ada yang menarik untuk saya bawa di sini. Seorang mahasiswa dari Papua. Tiap hari beli es degan saya sehingga menjadi kenal sampai akrab.

Suatu hari dia mengajak saya berkunjung ke kosannya yang melulu dihuni maha siswa satu asal. Konon, diantara sesama sukunya atau seasal kebersamaan dan kekompakannya selalu dijaga.

Sebelum mengunjungi, saya diberi petunjuk dulu, bahwa jika saya sampai di kosannya sebaiknya (hampir wajib) meminum arak yang disugukan. Sebab menurut budaya mereka setiap tamu disuguhi arak dan diminum bersama sebagai sebuah keakraban dan kehormatan.

Memjumpai persyaratan adat seextrim itu, cepat-cepat saya tegaskan, "Wah sory ya mas bro,bukannya saya gak mau menghormati,masalahnya saya gak biasa minuman itu. Dan saya memang gak mau minuman itu. Adakah cara penghormatan yang lain?"

"Adat kami dari nenek moyang kami sudah seperti itu buat menghormati tamu mas. Araknya juga buatan kami sendiri," jelasnya.

“Oh gitu, ya klo gitu saya pikir-pikir dulu ya mas, takut malu-maluin nanti. Nanti sekali minum saya langsung teler tak terbiasa.” Tambahku sambil melucu agar dia tak tersinggung.

Adat atau tradisi adalah kebiasaan bersama yang terbentuk berdasar pengaruh kondisi lingkungan atau pola pikir kelompok atau  setempat dan berjalan secara turun temurun. Sehingga tiap tempat yang memiliki kondisi atau pola pikir yang berbeda akan menyebabkan adat atau kebiasaanya berbeda pula. Pengalaman arak di atas menjadi contoh.

Bagi saya, yang hidup di Jawa dan beragama Islam, arak adalah haram yang harus dijauhi. Sehingga bukan membuat terhormat malah menyebabkan terhormat menjadi terhina. Tapi bagi budaya Papua itu tidak, justru arak menjadi sebuah kehormatan dan kebesaran.

Dari sinilah kemudian di ranah filsafat muncul sebutan kebenaran relatif dan kebenaran absolut.

Menurut satu sisi benartapi di sisi lain salah. Inilah kebenaran dalam adat, relatif.

Lalu yang bagaimana kebenaran paten atau kebaikan absolut, yang tidak dipengaruhi kondisi, adat, tempat, atau pola pikir tertentu, sehingga semua orang kapan dan di manapun mengakuinya benar atau baik?

Saya mulai dari sebuah contoh untuk menjawabnya: Mematuhi kedua orang tua, berperilaku santun, jujur, adil, atau welas asih, siapakah yang tidak mengakui semua sikap ini sebagai kebaikan? Suku-suku tertinggal di belantarapun pasti mengakuinya sebagai kebaikan. Inilah kebenaran absolut itu. Kebenaran yang tidak terbentuk dari kesepakatansekelompok manusia, tapi kebenaran yang langsung ditetapkan oleh Yang Maha Absolut, Tuhan Pencipta, melalui agama. Hati nurani pasti mengakui.

Lalu bisakah kita menentukan kebaikan relatif itu benar atau salah dari sisi kebenaran absolut?

Jawabannya macam-macam: bisa jadi tujuanya benar tapi caranya pakai adat salah. Arak di atas contohnya. Orang Papua niatnya menghormati tamu itu benar absolute, tapi caranya yang salah, pakai arak.

Misal lain, di Jawa, ada sebagian adat niatnya baik, untuk memperkuat silaturrohim dan persahabatan.Tapi, caranya mengadakan hajatan besar-besaran dan mendatangkan biduan-biduan penyanyi cantik lalu para tamu disuguhi minuman beralkohol, kadang dioplos, sambil nyawer biduan-biduan itu. Bahkan kerap sambil memeluk dan mencium biduan diatas panggung tanpa canggung-canggung. Apakah ini kebaikan?

Melihat adat atau tradisi sebagai sebuah kebaikan atau kebenaran demikian, yang aneh-aneh itu, saya habis pikir (bukan tidak habis pikir): Apa dasar yang memotivasi para tokoh, atau sesepuh, yang memulainya sehingga kok jadi-jadinya mencipta adat kebaikan berupa yang aneh-aneh itu? Apakah tidak terbesit sama sekali akan dampak negatifnya? Atau memang tidak menyadari akan dampak negatifnya? Atau bisa jadi juga, sesepuhnya itu yang bodoh, atau justru dia memang pelaku ketidakbaikan, sehingga ketidakbaikannya dianggap kebaikan yang lalu ditemurunkan. Ditambah generasi penerusnya yang juga menganggapnya kebaikan hanya karena sudah terbiasa dan lebih cenderung pikiran enaknya?

Secara pribadi saya menjawabnya: saya yakin, sesepuh atau pemula yang mencipta kebaikan atau kebenaran yang relatif itu, atau yang aneh-aneh itu, yang sebenarnya secara absolut ketidakbaikan itu, adalah dia itu pelaku ketidakbaikan itu sendiri. Sebab, tidak mungkin sesepuh yang betul-betul bijaksana berperilaku kebaikan absolut akan merintis atau memulai suatu ketidakbaikan, apalagi untuk ditemurunkan.

Orang yang sudah terbiasa dengan kebaikan paten atau sejati, dia akan berhati bersih, dan setiap apa yang dilakukan, apalagi untuk memulai sesuatu, dia akan bersumber dari bisikan hati yang bersih dan nurani yang suci serta extra berhati-hati. Bukan hati yang kotor apalagi hawa nafsu.

Dalam diri manusia antara nurani (jiwa rububiyah) dan hawa nafsu (jiwa syaithoniyah), meminjam istilah Imam Al-Ghozali, saling bertarung berebut membisiki akal pikiran manusia. Kalau nuraninya yang menang maka dia akan lembut dan benar. Namun, apabila hawa nafsunya yang mengusai akalnya maka dia akan kasar dan tidak suka kebaikan, layaknya perilaku syetan.

Syetan adalah nyata-nyata musuh manusia, karena dia ingin merusak manusia dengan segala caranya. Nah, caranya yang paling ampuh adalah cara yang sangat amat lembut. Cara yang seakan tampak dan terasa bukan media merusak, malah menyenangkan. Itulah nafsu itu. Gerak nafsu itu berupa budaya yang terasa seakan baik dan enak-enak itu: oplosan, saweran, pergaulan bebas, hiburan-hiburan, dan sejenisnya.

Akhirnya, kita sebagai manusia harus ekstra hati-hati: tidak semua budaya itu baik dan terhormat, dan tidak semua yang terhormat itu budaya. Begitu juga, tidak semua yang enak itu menyenangkan, dan tidak semua yang menyenangkan itu yang enak.

“Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan dari padanya (kiamat) oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu jadi binasa". (QS, Thaha: 16)

Jatikerto, Kromengan, Malang: 07 08 2014 M

Mereka yang Merantau Agar Berubah

Di kampung tempat saya ngajar ngaji, antara sebelum dan sesudah lebaran Idul Fitri suasananya lain, yakni kapasitas warganya.

Sebelum lebaran yang saya lihat itu-itu saja. Setelah lebaran, saat saya silaturrohim ke rumah anak-anak ngaji, ternyata banyak wajah-wajah baru terutama para pria.

Setelah saya tanya selama ini ada di mana, semuanya menjawab merantau. Ada yang ke Kalimantan, Sumatra, Riau,Papua, Malaysia, Hongkong, dll. Kebanyakan yang merantau laki-lakinya sedangkan istrinya tinggal di rumah dengan anaknya. Ada juga yang merantau kedua-duanya sedangkan anaknya dirawat mbahnya di rumah. Kalau yang bujang biasanya kebanyakan wanita yang merantau ke Hongkong.

Saya kalau bertamu ke sebuah rumah ada orang yang baru pulang dari perantauan, saya senang sekali. Karena ada banyak pengalaman yang mereka ceritakan ditambah dengan cara bercakapnya yang sangat khas.

Dari banyak jagongan dengan para perantau itu, saya dapat mengambil pelajaran: saya amati yang merantau itu tampak lebih dewasa dan bijaksana dari cara bicaranya, bahasanya, dan topik pembicaraannya. Sehingga saya pasti dapat tambahan kesan, pengalaman, atau ilmu baru.

Merantau, pada satu sisi kata orang kampung kurang baik, karena jauh dari keluarga. Sehingga ada sebuah ungkapan miring bahwa percuma jadi orang kaya kalau jauh dari keluarga, lebih baik pas-pasan yang penting sehat dan bisa kumpul keluarga.

Mungkin saja ini memang benar. Tapi menurut saya,jauh dari keluarga bukan berarti sebuah ketidak baikan atau ketegaan, melainkan sebuah impian masa depan yang justru demi kesejahteraan dan kebahagian bersama keluarga. Kumpul dengan kesejahteraan. Bukan kumpul tapi pas-pasan.

Maka kejauhan itu adalah resiko sementara yang berbuah kecerahan masa depan. Ini sudah mereka sadari sejak awal. Sehingga demi masa depan mereka nekat dan tega dulu. Pulangnya selain sudah punya modal mereka juga punya pengalaman.

Saya pribadi mengalami hal itu. Setelah pernah bekerja nyeles, keliling ke pasar-pasar: ke timur sampai Bali, ke barat sampai Tulungagung. Sampai itu saja sekarang saya rasa banyak mendapatkan faidah. Tiap ketemu atau jagongan dengan orang-orang yang tidak saya kenal, saya tanya asalnya atau saya yang ditanya duluan, saya bisa menanggapi dan nyambung. Ketika mereka bilang dari Bali, maka saya tahu di Bali mana. Begitu juga di manapun mereka berasal sepanjang pernah saya singgahi saya bisa nyambung.

Dari situ, paling tidak, ada jagongan interatif sama-sama nyambung atau mengalir, sehingga mereka menjadi kenal, lebih kenal, akhirnya berteman. Jadinya tambah teman. Teman jadidi mana-mana.

Iman Syafi'i berujar dalam syairnya:
Safir tajid ‘iwadlon ‘an mantufariquhu
Wan shob fainna ladzidzal ‘aisyi fin nashobi

Artinya, Merantaulah kamu, niscaya kamu akan mendapatkan dari apa yag kamu tinggalkan. Dan tekunlah, karena sesungguhnya manisnya hidup terdapat pada ketekunan itu.


Tuhanpun berfirman: “Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka'bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (QS, Quraisy: 1-4)

Sahabat-sahabatku, tidak ada ruginya merantau,  andai memang anda seharusnya begitu dan anda yakin dapat perubahan.

Bismillah!

Kalisat, Gunung Kawi, 01-08-2014M

Penjual Cilok yang Hebat dan Putri Cantik Terkaya se Asia yang Tragis


Sahabat saya yang satu ini betul-betul ahli sabar maupun tabah.

Dia seorang penjual cilok (serupa pentol bakso tanpa daging yang disukai anak-anak kecil) dengan sepeda ontel tuanya. Berkeliling ke kampung-kampung dan sekolah-sekolah. Mulai pagi sampai ciloknya habis. Lebih sering habisnya hingga Magrib. Bahkan tak jarang tidak habis hingga malam sehingga pulang sisanya langsung dihangat buat jualan besok.

1 biji cilok seharga 100 rupiah. Dalam sehari modalnya 30 ribuan dengan hasil kalau laku semua 70-100 ribuan. Hanya begitu kisaran hartanya saben hari.

Umurnya sudah 40 tahun lebih dengan 4 anak. Anaknya yang paling tua andai lanjut sekolah sekarang sudah hampir lulus kuliah, dan yang bungsu sekarang masih bayi 1 tahunan, lainnya SMP dan SD.

Menjual cilok dia tekuni sudah 20 tahunan lebih. Sebuah jangka waktu yang tidak sebentar. Bahkan tak masuk akal, saking amat melelahkan dan membosankan dengan saben harinya hanya menghasilkan 20-50 ribu, mungkin ini pikiran kita, sehingga kesabaran di situ tak mungkin kuat. Sehingga kalau bagi kita sebelum dapat sebulanan saja pasti sudah ditinggalkan, cari kerjaan yang lebih efektif dan efisien.

Tapi tidak begitu bagi sahabat itu. Dia telah meyakini dari awal bahwa dia bisa bertahan hidup dan membiayai anak istrinya dengan jualan cilok. Bahkan dia sangat menyadari bahwa itu sudah garis hidupnya dari Tuhan yang patut diterima dengan ikhlas dan dijalani dengan penuh sabar dan syukur.

Keyakinan itulah yang membuat dia bertahan tegar.

Lebih-lebih, dia sudah berupaya sekaligus berguru ke banyak kiai sepuh bagaimana menjadi banyak rizki dan kaya raya. Semua menjaza' amalan kaya dan semuanya ia amalkan tiap waktunya. Amalan cepat kaya apa yang tidak dia amalkan, hampir semuanya sudah diamalkan. Dan, itulah memang hasilnya. Berarti dia meyakini kekayaan yang ia miliki ya cukup di situ dengan segala upaya dan amalan yang dia tekuni.

Sekarang, kita pasti bertanya-tanya, kok gak kaya-kaya ya?

Untuk menjawabnya, harus diperjelas dulu patokan kadar kekayaanya. Kalau mengukurnya dari hidup bermobil mewah, berumah megah, dan uang di ATM puluhan juta tentunya jauh dari kaya, miskin sekali penjual cilok itu.

Tapi kalau ukuran kayanya dari sisi bathinnya atau kaya anak dan kaya hati (hidup tenang) sudah pasti orang ini sudah kaya sekali. Dan inilah yang dimaksud kaya baginya. Dia sudah merasa kaya, merasa cukup, penuh syukur dikasih anugrah hidup seperti itu. Keluarganya bahagia. Andai dia tidak terima hidup demikian mungkin dia sudah menghalalkan segala cara untuk menjadi kaya atau hidup selain begitu; untuk memberontak dari hidup yang andai dirasa melarat atau nelangsa itu.

Banyak orang yang memahami kekayaan hanya dari ukuran hidup mewah, dari sisi dhohir semata, sehingga mampu tidak mampu harus kaya begitu. Akhirnya, segala upaya tidak berhasil cari jalan pintas, segala cara dilalui. Pikirannya yang ada pokoknya kaya. Karena dengan hanya kaya begitu hidup diyakini bahagia.

Akibatnya, tidak jarang terjadi, banyak manusia yang tubuhnya tiba-tiba ngedrop atau kenak struk atau penyakitan aneh lainnya, karena tenaganya mengingkari kenyataannya. Atau banyak manusia yang otaknya cepat stress, karena keinginannya melampaui usahanya.

Kalau tidak begitu, di luarlogikapun dilakoni: jin dan syetan diajak kerja sama dalam bisnis pesugihan,tempat-tempat wingit, kuburan kramat, atau kayu angker ditiduri menunggu angka jitu buat beli togel, martabat dipertaruhkan.

Mari kita renungi, kalau halnya kekayaan dhohir itu yang memang menjadi tolak ukur manusia bahagia di dunia ini, kenapa Oei Hui Lan putri cantik orang terkaya se Asia Tenggara, Oei Tiong Ham, Raja Gula dari semarang, hidupnya penuh tragedi? Begitu juga ayahnya, Oei Tiong Ham, yang memiliki puluhan selir kenapa mati secara misterius? Kenapa Adolt Merckle, orang terkaya di Jerman, menabrakkan badannya ke kereta api? Kenapa Michael Jackson, penyanyi terkenal yang kaya raya di USA, meminum obat tidur hingga overdosis?

Rasanya, bukanlah kekayaan seperti itu sejatinya yang menjadi tolak ukur kekayaan yang menyenangkan dalam hidup ini.

Dengan demikian, maka sebenarnya sahabat penjual cilok itu lebih hebat dan berbahagia dari sekedar artis Oei Hui Lan, Oei Tiong Ham, Adolt Merckle, dan Michael Jackson, orang-orang bergelimang harta tapi akhirnya tragis itu.

Mari kita juga membaca kesadaran putri cantik orang terkaya se Asia Tenggara, Oei Hui Lan itu, setelah menyadari bahwa segalanya yang ia miliki sudah tak berguna, lalu dia memilih hidup sederhana seorang diri dengan anjing-anjing kesayangan dan seorang anak tirinya.

Dia berkisah dalam bukunya “Tak Ada Pesta yang Tak Berakhir” yang amat memelas:
“Kini saya berpendapat, berkenalan dengan kaum ningrat dan orang berduit tidaklah penting. Otak dan kepribadian lebih penting. Kita bisa menderita akibat haus kekuasaan, tetapi kita bisa mendapat kesenangan dari sikap hormat, kesederhanaan dan sifat lurus. Kita seharusnya menghargai orang orang lain dan hidup ini. Seperti kata ibu, kita harus puas dengan yang kita miliki. Banyak teman baik saya pun sudah meninggal, tetapi saya banyak mendapat teman baru yang masih muda. Saya sering mengenang anjing-anjing saya yang sudah mati, yang memberi saya cinta kasih dan kebahagiaan pada tahun tahun terakhir. Saya harap suatu waktu kelak mereka akan dilahirkan lagi. Kalau demikan halnya, saya yakin kami akan saling mengenali.”

Ternyata, kesejatian hidup itu sangat sederhana, hanya ditentukan, bagaimana kepribadian dan cara berpikir seseorang memaknai kehidupan.

Selamat berjuang buat sahabat penjual cilok atau sahabat-sahabat saya lainnya yang masih berprofesi susah payah. Janganlah kita sampai pernah bersedih apalagi putus asa. Karena dunia ini berputar dan berubah. Tuhanpun hanya 1, tapi jalan-Nya buat hamba-hamba-Nya banyak sekali.

“Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik. Kepada masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi. Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya.” (QS, 17:18-21)


Malang, 20072014

Mistik: Dari Tidak Percaya Lalu Saya Tekuni


Mulanya, saya tidak percaya yang ini: prilaku mistik-mistik ala kejawen, nyepi di gunung-gunung, keris, tempat-tempat wingit, angker, dan sejenisnya. Anggapanku satu tentang itu, gak masuk akal dan syirik.

Setelah umur makin bertambah, pengalaman makin banyak, kepribadian makin dewasa, saya menjadi mengerti dan percaya bahwa semua itu sejatinya bukan sekedar pengalaman pribadi mistikisme atau pelaku kejawen, tapi betul-betul bagian dari agama dan bersejarah.

Terbukti saya amati, tidak ada parautusan atau para Nabi dan Rasul, para pemimpin, dan orang-orang besar tiap zamannya yang tidak melakukan pengasingan diri, uzlah (bahasa agamanya), atau tirakat dan semedi (Jawanya). Misalnya, Adampun begitu diuzlahkan oleh Tuhan di belantara bumi untuk sebuah pertobatan, sampai Rasulullahpun begitu di gua Tsur dan Hira, Maryam di Baitul Maqdis, Musa di Gunung Sinai (QS Maryam). Terkhusus jugadi negri kita, para Wali Songo, Sukarno, Suharto, dan lainnya.

Begitu juga keris dan benda-benda bernilai mistik lainnya, saya percaya ada nilainya. Saya amati sampai saya menemukan firman Tuhan menegaskannya, Langit yang tujuh, bumi dansemua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupunmelainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengertitasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.”(Al-Isra': 44)

Pada intinya, semua ini adalah bagian dari iman, percaya kepada yang goib dan menambah keimanan.

Belakangan, saya tidak hanya sekedar percaya tapi malah yakin dan menambah keimanan sehingga saya mendalami dan menekuni jalan yang gak masuk akal ini. Aku mencoba ikut-ikut nyepi di petilasan-petilasan, tempat-tempat wingit, danmakam-makam leluhur atau para wali. Saya juga bakar dupa, menekuni dan merawat keris-keris.

Keris dan dupa telah menambah iman saya. Bahkan saya pastikan bisa jadi dupa dan keris lebih bertauhid dari pada kita. Saya mengamati keris, dia berlekuk-lekuk (berluk), bagaimanapun dan berapapun luknya keris ujungnya tetap akan mengarah lurus ke atas.  Ke atas berarti menunjukkan ke arah yang Maha Kuasa.

Begitu juga dupa, ke manapun arah asap dupa, ujung-ujungnya tetap saja menuju ke atas. Ke atas berarti yang Maha Kuasa. Keris dan dupa menjadi lambang, bahwa hidup ini berasal dan menuju kepada Yang Maha Pencipta hidup. Ini amat sangat tauhid.

Bulan Ramadan ini secara pribadi saya bertekat memulai penekunan di tingkat penerapan bukan sekedar ikut-ikutan atau mengamati lagi.

Tadi malam, Jum'at malam (12 072014), yang tanpa sengaja ternyata tanggal kelahiran saya, saya mulai dari penyepian di bukit Mbah Malang Kalisat Sumber Tempur Gunung Kawi. Berupa petilasan wingit. Konon, menjadi pusat para leluhur Gunung Kawi bersemedi disitu. Dengan sengaja juga di situ tempat perjuangan saya merintis yayasan anak-anak ngaji dan yatim piatu, sehingga rasanya pas.

Percaya tidak percaya, saya selayaknya harus bersatu dengan semua eksistensi yang berada di tanah itu, yang nampak maupun yang gaib. Dan semua dalam bingkai niat kebersamaan dan kekuatan berjuang untuk pendidikan anak-anak dan ridla Tuhan.

Malam itu saya memulai tanpa modal macam-macam, kecuali sekedar bacaan al-fatihah, surat yasin, istigfar, danniat baik.
Malam itu jam 10an, dalam mendaki, hampir seperempatan mau sampai, saya ketemu dengan beberapa orang sedang istirahat menenangkan nafas yang ngos-ngosan, katanya juga mau berritual diatas. Lalu bersama-sama sampai di atas.

Sempat bercakap sebentar, katanya dari Tumpang Malang dan hanya baru kali itu mendaki di situ. Entah apa tujuannya jauh-jauh dari Tumpang, saya tidak bertanya. Tapi, lihat tampangnya orangnya gagah-gagah bercelana jin berjakit kulit. Hanya satu yang tampangnya lain, orangnya pendek kurus, sudah lumayan berusia. Konon, dia pengawalnya, juru kuncinya. Ibarat salat dia imamnya. Bahkan dia megang 3 tempat kramat katanya: bukit Mbah Malang itu, Gunung Kawi, dan Gunung Kombang Ngliyep. Saya percaya karena saya juga pernah ketemu wajah orang itu berjalan berombongan membawa sesajen diatas geladak menuju Pulo Kombang pantai Ngliyep. Hebat!

Tapi, ada yang aneh dan agak lucu di balik kehebatannya itu, mengenalkan diri namanya Mbah Semok. Mbah Semok?!Saya sempat mau tertawa mendengarnya. Di dunia kayak itu, tampangnya juga kurus dan sepuh kok  dijuluki semok, kayak dunia porno saja. Jauh sekali.

Di atas, kayaknya mau mulai ritualan, saya sedikit menjauh takut merasa terganggu. Tampaknya dari jauh mereka menyatu bergerombol di depan sebuah kayu besar yang sudah biasa dianggap sisi yang kramat sambil membakar dan menancapkan setumpuk dupa. Mbah Semoknya itu tampak membaca mantra samar-samar terdengar dengan bahasa Jawa halus kuno. Saya sangat tidak memahaminya.

Sebentar sekali mereka berritual. Lalu tiba-tiba pamitan ke saya untuk pulang duluan. Saya tanya kok sebentar sekali, jawab Mbah Semok yang kurus itu, “malam inicuma sekedar pamitan dulu, dilanjutkan lagi pada malam-malam yang pas dengan ritual semalam suntuk, semoga jodoh mas,” jelasnya.

Saya cuma jawab, amin. Padahal saya tidak nyambung sama sekali ‘pamitan’ apanya dan ‘jodoh’ apanya.

Meski sedikit heran, saya tidak banyak memikirkan orang-orang itu. Sepi, saya langsung saja duduk di sebelah kayu tempat dupa dibakar tadi dengan menghadap ke barat bukan menghadap ke kayu besar tadi. Barat maksud saya arah ka'bah. Saya kirim fatihah dan baca yasin, lalu diakhiri istigfar yang banyak. Kira-kira 2 jam-an saya turun pulang.

Saya belum mengalami apa-apa, juga belum menjumpai aneh-aneh seperti dalam ceritanya, genderuwo, ular besar,macan dan sebagainya. Saya cuma merasakan desiran angin lembut dan kesunyian.

Dari kesunyian dzikir itu saya merasakan: betapa diri ini kecil, apalah artinya saya di sisi Tuhan, di sisi alam ini. Rembulan bersinar indah, matahari bertugas menyinari sisi lain, pohon-pohon gagah menjulang, angin berdesir, dedauan bergoyang, embun menyapa lembut, para malaikat dan jin hening, semuanya setia memuji Tuhan. Saya ingin melebur dengan mereka ikut bersama memuji-Nya.

Di sisi lain, apalah artinya kesunyian semua ini ketimbang dahsyatnya kesunyian di alam kubur yang pasti. Mumpung saya belum ditirakatkan di pedaringan liang lahat. Saat saya tidak bisa berbuat apa-apa. Ya Tuhan. Di sini saya masih bisa menikmati kesunyian amat damai serta masih bisa pulang.

Dari kesadaran ruhani ini saya tidak takut apa-apa. Saya merasakan kesejatian sesungguhnya. Berkumpul dengan alam memuji-Nya. Dan, semua ini adalah hanya kebesaran-Nya.

Seterusnya akan saya tempuh jalan ini sampai jiwa bisa betul-betul memastikan: kesakitan, kepedihan, kehancuran,kenistaan, derita, kehebatan, kehebohan, kelebihan, kekurangan, keburukan, keindahan, segalanya adalah hanya kebesaran dan welas asih-Nya. Subhanallah, Allahu Akbar.

Malang, 12 07 2014 M

Semarak Idul Fithrih Antara Agresi Militer dan Budaya Yahudi

 Oleh: Muh. Ali Sabilullah, S.Fil.I

Khutbah Pertama

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (3×). اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدَ اْلفِطْرِ بَعْدَ صِياَمِ رَمَضَانَ وَعْيدَ اْلاَضْحَى بَعْدَ يَوْمِ عَرَفَةَ. اللهُ اَكْبَرْ (3×). اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدٌ اَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَمَّا بَعْدُ. فيا عبادالله, أوصيكم و إياي نفسى بتقوى الله. فقد فاز المتقون وخاب الطاغون. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
Jama’ah salat Idul Fithrih yang dicintai Allah
Mulai tadi malam hingga detik pagi ini, 1 syawwal 1435 H/28 Juli 2014 M, kita mengumandankan takbir, tahlil, tasbih, dan tahmid,  begitu juga kita baru saja mengumandankannya di dalam salat, semua ini adalah pertanda akan nikmat Allah yang kita jumpai sekali dalam setahun. Sehingga secara pasti, kita mengumandankannya dengan rasa hati yang sangat gembira dan bangga lebih dari sekedar kesenangan lainnya. Maka dari itu dengan ini kita wajib bersyukur atas nikmat Allah hari ini.
Kenapa demikian? Jawabannya, karena kegembiraan hari ini adalah kebahagiaan sejati, kebahagiaan yang penuh berkah, kebahagiaan yang bersama, kebahagiaan yang langsung dijanjikan oleh Allah, dan kebahagiaan hari ini adalah kebahagian karena kemenangan kita setelah lulus menjalani amalan, perintah Allah, ujian Allah, atau gemblengan Allah selama sebulan penuh yakni puasa Ramadhon.
Maka dari itu,  hari ini disebut Idul fitrih, hari kembali kepada kesucian, hari di mana jiwa-jiwa disucikan dan dosa-dosa diampuni. Hari ini adalah hari kemenangan, hari yang penuh syukur. Hari raya umat Islam.
Sebagaimana firman Allah SWT:
وَلِتُكْمِلُوااْلعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُاللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ ولَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”

Dan Rasulullah SAW bersabda:
زَيِّنُوْا اَعْيَادَكُمْ بِالتَّكْبِيْر
Hiasilah hari rayamu dengan takbir.”

Hari Idul Fitrih ini adalah hari caranya Allah mengembalikan kita kepada manusia yang sejati, hari caranya Allah me-refres kita agar segar bugar kembali sebagai manusia yang berhati nurani. Karena Pada pada dasarnya manusia itu dicipta dengan jiwa yang baik, bersih, dan suci. Siapa yang tidak sangat berbahagia jika dirinya diampuni dosanya oleh Allah?
Sebagaimana firman Allah: “Kami menciptakan manusia dengan sifat yang paling baik. Kemudian Kami turunkan martabat manusia ke tingkat yang paling rendah. Hanya orang-orang yang beriman dan beramal shalih yang tetap pada sifat yang paling baik. Mereka kelak mendapat pahala yang tiada terputus di akhirat.” (QS. at-Tiin, 95:4-6)
Hari ini, sebagai kebahagiaan bersama, adalah karena Allah dengan momen Idul Fitrih ini mengumpulkan kita bersama dalam satu tempat yang mulya ini, sehingga kita  bisa bertemu dan bersalaman untuk saling memaafkan. Yang tidak bisa bertemu langsung, paling tidak, Allah menumbuhkan semangat kebersamaan dan pesaudaraan untuk saling memaafkan dalam bathin dengan cara saling kirim kabar, surat, telpon, dan kecanggihan teknologi lainnya.
Sehingga dengan Idul Fitrih ini, yang tidak bertemu menjadi bertemu, yang tidak berkumpul menjadi berkumpul, yang jauh menjadi dekat, yang  bersahabat menjadi lebih akrab, yang merantau menjadi pulang, yang tidak pernah berkunjung menjadi saling kunjung, yang putus menjadi nyambung, yang sebelumnya enggan memaafkan sekarang menjadi legawa memaafkan, dan yang bermusuhan menjadi teman, semua ini adalah sebagai berkah suasana Idul Fitrih ini. Subahanallah. Allahu akbar walillahilham.
Inilah yang dimaksud semangat silaturrohim, yang dengannya, di Idul Fitrih ini dosa-dosa antara sesamanya saling dimaafkan. Sehingga menjadi utuh, di Idul Fitrih ini dosa-dosa kepada Allah dilebur dengan gemblengan ibadah bulan ramadhon penuh, sedangkan antara sesama manusia dilebur dengan berkumpul bersama dalam gema takbir, tahlil, tasbih, dan tahmid saat ini. Subhanallah, siapa yang tidak berbahagia dengan suasana ini?
Sebagaimana firman Allah:
اِذَا صَامُوْا شَهْرَ رَمَضَانَ وَخَرَجُوْا اِلىَ عِيْدِكُمْ يَقُوْلُ اللهُ تَعَالىَ: يَا مَلاَئِكَتِى كُلُّ عَامِلٍ يَطْلُبُ اُجْرَهُ اَنِّى قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ فَيُنَادِى مُنَادٌ: يَا اُمَّةَ مُحَمَّدٍ اِرْجِعُوْااِلَى مَنَازِلِكُمْ قَدْ بَدَلْتُ سَيِّئَاتِكُمْ حَسَنَاتٍ فَيَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: يَا عِبَادِى صُمْتُمْ لِى وَاَفْطَرْتُمْ لِى فَقُوْمُوْا مَغْفُوْرًا لَكُمْ
Artinya: “Apabila mereka berpuasa di bulan Ramadhan kemudian keluar untuk merayakan hari raya kamu sekalian maka Allah pun berkata: 'Wahai Malaikatku, setiap orang yang mengerjakan amal kebajian dan meminta balasannya sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka'. Sesorang kemudian berseru: 'Wahai ummat Muhammad, pulanglah ke tempat tinggal kalian. Seluruh keburukan kalian telah diganti dengan kebaikan'. Kemudian Allah pun berkata: 'Wahai hambaku, kalian telah berpuasa untukku dan berbuka untukku. Maka bangunlah sebagai orang yang telah mendapatkan ampunan.” 
Saudara saudariku yang diampuni Allah
Idul Fitrih saya sebut juga sebagai Kebahagiaan yang penuh berkah. Artinya, pada suasana Idul Fitrih ini, siapakah yang tidak turut berkumpul di sini, di Masjid-masjid, atau di musalla-musalla, semuanya kumpul kecuali yang berhajat atau berhalangan syar’i. Dan sudah pasti semuanya berkumpul dengan hati yang sangat gembira karena merasakan kemenangan setelah berpuasa. Sehingga, orang yang tidak berpuasapun atau berpuasa bohonganpun pasti ikut merasakan kebahagaiaan itu.
Di sinilah keberkahan bahagia itu, semuanya menjadi turut kebagian gembira, karena berkah dan kasih sayangnya Allah pada hari ini. Maka, saudara-saudaraku yang sengaja maupun tidak sengaja tidak turut berpuasa di bulan ramadhon, saudara jangan kawatir atau malu karena tidak ada yang tahu, apakah anda kemarin berpuasa, bertarawih, dan berzakat atau tidak di bulan ramadhon. Ada yang tahupun anda tetap bisa turut berbahagia, karena di sini di tempat ini, di suasana suci Idul Fitrih ini, tidak akan ada yang memarahi anda karena tidak berpuasa. Kita semua di sini bersama dalam bersyukur gembira. Subhanallah.
Oleh karena itu, saudara-saudaraku, saking berkahnya bulan Ramadhon dan Idul fitrih Ini, dengan anugrah Allah berupa kebahagiaan yang langsung kita rasakan saat ini, masih maukah kita di bulan ramadhon tahun depan tidak berpuasa, tidak mau bertarawih, atau tidak mau bersodaqah? Saya yakin kita tidak akan tega kepada diri kita sendiri bahwa kita akan merasakan kebahagiaan yang palsu untuk ke sekian kalinya.
Maka kita yakin kalau anda sekarang ingin kebahagiaan yang sejati bersama dengan orang-orang yang sregep berpuasa, bertarawih dan bersadaqah, di bulan Ramadhon depan anda akan menjadi sregep juga. Makan mari kita niatkan sejak sekarang bahwa ke  depan kita sregep tarawih, berpuasa, bersodaqah dan berbuat baik, agar kita hari ini semuanya merasakan kebahagiaan sama, betul-betul berbahgia sejati.
“…Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-ngadakan kedustaan.” (QS, Thaha: 61)
“…Dan sesungguhnya beruntunglah orang yang menang pada hari ini.” (QS, Thaha: 61)
Allahu Akbar 3 x Walillahil Hamdu
Saudara-saudariku yang Berbahagia
Betapapun senang gembiranya kita di hari kemenangan Idul Fitrih ini, perlu juga kita sadari bahwa ada sisi lain yang tak kalah hebatnya dengan kegembiraan itu, yaitu kesedihan. Kita sangat bersedih di sini.
Kesedihan yang Pertama, saudara kita umat Islam yang berada di negara-negara lain seperti di Inggris, Bosnia, Suriah, Afganistan dan yang sedang terjadi di Palestina mereka sedang berduka, karena kehidupan mereka sedang diambang kebengisan dan kebrutalan orang-orang kuffar yahudi yang setiap saat dapat menyiksa dan menghabisi jiwa raga mereka.
Saudara-saudriku, di hari kemenangan yang agung dan suci ini, di saat kita mengagungkan Allah dengan kejembaran dada dan kegembiraan luar biasa detik ini, mereka di sana sedang mengagungkan Allah dengan gema takbir air mata dan dengan hati yang selalu berdebar waswas akan ancaman brondongan rudal-rudal manusia-manusia kejam terlaknat itu.
Kesedihan yang kedua, mari kita menafakkuri sejenak negri kita Indonesia ini. Negri yang dikenal dengan tanah surga ini, seperti yang tersirat dalam lagu Koes Ploes yang berjudul kolam susu, ‘kail dan jala cukup menghidupimu, ikan dan udang datang menghampiri dirimu’. Begitu juga disebut, ‘Gemah ripah loh jinawi toto tentrem karto raharjo’, yang berarti, kekayaan alam yang subur dan berlimpah penuh tenteram, sehingga konon tongkat ditanam menjadi pohon yang tumbuh subur. Di negri kita ini, yang lebih banyak muslimnya ini, saat ini sedang dalam keadaan gonjang ganjing tak karuan, mengerikan dan sangat menyedihkan: negri kita sedang dilanda oleh peperangan-peperangan dahsyat tapi samar yang dahsyatnya tak kalah gawatnya dengan yang terjadi di Palestina: peperangan harta, tahta, dan wanita.
Pada peperangan harta, persaingan bisnis yang tak kenal norma, halal haram sudah tak ada, logika tega meraja lela, saudara sendiri dilibas, aspal-aspal di makan, proyek-proyek menjadi santapan, prinsip yang penting untung sendiri menjadi landasan. Lebih ngeri lagi, jin atau syetan-syetan diajak bekerja sama dalam bisnis pesugihan, tempat-tempat wingit, kayu-kayu angker, atau kuburan-kuburan kramat ditiduri tiap malam, menunggu wangsit nomor jitu beli togel, katanya. Astagfirullah.
Pada pertempuran tahta, persaingan politik semakin nyentrik, adu kekuasaan saling mengalahkan, sikut menyikut, gilas menggilas, yang penting bisa berkuasa sehingga menjadi manusia serba bisa apapun maunya.
Pada pertempuran wanita, wanita menjadi rebutan semua pihak, baik penguasa, pengusaha, maupun agamawannya. Sebaliknya, para wanitanya juga tak mau kalah tampil bersaing, wanita makin berani menjadi pejuang pergaulan dan perebutan lelaki yang tak kenal muhrim atau non muhrim, pergaulan mereka makin bebas tanpa batas, emansipasi dan wanita karir menjadi prinsip andalan. Lebih ngeri lagi, demi kecantikan dan kegengsian mereka tak malu-malu lagi malah bangga mempertontonkan sisi-sisi kemaluannya yang sebenarnya mempermalukan dirinya: berpakaian setengah-setengah, bikini, ngapret, dan ketat.
Pantas ada istilah dari mode pakaian mereka yang berbunyi ‘you can see’, yang sebenarnya artinya, ‘kau dapat melihat’. Jadi, maksudnya mungkin, berpakaian tapi tenang saja, masih bisa di lihat isi dalamnya. Lebih nekat lagi, di mana dan kapanpun maunya kawin langsung jadi, dinas KUA dan pak Mudin menjadi kurang berlaku lagi. Hamil duluan menjadi kicauan para biduan. Nastagfirullah.
Wahai saudara-saudari, marilah kita eling dengan peringatan Nabi ini:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

Artinya, Ada dua jenis penghuni neraka yang saya tidak pernah melihatnya. (Pertama) Kaum yang memegang cambuk seperti ekor sapi dan memukulkannya kepada orang-orang. (Kedua) Wanita yang berpakaian tetapi telanjang. Mereka melenggak-lenggokkan badannya lagi sombong, kepala mereka seperti punuk unta yang besar dan melenggak-lenggok. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium wanginya, padahal wangi surga tercium dari jarak sekian dan sekian (40 s.d 70 tahun). (HR. Muslim no. 2128)
Dari semua kejadian di negeri kita ini, tak heran bila muncul adagium-adagium atau slogan miring rakyat di negri ini: yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin; yang buruh makin lusuh, yang elit makin pelit; yang pejabat makin ningkat, yang awam  makin tenggelam; yang maksiat makin hebat, yang salat makin melarat; Jujur hancur, kufur mujur.
Inilah peperangan-peperangan dahsyat di negri kita zaman ini, yang pada akhirnya semuanya mengerucut pada satu titik yang kita sebut dengan mala petaka. Bencana di mana-mana, gempa bumi, tsunami, tanah longsor, gunung meletus, banjir, dan lebih mengerikan lagi, belakangan maraknya penyakit-penyakit aneh yang tiba-tiba mematikan, tidak pandang muda tua, sehat apalagi sakit. Dan musibah-musibah itu bukan hanya menimpa yang berdosa saja, tapi semua menjadi kena. Sungguh sangat menyedihkan. Na’udzubillahi min dzalik.
Jauh-jauh Allah telah mengingatkan kita tentang hal ini:
كَثِيرٍ عَنْ يَعْفُو أَيْدِيكُمْ كَسَبَتْ فَبِمَا مُصِيبَةٍ مِنْ أَصَابَكُمْ وَمَا
"Tidaklah menimpa kalian musibah kecuali karena perbuatan tangan-tangan kalian juga. Tetapi Allah mengampuni banyak sekali," ( QS. Al-Syura; 30).
Dalam ayat yang lain Allah menegaskan:
وَاتَّقُوا فِتْنَةً لا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
"Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya." (QS, Al-Anfaal: 25).
Akhirnya, dari apa yang kita renungi di negri tercinta ini, sejatinya peperangan atau kesedihan yang menimpa saudara-saudara kita di Palestina lebih ringan dibanding pertempuran atau kesedihan di negri kita ini. Serangan rudal-rudal tentara zeonis yang menyakitkan dan menewaskan saudara-saudara kita di Palestina memang sangat menyakitkan dan menyedihkan, namun secara pasti akhirnya, karena mereka mempertahankan tanah air, Masjidil Aqsha, dan agama, sudah pasti kematian mereka menjadi syahid. Singkatnya, kesakitan mereka berbuah menjadi kenikmatan Sorga pada akhirnya.
Sebaliknya, peperangan di negri ini, mungkin tak terasa menyedihkan, tak ada rudal-rudal atau roket yang menggempur, yang ada hanya rudal-rudal budaya, kekuasaan, harta, dan wanita, sehingga bahkan terasa nikmat, akan tetapi akhirnya bukan membuat syahid justru malah membuat sakaratul maut yang menyengsarakan, kematian yang penuh kekecewaan dan ketakutan, dan adzab akherat yang dahsyat berkepanjangan. Na’udzubillahi min dzalik.
Di negri ini, yang ada bukan rudal-rudal dan roket-roket angkatan Zionis yang menggempur, akan tetapi ajaran-ajaran atau budaya-budaya Zionis yang ditanam dalam-dalam secara lembut dan nyaman di otak dan jiwa bangsa kita ini berupa  konsep pergaulan bebas, pola pikir materialistik, industri-industri hiburan, dan busana. Rudal-rudal misi ini diagresikan melalui ruang pergaulan muda mudi kita, media massa, sistem pemerintahan, pendidikan, dan ruang budaya kita.
Di negri ini, yang ada bukan operasi militer Israil yang menyerang, namun yang ada adalah sosok-sosok yang gila dunia dan takut mati, pejabat-pejabat korup, pengusaha-pengusaha riba dan rentenir’, tokoh-tokoh maksiat, model-model glamor, dan idola-idola intertainment. Mereka itu yang telah dirasuki budaya-budaya Yahudi itu.
Rasulullah memperingatkan kita semua:
"Akan datang sesudahmu kaum yang memakan kemewahan dunia dengan segala ragamnya, yang mengendarai kendaraan yang bagus dengan segala ragamnya dan menikahi wanita-wanita cantik dengan segala ragamnya, memakai pakaian yang seindah-indahnya dengan segala ragamnya. Mereka mempuyai perut yang tidak kenyang dengan yang sedikit, dan nafsu yang tidak puas dengan yang banyak. Mereka menundukkan diri kepada dunia, pagi dan sore harinya mengejar dunia. Mereka menjadikan dunia sebagai tuhan dan pengatur mereka. Mereka mengikuti perintahnya dan menjauhi larangannya. Mereka adalah sejelek-jeleknya umatku." (HR. Thabrani)
Dalam Hadist yang lain Rasul menegaskan:
عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا ». فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ « بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ». فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ « حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ ».
Artinya, “Hampir tiba di mana umat-umat saling memanggil untuk melawan kalian sebagaimana orang-orang saling memanggil untuk menyantap hidangannya. Salah seorang bertanya: apakah karena sedikitnya kami ketika itu? Rasul menjawab: bahkan kalian pada hari itu banyak akan tetapi kalian laksana buih dilautan dan sungguh Allah mencabut ketakutan dan kegentaran terhadap kalian dari dada musuh kalian dan Allah tanamkan di hati kalian al-wahn. Salah seorang bertanya: apakah al-wahn itu ya Rasulullah? Beliau menjawab: cinta dunia dan membenci kematian.” (HR Abu Dawud dan Ahmad).
Allahu Akbar 3 x Walillahil Hamdu
Saudara-saudariku yang Berhati Bersih
Ada bocoran dokumen rahasia Zionis Yahudi yang berhasil dicuri oleh pasukan polisi rahasia Rusia, Okhrana, di tahun 1900-an. Dokumen itu berjudul Protocol of Learned Elder of Zion yang isinya 23 protokol misi orang-orang yahudi untuk menguasai dunia terutama menghancur umat Muslim di dunia ini. Diantara 23 protokol itu sampai saat ini ada yang dirangkum menjadi populer dengan istilah 3F: FASHION, FOOD, dan FUN.
Misi Pertama Fashion, artinya pakaian. Yakni, mereka memproduk budaya pakaian-pakaian maksiat yang disebar ke tanah-tanah Muslim dengan cara dipromo-budayakan melalui para model, selebritis, dan pemain film, berupa pakaian ngapret, cekak, transparan, da busana neraka lainnya. Nah, di sinilah banyak tidak kita sadari, sehingga menjadi sangat aneh, malah kita atau anak-anak kita justru kita bangga membelikan pakaian-pakaian model syetan itu. Padahal sejatinya kita sedang bangga dan bahagia dengan memakai pakaian yang pada akhirnya menyengsarakan diri kita sendiri. Hanya karena alasan takut ketinggalan zaman.
Begitu juga, saking sangat lembutnya agresi pakaian ini, sampai-sampai tidak terasa juga memasuki ke area busana muslimah. Caranya, model busananya tetap atas nama Muslimah, hanya saja modelnya mulai diperketat. Tetap berjilbab, namun pakaiannya super ketat. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
Akibatnya, tetap Muslim, atau tetap sregep salat, tapi setelah keluar dari salat kembali lagi berprilaku maksiat. Orang seperti ini tidak merasa telah berdosa bahkan merasa telah taat melaksanakan salat, padahal sejatinya dia sedang dalam kondisi bermaksiat. Maka dari itu ada sebuah adagium, STMJ: Salat Terus Maksiat Tetap Jalan. Akhirnya, sesuai dengan apa yang disinggung Nabi saw, bahwa di hari perhitungan amal kelak, banyak orang yang ibadah dan amalnya dicampakkan oleh Allah di depan matanya sebagai ibadah yang sia-sia. Sampun rumongso sregep salat nanging isek getun mburine.
Mungkin kita para wanita modern sudah mengira bahwa maksiat hanya menutupi kulit tubuh saja. Tidaklah demikian, dalam Hadist di atas jelas tersebut bahwa kita wanita dilarang keras bermaksiat. Yakni, selain berupa tampak vulgar tubuh kita, wanita juga dilarang keras mempertontonkan bentuk-bentuk tubuhnya, bagian tubuhnya tidak tampak namun bentuk atau lekuk tubuhnya tampak, itu sama saja. Begitu juga, maksiat wanita adalah berupa gerak tubuhya, gerak tubuh yang dibuat-buat agar lebih menarik, dan jalan dilenggak lenggokkan. Selain itu juga, penampilan aksesoris-aksesoris yang terlalu norak dan wewangian yang terlalu semerbak sehingga menjadi perhatian orang yang di dekatnya.
Allah menegaskan,
 الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالأخْسَرِينَ أَعْمَالا
 Artinya, “Katakanlah: ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS, Al-Kahfi: 103-104). Astagfirullah. Nau’udzubillahi mindzalik.
Allahu Akbar 3 x Walillahil Hamdu
Saudara-saudariku yang dimulyakan Allah
Misi Yang kedua Food, yang artinya makanan. Yakni, orang-orang Yahudi memarakkan makanan-makanan atau minuman-minuman shubhat dan haram. Caranya, menyelipkan minyak atau daging-daging haram atau cara masaknya yang tidak sesuai dengan tuntunan Islam. Atau, dengan cara mencekoki pikiran umat Islam dan mempermudah untuk mendapatkan makanan instan haram yang siap saji. Dengan harapan dimakan oleh orang-orang Muslim.
Dan yang paling marak di sini adalah budaya oplosan. Pun sampai-sampai acara-acara tasyakkuran masih sempat-sempatnya dikombinasi dengan seremonial banyu syetan itu. Maka ada sebuah adagium, tua-tua keladi, makin tua makin jadi, baru sadar kalau sudah mau mati. Sehingga Kalau sudah demikian, maka makanan itu masuk dan mencampuri darah di dalam tubuh orang-orang Muslim. Akibatnya, hati kaum Muslim menjadi buram, malas beribadah, dan lebih cenderung senang berbuat maksiat.
Misi Dajjalisme yang ketiga adalah Fun, artinya kesenangan. Ini berupa pergaulan bebas, industri film, hiburan-hiburan intertainment yang menggiurkan, permainan-permainan yang memukau, atau budaya-budaya yang menyenangkan lainnya. Ini lebih disasarkan kepada kaula muda meskipun orang-orang tuanya juga tak kalah gilanya.
Misalnya, industri film televisi, hampir semua waktu di rumah terbuai dengan hiburan televisi. Kepentingan televisi seakan sudah lebih penting dari segalanya, bahkan lebih penting dari salat. Lebih senang nonton televisi hingga larut malam dari pada bareng-bareng di Masjid salat tarawih. Lebih guyup nonton bareng sepak bola hingga larut malam dari pada bareng-bareng di Masjid tadarusan.
Di sisi lain, anak-anak kecil yang masih bau kencur pun sudah pintar sekali memainkan game online. Mereka menjadi ketagihan, sehingga setiap saat kerjanya hanya kerasan di warnet-warnet. Tidak ada waktu lagi untuk belajar mengaji. Warnet lebih suka dikunjungi dari pada mengisi jama’ah di Masjidnya.
Belakangan tidak kalah semaraknya, fenomena malam mingguan atau marak disingkat dengan istilah malming. Begitu juga, semarak pameran-pameran, bazar-bazar, dan tempat-tempat hiburan sudah mulai dibudayakan di pedesaan. Anehnya, itu diadakan bersamaan semaraknya bulan suci ramadhan. Nianya untuk ikut menyemarakkan bulan suci, namun akhirnya justru malah terbalik, tarawih dan tadarusannya yang kalah, mulai sore hingga malam lebih ramai yang memadati bazar-bazar itu. Tarawih dan tadarusannya kesepian.
Di sisi lain, para orang tua anak-anaknya bukan malah disuruh ngaji, tapi malah ditanya siapa temanya yang akan ngapel ngajak pergi malam mingguan ke tempat-tempat hiburan itu. Sang anak malah amat senang dengan dandanan yang aduhai sekali. Belum lagi bisnis budaya neraka lainnya yang saat ini paling marak digemari, seperti standa-stand karaoke, kafe remang-remang, warung-warung gelap, wisma-wisma Jahannam yang sudah mulai biasa operasi terang-terangan. dll. Na’udzubillahi mindzalik.
Saudara-Saudariku, begitulah orang-orang Yahudi atau para pengikut-pengikut syetan untuk menghancurkan umat Muslim di dunia ini. Agresi militer dan agresi budaya itu adalah satu paket yag diusung oleh orang-orang yahudi, Isra’il, Zeonisme, Satanisme, atau Dajjalisme itu. Tidak mampu dengan agresi militer maka mereka melancarkannya dengan agresi budaya yang memukau.
Orang-orang Zeonis tinggal memetakan saja, mana negara Islam yang pantas dihancurkan dengan agresi militer, contohnya Palistina. Dan mana bangsa yang bisa amburadul imannya hanya dengan agresi budaya, industri hiburan, iming-iming pakaian, makanan, dan kesenangan itu, contohnya bangsa kita ini. Bangsa kita ini terutama generasi-generasi muda menjadi keok hanya dengan iming-iming itu. Mereka mudah tergiur dengan gemerlap dunia, kebebasan pergaulan, kemarakan industri intertaiment, dan gemerlap zaman.
Anak-anak muda saat ini kalau ditanya, mau jadi apa? Mereka lebih suka menjawab: mau jadi artis, mau jadi penyanyi yang kayak di TV, mau jadi seperti bintang film, seperti olga, Shahrini, atau seperti Lesti dangdut akademi Indosiar. Sungguh, industri hiburan televisi saat ini betul-betul telah menjadi yang paling menguasai mayoritas akal dan jiwa anak-anak kita. Anak-anak itu otak dan jiwanya lebih diisi acara-acara televisi dari pada ajaran dan didikan orang tua di rumah dan guru-guru ngaji di Masjid-masjid.
Wahai Saudara-saudari kita, anak-anak kita, adik-adik kita,  sahabat-sahabat kita, apakah kita tidak melihat, kalau memang budaya-budaya Yahudi itu: kemewahan-kemewahan itu, pergaulan-pergaulan bebas itu, prilaku-prilaku glamour itu, popularitas hiburan itu memang dapat membuat kita bahagia selamat dunia akherat, kenapa artis tenar Hollywood King of Pop Michael Jackson tewas tragis dengan obat-obat over dosis? Kenapa artis yang populer sebagai ikon artis seksi dunia Marilyn Monroe tewas bunuh diri? Kenapa banyak artis-artis cantik papan atas Korea seperti Lee Eun Joo, Jug Da Bin, Heo Yoon, Woo Seung Yoon, Jang Ja Yeon, Song Ji Seon, Kim Yu Ri, Jung Ah Yool, dll Mati bunuh diri mengenaskan? Kenapa penyanyi dan aktris cantik Indonesia Alda Risma tewas mengenaskan di kamar sebuah hotel? Kenapa artis cantik Arumi Bachsin dan Yulia Rachman mencoba bunuh diri?
Ini menjadi bukti bahwa kekuasaan, kemewahan dunia, popularitas dan gemerlap pergaulan tidak menjamin kita betul-betul hidup senang sejahtera dunia, namun justru membuat kita sengsara berkepanjangan di dunia lebih-lebih di akherat nanti.
Lalu, masihkan kita tergiur dengan semua itu, masihkan kita mengidolakan para artis-artis itu, masihkan kita mengikuti dan meniru pola hidup orang-orang glamor itu? Maka, sama halnya kita mau hidup bergaya dan berglamour akan tetapi kita akhirnya tewas tersiksa seperti mereka itu.
Mari kita ingat firman Tuhan ini: “(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya (tokohnya, idolanya); dan barangsiapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikitpun.  Dan barang siapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS, A-Isra’: 71-72)
Rasulullah juga menegaskan:
عن ابن عمر - رضي الله عنهما - قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وعلى آله وسلم-: من تشبه بقوم فهو منهم. أخرجه أبو داود وصححه ابن حبان.
Artinya, “Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa ‘ala aalihi wasallam bersabda:”Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut.” (HR. Abu Dawud)
Firman Allah sekaligus Sabda Nabi ini adalah penegasan bahwa, tidak boleh tidak, orang itu dinilai dan seperti yang ia panuti, yang ia ikuti, atau yang ia idolai, sehingga di akherat kelak Allah akan mengumpulkannya bersama orang-orang yang diikuti itu. Jadi andai saja anda misalnya fans berat kepada Julia peres, cara berpakaian mininya misalnya, dan sama-sama belum bertobat sampai mati, maka anda akan diseret dikumpulkan dengan Jupe kelak di neraka.
 Sebagaimana ancaman Allah: “Dan Kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke neraka Jahannam dalam keadaan dahaga.” (QS, Maryam: 86)
Dalam ayat yang lain Allah menegaskan juga:
“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang (maksudnya), niscaya orang-orang yang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: "Manakah di antara kedua golongan (kafir dan mukmin) yang lebih baik tempat tinggalnya dan lebih indah tempat pertemuan(nya)? Berapa banyak umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka, sedang mereka adalah lebih bagus alat rumah tangganya dan lebih sedap di pandang mata. Katakanlah: "Barang siapa yang berada di dalam kesesatan, maka biarlah Tuhan yang Maha Pemurah memperpanjang tempo baginya; sehingga apabila mereka telah melihat apa yang diancamkan kepadanya, baik siksa maupun kiamat, maka mereka akan mengetahui siapa yang lebih jelek kedudukannya dan lebih lemah penolong-penolongnya". (QS, Maryam: 73-75)
Dalam ayat ini, Allah menegaskan bahwa telah banyak bukti-bukti orang-orang yang hidupnya berkemewahan, bergelimang dengan kemaksiatan, popularitasnya tinggi, dan meninggalkan ibadah-ibadah kepada Allah, ketika dingatkan akan ayat-ayat Allah mereka enjoi-enjoi saja tak peduli, maka Allah sengaja membiarkan mereka bahkan sampai berumur panjang, akan tetapi Allah menunggu mereka di akherat dengan siksaan yang amat pedih dan abadi. Inilah yang disebut istidraj, atau dalam bahsa kita kita sebut eluan.
Dan, lebih kita ingat lagi wahai saudara-saudariku, ketika mati kelak, kita tidak ditanya siapa artis yang tercantik, siapa pemain sepak bola yang paling populer, siapa bintang-bintang Mahabharatha, siapa yang terbaik di ajang dangdut akademi Indosiar? Akan tetapi pasti kita ditanya tentang ibadah kita, salat kita, ngaji kita, dan amal-amal baik kita. Lalu kalau begitu, kenapa kita lebih semangat dan membelan-belani televisi dari pada salat, ikut jama’ah di Masjid, dan ikut ngaji. Kalau jelas-jelas hidup bebas, gaya glamour, pakaian-pakaian maksiat justru menyebabkan kita terbakar di neraka, kenapa kita belani, kenapa kita lakukan, kenapa kita pakai?
Allahu Akbar 3 x Walillahil Hamdu
Saudara-saudariku yang dicintai Allah
Mari dari saat ini, dari momen Idul Fitrih ini, kita tekatkan untuk berubah, berubah menuju kepada kebaikan dan ketaatan kepada Allah. Kita bangkit dari belenggu-belenggu Yahudi dan budaya-budaya syetan itu. Kita tidak butuh modal besar atau waktu special untuk itu. Kita hanya butuh niat bulat dan tindakan nyata dan mulai detik ini, jangan ditunda-tunda lagi. Sebab, umur kita makin hari makin bertambah dan berarti makin hari jatah umur kita makin berkurang di atas bumi ini. Sedangkan kematian tak perlu diundang dan tak ada yang tahu datangnya. Sejatinya, hidup kita makin hari makin menuju ke kuburan. Maka, apakah masih sempat-sempatnya kita menunda-nunda atau bergelimang dengan maksiat dan dosa itu?
Wahai saudara-saudariku, mari bangkit lari dari nafsu, hawa nafsu itu memang enak, akan tetapi ia adalah penipu yang akhirnya menjerumuskan kita ke dalam neraka.
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ
"Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabb-ku. Sesungguhnya Rabb-ku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". [Yusuf/12 : 53].
Mari kita berniat, mohon ampun kepada Allah, siapapun dan seperti apapun besarnya dosa kita. Karena Allah Maha welas asih dan pengampun.
التَّوَّابُونَ الْخَطَّائِينَ وَخَيْرُ خَطَّاءٌ آدَمَ ابْنِ كُلُّ
Artinya: "Setiap anak Adam sering melakukan dosa dan sebaik-baiknya orang yang melakukan dosa adalah orang-orang yang bertaubat". (HR. Ibnu Majah)
Ditegaskan oleh Allah dengan firmannya: “ Hai hamba-hambaku, "Katakanlah; Hai hamba-hambaku yang telah melewati batas dalam berbuat dosa. Janganlah kalian berputus asa dari kasih sayang Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa seluruhnya. Seungguhnya Dia maha Pengampun dan maha Penyanyang. Kembalilah kalian kepada Tuhanmu, berserah dirilah kepada-Nya, sebelum datang kepada kalian azab kemudian kalian tidak lagi dapat membela diri.” (QS, Al-Zumar: 53-54)
Dalam ayat yang lain: "Kecuali orang yang bertaubat dan beramal shalih, maka mereka akan Allah gantikan keburukannya dengan kebaikan. Adalah Allah maha Pengampun dan maha Penyanyang." (QS, Al-Furqan: 70)
Allah juga menegaskan: "Sekiranya Allah menyiksa manusia karena apa yang mereka lakukan, tentu tidak akan tinggal dipunggung bumi ini satu makhluk pun ( yang hidup); tetapi Allah menangguhkan mereka sampai ke waktu yang ditentukan. Maka apabila datang waktunya maka sesungguhnya Allah selalu mengawasi hamba-hamba-Nya," (QS. Al Fatir; 45).
Pada ayat ini, Allah swt masih memberikan tempo kepada kita untuk bertaubat. Mari kita bersihkan dosa-dosa kita dengan meninggalkan dosa-dosa itu sekarang juga. Mari kita datang kepada Allah dengan penuh penyesalan. mengakui segala kesalahan dan kemaksiatan kita. Mari kita segera bertaubat sebelum siksa dan ajal datang akibat buruk dosa itu. Bukan itu saja Allah juga akan mengganti seluruh keburukan kita dengan kebaikan. Allah akan mengganti ketakutan kita dengan rasa damai, kefakiran kita dengan kecukupan, kebodohan dengan pengetahuan, kesesatan dengan petujuk. Itu semua karena Maha Welas Asih-Nya dan Pengampunnya Allah kepada kita.
Allahu Akbar 3 x Walillahil Hamdu
Saudara-saudariku yang diampuni Allah
Akhirnya kita akan bertanya, bagaimanakah caranya tobat agar konsisten, tidak bertobat lalu tetap bermaksiat? Allah juga memberi tuntunan kepada kita untuk jalan tobat itu, mari kita renungi:
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلا عَلَى الْخَاشِعِين الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Artinya, Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya (mati).” (Al-Baqarah ayat 45-46).
Ayat ini adalah penegasan Allah bahwa dalam segala hal apa saja, kemelaratan untuk menjadi kaya misalnya, kesakitan untuk menjadi sehat, kesempitan untuk menjadi kejembaran, lebih-lebih memohon ampunan segala dosa agar menjadi manusia yang taat dan baik, Allah memerintahkan kepada kita untuk memohon pertolongan hanya kepada-Nya dengan dua macam cara, atau bisa kita sebut dengan dua macam jimat amalan ampuh, yaitu SABAR dan SALAT, tidak ada yang lain.
Kenapa SABAR dulu? Karena orang yang salat tanpa di dasari kesabaran, akan menjadi salat yang sia-sia yang tidak membawa kebaikan kepada dirinya. Misalnya, orang yang salat tapi tetap saja maksiat dan jahat,  sebabnya karena dia TIDAK SABAR untuk tidak berperilaku jahat dan bermaksiat. Orang macam ini banyak sekali saat ini.
Maka, tidak semua orang yang salat itu baik, tapi semua orang yang baik pasti salat. Sama halnya juga, tidak semua orang yang salat itu sabar, tapi semua orang yang sabar itu pasti salat. Kalau ada orang yang baik tapi dia tidak salat? Berarti kebaikannya bohongan atau sia-sia belaka. Sebab, bagaimana mungkin dia mau berbuat baik kepada sesama manusia lawong berbuat baik kepada tuhannya yang menciptakannya saja berupa ketaatan kepada-Nya tidak dia patuhi?! Itulah orang yang baik yang salat tapi tidak sabar.
اعُونَالْمَ وَيَمْنَعُونَ يُرَاءُونَ هُمْ الَّذِينَ سَاهُونَ صَلاتِهِمْ عَنْ هُمْ الَّذِينَ لِلْمُصَلِّينَ فَوَيْلٌ
Artinya, “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, orang-orang yang berbuat ria, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS, Al-Ma’un: 4-7)
Saudara-saudariku, maka yang betul adalah perintah Allah kita harus utuh kedua-duanya: kita harus SALAT dan SABAR dalam salat itu. Namun, demikian, Allah juga mengakui bahwa untuk mengutuhkan keduanya sekaligus itu sangatlah sulit dilakukan oleh kita. Maka Allah juga mengasih solusi agar kita bisa melakukan keduanya sekaligus secara utuh, yaitu dengan cara keyakinan dalam hati bahwa segalanya dari, untuk, dan akan kembali kepada Allah. Singkatnya: ELING MATI.
Elig mati ini adalah ajaran dan amalan ampuh para Nabi dan Rasul, para sahabat, dan orang-orang saleh untuk menjadi orang yang slamat bahagia dunia akherat.
Rasulullah menegaskan kepada kita:
أكثروا ذكر هَاذِمِ اللَّذَّاتِ فإنه ما ذكره أحد فى ضيق من العيش إلا وسعه عليه ولا فى سعة إلا ضيقه عليه
Perbanyak-banyak mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian) karena jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya sempit, maka ia akan merasa lapang dan jika seseorang mengingatnya saat kehipannya lapang, maka ia tidak akan tertipu dengan dunia (sehingga lalai akan akhirat).” (HR. Ibnu Hibban dan Al Baihaqi, dinyatakan hasan oleh Syaikh Al Albani).
Konon, sahabat Nabi, kholifah Umar bin Khattab, Beliau adalah seorang yang hebat, pemberani, cerdas, sekaligus ahli ibadah, tiap hari Beliau selalu mengingat mati. Setiap keliling menyambangi rakyatnya, Beliau selalu bersyair, kulla yaumin yuqaalu mata fulan 3x, wadzata yaumin yuqaalu mata umar. Setiap hari diumumkan telah meninggal sang fulan, dan pada suatu hari akan diumumkan juga telah meninggal Umar. Begitu juga, tiap saat kita mendengar pengumuman di Masjid, innalillahi wainailaihi rajiun pertanda telah meninggal seorang saudara kita, namun secara pasti suatu saat akan juga diumumkan innalillahi wa inna ilaihi rajiun pertanda kita sendiri telah meninggal. Ya Allah, Subhanallah, nastagfirullah.
Saudara-saudariku, jikalaulah hidup ini memang pilihan, dan kita berhak masing-masing memilih terserah kita, silahkanlah memilih. Hanya saja, tegahkah kita memilih sesuatu hanya gara-gara nafsu yang menipu. Tegahkah kita pada diri kita sendiri dengan memilih suatu jalan hidup yang menyenangkan namun akhirnya menyengsarakan, atau memilih yang kegembiraannya hanya sesaaat namun mengakibatkan siksaan yang berkepanjangan?
Wahai saudara-saudariku, seberapa jauhkan jikalau anda nekat memilih kesenangan yang sementara itu, hidup memilih yang bergaya-gaya itu, hidup tampil ngapret-ngapret itu, apa sih utungnya? Dan seberapa besarkah nikmatnya? Padahal hidup ini hanya sekali dan sesaat saja. Nafas kita kita tidak tahu kapan melesatnya dari raga kita. Sedangkan kita pasti mati. Dan mati bukan karena muda atau tua, bukan karena sehat atau sakit. Jikalau bukan detik ini kita mati maka detik selanjutnya, kalau tidak hari ini maka hari berikutnya, kalau tidak bulan ini maka bulan berikutnya dan kalau tidak tahun ini maka tahun depan. Yang pasti, ingatlah, kita hidup ini setiap hari sejatinya makin hari makin mendekat kepada kuburan.
Wahai saudara-saudariku, andai saja kita mau berpola hendak memamerkan kemulusan tubuh kita dan kemolekan wajah kita, hendaklah segera kita ingat, bahwa kemulusan dan kemolekan tubuh itu, sebentar lagi pasti, pasti, dan pasti menjadi mayat, menjadi bangkai yang dikerubungi belatung-belatung tanah.
Subhanallah, Allahu Akbar walillahil hamdu.
Saudara-saudariku yang diampuni Allah
Menurut hitungan Allah, hidup di dunia 1000 tahun berbanding 1 hari di akherat.
وَيَسْتَعْجِلُونَكَ بِالْعَذَابِ وَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ وَعْدَهُ وَإِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ
“Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” (Qs. Al-Hajj: 47)
1000 tahun (dunia)=1 hari (akhirat), 1000 tahun (dunia)=24 jam (akhirat), 1 tahun (dunia)=24/1000=0,024 jam (akhirat). Jadi, bila umur manusia rata-rata 63 tahun maka menurut waktu akhirat adalah 63 x 0,024 = 1,5 jam (akhirat). Sungguh sangat singkat sekali, kita hidup di dunia ini sejatinya hanya dikasih jatah  oleh Allah 1.5 jam saja. Kita dikasih peluang berbuat baik dan mengabdi kepada Allah hanya dalam 1.5 jam saja. Kita dikasih kesempatan bertobat oleh Allah hanya dalam 1.5 jam saja. Maka, betapa ruginya kita bila menggunakan waktu hidup 1.5 jam itu dengan sia-sia, bahkan bergelimang dalam maksiat dan dosa. 1.5 jatah hidup itu justru malah kita pertaruhkan untuk membangun neraka kita kelak. Ya Allah, Subhanallah, nastagfirullah.
Saudara-saudariku, mari kita juga menghitung-hitung salat 5 waktu kita. Rata-rata orang salat ambil paling lamanya 15 menit/salat: 15 menit X 5 waktu = 75 menit (1.15). Jadi saben hari kita salat 5 waktu hanya membutuhkan waktu 1.15 jam. Bandingkan dengan waktu yang dibuat lainnya. Waktu salat tak ada seberapanya dibanding waktu leha-leho di depan televisi, waktu salat tak ada seberapanya dibanding nonton sepak bola atau acara TheTerong di televisi, waktu salat sedikit sekali dibanding waktu ngrumpi-ngrumpi, dan waktu salat lebih cepat dari habisnya sebatang rokok. Padahal salatlah yang menyebabkan kita selamat dunia akherat yang waktunya amat tidak seberapa itu.
Maka, kenapa kita punya waktu hanya sesaat itu saja melakukan salat untuk Tuhan kita yang menciptakan kita, yang menyelamatkan kita, yang memberi kita hidup, masih sempat-sempatnya kita tinggalkan, kita tunda-tunda, bahkan kita sepelekan?! Ya Allah, nastagfirullah.
Allahu Akbar 3 x Walillahil Hamdu
Para jama’ah salat Idul Fithrih yang dicintai Allah
Demikianlah apa yang bisa dan mampu saya sampaikan, jikalau ada benar dan baiknya, itu semata-mata petunjuk dari Allah SWT. Namun kepastian ada salah dan kurangnya, itu adalah semata-mata dari saya sebagai manusia biasa gudang salah dan dosa. Karena sebagai manusia apapun yang ada pada diri dan sekitar kita adalah sekedar sebagai titipan dan kita di atas bumi ini hanya sekedar numpang sesaat saja.
اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ ربِّهِ ونَهَيَ النَّفْسَ عَنِ اْلَهوَى فَاِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ اْلمَأْوَى. جَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ اْلعَائِدِيْنَ وَاْلفَائِزِيْنَ وَاْلمَقْبُوْلِيْنَ وَاَدْخَلَنَا وَاِيَّاكُمْ فِى زُمْرَةِ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ وَاَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَاسْتَغْفِرُ لِى وَلَكُمْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِسَائِرِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرْهُ اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (4×) اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَالللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ. اْلحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. اَمَّا بَعْدُ, فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَزَجَرَ.وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ. وَقَالَ تَعاَلَى, اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ
Ya Allah ya Tuhan kami yang Maha Welas Asih dan Pengampun, jadikan kami ya Allah sebagai hamba-hamba-Mu yang berhati bersih, yang penuh saling welas asih, jauh dari hati yang kotor, jiwa yang arogan, sikap merasa benar sendiri, prilaku sombong, dengki, dan saling merendahkan di antara sesama kami. Serta jauhkan kami dari terpukau dengan nafsu, jiwa yang suka dan bangga dengan maksiat. Ya Allah, ampuni kebodohan kami, kelemahan kami, kelalaian kami, kemaksiatan kami dan dosa-dosa kami.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Kalisat  Gunung Kawi Malang, 28 Juli 2014 M, 1 Syawal 1435 H.