Minggu, Agustus 10, 2014

Arak Kearifan Lokalnya


Ini mengingat-ingat masa lalu, di saat saya membuka cabang kedai Es Degan Durian di jalan Wilis Malang. Sebetulnya ini sudah agak basi di benak, tapi rasanya ada pentingnya untuk saya tulis.

Meski umur kedai saya itu tidak berusia panjang karena suatu masalah, masih banyak hikmah yang saya dapat. Diantaranya terutama adalah lebih banyak menambah kenalan.

Ada satu kenalan pelanggan dari obrolannya ada yang menarik untuk saya bawa di sini. Seorang mahasiswa dari Papua. Tiap hari beli es degan saya sehingga menjadi kenal sampai akrab.

Suatu hari dia mengajak saya berkunjung ke kosannya yang melulu dihuni maha siswa satu asal. Konon, diantara sesama sukunya atau seasal kebersamaan dan kekompakannya selalu dijaga.

Sebelum mengunjungi, saya diberi petunjuk dulu, bahwa jika saya sampai di kosannya sebaiknya (hampir wajib) meminum arak yang disugukan. Sebab menurut budaya mereka setiap tamu disuguhi arak dan diminum bersama sebagai sebuah keakraban dan kehormatan.

Memjumpai persyaratan adat seextrim itu, cepat-cepat saya tegaskan, "Wah sory ya mas bro,bukannya saya gak mau menghormati,masalahnya saya gak biasa minuman itu. Dan saya memang gak mau minuman itu. Adakah cara penghormatan yang lain?"

"Adat kami dari nenek moyang kami sudah seperti itu buat menghormati tamu mas. Araknya juga buatan kami sendiri," jelasnya.

“Oh gitu, ya klo gitu saya pikir-pikir dulu ya mas, takut malu-maluin nanti. Nanti sekali minum saya langsung teler tak terbiasa.” Tambahku sambil melucu agar dia tak tersinggung.

Adat atau tradisi adalah kebiasaan bersama yang terbentuk berdasar pengaruh kondisi lingkungan atau pola pikir kelompok atau  setempat dan berjalan secara turun temurun. Sehingga tiap tempat yang memiliki kondisi atau pola pikir yang berbeda akan menyebabkan adat atau kebiasaanya berbeda pula. Pengalaman arak di atas menjadi contoh.

Bagi saya, yang hidup di Jawa dan beragama Islam, arak adalah haram yang harus dijauhi. Sehingga bukan membuat terhormat malah menyebabkan terhormat menjadi terhina. Tapi bagi budaya Papua itu tidak, justru arak menjadi sebuah kehormatan dan kebesaran.

Dari sinilah kemudian di ranah filsafat muncul sebutan kebenaran relatif dan kebenaran absolut.

Menurut satu sisi benartapi di sisi lain salah. Inilah kebenaran dalam adat, relatif.

Lalu yang bagaimana kebenaran paten atau kebaikan absolut, yang tidak dipengaruhi kondisi, adat, tempat, atau pola pikir tertentu, sehingga semua orang kapan dan di manapun mengakuinya benar atau baik?

Saya mulai dari sebuah contoh untuk menjawabnya: Mematuhi kedua orang tua, berperilaku santun, jujur, adil, atau welas asih, siapakah yang tidak mengakui semua sikap ini sebagai kebaikan? Suku-suku tertinggal di belantarapun pasti mengakuinya sebagai kebaikan. Inilah kebenaran absolut itu. Kebenaran yang tidak terbentuk dari kesepakatansekelompok manusia, tapi kebenaran yang langsung ditetapkan oleh Yang Maha Absolut, Tuhan Pencipta, melalui agama. Hati nurani pasti mengakui.

Lalu bisakah kita menentukan kebaikan relatif itu benar atau salah dari sisi kebenaran absolut?

Jawabannya macam-macam: bisa jadi tujuanya benar tapi caranya pakai adat salah. Arak di atas contohnya. Orang Papua niatnya menghormati tamu itu benar absolute, tapi caranya yang salah, pakai arak.

Misal lain, di Jawa, ada sebagian adat niatnya baik, untuk memperkuat silaturrohim dan persahabatan.Tapi, caranya mengadakan hajatan besar-besaran dan mendatangkan biduan-biduan penyanyi cantik lalu para tamu disuguhi minuman beralkohol, kadang dioplos, sambil nyawer biduan-biduan itu. Bahkan kerap sambil memeluk dan mencium biduan diatas panggung tanpa canggung-canggung. Apakah ini kebaikan?

Melihat adat atau tradisi sebagai sebuah kebaikan atau kebenaran demikian, yang aneh-aneh itu, saya habis pikir (bukan tidak habis pikir): Apa dasar yang memotivasi para tokoh, atau sesepuh, yang memulainya sehingga kok jadi-jadinya mencipta adat kebaikan berupa yang aneh-aneh itu? Apakah tidak terbesit sama sekali akan dampak negatifnya? Atau memang tidak menyadari akan dampak negatifnya? Atau bisa jadi juga, sesepuhnya itu yang bodoh, atau justru dia memang pelaku ketidakbaikan, sehingga ketidakbaikannya dianggap kebaikan yang lalu ditemurunkan. Ditambah generasi penerusnya yang juga menganggapnya kebaikan hanya karena sudah terbiasa dan lebih cenderung pikiran enaknya?

Secara pribadi saya menjawabnya: saya yakin, sesepuh atau pemula yang mencipta kebaikan atau kebenaran yang relatif itu, atau yang aneh-aneh itu, yang sebenarnya secara absolut ketidakbaikan itu, adalah dia itu pelaku ketidakbaikan itu sendiri. Sebab, tidak mungkin sesepuh yang betul-betul bijaksana berperilaku kebaikan absolut akan merintis atau memulai suatu ketidakbaikan, apalagi untuk ditemurunkan.

Orang yang sudah terbiasa dengan kebaikan paten atau sejati, dia akan berhati bersih, dan setiap apa yang dilakukan, apalagi untuk memulai sesuatu, dia akan bersumber dari bisikan hati yang bersih dan nurani yang suci serta extra berhati-hati. Bukan hati yang kotor apalagi hawa nafsu.

Dalam diri manusia antara nurani (jiwa rububiyah) dan hawa nafsu (jiwa syaithoniyah), meminjam istilah Imam Al-Ghozali, saling bertarung berebut membisiki akal pikiran manusia. Kalau nuraninya yang menang maka dia akan lembut dan benar. Namun, apabila hawa nafsunya yang mengusai akalnya maka dia akan kasar dan tidak suka kebaikan, layaknya perilaku syetan.

Syetan adalah nyata-nyata musuh manusia, karena dia ingin merusak manusia dengan segala caranya. Nah, caranya yang paling ampuh adalah cara yang sangat amat lembut. Cara yang seakan tampak dan terasa bukan media merusak, malah menyenangkan. Itulah nafsu itu. Gerak nafsu itu berupa budaya yang terasa seakan baik dan enak-enak itu: oplosan, saweran, pergaulan bebas, hiburan-hiburan, dan sejenisnya.

Akhirnya, kita sebagai manusia harus ekstra hati-hati: tidak semua budaya itu baik dan terhormat, dan tidak semua yang terhormat itu budaya. Begitu juga, tidak semua yang enak itu menyenangkan, dan tidak semua yang menyenangkan itu yang enak.

“Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan dari padanya (kiamat) oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu jadi binasa". (QS, Thaha: 16)

Jatikerto, Kromengan, Malang: 07 08 2014 M

Tidak ada komentar:

Posting Komentar