Minggu, Agustus 10, 2014

Mereka yang Merantau Agar Berubah

Di kampung tempat saya ngajar ngaji, antara sebelum dan sesudah lebaran Idul Fitri suasananya lain, yakni kapasitas warganya.

Sebelum lebaran yang saya lihat itu-itu saja. Setelah lebaran, saat saya silaturrohim ke rumah anak-anak ngaji, ternyata banyak wajah-wajah baru terutama para pria.

Setelah saya tanya selama ini ada di mana, semuanya menjawab merantau. Ada yang ke Kalimantan, Sumatra, Riau,Papua, Malaysia, Hongkong, dll. Kebanyakan yang merantau laki-lakinya sedangkan istrinya tinggal di rumah dengan anaknya. Ada juga yang merantau kedua-duanya sedangkan anaknya dirawat mbahnya di rumah. Kalau yang bujang biasanya kebanyakan wanita yang merantau ke Hongkong.

Saya kalau bertamu ke sebuah rumah ada orang yang baru pulang dari perantauan, saya senang sekali. Karena ada banyak pengalaman yang mereka ceritakan ditambah dengan cara bercakapnya yang sangat khas.

Dari banyak jagongan dengan para perantau itu, saya dapat mengambil pelajaran: saya amati yang merantau itu tampak lebih dewasa dan bijaksana dari cara bicaranya, bahasanya, dan topik pembicaraannya. Sehingga saya pasti dapat tambahan kesan, pengalaman, atau ilmu baru.

Merantau, pada satu sisi kata orang kampung kurang baik, karena jauh dari keluarga. Sehingga ada sebuah ungkapan miring bahwa percuma jadi orang kaya kalau jauh dari keluarga, lebih baik pas-pasan yang penting sehat dan bisa kumpul keluarga.

Mungkin saja ini memang benar. Tapi menurut saya,jauh dari keluarga bukan berarti sebuah ketidak baikan atau ketegaan, melainkan sebuah impian masa depan yang justru demi kesejahteraan dan kebahagian bersama keluarga. Kumpul dengan kesejahteraan. Bukan kumpul tapi pas-pasan.

Maka kejauhan itu adalah resiko sementara yang berbuah kecerahan masa depan. Ini sudah mereka sadari sejak awal. Sehingga demi masa depan mereka nekat dan tega dulu. Pulangnya selain sudah punya modal mereka juga punya pengalaman.

Saya pribadi mengalami hal itu. Setelah pernah bekerja nyeles, keliling ke pasar-pasar: ke timur sampai Bali, ke barat sampai Tulungagung. Sampai itu saja sekarang saya rasa banyak mendapatkan faidah. Tiap ketemu atau jagongan dengan orang-orang yang tidak saya kenal, saya tanya asalnya atau saya yang ditanya duluan, saya bisa menanggapi dan nyambung. Ketika mereka bilang dari Bali, maka saya tahu di Bali mana. Begitu juga di manapun mereka berasal sepanjang pernah saya singgahi saya bisa nyambung.

Dari situ, paling tidak, ada jagongan interatif sama-sama nyambung atau mengalir, sehingga mereka menjadi kenal, lebih kenal, akhirnya berteman. Jadinya tambah teman. Teman jadidi mana-mana.

Iman Syafi'i berujar dalam syairnya:
Safir tajid ‘iwadlon ‘an mantufariquhu
Wan shob fainna ladzidzal ‘aisyi fin nashobi

Artinya, Merantaulah kamu, niscaya kamu akan mendapatkan dari apa yag kamu tinggalkan. Dan tekunlah, karena sesungguhnya manisnya hidup terdapat pada ketekunan itu.


Tuhanpun berfirman: “Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka'bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (QS, Quraisy: 1-4)

Sahabat-sahabatku, tidak ada ruginya merantau,  andai memang anda seharusnya begitu dan anda yakin dapat perubahan.

Bismillah!

Kalisat, Gunung Kawi, 01-08-2014M

Tidak ada komentar:

Posting Komentar