Minggu, Agustus 10, 2014

Mistik: Dari Tidak Percaya Lalu Saya Tekuni


Mulanya, saya tidak percaya yang ini: prilaku mistik-mistik ala kejawen, nyepi di gunung-gunung, keris, tempat-tempat wingit, angker, dan sejenisnya. Anggapanku satu tentang itu, gak masuk akal dan syirik.

Setelah umur makin bertambah, pengalaman makin banyak, kepribadian makin dewasa, saya menjadi mengerti dan percaya bahwa semua itu sejatinya bukan sekedar pengalaman pribadi mistikisme atau pelaku kejawen, tapi betul-betul bagian dari agama dan bersejarah.

Terbukti saya amati, tidak ada parautusan atau para Nabi dan Rasul, para pemimpin, dan orang-orang besar tiap zamannya yang tidak melakukan pengasingan diri, uzlah (bahasa agamanya), atau tirakat dan semedi (Jawanya). Misalnya, Adampun begitu diuzlahkan oleh Tuhan di belantara bumi untuk sebuah pertobatan, sampai Rasulullahpun begitu di gua Tsur dan Hira, Maryam di Baitul Maqdis, Musa di Gunung Sinai (QS Maryam). Terkhusus jugadi negri kita, para Wali Songo, Sukarno, Suharto, dan lainnya.

Begitu juga keris dan benda-benda bernilai mistik lainnya, saya percaya ada nilainya. Saya amati sampai saya menemukan firman Tuhan menegaskannya, Langit yang tujuh, bumi dansemua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupunmelainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengertitasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.”(Al-Isra': 44)

Pada intinya, semua ini adalah bagian dari iman, percaya kepada yang goib dan menambah keimanan.

Belakangan, saya tidak hanya sekedar percaya tapi malah yakin dan menambah keimanan sehingga saya mendalami dan menekuni jalan yang gak masuk akal ini. Aku mencoba ikut-ikut nyepi di petilasan-petilasan, tempat-tempat wingit, danmakam-makam leluhur atau para wali. Saya juga bakar dupa, menekuni dan merawat keris-keris.

Keris dan dupa telah menambah iman saya. Bahkan saya pastikan bisa jadi dupa dan keris lebih bertauhid dari pada kita. Saya mengamati keris, dia berlekuk-lekuk (berluk), bagaimanapun dan berapapun luknya keris ujungnya tetap akan mengarah lurus ke atas.  Ke atas berarti menunjukkan ke arah yang Maha Kuasa.

Begitu juga dupa, ke manapun arah asap dupa, ujung-ujungnya tetap saja menuju ke atas. Ke atas berarti yang Maha Kuasa. Keris dan dupa menjadi lambang, bahwa hidup ini berasal dan menuju kepada Yang Maha Pencipta hidup. Ini amat sangat tauhid.

Bulan Ramadan ini secara pribadi saya bertekat memulai penekunan di tingkat penerapan bukan sekedar ikut-ikutan atau mengamati lagi.

Tadi malam, Jum'at malam (12 072014), yang tanpa sengaja ternyata tanggal kelahiran saya, saya mulai dari penyepian di bukit Mbah Malang Kalisat Sumber Tempur Gunung Kawi. Berupa petilasan wingit. Konon, menjadi pusat para leluhur Gunung Kawi bersemedi disitu. Dengan sengaja juga di situ tempat perjuangan saya merintis yayasan anak-anak ngaji dan yatim piatu, sehingga rasanya pas.

Percaya tidak percaya, saya selayaknya harus bersatu dengan semua eksistensi yang berada di tanah itu, yang nampak maupun yang gaib. Dan semua dalam bingkai niat kebersamaan dan kekuatan berjuang untuk pendidikan anak-anak dan ridla Tuhan.

Malam itu saya memulai tanpa modal macam-macam, kecuali sekedar bacaan al-fatihah, surat yasin, istigfar, danniat baik.
Malam itu jam 10an, dalam mendaki, hampir seperempatan mau sampai, saya ketemu dengan beberapa orang sedang istirahat menenangkan nafas yang ngos-ngosan, katanya juga mau berritual diatas. Lalu bersama-sama sampai di atas.

Sempat bercakap sebentar, katanya dari Tumpang Malang dan hanya baru kali itu mendaki di situ. Entah apa tujuannya jauh-jauh dari Tumpang, saya tidak bertanya. Tapi, lihat tampangnya orangnya gagah-gagah bercelana jin berjakit kulit. Hanya satu yang tampangnya lain, orangnya pendek kurus, sudah lumayan berusia. Konon, dia pengawalnya, juru kuncinya. Ibarat salat dia imamnya. Bahkan dia megang 3 tempat kramat katanya: bukit Mbah Malang itu, Gunung Kawi, dan Gunung Kombang Ngliyep. Saya percaya karena saya juga pernah ketemu wajah orang itu berjalan berombongan membawa sesajen diatas geladak menuju Pulo Kombang pantai Ngliyep. Hebat!

Tapi, ada yang aneh dan agak lucu di balik kehebatannya itu, mengenalkan diri namanya Mbah Semok. Mbah Semok?!Saya sempat mau tertawa mendengarnya. Di dunia kayak itu, tampangnya juga kurus dan sepuh kok  dijuluki semok, kayak dunia porno saja. Jauh sekali.

Di atas, kayaknya mau mulai ritualan, saya sedikit menjauh takut merasa terganggu. Tampaknya dari jauh mereka menyatu bergerombol di depan sebuah kayu besar yang sudah biasa dianggap sisi yang kramat sambil membakar dan menancapkan setumpuk dupa. Mbah Semoknya itu tampak membaca mantra samar-samar terdengar dengan bahasa Jawa halus kuno. Saya sangat tidak memahaminya.

Sebentar sekali mereka berritual. Lalu tiba-tiba pamitan ke saya untuk pulang duluan. Saya tanya kok sebentar sekali, jawab Mbah Semok yang kurus itu, “malam inicuma sekedar pamitan dulu, dilanjutkan lagi pada malam-malam yang pas dengan ritual semalam suntuk, semoga jodoh mas,” jelasnya.

Saya cuma jawab, amin. Padahal saya tidak nyambung sama sekali ‘pamitan’ apanya dan ‘jodoh’ apanya.

Meski sedikit heran, saya tidak banyak memikirkan orang-orang itu. Sepi, saya langsung saja duduk di sebelah kayu tempat dupa dibakar tadi dengan menghadap ke barat bukan menghadap ke kayu besar tadi. Barat maksud saya arah ka'bah. Saya kirim fatihah dan baca yasin, lalu diakhiri istigfar yang banyak. Kira-kira 2 jam-an saya turun pulang.

Saya belum mengalami apa-apa, juga belum menjumpai aneh-aneh seperti dalam ceritanya, genderuwo, ular besar,macan dan sebagainya. Saya cuma merasakan desiran angin lembut dan kesunyian.

Dari kesunyian dzikir itu saya merasakan: betapa diri ini kecil, apalah artinya saya di sisi Tuhan, di sisi alam ini. Rembulan bersinar indah, matahari bertugas menyinari sisi lain, pohon-pohon gagah menjulang, angin berdesir, dedauan bergoyang, embun menyapa lembut, para malaikat dan jin hening, semuanya setia memuji Tuhan. Saya ingin melebur dengan mereka ikut bersama memuji-Nya.

Di sisi lain, apalah artinya kesunyian semua ini ketimbang dahsyatnya kesunyian di alam kubur yang pasti. Mumpung saya belum ditirakatkan di pedaringan liang lahat. Saat saya tidak bisa berbuat apa-apa. Ya Tuhan. Di sini saya masih bisa menikmati kesunyian amat damai serta masih bisa pulang.

Dari kesadaran ruhani ini saya tidak takut apa-apa. Saya merasakan kesejatian sesungguhnya. Berkumpul dengan alam memuji-Nya. Dan, semua ini adalah hanya kebesaran-Nya.

Seterusnya akan saya tempuh jalan ini sampai jiwa bisa betul-betul memastikan: kesakitan, kepedihan, kehancuran,kenistaan, derita, kehebatan, kehebohan, kelebihan, kekurangan, keburukan, keindahan, segalanya adalah hanya kebesaran dan welas asih-Nya. Subhanallah, Allahu Akbar.

Malang, 12 07 2014 M

Tidak ada komentar:

Posting Komentar