Minggu, Agustus 10, 2014

Orang Gila yang Tak Gila


Sementara, biar seperti pada umumnya sehingga langsung dapat dipahami, saya sebut di sini 'orang gila’. Untuk menunjukkan orang yang tidak normal atau sakit jiwa. Karena bagi pribadi saya, saya tidak mau menyebut orang yang sakit jiwa itu 'orang gila'. Paling tidak sebut saja 'sakit jiwa', atau 'orang yang sedang sakit', atau yang sedang teruji.'

Kenapa demikian? Alasan singkatnya: setidaknya saya bersikap lebih lembut atau halus. Dengan ini akan tampak, mana orang yang beretika dan mana orang yang kasar.

Ini penting. Sebab, kerap orang disebut gila bukan karena dia berpakaian lusuh, atau telanjang di jalan, atau mengamuk, tapi kita juga sering dengar, orang yang penampilannya normal disebut gila karena sikap atau perkataannya yang sembarangan, kasar, tidak sopan, dan suka mengganggu lainnya. Sebaliknya, justru yang dari penampilannya pantas disebut gila, malah sedikit bicara, jalan saja, merasa lapar tinggal menghampiri orang dengan hanya mengulurkan tangannya atau memegang perutnya isyarat lapar, tak banyak pola. Selesai diberi hanya tersenyum sambil berlalu. Bukankah Ini justru orang gila tampak lebih santun? Liat saja, kayaknya hampir semua orang gila justru prilakunya seperti itu. Ini yang saya lihat.

Kalau mau dibahas lebih dalam lagi, banyak sisi perenungan, terutama ini: pertama, orang gila sejatinya dia tidak gila. Bisa saja karena dia difitnah gila. Karena ada kepentingan oknum tertentu. Di sini saya ingat Rasulullah saw. Oleh orang-orang yang tidak menyukai Beliau, Beliau bukan hanya difitnah gila, tapi juga disebar sebagai dukun, tukang santet, dan penyair tak waras (lihat: awal-awal QS Al-Qalam). Padahal Beliau betul-betul seorang utusan Tuhan.

Kedua, bisa jadi, memang mulanya seseorang gila karena stres atau trauma atas pengalaman tertentu, tapi setelah diobati atau diterapi dia bisa betul-betul pulih normal kembali. Hanya saja karena orang-orang sudah kadung tahu dia gila, maka orang-orang tetap terbiasa menyikapinya sebagai orang gila. Ini ada contohnya.

Saya punya teman yang begitu. Entah, karena pengalaman tertentu, suatu saat dia sampai terganggu jiwanya, stres. Dirinya tak terkontrol lagi sehingga layaknya orang gila. Sering bicara sendiri dan tiba-tiba selalu tertawa. Orang tuanya berupaya menyembuhkannya dengan banyak cara, membawanya kepada orang pinter, rumah sakit, dan terapi.

Walhasil, akhirnya dia membaik kembali, bahkan lebih bijaksana dari yang sebelum stres. Sebab, dia pandai, menyadari dan mengambil hikmah dari keterasingannya selama agak lama dia betul-betul stres. Namun sayang, meski justru sembuh lebih dewasa, sampai saat ini orang-orang kampungnya tetap memprilakukanya sebagai orang gila. Yang sulit sekarang, malah membuat orang sadar bahwa dirinya sudah sembuh, sudah tidak gila lagi.

Ketiga, ada orang yang gila pura-pura. Biasanya orang yang menjalani lelaku tertentu, seperti tirakat jalan. Orang ini sengaja berpenampilan layaknya orang gila. Berjalan dengan ketentuan masa dan arah tertentu. Berpakaian lusuh dan tak berbicara.

Saya sering menemukan orang-orang lelaku ini di jalanan. Bahkan, karena rumah saya di pinggir jalan raya dekat Masjid, saya sering diampiri dan dimintai minuman. Awalnya pasti dikira orang gila, tapi setelah berbicara, dapat dimengerti bukan orang gila. Saya tanya, jawabannya memang sengaja sedang menjalani lelaku.

Suatu saat, saya diampiri orang yang pura-pura gila semacam ini, toh akhirnya bagi saya dia betul-betul tak waras. Prilakunya yang gila. Omongannya nglantur ke mana-mana tak sesuai nyatanya.

Begini, tiba-tiba dengan pakaian yang lusuh dia memohon minuman pada saya. Tak tega, bukan hanya saya kasih minum, tapi saya tawari makan dan nginap di rumah. Dia mau. Sebelem tidur saya temani bincang-bincang. Omongannya kental mistik dan idialis bijaksana.

Pernah ngomong, "Saya tidak boleh tidur malam mas, tidur saja harus di masjid, makan juga harus di Masjid, minum air Masjid." Nyatanya, ketika saya beri makan, dia lahap sekali. Ketika tiba tengah malam, saya lihat tidurnya ngorok, tidak bangun malam. Bahkan bangunnya kesiangan. Subuhnya los.

Lebih parah lagi, dia banyak janji. Janji mau belikan TV anak saya. Janji mau ngasih pusaka. Janji mau bawa istrinya berkunjung. Pokoknya segudang janji. Nyatanya dia tidak datang lagi.

Pengalaman terbaru saya, kemarin pagi (9 08 2014), saya juga diampiri orang gila. Tidak berbaju. Hanya bercelana pendek sobak sobek dan lusuh. Tetangga saya sebelah mengabari saya di dapur bahwa orang gila telah berdiri menunggu saya depan pintu pagar rumah sejak tadi. Tak bersuara tak apa. Berdiri memaku. Segera saya temui keluar.

Menyambut saya dia sudah siapkan kedua tangannya membentuk pertanda permohonan dengan ucapan kosong. Saya langsung paham bahwa dia sedang lapar butuh makanan. Dengan pertanda tangan juga saya suruh tunggu. Segera saya kembali ke dapur.

Syukur ada sisa nasi pas seporsi di piring dari mejikom. Nasi yang sedang dimasak belum matang. Juga untung lauknya ada yang baru selesai digoreng, lele kriuk kriuk masih hangat. Sambal goreng juga baru dihangat. Saya kira sudah cukup: sambal goreng, lele kriuk kriuk, dan nasi, lalu saya bungkuskn.

Saya masih merasa ada yang kurang untuk dikasih. Kopi panas pagi yang baru saja saya minum 1 teplek juga saya bungkuskan. Lalu saya kasihkan, bungkusan nasi plus kopi panas. Tampak dia tersenyum tanda seneng dan terima kasih. Lalu dia pergi.

Sungguh, pagi itu, saya merasa didatangi yang katanya 'orang gila' yang amat paham sekali tentang tatakrama bertamu dan meminta: berdiri di depan pintu pagar bukan pas pintu rumah, diam saja seakan pasrah takut mengganggu, dan hanya dengan isyarat tangan yang santun. Subhanallah.

Saya menjadi terkesima dengan orang yang bagi saya gila yang waras itu. Sungguh, lebih untung lagi pagi itu, saya tidak menyebutnya, dalam hatipun, dia sebagai 'orang gila' kecuali hanya mendengar ungkapan kabar tetangga itu dan istilah yang saya sebut beberapa kali dalam catatan ini. Andai saja saya bilang dia 'orang gila', maka sejatinya sayalah yang gila.

Lebih penting lagi, saya juga berpikir: siapapun orangnya, bagaimanapun bentuk dan prilakunya, semuanya adalah ciptaan Tuhan, dalam peliharaan Tuhan. Tuhan masih mengakuinya dan menyayanginya dengan memenuhi kebutuhannya bagaimanapun kondisi dirinya. Lalu kalau Tuhan masih demikian kepada semua makhluqnya, kenapa kita masih bisa-bisanya membedakan: orang gila, kotor, kumuh, lusuh, menelantarkan, menghina, acuh-tak acuh, atau prasangka buruk?!

Mari kita selalu belajar lebih peka, menyadari, dan menghayati hidup ini degan sebenar-benarnya.

Jatikerto, Kromegan, Malang: 10 08 2014 M

Tidak ada komentar:

Posting Komentar