Minggu, Agustus 10, 2014

Penjual Cilok yang Hebat dan Putri Cantik Terkaya se Asia yang Tragis


Sahabat saya yang satu ini betul-betul ahli sabar maupun tabah.

Dia seorang penjual cilok (serupa pentol bakso tanpa daging yang disukai anak-anak kecil) dengan sepeda ontel tuanya. Berkeliling ke kampung-kampung dan sekolah-sekolah. Mulai pagi sampai ciloknya habis. Lebih sering habisnya hingga Magrib. Bahkan tak jarang tidak habis hingga malam sehingga pulang sisanya langsung dihangat buat jualan besok.

1 biji cilok seharga 100 rupiah. Dalam sehari modalnya 30 ribuan dengan hasil kalau laku semua 70-100 ribuan. Hanya begitu kisaran hartanya saben hari.

Umurnya sudah 40 tahun lebih dengan 4 anak. Anaknya yang paling tua andai lanjut sekolah sekarang sudah hampir lulus kuliah, dan yang bungsu sekarang masih bayi 1 tahunan, lainnya SMP dan SD.

Menjual cilok dia tekuni sudah 20 tahunan lebih. Sebuah jangka waktu yang tidak sebentar. Bahkan tak masuk akal, saking amat melelahkan dan membosankan dengan saben harinya hanya menghasilkan 20-50 ribu, mungkin ini pikiran kita, sehingga kesabaran di situ tak mungkin kuat. Sehingga kalau bagi kita sebelum dapat sebulanan saja pasti sudah ditinggalkan, cari kerjaan yang lebih efektif dan efisien.

Tapi tidak begitu bagi sahabat itu. Dia telah meyakini dari awal bahwa dia bisa bertahan hidup dan membiayai anak istrinya dengan jualan cilok. Bahkan dia sangat menyadari bahwa itu sudah garis hidupnya dari Tuhan yang patut diterima dengan ikhlas dan dijalani dengan penuh sabar dan syukur.

Keyakinan itulah yang membuat dia bertahan tegar.

Lebih-lebih, dia sudah berupaya sekaligus berguru ke banyak kiai sepuh bagaimana menjadi banyak rizki dan kaya raya. Semua menjaza' amalan kaya dan semuanya ia amalkan tiap waktunya. Amalan cepat kaya apa yang tidak dia amalkan, hampir semuanya sudah diamalkan. Dan, itulah memang hasilnya. Berarti dia meyakini kekayaan yang ia miliki ya cukup di situ dengan segala upaya dan amalan yang dia tekuni.

Sekarang, kita pasti bertanya-tanya, kok gak kaya-kaya ya?

Untuk menjawabnya, harus diperjelas dulu patokan kadar kekayaanya. Kalau mengukurnya dari hidup bermobil mewah, berumah megah, dan uang di ATM puluhan juta tentunya jauh dari kaya, miskin sekali penjual cilok itu.

Tapi kalau ukuran kayanya dari sisi bathinnya atau kaya anak dan kaya hati (hidup tenang) sudah pasti orang ini sudah kaya sekali. Dan inilah yang dimaksud kaya baginya. Dia sudah merasa kaya, merasa cukup, penuh syukur dikasih anugrah hidup seperti itu. Keluarganya bahagia. Andai dia tidak terima hidup demikian mungkin dia sudah menghalalkan segala cara untuk menjadi kaya atau hidup selain begitu; untuk memberontak dari hidup yang andai dirasa melarat atau nelangsa itu.

Banyak orang yang memahami kekayaan hanya dari ukuran hidup mewah, dari sisi dhohir semata, sehingga mampu tidak mampu harus kaya begitu. Akhirnya, segala upaya tidak berhasil cari jalan pintas, segala cara dilalui. Pikirannya yang ada pokoknya kaya. Karena dengan hanya kaya begitu hidup diyakini bahagia.

Akibatnya, tidak jarang terjadi, banyak manusia yang tubuhnya tiba-tiba ngedrop atau kenak struk atau penyakitan aneh lainnya, karena tenaganya mengingkari kenyataannya. Atau banyak manusia yang otaknya cepat stress, karena keinginannya melampaui usahanya.

Kalau tidak begitu, di luarlogikapun dilakoni: jin dan syetan diajak kerja sama dalam bisnis pesugihan,tempat-tempat wingit, kuburan kramat, atau kayu angker ditiduri menunggu angka jitu buat beli togel, martabat dipertaruhkan.

Mari kita renungi, kalau halnya kekayaan dhohir itu yang memang menjadi tolak ukur manusia bahagia di dunia ini, kenapa Oei Hui Lan putri cantik orang terkaya se Asia Tenggara, Oei Tiong Ham, Raja Gula dari semarang, hidupnya penuh tragedi? Begitu juga ayahnya, Oei Tiong Ham, yang memiliki puluhan selir kenapa mati secara misterius? Kenapa Adolt Merckle, orang terkaya di Jerman, menabrakkan badannya ke kereta api? Kenapa Michael Jackson, penyanyi terkenal yang kaya raya di USA, meminum obat tidur hingga overdosis?

Rasanya, bukanlah kekayaan seperti itu sejatinya yang menjadi tolak ukur kekayaan yang menyenangkan dalam hidup ini.

Dengan demikian, maka sebenarnya sahabat penjual cilok itu lebih hebat dan berbahagia dari sekedar artis Oei Hui Lan, Oei Tiong Ham, Adolt Merckle, dan Michael Jackson, orang-orang bergelimang harta tapi akhirnya tragis itu.

Mari kita juga membaca kesadaran putri cantik orang terkaya se Asia Tenggara, Oei Hui Lan itu, setelah menyadari bahwa segalanya yang ia miliki sudah tak berguna, lalu dia memilih hidup sederhana seorang diri dengan anjing-anjing kesayangan dan seorang anak tirinya.

Dia berkisah dalam bukunya “Tak Ada Pesta yang Tak Berakhir” yang amat memelas:
“Kini saya berpendapat, berkenalan dengan kaum ningrat dan orang berduit tidaklah penting. Otak dan kepribadian lebih penting. Kita bisa menderita akibat haus kekuasaan, tetapi kita bisa mendapat kesenangan dari sikap hormat, kesederhanaan dan sifat lurus. Kita seharusnya menghargai orang orang lain dan hidup ini. Seperti kata ibu, kita harus puas dengan yang kita miliki. Banyak teman baik saya pun sudah meninggal, tetapi saya banyak mendapat teman baru yang masih muda. Saya sering mengenang anjing-anjing saya yang sudah mati, yang memberi saya cinta kasih dan kebahagiaan pada tahun tahun terakhir. Saya harap suatu waktu kelak mereka akan dilahirkan lagi. Kalau demikan halnya, saya yakin kami akan saling mengenali.”

Ternyata, kesejatian hidup itu sangat sederhana, hanya ditentukan, bagaimana kepribadian dan cara berpikir seseorang memaknai kehidupan.

Selamat berjuang buat sahabat penjual cilok atau sahabat-sahabat saya lainnya yang masih berprofesi susah payah. Janganlah kita sampai pernah bersedih apalagi putus asa. Karena dunia ini berputar dan berubah. Tuhanpun hanya 1, tapi jalan-Nya buat hamba-hamba-Nya banyak sekali.

“Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik. Kepada masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi. Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya.” (QS, 17:18-21)


Malang, 20072014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar